
Fabian menoleh, ia mendapati istrinya terpaku di atas tangga tengah menatapnya.
"Ok, aku tutup telponnya, nanti aku akan menghubungimu lagi." Fabian cepat-cepat mengakhiri panggilannya setelah melihat Sabrina.
"Kau sudah siap?" tanya Fabian untuk mengalihkan kegugupannya.
Sabrina terdiam, ia tak ingin menjawab Fabian kali ini. Ia tahu siapa yang di hubungi suaminya, setelah mendengar sebutan sayang untuk orang diseberang sana. Sabrina meneruskan langkahnya menuju dapur tanpa menggubris Fabian yang masih berdiri menatapnya.
Wanita itu mulai menyibukkan dirinya untuk mencari bahan-bahan untuk ia olah. Fabian mengikutinya ke dapur dan duduk di bangku kayu yang tersedia di sana.
"Apa kau akan memasak?" tanya Fabian.
Sabrina bergeming. Ia memilih menulikan pendengarannya dan terus mengambil bahan masakannya. Ia akan membuat bubur dan sup untuk Bibi May, ia rasa menu itu cocok untuk lambung pengasuhnya yang sedang tidak sehat.
"Sebenarnya aku tidak bisa lama-lama, aku akan langsung kembali ke Sydney. Ada urusan yang harus aku selesaikan," ujar Fabian.
Sabrina yang mulai memotong sayuran, menghentakkan pisaunya dengan kasar di atas talenan. Membuat Fabian berjingkat, menatap seram pada raut istrinya.
"Ta-tapi tenanglah, aku akan pergi setelah mengantarmu ke rumah sakit. Nanti aku akan meminta Robert menjemputmu ke mari," sambung Fabian gugup melihat sikap Sabrina.
__ADS_1
Sabrina mengembuskan napas kasar. Dengan satu kali hentakan, pisau di tangannya sudah menancap di talenan kayu yang jadi pelampiasannya. Dengan sorot mata dingin ia berkata, "Kau tidak perlu mengantarku. Kalau kau ingin pergi, pergilah sekarang juga jangan sampai aku mengusirmu!" tegas Sabrina.
Fabian heran dengan sikap Sabrina yang terlihat marah. Memangnya apa salahnya, hingga istrinya itu semarah itu. Kalau soal tadi malam, bukankah ia menepati janjinya untuk tidak berbuat macam-macam.
"Pergilah sekarang, kau tidak perlu repot-repot mengantarku!" Sorot mata Sabrina masih sama dinginnya.
"Ta-tapi ...."
"Aku bilang pergi!" potong Sabrina cepat.
Fabian bergegas meninggalkan Sabrina di rumah pengasuhnya. Ia menuruti perintah istrinya untuk segera pergi dari sana.
Sementara Sabrina, ia terus menahan amarahnya agar tidak keluar. Air mata meleleh membanjiri pipinya, kembali ia harus menelan kenyataan pahit jika suaminya masih memprioritaskan kekasihnya.
Setelah puas dengan tangisnya, Sabrina secepat mungkin menyelesaikan masakannya dan segera membawanya ke rumah sakit.
Bibi May yang terlihat sudah membaik menyambutnya dengan senyuman terhangat, khas pengasuh itu. Sabrina meletakkan food basket yang ia bawa di atas nakas sebelum ia memeluk pengasuhnya.
"Di mana suamimu, apa ia tidak datang?" tanya Bibi May.
__ADS_1
"Dia ada urusan penting karena itu ia harus kembali ke Sidney," jawab Sabrina.
"Apa kalian bertengkar?"
"Tidak, Bi. Kami baik-baik saja, aku yang memintanya untuk pergi terlebih dahulu karena aku masih harus merawat Bibi di sini."
Bibi May tersenyum melihat Sabrina yang begitu perhatian padanya. Meski status wanita muda ini adalah Nonanya, tapi Sabrina sudah menganggapnya keluarga, pun dengan dirinya yang menganggap Sabrina layaknya putri sendiri. Sebab mereka hidup saling melengkapi satu sama lain. Sabrina yang kehilangan orang tuanya dan dirinya yang kini tinggal tanpa sanak saudara.
"Bibi mau makan, aku membuatkan bubur dan sup untuk Bibi." Sabrina mengambil food basket itu dan membukanya. Harum dari kaldu sup yang ia masak menggugah selera Bibi May. Dengan cekatan Sabrina menyiapkan makanan itu dan perlahan menyuapi Bibi May yang masih terlihat lemah.
"Sabrina, beberapa waktu yang lalu Tuan Andrew mencarimu. Ia menghubungiku karena ponselmu tidak bisa dihubungi, ada berita baru tentang kecelakaan Tuan Alandro," ujar Bibi May setelah menyelesaikan makannya.
"Maksud Bibi?"
"Sejujurnya, Aku dan Tuan Andrew tidak menyakini jika kasus kecelakaan Tuan Alandro dikarenakan kondisi Tuan Alandro yang mabuk setelah berkencan dengan wanita bayaran itu."
Sabrina mengerutkan dahinya semakin dalam.
"Aku sangat mengenal Tuan Alnadro, dan betapa setia dan cintanya hanya tertuju pada ibumu seorang. Selama bertahun-tahun ia memilih kesepian dan merawatmu demi rasa cintanya pada Nyonya Gabriela. Sebab itu, diam-diam aku dan Tuan Andrew menyelediki kasus kecelakaan itu. Beberapa waktu lalu, Tuan Andrew memberitahuku jika kondisi Tuan Alandro tidak dalam kondisi mengkonsumsi alkohol apa lagi mabuk saat kecelakaan itu terjadi. Fakta ini sengaja disembunyikan oleh seseorang yang kami yakini terlibat dalam kasus kecelakaan itu," terang Bibi May.
__ADS_1
Mata Sabrina membulat sempurna. Ia tidak menyangka, kasus yang telah lama ditutup dan dikubur sebagai kenangan buruk kini kembali mencuat ke permukaan. Meminta perhatian lebih darinya dan juga orang-orang di sekitarnya.
"Kalau begitu, siapa orang yang telah mencelakai ayah?" tanya Sabrina.