Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.32 Menunggu Tiada Hasil


__ADS_3

Sabrina sudah menunggu Fabian yang tadi katanya akan menjemputnya, nyatanya pria itu ingkar janji. Alhasil, Sabrina harus pulang sendiri. Namun entah kebetulan yang disengaja atau tidak, Mark datang di waktu yang tepat ke florist miliknya dan menawarkan diri untuk mengantar Sabrina ke apartemennya.


"Tidak usah, aku tidak ingin merepotkanmu. Aku bisa naik taksi," tolak Sabrina halus.


"Kau tidak merepotkanku sama sekali karena aku juga ingin pulang."


"Aku tahu, tapi kalau kau mengantarku itu akan membuang waktumu." Jujur Sabrina tak enak hati, selain itu juga dia merasa tidak pantas diantar oleh seorang lelaki sementara statusnya sudah bersuami.


"Kau tahu di mana aku tinggal?"


Sabrina mengernyit.


"Aku tinggal di apartemen yang sama denganmu, di Golden Town."


"Benarkah?" Sabrina tidak percaya.


"Tentu saja, kemarin aku menyewa sebuah flat milik temanku agar lebih dekat dengan kantor," jelas Mark.


"Bagaimana, kita pulang sekarang?" ajak Mark.


Kali ini Sabrina tidak bisa menolak, lebih tepatnya tidak enak hati untuk menolak. Ia pun setuju untuk pulang bersama. Hal yang membuat Sabrina lebih terkejut adalah Flat milik Mark berada satu lantai dengannya, mereka benar-benar bertetangga.


"Terima kasih banyak atas tumpangannya, aku masuk dulu," pamit Sabrina saat Mark mengantarnya hingga depan pintu apartemennya.


"Eh ... tunggu, kau tidak menyuruhku mampir?" goda Mark.


"Mungkin lain kali saja, Fabian sedang tidak ada di rumah," jawab Sabrina yang membuat Mark sedikit kecewa, terlebih saat wanita itu menyebut nama lelaki yang ia benci. Seolah mengingatkan dirinya jika Sabrina adalah milik pria menyebalkan itu.


"Oh ... baiklah, aku mengerti," Mark memaksakan senyumnya.


Sabrina pun masuk dan segera membersihkan diri. Sampai ia selesai makan, Fabian belum juga pulang. Ingin menelpon tapi ia sungkan, akhirnya hanya bisa menunggu dalam cemas. Ia tak bisa tidur kalau pria itu belum kembali, karena tadi saat pergi Fabian tidak mengatakan mau ke mana. Sabrina pikir Fabian akan pulang ke apartemennya, tapi tidak, pria itu tidak ada di sudut mana pun di apartemennya.


Demi menghilangkan rasa gelisah yang mendera, Sabrina berusaha menelepon Rosita, seorang pelayan di rumah kediaman Ramos. Sayangnya, Fabian juga tak pulang ke sana, lalu di mana pria itu sebenarnya. Dia bilang dia akan menjadi supirnya, dan mengantarkannya ke mana pun, tapi kenapa sekarang justru menghilang.

__ADS_1


Setelah lama menunggu dan tidak ada hasil, ia yang sudah diserang rasa kantuk memilih untuk istirahat saja, tapi sebelum itu Sabrina menyiapkan bantal dan selimut di sofa ruang tamu di mana Fabian biasa tidur, siapa tahu pria itu akan datang tengah malam nanti seperti biasanya.


Tepat jam dua dini hari, Sabrina terbangun. Hal pertama yang terlintas di otaknya adalah Fabian. Segera ia bangkit dan melihat apakah pria itu sudah tidur di sofa ataukah belum. Kecewa. Hati Sabrina mencelos saat mendapati tak ada seorang pun di sofa ruang tamunya. Ia terduduk di sana sembari mendekap selimut yang ia siapkan untuk suaminya.


Hatinya semakin gelisah saat memikirkan ke mana sebenarnya pria itu pergi.


"Kau ke mana, kenapa tidak mengabariku?" lirihnya sembari mengigit bantal di pangkuannya.


"Aku mencemaskanmu kalau kau tahu," gumamnya lagi.


Ini memang belum jam bangun Sabrina, wajar saja jika ia kembali mengantuk, tapi kali ini ia memilih untuk tidur di sofa, mendekap selimut yang biasa digunakan Fabian.


Suara bel pintu rumahnya yang nyaring membangunkan Sabrina dari tidurnya, dalam keadaannya yang belum sadar sepenuhnya ia bergegas membuka pintu. Dalam hatinya ia senang sekali karena Fabian akhirnya pulang.


"Selamat pagi," sapa seorang pria yang berdiri di depan pintu.


Raut kecewa langsung tergambar jelas di wajah Sabrina. Ternyata bukan Fabian, tapi Mark yang mengetuk pintunya.


