Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.65 Memaafkanmu dan Lepaskan Aku


__ADS_3

Sergio masuk ke dalam kamar putranya setelah melihat bagaimana tersiksanya Fabian yang tak beranjak dari depan kamarnya sendiri sejak semalam. Anak semata wayangnya itu terus berjaga di depan pintu sebab takut jika Sabrina akan lari. Melihat hal tersebut, Sergio merasa sangat bersalah. Ia yang harusnya bertanggung jawab atas semua yang terjadi.


Hal pertama yang tertangkap oleh mata tua Sergio adalah keadaan Sabrina yang sama menyedihkannya dengan Fabian. Menantunya itu tengah duduk bersimpuh di lantai dengan kepala merebah ke tepi ranjang. Terlihat sisa-sisa tangisnya barusan. Ketika wanita itu kembali berdebat dengan Fabian dan meminta untuk pergi tapi tak diijinkan.


Sergio tertegun tak berani melangkah. Ia merasa sangat tidak pantas berhadapan langsung dengan sang menantu, bahkan untuk meminta maaf pun ia ragu. Takut juga malu.


"Kau ...," panggil Sabrina ketika ia menyadari ada yang membuka pintu.


Kau?


Ada apa dengan Sabrina. Semarah itu kah menantunya itu padanya hingga tak mau lagi memanggilnya ayah?


Sabrina menegakkan tubuhnya. "Ada apa kau kemari?" Sabrina sedikit melongok, melihat pintu kamar yang sedikit terbuka. Masih ada Fabian berdiri berjaga di luar pintu.


Hati Sergio mencelos. Niatnya untuk mendamaikan pasangan suami istri itu mendadak menciut ketika melihat betapa teguhnya keinginan Sabrina untuk meninggalkan rumahnya. Kini hatinya dikuasai dilema. Ia ingin Fabian kembali bersama Sabrina dan hidup bahagia, tapi ketika melihat raut Sabrina ia pun tahu jika wanita itu tersiksa dan ingin pergi menjauh.


Sergio berjalan mendekat, ia ikut merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Sabrina yang tengah bersimpuh di lantai. "Sabrina, maafkan aku," ujarnya penuh sesal dan rasa bersalah.


Sabrina tersenyum sinis. "Maaf?" Mata tajam gadis itu terus terarah pada Sergio. Seolah mengikat pria tua itu dalam kemarahan yang terpancar dari sorot matanya. "Kenapa baru sekarang ...?" lirih Sabrina.


Sergio gelagapan dengan pertanyaan menohok Sabrina. Iya, kenapa baru sekarang ia minta maaf?


"Setelah semuanya hancur, kau baru mengucapkan kata itu? Di mana kata itu kau sembunyikan sebelumnya?" Suara Sabrina penuh dengan emosi kemarahan juga kekecewaan.


"Apakah bersama dengan kebohongan tentang kematian ayahku?" ujar Sabrina meraung.

__ADS_1


Sergio semakin tak berdaya. Tak bisa ia berkilah dengan apa yang Sabrina tuduhkan padanya.


"Kau bilang, kau dan ayahku adalah teman baik. Kalian bahkan sudah seperti saudara. Lalu kenapa kau justru mengkhianatinya. Kenapa kau memfitnahnya dengan keji setelah kematiannya?" Sabrina kembali mengeluarkan kata-kata bernada tinggi. "Kau bahkan mengelabui putri dari sahabatmu. Kau bilang kau menyayanginya dan ingin menjaganya setelah ia menjadi yatim piatu. Mengambil tanggung jawab atasnya karena rasa kasih sayangmu pada sahabatmu dan putrinya. Nyatanya apa, semua kau lakukan hanya untuk menutupi dosa-dosamu!"


"Sabrina ... beri aku kesempatan untuk bicara. Aku tahu aku salah tapi aku punya alasan untuk semuanya. Aku mengakui semua kesalahanku. Kau boleh marah padaku, kau pun boleh menghukumku atas kejahatanku, aku akan terima. Tapi aku mohon, maaafkanlah Fabian. Aku yang telah mengatur semuanya tanpa sepengetahuannya, aku yang menyembunyikan kebenaran. Maafkan Fabian dan hukumlah aku." Bulir kesedihan mengalir dari sudut mata tua Segio. Kasih sayangnya pada Fabian telah menghancurkan cinta putranya itu.


Kini jalan satu-satunya yang Sergio punya adalah bertanggung jawab atas perbuatannya dulu. Menerima hukuman dari sang menantu. Ia siap jika harus mendekam di penjara asalkan bisa mengembalikan kebahagiaan putranya.


