
"Keluar!" Suara gedoran kaca mobil menuntut orang yang ada di dalamnya segera keluar.
"Bagaimana ini?" Vannesa semakin takut.
"Mereka bukan anak buah ayahku, lalu siapa mereka?" Fabian menatap Vannesa yang ia yakini tahu siapa orang-orang yang telah berani menghadangnya.
Raut Vannesa berubah, ketakutan semakin tergambar jelas di wajahnya. "Fa-fabian, sebenarnya _____"
"Cepat keluar!"
Vannesa hampir terlonjak saking kagetnya, kalimatnya terpotong oleh permintaan orang dari luar.
"Keluar!" teriak mereka lagi sembari menodongkan revolver kaliber 22.
Geram dengan mereka yang telah mengganggu perjalanannya, Fabian berniat memberi mereka pelajaran. Tangan Fabian baru saja memegang handle pintu, saat Vannesa menahan lengannya.
"Kau mau ke mana, jangan keluar," pinta Vannesa.
Fabian melepaskan tangan Vannes yang berada di lengan atasnya. "Percayalah, semua akan baik-baik saja. Kau jangan keluar, aku akan membereskan semuanya."
"Tidak, Fabian jangan keluar." Vannesa menggeleng. "Mereka tidak akan mengampunimu," lanjut Vannesa.
"Kau jangan khawatir." Fabian tetap bersikeras keluar.
Kala pintu taksi di buka, satu pria yang memegang revolver langsung mengarahkan senjatanya itu pada kepala Fabian. Sedikit tersentak, Fabian langsung mengangkat tangannya ke atas. Berpura-pura menyerah.
"Apa mau kalian?"
"Ikut kami!" teriak si pemegang revolver.
__ADS_1
"Aku akan ikut jika kalian memberitahu siapa kalian," jawab Fabian.
"Jangan banyak bicara, ikut saja!" sentak pria bersenjata.
"Aku tidak mau!" tolak Fabian.
"Jangan paksa kami menembakmu saat ini juga."
"Lakukan saja bila kalian berani." Fabian memutar tubuhnya agar dikira akan kembali masuk ke dalam mobil, tapi ternyata dengan gerakan sangat cepat Fabian kembali balik badan dan memukul lengan pria bersenjata dari bawah hingga revolver di tangannya terjatuh karena tidak siap.
Adu tangan kosong pun dimulai. Teman dari pria bersenjata yang berjumlah dua orang langsung ikut bergabung menyerang Fabian. Setiap serangan mampu Fabian balikkan, ia masih bisa menghandle tiga pria bertubuh kekar yang menyerangnya secara bertubi-tubi. Memang kewalahan, tapi Fabian tetap berusaha bertahan. Ia tidak akan membiarkan Vannesa dalam bahaya.
Namun, ia bukan super hero apa lagi robot yang tidak kenal lelah. Sehebat apa pun Fabian dalam bela diri, jika terus-terusan di serang pasti akan kehabisan tenaga juga, terlebih ini tiga lawan satu. Saat Fabian lengah, karena menghadapi serangan pria bersenjata salah satu dari rekan pria itu memukul keras punggung Fabian dari arah belakang. Otomatis Fabian tersungkur karena serangan mendadak itu. Saat hampir bangkit, Fabian dikejutkan dengan kemunculan satu orang lagi yang sudah menyandera Vannesa.
"Fabian!" teriak Vannesa. Gadis itu gemetaran karena sebuah senjata yang menempel di pelipisnya. Satu kali pelatuk ditarik, pecah sudah kepalanya. Vannesa tidak bisa membayangkan jika semua itu terjadi. Ia tidak ingin mati secepat ini.
Melihat kekasihnya dalam bahaya, Fabian tidak mungkin lagi menyerang. Di saat itulah, dimanfaatkan oleh pria bersenjata tadi dan kedua temannya untuk membalas pukulan Fabian terhadap mereka. Secara bersamaan mereka bertiga mengeroyok Fabian, seolah membalaskan dendam atas luka yang mereka terima.
"Bawa dia ke mobil!" titah pria yang menyandera Vannesa.
Fabian sudah tidak berdaya, saat ketiga pria itu membawa tubuh pingsannya berpindah mobil. Tidak ingin meninggalkan barang bukti atau pun saksi, para penjahat itu menghabisi supir taksi tak bersalah itu.