"Mark?"


"Kenapa masih malam begini kau mengetuk pintu rumahku?"


Mark sedikit kebingungan dengan pertanyaan Sabrina, malam?


"Sabrina, ini bahkan sudah jam delapan," jawab Mark meragu. Ya ... Mark jadi ikut ragu apakah ini benar sudah pagi ataukah memang masih malam seperti yang Sabrina katakan.


"Jam delapan?" pekik Sabrina, dan Mark mengangguk.


Sabrina menoleh ke arah belakang di mana ada dinding kaca besar di ruang tamunya. Benar saja, sinar mentari sudah sangat terang masuk melalui celah gorden di ruang tamunya.


"Ya ... Tuhan, bagaimana bisa aku bangun sesiang ini," pekik Sabrina. Ia segera menutup pintu kembali dan melupakan Mark.


Saat akan melangkah pergi, ia teringat pada Mark yang tadi mengetuk pintunya. Ia kembali ke pintu dan membukanya lagi. "Maafkan aku, Mark. Aku terlalu panik sampai melupakanmu," ujarnya menyesal.

__ADS_1


"Ada apa kau pagi-pagi ke sini?"


"Aku hanya ingin mengajakmu berangkat bersama, itu pun kalau kau tidak keberatan," jawab Mark terus terang.


Sabrina menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tidak enak hati menolak ajakan Mark, tapi perasaannya sebagai seorang istri tidak bisa juga diabaikan.


"Mark, kau tahu aku baru saja bangun. Aku belum bersiap sama sekali, aku takut kau akan terlambat ke kantormu. Bagaimana jika lain kali saja," tolak Sabrina sehalus mungkin.


"Itu tidak masalah, aku bisa berangkat jam berapa pun aku mau?"


"Apa?" Tentu Sabrina kaget, apakah ada karyawan yang seperti itu, berangkat jam berapa pun yang diinginkannya. Tatapan curiga Sabrina menyadarkan Mark akan jawabannya yang tidak wajar.


"Maksudku, aku hanya perlu mengatakan pada atasanku jika aku sedikit terlambat. Aku bisa membuat alasan jika aku sedang sakit perut," elaknya.


"Tidak-tidak, jangan seperti itu. Itu tidak akan baik untukmu. Lain kali saja kita berangkat bersama, ok."


Dengan sangat kecewa, Mark akhirnya menjawab, "Ok."


Setelah Mark pergi, Sabrina menutup kembali pintunya. Melihat bantal dan selimut di sofa kembali mengingatkannya akan keberadaan Fabian. Ia segera ke kamar mencari ponselnya, siapa tahu pria itu menghubunginya.


Ia kembali harus kecewa saat tak ada satu pesan pun dari pria itu. Memupus segala rasa kecewanya, Sabrina segera bersiap untuk bekerja.


Hari-hari Sabrina lalui dengan berangkat bekerja sendiri, meski Mark selalu menawarkan tumpangan untuknya, dan selalu juga Sabrina berusaha menolaknya. Tidak terasa sudah hampir empat hari Fabian tidak ada kabar sama sekali. Sabrina mulai terbiasa kembali tanpa pria itu, seperti keadaannya saat tinggal di kediaman Ramos. Fabian sering tidak pulang tanpa kabar.


Sore ini setelah pulang dari florist, Sabrina menyempatkan diri untuk berbelanja kebutuhan dapurnya. Isi kulkasnya sudah hampir habis. Ia pergi ke sebuah modern market di sebuah pusat perbelanjaan seorang diri. Dengan mendorong troli, ia menyusuri setiap station yang memajang semua barang yang akan memuaskan perutnya.


Sabrina mengambil beberpa daging dan ikan, lalu sayuran, juga berbagai bumbu dapur yang sudah habis, tak lupa keju dan susu. Saat melewati deretan pasta, Sabrina berhenti di sana. Ia teringat dengan Fabian, ia ingat saat pria itu memasak carbonara untuknya. Rasanya yang lezat membuat Sabrina dengan lahap menghabiskannya.


Senyumnya terukir begitu saja saat dalam hatinya muncul perasaan untuk kembali dimasakkan oleh pria itu.


"Kapan, kau kembali. Aku ingin carbonara yang lezat itu lagi," ucapnya dalam hati.


Sabrina pun meraih satu kotak pasta yang ia inginkan, dan di saat bersamaan seseorang memegang kotak pasta yang ia pilih.

__ADS_1


"Maaf," ucap Sabrina pada orang itu. Saat menoleh dan melihat siapa orang itu, mendadak kaki Sabrina membeku. Lidahnya kelu. Otaknya seolah berhenti bekerja, bersamaan dengan waktu yang berhenti berjalan.


__ADS_2