Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.55 Berpamitan


__ADS_3

Seolah pantang menyerah, keesokan paginya Fabian sudah stand by seperti biasa di depan rumah keluarga White. Sharon yang kala itu tengah menyirami tanaman miliknya melihat kedatangan seseorang yang dikenalnya. Ia pun meletakkan selang air miliknya dan menghampiri orang tersebut.


"Hai, apa yang kau lakukan sepagi ini di rumahku, apa kau tidak punya pekerjaan?" tanya Sharon dengan nada bercanda.


"Hai ... selamat pagi. Kau tahu bukan pekerjaan utamaku adalah menaklukkan saudarimu," jawab Fabian dengan bercanda juga.


"Kau masih belum menyerah rupanya?" goda Sharon. "Apa saja yang kau lakukan semalam. Membuang-buang waktu untuk mengagumi kecantikan Sabrina hingga lupa jika kau ingin mengajaknya rujuk?"


Fabian tertawa dengan pertanyaan candaan yang dilemparkan Sharon.


"Masuklah, aku tidak ingin dianggap tidak nasionalis karena membiarkan orang senegaraku berdiri di luar kelaparan sementara kami akan sarapan dengan menu kesukaan semua orang Sydney." Sharon membuka pintu pagar rumahnya dan membiarkan Fabian untuk masuk dan bergabung dengan keluarganya untuk sarapan.


Fabian melepas kaca mata hitamnya dan mengikuti Sharon masuk. "Akhirnya kau sadar diri juga jika kita adalah saudara sebangsa. Harusnya kau biarkan aku masuk sejak pertama kali aku mulai berdiri di depan pagar rumahmu setiap pagi seperti seorang pengemis. Pasti saat ini aku sudah membawa Sabrina tinggal bersamaku."


Sharon berhenti dan berbalik menatap Fabian. "Kau pantas untuk dihukum," ujar Sharon serius.


Fabian sedikit kaget, tapi sejurus kemudian ia tersenyum dengan kalimat Sharon. "Jadi sekarang aku sudah dibebaskan dari hukumanku, dan kau mau mengajakku masuk, begitu?"


"Tepat sekali." Sharon kembali berjalan dan Fabian mengekor di belakangnya.


"Duduklah, aku akan memanggil Matt dan Alicia." Sharon meninggalkan Fabian di meja makan sendirian.


Pria itu menurut. Ia duduk santai menunggu pemilik rumah untuk berkumpul. Ia mengedarkan pandangannya, mengamati segala sisi rumah Sharon. Ini pertama kalinya ia diijinkan masuk dan bertamu di keluarga itu. Fabian mengamati setiap kamar yang ia lihat, berharap Sabrina akan keluar dari salah satu pintunya.


"Hai, Matt ... tumben kau sudah bangun. Di mana Alicia dan Sha___" Kalimatnya berhenti ketika Fabian menoleh.


"Kau, sedang apa kau di sini?" tanya Sabrina kaget melihat pria yang duduk di ruang makan adalah suaminya.


"Aku ingin menumpang sarapan," jawab Fabian berkelakar.

__ADS_1


Sabrina mendesah kesal. "Huh, bercanda," gumamnya.


"Aku serius, aku belum sarapan karena harus ke sini pagi-pagi. Beruntung Sharon melihatku yang kelaparan dan menawariku untuk ikut sarapan bersama," imbuhnya masih dengan bercanda.


Sabrina berusaha abai pada penjelasan Fabian yang duduk di bangku meja makan. Ia terus saja membawa susu dan juga kopi untuk sarapan anggota keluarga itu. Di belakang Sabrina menyusul Sari yang membawa cereal untuk Alice dan beberapa sandwich untuk Matt dan juga Sharon. Asisten rumah tangga itu meletakkan menu sarapannya di atas meja dan membiarkan Sabrina menatanya sementara ia kembali ke dapur untuk menyelesaiakan tugas lainnya.


Mata Fabian tak lepas dari mengamati Sabrina yang menyiapkan sarapan. Menyadari dirinya jadi pusat perhatian, Sabrina berdiri berkacak pinggang tepat di depan Fabian. "Apa yang kau lihat?" tanya Sabrina mendelik.


"Kau seksi," jawab Fabian spontan.


"Apa?" pekik Sabrina.


