
Fabian memikirkan apa yang ayahnya katakan untuk membuat Sabrina bahagia. Padahal, rencana awalnya sudah berhasil, membuat gadis itu menyerah dengan sendirinya dan akan mengajukan cerai. Namun, ayahnya justru mempersulitnya dan membuatnya semakin kesal saat ia harus kehilangan jabatannya di kantor.
"Ayo minum lagi," ajak Martin yang kembali mengisi gelas Fabian yang sudah kosong.
"Jangan terlalu sibuk memikirkan pekerjaan, kita juga butuh hiburan agar tetap waras," sambungnya.
Ditemani wanita cantik nan sexy, Fabian dan teman-temannya suka menghibur diri di tempat yang penuh dengan hingar bingar dentuman musik.
Seorang wanita yang mereka bayar mengambilkan gelas Fabian dan menyodorkannya pada pria itu. Akan tetapi, Fabian menolak. "Aku akan pergi," ucapnya mendorong tangan Gaby—wanita malam yang mereka sewa.
"Kau mau ke mana?" tanya Martin.
"Benar, ini masih terlalu sore untuk meninggalkan pesta. Kau bahkan belum mencicipi hidangan utamanya, bagaimana bisa kau berpikir untuk pergi," rayu Gaby, yang lancang menyentuh lengan Fabian dengan sensual.
Fabian melirik sekilas ke arah Gaby, wanita itu nampak menggoda dengan penampilan seksi dan gaya merayu yang profesional. Gestur wanita itu sangat kentara jika ia menginginkan Fabian. Sebagai pria normal, tentu saja hasrat kelelakian Fabian terpancing melihat aksi Gaby.
"Ikut saja, nikmati hidanganmu. Aku yang traktir," seloroh Martin sembari nyengir.
Di luar dugaan, Fabian melepaskan sentuhan tangan Gaby yang betah menempel di lengannya. "Istriku menungguku di rumah," jawab Fabian lugas. Tanpa banyak bicara lagi, Fabian melenggang dari ruang remang-remang itu.
Gaby dan Martin saling tatap. Merasa ada yang aneh dengan pria itu. Seorang Fabian Ramos menolak wanita yang disuguhkan padanya.
"Huh!" Martin menghembuskan napas kasar. "Apa kau percaya apa yang dia katakan?" tanya Martin pada Leo, yang berada di sampingnya.
"Apa yang tadi dia bilang, 'istriku menungguku di rumah'?" Martin mengulang kalimat Fabian.
"Mungkin dia mulai jatuh cinta," ucap Leo asal.
"Jatuh cinta? pada wanita yang sudah membuatnya berpisah dari Vannesa?"
Leo mengangguk.
__ADS_1
"Ini gila, apa wanita itu begitu hebat hingga membuat Fabian berpaling dari Vannesa?" ucap Martin tak percaya dengan ucapan Leo.
"Bisa saja, seseorang akan mudah jatuh cinta jika terlalu sering bersama." Leo tertawa keras dengan ucapannya sendiri.
Martin manggut-manggut menyetujui ucapan temannya.
Dari basement tempat mobilnya diparkir, Fabian mengarahkan mobil sport hitam miliknya ke kawasan perumahan elite, di mana mansion keluarga Ramos berada. Pintu gerbang otomatis, langsung membuka saat mobil Fabian akan masuk.
Segera ia turun, dan sedikit berlari untuk sampai ke kamarnya. Lampu ruang tamu sudah padam kala ia melewatinya, tanda penghuni rumah sudah terlelap. Derap langkah kakinya menimbulkan suara saat ia menapaki tangga. Fabian tak peduli jika hal itu akan membangunkan orang di rumah ini, yang ada dalam otaknya sekarang adalah, ia harus segera menemui istrinya. Menuntaskan hasrat yang muncul tiba-tiba karena ulah Gaby—si wanita bayaran.
Dengan tidak sabar, Fabian membuka pintu. Langkahnya lebih cepat dari sebelumnya untuk menjangkau ranjang. Biasanya ia akan menyingkap selimut yang menutupi tubuh Sabrina tanpa ampun. Tanpa peduli jika perbuatannya mengusik tidur istrinya. Kapan pun ia menginginkan istrinya itu, tidak boleh ada penolakan.
Fabian kecewa. Saat ia dapati ranjang miliknya kosong. Tak ada Sabrina yang biasa meringkuk sendirian di atasnya seperti malam-malam sebelumnya.
