Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.40 Ingin Lari


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu sejak ajakan Vannesa untuk pergi meninggalkan kota ini. Fabian dan Vannesa sudah merencanakan semua dengan matang, mereka akan pergi ke London dengan sisa tabungan Vannesa. Uang yang Vannesa kumpulkan selama menjadi kekasih Fabian.


Saat ini mereka sedang menunggu taksi yang akan membawa mereka ke bandara. "Sayang cepatlah, kita harus bergegas," seru Vannesa tidak sabar.


Dari tadi ponselnya terus-terusan menyala, menandakan ada panggilan untuknya. Namun, tidak ada niat Vannesa untuk mengangkat panggilan itu. Ia abaikan semua panggilan dari Lucas, hingga ia mengubah mode dering ponselnya menjadi mode silent untuk menghindari kecurigaan Fabian karena telepon yang tidak dijawab.


"Kau sudah siap?" tanya Vannesa saat melihat Fabian keluar dari kamar. Pria itu hanya mengangguk.


"Ayo." Vannesa segera menarik Fabian keluar dari apartemen. Mereka sengaja tidak membawa begitu banyak barang untuk mempermudah kepergian mereka.


"Sayang pelan-pelan saja, jadwal penerbangan kita masih empat jam lagi," ujar Fabian mengingatkan.


"Kita harus buru-buru, Sayang. Kasihan supir taksi sudah menunggu kita di bawah," jawab Vannesa masih menggandengan Fabian untuk berlari.


Benar saja, sampai di bawah supir taksi sudah menunggu mereka. Tanpa membuang waktu lagi, Vannesa menyuruh supir taksi segera berangkat. Di dalam taksi, Vannesa membuka tudung hoodie-nya begitu pun dengan Fabian.


"Kenapa kita harus berpakaian seperti ini?" tanya Fabian yang merasa aneh. Vannesa memang sengaja menyuruh Fabian untuk memakai Hoodie untuk menghindari tangkapan kamera CCTV.


"Ini semua demi keamanan kita. Sekarang kau harus membuka hoodiemu." Vannesa mengambil sebuah topi dari dalam tasnya, untuknya dan untuk Fabian. "Pakai ini!" suruh Vannesa.


Fabian yang masih bingung, mengernyitkan dahinya menatap kekasihnya. "Untuk apa?"


"Sayang, aku yakin saat ini anak buah ayahmu pasti sedang memata-matai kita. Aku tidak ingin kita tertangkap dan mereka menggagalkan rencana kita. Kau juga tidak inginkan hal itu kan?"


Fabian mengangguk saja.

__ADS_1


"Maafkan aku, Fabian, aku harus membohongimu. Bukan anak buah ayahmu yang mengejar kita, tapi anak buah Lucas. Aku terpaksa melakukannya, aku telah mengkhianati Lucas dengan jatuh cinta padamu," ujar Vannesa dalam hati. Vannesa menoleh ke arah Fabian, mengulas senyum di bibirnya, dan dibalas pria itu dengan menggenggam erat tangan wanitanya.


Vannesa menatap teduh wajah Fabian, pria yang selama ini memberinya cinta, tapi justru ia permainkan karena rencana Lucas. Setelah membandingkan sikap Fabian dengan Lucas, Vannesa ternyata memiliki rasa yang seharusnya tidak boleh ada. Dibalik misi yang harus ia emban, Vannesa justru terjerat cinta Fabian. Sikap lembut dan perasaan cinta yang ditunjukkan Fabian membuat Vannesa jadi jatuh hati. Terlebih jika ia mengingat perlakuan kasar Lucas terhadapnya, ia semakin tidak ingin bertahan lagi dengan pria penyiksa itu.


Lucas selalu memperlakukannya seperti budak, ia harus menuruti apa pun yang Lucas inginkan. Lucas tidak hanya kasar ketika Vannesa tidak bisa melakukan tugas yang Lucas berikan, bahkan di atas ranjang pun pria itu sangat kejam. Vannesa sudah tidak bisa lagi menerima semua itu. Ia memilih untuk kabur bersama pria yang jelas-jelas mencintainya.


Rencana ini sudah ia susun dengan rapi untuk menghindari Lucas. Seharusnya, sesuai arahan Lucas, Vannesa harus membawa Fabian pergi dua hari lagi. Ia dan Fabian akan pergi dengan mobil kembali ke Victor Harbour. Nanti, di tengah perjalanan anak buah Lucas akan berpura-pura merampok mereka dan menghabisi Fabian. Dan dia akan membuat skenario jika Vannesa diculik oleh para perampok itu, padahal Lucas yang akan menyembunyikan Vannesa di tempat yang aman.