"Oh ... maksudku, kau tampak berbeda dengan gaunmu itu. Sudah seperti wanita Indonesia. Apa ya nama gaunmu itu?" Fabian nampak berpikir tentang baju yang dikenakan Sabrina.


Saat ini wanita itu tengah memakai semacam dress longgar dengan panjang selutut dengan bahan yang terlihat begitu adem. Di tambah rambutnya yang dicepol asal ke atas membuat tampilan Sabrina layaknya seorang ibu rumah tangga persis seperti ibu rumah tangga di Indonesia pada umumnya.


"Ah ... ya, daster. Benar, kan? Nama gaun yang kau kenakan sekarang adalah daster?" tebak Fabian. "Kau sangat cocok memakainya, sangat seksi." Fabian mengerling di ujung kalimatnya.


"Di mana Sabrina?" tanya Sharon datang bersama Alicia dan Matt. Ia melihat Fabian senyum-senyum sendiri menatap ke arah dapur di mana Sabrina meninggalkannya.


"Hai, Fabian," sapa Matt.


"Oh ... hai," jawab Fabian yang tersentak karena kedatangan pemilik rumah. "Maafkan aku jika hari ini menumpang sarapan di rumahmu. Istrimu memaksaku," ujar Fabian mencoba mencairkan kecanggungan beberapa detik sebelumnya.


"Tidak masalah, kau juga boleh tinggal di sini kalau kau mau." Matt menatap Sharon—istrinya. Lalu kembali berkata, "Asal kau bayar sewa dengan harga yang pantas," balas Matt. Mereka kemudian tertawa bersama-sama.


Sabrina kembali dari dapur dengan membawa sarapannya sendiri. Oatmeal dengan taburan buah kering di atasnya. Wanita itu duduk di sebelah Alicia seperti biasanya.


"Ayo makan," ajak Sabrina.

__ADS_1


Sharon dan Matt saling memandang. Mereka melihat sarapan mereka sudah ada di depan meja masing-masing kecuali Fabian. Tak ada sarapan untuk pria itu.


"Sabrina kau belum menyiapkan sarapan untuk suamimu," ujar Sharon mengingatkan jika pria yang menjadi tamu pagi mereka adalah suami Sabrina.


Sabrina melirik ke arah Fabian begitu juga dengan Alice.


"Suami?" seru Alice. "Paman suaminya Mommy Sabrina?" tanya bocah itu penasaran.


"Iya, Sayang. Namanya uncle Fabian. Dia adalah suami Mommy Sabrina," jawab Sharon memperkenalkan Fabian pada putri kecilnya.


"Oh ... hai, Uncle. Senang bisa berkenalan denganmu. Kita sudah pernah bertemu sebelumnya, bukan?"


"Hai Sweety, Kau cantik sekali," puji Fabian.


"Terima kasih. Tapi, kapan Uncle dan Mommy menikah, kenapa aku tidak tahu kalau Mommy sudah menikah?" tanya Alicia kritis.


Fabian menatap Sabrina. Bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Alicia.


"Sayang, uncle dan Mommy Sabrina menikah saat kau baru lahir jadi kau tidak bisa menghadiri pernikahannya karena saat itu kau masih bayi," jelas Sharon. "Ok, sekarang habiskan sarapanmu dan segeralah berangkat," tukas Sharon agar putri kecilnya tak lagi banyak bertanya.


"Sabrina, tolong buatkan kopi untuk Fabian," pinta Sharon.


Meski enggan, Sabrina berdiri juga dan membuatkan kopi serta menyiapkan sarapan untuk pria itu. Hanya butuh beberap menit untuk membuat kopi dan Sabrina segera membawanya pada Fabian.


"Sebenarnya tujuanku datang kemari adalah untuk berpamitan," ujar Fabian pada Sharon dan Matt.


Sabrina yang kala itu tengah menaruh cangkir kopi di depan Fabian seolah menghentikan gerakannya. Matanya melirik tajam pada pria di sampingnya.


"Kau mau pergi?" tanya Matt.

__ADS_1


Fabian mengangguk. "Ya, dan aku mengatakan ini karena aku takut kalian mencariku atau bahkan merindukanku karena mendadak menghilang tak ada kabar. Aku tidak enak hati pada kalian, jadi sekarang aku berpamitan pada kalian semua." Fabian sedikit mendongak untuk melihat sorot mata Sabrina.


"Kau mau pergi ke mana?"


__ADS_2