
Fabian segera mengejar ayahnya, tapi sayang mobil Sergio dengan cepat melaju meninggalkan hotel. Terpaksa ia harus menyusul ke kantor ayahnya.
Ia harus mendapat kejelasan tentang perkataan sang ayah tentang jabatannya. Belum lama ini ia turun dari CEO menjadi GM, dan sekarang langsung merosot menjadi mandor proyek. Ini sungguh tidak masuk akal!
Sergio baru saja mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya, saat Fabian mendadak masuk dan meneriakkan protesnya pada keputusan Sergio. "Aku menolak untuk turun jabatan lagi!" ucap Fabian tanpa basa-basi.
"Aku tidak mau menjadi pegawai kelas bawah!"
"Lagi pula, apa Ayah tidak malu melihatku sebagai mandor proyek, mau ditaruh di mana muka Ayah jika kolega Ayah tahu?"
"Aku justru akan sangat bangga jika kau menjadi mandor proyek, karena kau akan benar-benar belajar dari sana. Pekerjaan menjadi mandor proyek bukanlah pekerjaan yang memalukan, karena adanya mereka proyek kita bisa berjalan," jelas Sergio.
"Tapi aku ini putra ayah, bagaimana dengan tanggapan kolega bisnis kita jika tahu aku adalah seorang mandor proyek?" Fabian terus protes tak terima.
"Aku tidak peduli lagi dengan omongan orang. Aku hanya sedang mendidik putraku sendiri!" tegas Sergio.
"Mendidik apa maksud, Ayah! Sampai kapan pun aku tidak akan terima dengan keputusan Ayah!"
"Aku tidak membuka negosiasi denganmu, sekarang keluarlah, aku masih punya banyak pekerjaan!" Sergio mengusir Fabian seolah tak ingat bahwa yang ia perlakukan demikian adalah putranya sendiri.
"Baiklah jika itu mau Ayah, kau akan menyesal telah memperlakukan aku seperti ini!" Hatinya masih dipenuhi rasa kesal dan marah pada ayahnya, tak urung Fabian keluar juga dari ruang kerja Sergio. Memaksa untuk saat ini adalah kemustahilan, sebab Sergio orang yang tak mudah goyah jika sudah mengambil keputusan soal perusahaan.
Semua hal ini membuat suasana hati Fabian menjadi bertambah buruk, niatnya untuk bekerja lenyap sudah. Ia memilih untuk menjadi pembangkang dengan keluar dari kantor dan mangkir dari pekerjaannya.
Fabian berpapasan dengan Lucas di loby. "Bagaimana rasanya, anak manja," cibir Lucas.
"Apa sekarang kau sedang kekurangan pekerjaan sehingga harus mengurusi urusanku!" delik Fabian.
"Oh ... ya, tentu saja kau akan selalu mengurusi urusanku karena kau adalah seorang penjilat, dan seorang penjilat pasti selalu mencari bahan untuk menguatkan posisinya," balas Fabian.
Raut Lucas seketika merah padam, rasanya ia ingin sekali menghajar adik tirinya itu di depan umum. Untung saja, ia punya pengendalian emosi yang cukup baik, yang membuatnya ingat saat ini ia sedang berada di kantor. Akan sangat memalukan jika ia berkelahi dengan saudaranya di depan umum. Terlebih semua citra yang ia bangun selama ini akan rusak jika ia terpancing perkataan Fabian.
__ADS_1
Demi menghindari emosinya meledak, Lucas memilih untuk tak menggubris ucapan Fabian.
"Dasar pecundang!" umpat Fabian saat Lucas melewatinya.
Fabian tersenyum menang menghadapi saudara tirinya, lumayan juga untuk menaikkan moodnya yang sebelumnya hancur. Fabian segera pergi dari gedung DREAM LAND, membawa mobilnya berputar-putar tanpa tujuan di kota hingga malam.
Tujuannya beralih ke kelab tempat di mana ia sering bertemu teman-temannya untuk bersenang-senang. Namun, niatnya untuk bersenang-senang justru buyar saat semua kartunya dibekukan oleh Sergio.
"Sudahlah, aku yang traktir malam ini," ucap Leo menenangkan.
Fabian mendelik pada sahabatnya yang sudah berusaha bersikap baik itu. Dia bukan tipe yang suka ditraktir, dia adalah bos. Bukan peminta-minta!
Egonya terlalu tinggi untuk hal-hal semacam ini. Ia memilih untuk meninggalkan kelab. Di dalam mobil, Fabian berusaha untuk menelpon sang ayah.
"Apa yang Ayah lakukan!" teriaknya pada Sergio begitu sambungan telponnya terhubung.
"Apa Ayah ingin mempermalukanku dengan membekukan semua kartuku!"