_____________________
Indonesia
"Fabian!" pekik Sabrina. Wanita itu terbangun dengan napas terengah-engah. Ia langsung terduduk, untuk membuat napas dan ritme jantungnya kembali normal. Sabrina bahkan langsung mengambil air di atas nakas di samping ranjang. Layaknya orang kehausan karena berlari ratusan meter, Sabrina langsung menenggak habis air dalam gelas.
Ia berusaha pelan-pelan menarik napas, kemudian mengembuskannya perlahan. "Syukurlah, semua hanya mimpi," gumamnya pada diri sendiri.
__ADS_1
Sabrina kembali merebahkan diri, mencoba untuk kembali menjemput mimpi. Ah ... tidak, ia tidak ingin lagi bermimpi, apa lagi jika harus bermimpi buruk seperti tadi. Ia tidak mau!
Beberapa saat ia mencoba terpejam, tapi matanya seakan tidak bisa bekerja sama. Mungkin karena pikirannya yang tidak tenang. Sabrina mencoba mencari ponselnya, ada di atas nakas berjejer dengan gelas yang tidak lagi ada isinya.
"Jam satu," lirihnya saat melihat jam di layar ponselnya.
Sabrina sudah mencoba dengan keras, tapi tetap tak bisa terpejam. Bayangan akan mimpi buruk itu masih tergambar jelas dalam ingatannya, seolah nyata di depan matanya.
"Kalau di Sydney sekarang sudah jam lima," ucapnya pada diri sendiri. "Kalau di jam seperti ini, pasti masih tidur."
Sabrina menepuk-nepuk kepalanya sendiri.
"Kau sudah berjanji untuk melupakannya, kenapa masih saja kau ingat. Jangan lagi menoleh ke belakang jika itu tidak bisa membuatmu melangkah. Come on Sabrian, move on!"
Bukan hanya itu usaha Sabrina, karena tidak bisa memejamkan mata ia bahkan memilih bangun dan mengambil beberapa berkas yang tadi ia bawa dari kantor milik Sharon untuk ia pelajari. Sabrina memang tidak mau membuang waktu untuk berlama-lama sendiri di rumah, karena ia takut kesendiriannya justru akan selalu mengingatkannya akan nasib buruk pernikahannya. Sebab itu, keesokan hari setelah kedatangannya, Sabrina langsung ikut Sharon ke kantornya. Wanita itu bekerja mengelola sebuah bisnis restoran yang ia bangun dengan sang suami.
Mattew—suami Sharon—adalah seorang cheff. Sementara Sharon memposisikan dirinya sebagai seorang manager restoran. Sejak hari Sabrina masuk bekerja, Sharon menempatkan putri dari bos ayahnya itu sebagai asisten manager. Semua Sharon lakukan demi membalas kebaikan William Alandro yang baik hati, dan juga karena Sabrina belum mempunyai pengalaman di bidang itu. Sampai tahap ini, Sabrina masih harus banyak belajar. Bagi Sabrina semua tidak jadi masalah, selama ia bisa belajar dan menjadi lebih baik.
Harapannya untuk bisa merasakan kantuk tidak terwujud, niatnya untuk mempelajari semua berkas yang diberikan Sharon pun tinggallah niat. Bayangan mimpi buruk itu tak mau lepas dari pikirannya, membuat Sabrina jadi merasa tidak nyaman. Hatinya merasakan gelisah yang tidak ia ketahui sebabnya. pikirannya selalu tertuju pada Fabian.
Sabrina membuka galeri foto di ponselnya, ia ingat masih menyimpan satu foto pernikahannya di sana. Ia memandangi wajah Fabian yang begitu tampan, tapi perasaannya semakin gusar saat menatap wajah pria yang akan menjadi mantan suaminya.
"No, Sabrina. Jangan pikirkan lagi."
Setelah puas menatap foto Fabian, Sabrina langsung menghapusnya. "Dia cukup dikenang, tidak perlu lagi terus dipandang. Mulai sekarang tidak boleh ada lagi nama Fabian dalam hati dan otakmu, Sabrina. Berjanjilah!"
Sabrina terus berbicara pada dirinya sendiri. Meyakinkan hati bahwa ia mampu bertahan tanpa suami, untuk saat ini.
Sampai subuh menjelang, Sabrina tetap membuka matanya lebar. Rasa kantuk sudah benar-benar hilang. Kini berganti rasa mual yang mendadak menyerang. Sabrina berlari ke kamar mandi dan berusaha mengeluarkan isi perutnya, tapi tidak ada. hanya air saja yang keluar.
__ADS_1
Ia sampai terduduk di atas kloset, merasakan lemas tubuhnya.