Mendengar apa yang ayahnya ucapkan, Fabian buru-buru masuk dan berkata, "Ayah, tidak seharusnya ayah yang bertanggung jawab. Aku yang telah menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Aku yang telah membunuh ayah mertuaku sendiri, jadi aku yang pantas untuk dihukum bukan ayah."


"Tidak, aku yang bersalah atas semua yang terjadi. Kalau saja saat itu aku jujur dan melapor pada polisi. Rumah tanggamu tidak akan hancur seperti sekarang ini. Akulah yang pantas untuk dihukum," ujar Sergio.


Mata Sabrina menatap suami dan ayah mertuanya bergantian. Ia justru menjadi muak dengan drama saling berebut kesalahan tersebut.


"Kenapa tidak kalian berdua saja yang masuk penjara?" sela Sabrina. "Bukankah kalian sama-sama bersalah?"


"Sabrina, kau boleh melaporkan aku ke polisi jika hal itu bisa membuatmu lega sebab aku pantas menerimanya tapi tolong jangan ayahku. Dia sudah tua, aku yang akan menanggung semuanya." Fabian tetap bersikeras membela ayahnya.


Sabrina menatap Sergio. Ada rasa iba membayang jika ia benar-benar memenjarakan ayah mertuanya itu. Sergio memang bersalah, tapi Sabrina bukan orang yang tak punya hati. Ayah mertuanya itu pernah baik padanya, pernah begitu menyayanginya bahkan terkesan lebih menyayanginya dari pada Fabian.


"Aku tidak ingin melihat kalian berdua. Keluar kalian!" Sabrina memalingkan muka.


"Sabrina ... dengarkan Ayah," pinta Sergio.


"Pergilah, aku tidak ingin bicara denganmu!" tegas Sabrina tak memandang Sergio sedikit pun.

__ADS_1


Sergio sudah berusaha. Mungkin memang ia harus memberi waktu Sabrina untuk sendiri dan berharap menantunya itu memikirkan kembali permintaannya untuk meninggalkan rumahnya. Pria tua itu berdiri, menepuk bahu putranya lalu keluar dari kamar itu.


Sekarang tinggal Sabrina dan Fabian berdua. Sabrina tetap memilih mengabaikan.


"Sabrina." Fabian berlutut dan meraih tangan istrinya, namun langsung dikibaskan oleh Sabrina.


"Aku mohon maafkan aku, aku akan menanggung semua hukuman darimu. Kau boleh melaporkan aku ke polisi, tapi aku mohon, maafkan aku." Fabian menunduk di hadapan wanita yang begitu ia cintai. Air matanya menetes ke pangkuan tanpa ia sadari.


Berulang kali pria itu mengucapkan kata maaf. Berharap hati istrinya terbuka untuk memberinya kesempatan dan memaafkannya. Namun, Sabrina tetap membisu.


Fabian mendongak, menatap wajah Sabrina yang enggan menatapnya. "Bicaralah, Sabrina. Jangan buat aku semakin merasa tidak pantas di hadapanmu. Apakah kau ingin aku menyerahkan diriku sendiri ke polisi? Katakan jika itu maumu."


"Aku akan melakukannya untuk mendapatkan maafmu. Jangan siksa aku dengan kebisuanmu," mohon Fabian tak henti-henti.


Sabrina menatap suaminya dan membuka suara. "Kau ingin aku memaafkanmu, bukan?"


Fabian dengan semangat mengangguk. "Ya, aku ingin kau memaafkanku. Aku akan lakukan apa pun demi maaf darimu."


"Kalau begitu lepaskan aku dan aku akan memaafkanmu."


Tentu saja Fabian kaget. Mana mungkin ia melepaskan Sabrina. Ia sudah menunggunya selama lebih dari dua tahun, ia tidak mau usahanya sia-sia. Ia tidak bisa melakukannya.


"Ti-tidak, aku tidak bisa." Fabian menggeleng keras.


"Kau ingin maaf dariku, bukan. Aku akan memaafkanmu jika kau melepaskan aku dari hidupmu."

__ADS_1


Fabian lemas seketika. Rasanya ia tak punya lagi tulang-tulang kuat yang menopang raganya. Permintaan Sabrina sungguh berat ia kabulkan. Ia tidak mungkin melepaskan Sabrina begitu saja, terlebih dari kehidupannya. Ia tidak akan mampu meskipun ia sangat mengharapkan maaf dari Sabrina.


__ADS_2