Sergio hanya terdiam mendengarkan putranya yang bersikap layaknya anak kecil tengah merajuk. Fabian pun mengeluarkan segala kemarahannya pada sang ayah, yang tak satu pun Sergio tanggapi. Hingga Fabian harus memutus panggilannya karena merasa kesal diabaikan.
"Arrggghhh ... sial!" pekiknya frustasi dengan apa yang Sergio lakukan padanya.
Ia kembali ke mobilnya, lalu membawanya kembali berkeliling kota. Ia tak tahu malam ini harus tidur di mana, kalau pulang tentu saja ia gengsi. Kalau mau sewa hotel ia sudah tak punya uang.
Setelah cukup lama memutari jalanan di kota, ia teringat dengan sebuah apartemen yang tak terlalu mewah yang pernah ia belikan untuk kekasihnya, Vannesa.
"Kau pikir kau bisa menekanku dengan semua hartamu yang kau ambil itu, tidak. Aku tidak selemah itu!" Seringai di bibirnya kembali terbit.
Fabian segera menuju apartemen milik Vannesa. Tempat yang sudah lama kosong, karena Fabian menyuruh Vannesa pergi dari kota itu untuk keselamatannya.
Saat pertama kali pintu terbuka, tercium bau yang tak enak. Bau debu di mana-mana, tapi tak ia hiraukan. Ia sudah sangat mengantuk karena seharian ini menyetir terus. Fabian menarik kain yang menutupi sofa, membersihkannya sebentar lalu merebahkan dirinya di sana.
__ADS_1
Awalnya Fabian pikir ini hanya semalam saja, tapi sudah beberapa hari berlalu dan ayahnya tak menghubunginya. Ini tak bisa dibiarkan. Bagaimana pun caranya ia harus kembali mendapatkan semua yang dulu ia punya. Lagi pula bukankah ayahnya dulu menjanjikan posisi putra mahkota jika ia menuruti keinginannya untuk menikahi gadis gagu itu.
Oh ... ya, gadis gagu itu. Sabrina.
Akankah sikap ayahnya ini juga berkaitan dengan istrinya itu. Kalau diingat-ingat lagi, Sergio pernah bilang agar Fabian membahagiakan Sabrina jika masih ingin duduk di takhta kerajaan bisnis Ayahnya. Benar, gadis gagu adalah kunci untuk mendapatkan semua kemewahannya kembali.
Setelah memikirkan rencananya, Fabian bergegas pulang. Ia buang semua sikap arogansinya untuk menemui sang ayah.
Sergio duduk dengan angkuh di ruang kerjanya, kakinya menyilang elegan dengan dua tangannya yang ia lipat di dada. Menatap tajam pada Fabian yang duduk di hadapannya.
"Katakan apa yang Ayah inginkan," ucap Fabian langsung pada intinya.
Sergio menarik sudut bibirnya ke atas. "Bawa menantuku kembali!"
"Bagaimana jika aku tidak mau, lagi pula dia sendiri yang ingin berpisah denganku."
"Kalau begitu, bersiaplah untuk angkat kaki dari keluarga ini!" Sergio tetap tenang.
"Ayah mengancamku?"
"Kenapa, Ayah. Aku putra Ayah, bukan si gagu itu! Kenapa Ayah justru memihaknya, bahkan mengorbankan kebahagiaanku untuknya!" sambung Fabian.
"Ini bukan ancaman, tapi perintah!"
Fabian memalingkan wajah dari Sergio, ia tersenyum ironi, tapi diturutinya juga perintah sang ayah. "Baiklah, berikan alamatnya!" Fabian menyerah lagi kali ini.
Ia harus melakukan ini jika menyangkut harta kekayaan keluarga Ramos. Bukan hanya demi kesenangannya semata, tapi ada alasan lain dalam hati Fabian. Ia tidak akan pernah rela jika semua kekayaan Ayahnya jatuh ke tangan Lucas dan ibunya. Sebab itu ia harus terus bertahan di sisi Ayahnya.
"Kalau kau mau membawanya kembali, lakukan dengan tulus, dan berusahalah sendiri untuk menemukannya!" Sergio berdiri meninggalkan Fabian yang semakin frustasi.
"Apa-apaan ini, apa Ayah bercanda!"
__ADS_1
Sergio mengulum senyumnya saat keluar dari pintu. "Kau akan sangat berterima kasih nanti setelah tahu niatku yang sebenarnya," ucapnya dalam hati.
Fabian yang masih berada di ruang kerja mulai memutar otak untuk menemukan di mana istrinya itu tinggal sekarang. Ia meraih ponselnya, menghubungi seseorang yang ia yakin tahu di mana Sabrina berada.