
Sabrina mulai kembali ke aktifitas sebelumnya, ia mulai pergi ke florist miliknya. Caty dan Paul menyambutnya dengan binar di mata mereka.
"Oh ... my boss, i miss you so," ucap Caty yang terperangah dan langsung memeluk Sabrina saat melihat wanita itu datang.
"Aku merindukanmu, Nona Muda," ulang Caty.
"Aku juga merindukan kau dan toko ini," balas Sabrina.
Mereka terus saling mendekap, menyalurkan kerinduan karena lama tak jumpa. "Kau harus bercerita banyak padaku tentang pengalaman liburanmu. Tidak boleh ada yang terlewat sedikit pun, karena aku menganggapnya sebagai imbalan telah membantumu bersembunyi dari suamimu," ucap Caty masih memeluk Sabrina.
Mendengar kalimat terakhir Caty membuat Sabrina mengurai pelukannya dan menatap pegawai sekaligus temannya itu sesaat, sebelum akhirnya Sabrina tertawa dan kembali memeluk Caty. Sabrina tahu persis cerita itu, bagaimana susahnya membohongi Fabian, hingga pria itu membuat keributan di toko.
Paul berdehem sangat keras, sengaja untuk menyadarkan dua wanita ini, jika ada orang lain selain mereka berdua. "Apa kalian ingat ada aku yang masih hidup?" candanya tapi dengan nada merajuk.
Sabrina dan Caty mengurai pelukan mereka kembali dan secara bersama-sama menatap Paul yang juga menatap pada dua wanita itu. Tanpa banyak bicara lagi Sabrina dan Caty merentangkan tangannya lebar, isyarat agar paul ikut masuk dalam pelukan rindu mereka.
"Aaaaaa ...," teriak mereka bersama-sama. Tak ada hal yang pernah Sabrina bayangkan jika ia akan punya teman seperti Caty dan Paul. Bukan, bukan hanya teman, tapi Sabrina sudah menganggap mereka layaknya saudara.
Tangan mereka saling tertaut melalui bahu. Sabrina merangkul bahu Caty dan Paul, sementara Caty meletakkan tangannya melingkari bahu Sabrina dan Paul, begitu pun Paul yang membawa dua wanita itu dalam rengkuhannya melalui tangan yang ia hubungkan ke bahu Sabrina dan Caty. Mereka terus tertawa sampai ada seseorang yang membuka pintu florist tiba-tiba.
"Oh ... maaf, aku tidak tahu jika kalian belum siap?" ucap pria itu.
Sabrina, caty, dan Paul serentak menatap pria yang baru saja masuk, seketika mereka melepaskan tangan yang saling terhubung itu.
"Ah ... tidak-tidak, kami sudah siap," jawab Caty cepat, dengan rasa canggung begitu terasa dalam kalimatnya.
Caty tak pernah ingin melewatkan satu pelanggan pun dan tidak boleh mengecewakan pelanggan. Bahkan jika mereka baru saja menata tokonya sembari bersih-bersih dan di saat itu juga ada pelanggan yang datang, Caty akan dengan senang hati segera melayani.
"Silakan masuk Tuan, dan pilihlah bunga yang Anda inginkan?" tawar Caty ramah.
"Mark?" sapa Sabrina, menyela.
__ADS_1
"Hai?" Mark melambaikan tangan kirinya pada Sabrina.
Paul dan Caty sama-sama menatap Sabrina yang ternyata mengenal pria ini. Merasa ditatap dengan penuh pertanyaan oleh kedua temannya, Sabrina pun berkata, "Dia adalah Mark, Mark Antonsen. Dia yang berlangganan bunga pada kita setiap hari untuk dikirim ke Royal Apartemen," jelas Sabrina.
"Kau setiap hari menyiapkannya dan Paul yang selalu mengantar bunga itu." Sabrina memukul lengan Paul dan menatap Caty.
Mereka seolah baru sadar setelah mendengar penjelasan Sabrina. Selama ini hanya Sabrina yang tahu soal Mark, karena saat pertama kali kali pria itu datang bersama kekasihnya ke florist miliknya, saat itu Caty dan Paul sedang berada di luar. Untuk pertama kalinya Mark membelikan buket bunga mawar kesukaan kekasihnya yang bernama Cassandra. Sejak itu Mark memesan bunga dan memintanya agar mengirimkan buket bunga setiap hari dan seratus tangkai mawar merah setiap sebulan sekali tepat di tanggal mereka—Mark dan Cassandra—resmi pacaran.