Lucas yakin jika berita kematian Fabian pasti akan sangat menguntungkan dirinya, karena setelah Fabian tiada hanya dia yang akan menjadi pewaris dari kekayaan Ramos. Namun, siapa yang sangka jika ternyata hati Vannesa telah berpaling.


"Tuan, saya rasa ada yang mengikuti mobil kita," ucap supir taksi setelah melihat spion.


Fabian dan Vannesa kontan menoleh ke arah belakang dan benar, ada yang mengikuti mobil mereka. "Pak, bisa tolong lebih cepat, kalau bisa ngebut saja mereka adalah orang jahat," ujar Vannesa.


"Bagaimana kau tahu mereka orang jahat?" tanya Fabian curiga.


Fabian semakin menatap curiga pada wajah panik Vannesa. "Kau salah."


Vannesa tersentak dengan ucapan Fabian. "Apa maksudmu?"


"Mereka bukan anak buah ayahku."


Vannesa gugup mendengar apa yang Fabian katakan. Tentu saja mereka bukan anak buah Sergio Ramos, karena mereka adalah anak buah Lucas. "Ba-bagaimana kau tahu, kalau menurutku pasti mereka anak buah ayahmu sebab siapa lagi yang akan menghalangi kita pergi selain ayahmu," jelas Vannesa untuk men-distract kecurigaan Fabian.


"Aku mengenal semua anak buah ayahku, dan aku tahu jenis mobil apa yang biasa mereka pakai. Lincoln Navigator L bukan jeep seperti yang mereka pakai."

__ADS_1


Vannesa semakin gelagapan, bagaimana ia harus menjawab kecurigaan Fabian ini. "Sayang, bisa saja 'kan anak buah ayahmu berganti mobil."


"Itu tidak mungkin, karena mobil yang digunakan anak buah ayahku sudah dipesan khusus dengan desain khusus. Itu mustahil jika mereka berani melanggar aturan yang ayahku buat."


Vannesa menoleh ke belakang, mobil yang mengikuti mereka semakin dekat, semakin takut juga dirinya jika tertangkap oleh Lucas. "Pak, tolong lebih cepat lagi," titah Vannesa pada supir taksi. Ia tidak lagi menghiraukan perdebatannya dengan Fabian, yang terpenting sekarang adalah bisa lolos dari anak buah Lucas.


"Kenapa kau begitu takut? jika benar itu anak buah ayahku, mereka tidak akan berani menyakiti kita karena ada aku di sini."


Vannesa semakin tidak tenang, ia selalu menoleh ke belakang memantau jarak antara taksi yang ia tumpangi dengan mobil yang mengikuti mereka. Ia tidak peduli sama sekali dengan ucapan Fabian yang berusaha menenangkan dirinya. Bagaimana ia bisa tenang jika ia tahu pasti mereka bukanlah orang-orang Sergio, melainkan orang-orang Lucas. Mereka adalah orang-orang terlatih yang sangat kejam.


"Pak, tolong lebih cepat lagi!" desak Vannesa.


"Maaf, Nona, saya tidak bisa lebih cepat dari ini karena itu melanggar peraturan," jelas supir taksi.


Vannesa semakin gelisah, tak henti-hentinya ia melihat ke arah belakang.


"Sayang ... tenanglah, semua akan baik-baik saja. Bukankah kau bilang mereka anak buah ayahku, jika itu benar kita tidak dalam masalah. Aku yang akan menjelaskan semuanya," ujar Fabian.


Namun, Vannesa tak sedikit pun mendengar. Ia lebih memilih sibuk mencari cara menghindari orang-orang Lucas.


Sedari tadi Fabian berusaha menenangkan tapi selalu diabaikan. Hingga ia tidak tahan melihat kepanikan Vannesa yang berlebihan. "Vannesa!" sentak Fabian, yang sudah tidak bisa lagi menahan diri.


Spontan, Vannesa menatap Fabian yang tengah menatapnya tajam. Sorot kemarahan nampak jelas di mata Fabian.


"Ma-maafkan aku," ucap Vannesa terbata.

__ADS_1


Fabian ingin sekali marah dengan Vannesa, tapi suara decit mobil membuatnya urung. Secara bersamaan Fabian dan Vannesa melihat ke depan, di mana mobil jeep yang mengikuti mereka telah menghadang jalan taksi yang mereka tumpangi. Fabian dan Vannesa hanya bisa saling tatap. Menunggu siapa sebenarnya yang sedari tadi mengejar mereka.


__ADS_2