"Aaarrgh!!!" Fabian mendesah frustasi. Ia melempar selimut dengan asal.
Ia baru sadar, jika sudah tiga hari wanita yang selalu ia sebut bodoh itu tak lagi menghuni kamarnya. Selama itu juga tak ada yang memenuhi kebutuhannya.
Fabian mengeluarkan ponsel dari saku jas casual-nya. Ia berniat menghubungi Sabrina dan memintanya pulang, atau ia yang akan mendatangi wanita itu.
Dicarinya history panggilan atas nama Sabrina, tapi tak ditemukan. Ia lupa, jika ia tak pernah sekalipun menghubungi istrinya.
Beralih ke ikon kontak, lalu mengetik nama Sabrina di sana. Tidak ada juga.
"Oh ... apa aku tidak punya nomornya?" Fabian makin kesal mendapati fakta ini. Bagaimana bisa ia akan menemukan wanita itu kalau ia tak bisa menghubunginya.
Belum menyerah. Fabian menggulir layar ponselnya. Membaca setiap nama dalam kontaknya.
"Bukan ... bukan ... bukan ...," lirih Fabian saat membaca nama yang tertera dalam layar.
Jarinya berhenti menggulir kala mendapati nama 'gadis gagu'. Ia tersenyum. Baru ingat jika dulu ia menyimpan kontak Sabrina dengan nama aneh itu.
__ADS_1
Tanpa ragu, Fabian menekan ikon panggil. Berkali-kali panggilan tersambung, tapi tak ada satu pun panggilan yang dijawab. Fabian menjadi marah. Di saat ia butuh, wanita itu justru mengabaikannya.
"Sialan!!!" Fabian membanting benda pipih di tangannya ke atas ranjang. "Berani sekali dia tidak menjawab panggilanku!" teriaknya marah.
Fabian menatap bagian bawah tubuhnya yang masih menegang. "Aarrgh!!!" pekiknya frustasi. Ia menjambak rambutnya sendiri.
Tak ada pilihan lain. Malam ini ia harus pasrah tersiksa sendirian. Fabian pun membanting tubuhnya ke atas ranjang, berusaha men-distract pikirannya agar tak makin membuatnya nelangsa.
Rupanya, hal yang ia lakukan tak efektif sepenuhnya. Fabian tetap gelisah semalaman.
Pagi-pagi sekali ia sudah pergi ke ruang gym. Memanfaatkan energi berlebih ke arah yang lebih positif, berolah raga.
Setelah selesai dengan angkat beban, Fabian mengambil handuk kecil untuk mengelap keringat di lengan dan lehernya, lalu meraih botol air putih—yang ternyata kosong— di dekatnya. Ia pun turun ke dapur untuk mengisinya.
Setelah meneguk air yang membasahi kerongkongannya, ia putuskan untuk langsung ke kamar. Berisitirahat sejenak mungkin akan lebih baik untuknya. Saat berjalan di ruang tengah, ia melewati Sergio yang sedang menyesap kopi. Fabian berbelok arah. Menghampiri ayahnya yang duduk sendirian.
Tanpa permisi, Fabian duduk di seberang Sergio. Tak ada tanggapan apa pun dari Sergio selain memicingkan mata, melirik keberadaan Fabian yang telah duduk di depannya. Sergio tetap menikmati kopi di tangannya.
"Di mana Ayah menyembunyikan gadis gagu itu?" ucap Fabian tiba-tiba.
Sergio mendelik, mendengar sebutan Fabian untuk menantunya.
Tahu maksud sang ayah, Fabian meralat kalimatnya. "Maksudku, di mana Ayah menyembunyikan istriku?" Kali ini Fabian harus bersikap baik demi mengetahui keberadaan Sabrina.
Sergio meletakkan cangkirnya di atas meja. Meraih surat kabar, dan berdiri meninggalkan Fabian. Tak menggubris pertanyaan putranya.
"Ayah!" seru Fabian, yang membuat langkah Sergio terhenti. "Aku ingin menemuinya, di mana dia tinggal?" tanya Fabian, lagi.
"Kau punya banyak waktu untuk bersenang-senang, kenapa tidak kau manfaatkan waktumu itu untuk mencari istrimu," jawab Sergio tanpa menoleh sedikit pun lalu pergi tanpa peduli dengan kekesalan Fabian.
Sabrina benar-benar membuatnya frustasi kali ini. Gadis gagu yang tanpa ia sadari sudah menjadi candu.
__ADS_1