Mark yang tinggal di kota yang berbeda tidak bisa memberikan perhatian kecuali lewat bunga yang ia kirim. ia hanya ingin kekasihnya selalau merasa ia ada meski mereka terpisah jarak. Oh ... beruntung sekali Cassandra memiliki kekasih seperti Mark, dan keberuntungan Cassandra menjadi keberuntungan juga bagi florist milik Sabrina. Mark seolah menjadi pelanggan tetap selama tiga bulan terakhir. Pria itu juga tidak pernah telat membayar pesanannya via transfer, karena tidak bisa datang ke toko. Sejak hari pertama Mark datang ke toko, hanya satu kali pria ini mampir saat mengunjungi kekasihnya di kota ini dan datang ke florist untuk berterima kasih pada Sabrina karena telah berjasa dalam hubungan percintaannya.
"Apa kau membutuhkan sesuatu, Mark?" tanya Sabrina.
"Tidak, aku hanya ingin berterima kasih saja karena telah membantuku, tapi sayang sekali karena aku harus menghentikan pesananku. Kau tahu, bukan?" Mark mengingatkan Sabrina akan pertemuannya dengan Mark pagi itu, saat pria ini mengatakan jika hubungannya dengan kekasihnya sudah berakhir.
"Aku tahu, dan aku turut sedih atas hal itu," jawab Sabrina. "Apa hanya itu?"
Mark mengangguk.
"Aku tidak terganggu, sejujurnya aku punya tujuan lain ke mari," jawab Mark.
Sabrina menatap penuh tanya pada Mark. "Ada apa?"
"Aku baru pindah ke kota ini, perusahaan tempatku bekerja berpusat di Sydney dan aku telah mendapatkan promosi untuk menjalankan pekerjaanku di kota ini. Aku tidak mengenal siapa pun di kota ini, sebab itu saat aku bertemu dengan mu di mini market aku sangat senang, karena setelah Cassandra hanya kau yang aku kenal di kota ini. Aku ingin mengajakmu merayakan kenaikan jabatanku di kantor. Itu pun jika kau tidak keberatan," jelas Mark.
Sabrina menatap Caty dan Paul, ia ragu untuk menjawab ajakan pria ini. Mark yang menyadari keraguan Sabrina langsung berkata, "Kalian berdua juga boleh ikut, kita akan merayakan bersama, bagaimana?"
Caty dan Paul saling bertanya melalui sorot mata mereka, sedetik kemudian Paul berteriak, "Yeaaa ... tentu saja kami setuju, tidak ada undangan makan yang akan kami tolak." Paul menarik turunkan alisnya pada Caty.
"Paul benar, kami tidak akan menolak," timpal Caty.
Mark tersenyum melihat ketiga orang yang nampak bahagia di depannya. "Baiklah aku akan menjemput kalian jam 7, bagaimana?"
__ADS_1
"Ok," jawab Caty.
"Tidak masalah," jawab Paul.
Sementara Sabrina hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban persetujuan. Senyum yang begitu indah di mata Mark, hingga ia terpaku memusatkan matanya di sana.
"Apa masih ada hal yang lain?" tanya Sabrina pada Mark yang masih saja terdiam di tempatnya.
"Oh, tidak ...hanya itu saja," jawab Mark canggung. Mark benar-benar salah tingkah sendiri hanya karena melihat Sabrina tersenyum ke arahnya.
"Baiklah, sampai jumpa jam tujuh nanti," ucap Sabrina.
"O-ok ... sampai jumpa nanti." Mark nampak bingung harus apa. Ditambah saat Sabrina mengerutkan dahinya mencoba bertanya.
"Aku pamit dulu, sampai jumpa." Mark akan berjalan ke sisi kirinya, tapi Sabrina menunjukkan jika pintu keluar ada di belakangnya dengan tangannya. Mark justru berputar, saking bingungnya.
Hal itu membuat Sabrina dan kedua temannya mentertawakan Mark.
"Kau salah jalan kawan," teriak Paul.
"Akan mengantarmu," seru Sabrina.
Akhirnya Sabrina berjalan lebih dulu dan membuka pintu untuk Mark.
"Maaf merepotkan, tapi terima kasih untuk semua," ucap Mark di depan pintu florist.
"Tidak usah sungkan begitu."
"Bye ...." Mark berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari toko.
Sabrina membalas dengan melambaikan tangannya pada Mark. Ia baru akan masuk setelah melihat Mark sudah menjalankan mobilnya, tapi langkahnya terhenti dan ia menoleh karena merasa ada seseorang yang sedang mengawasinya.
__ADS_1
Tidak ada siapa pun di sekitarnya, Sabrina pun menepis perasaan itu dan kembali masuk.