Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.27 Rasa Bersalah


__ADS_3

Fabian mendelik menatap Sabrina yang memberinya dua pilihan, antara keluar kamar atau memalingkan wajahnya. Jujur saja Fabian tidak suka dengan pilihan itu, lagi pula untuk apa?


Toh, Fabian pernah melihat semua yang ada pada tubuh istrinya itu.


"Kenapa kau masih diam saja, keluar atau berpalinglah!" tegas Sabrina sekali lagi.


"Untuk apa aku melakukannya, kalau kau mau ganti baju ya ganti saja. Jangan bilang kau malu padaku, karena bagiku itu tidak masuk akal. Aku sudah sering melihatnya dan kau tidak usah berpura-pura malu," sindir Fabian.


Sabrina memutar bola matanya. Tadinya apa yang ia minta untuk kebaikan Fabian sendiri, tapi nampaknya pria itu lebih memilih untuk menguji nyalinya sendiri. Sabrina mendesah kasar, sebelum berkata, "Baiklah, kalau itu maumu."


Tanpa ragu Sabrina mulai menanggalkan satu persatu bajunya hingga menyisakan pakaian dalam saja. Di saat itulah, iman Fabian seolah di uji. Matanya yang sudah lama tidak dimanjakan dengan pemandangan indah itu, kini harus kembali melihat aksi istrinya yang tak biasa. Bukan hanya matanya, jiwa kelelakiannya pun seolah terbangun paksa saat istrinya menjadi pemandangan paling indah yang ia lihat. Tanpa sadar, kaki Fabian melangkah maju.


"Jangan bergerak dari tempatmu saat ini, karena kau akan menyesal jika melakukanya," ucap Sabrina sembari memasukkan tangannya ke dalam lengan baju tidur yang akan ia kenakan.


Fabian seketika berhenti.


"Aku sudah memberimu pilihan tadi, tapi kau tidak mendengarnya. Sekarang kau harus menanggung semua sendirian. Mungkin aku harus mengingatkanmu kembali soal perjanjian kita waktu itu, aku tidak ingin ada kontak fisik diantara kita sebelum aku yakin untuk kembali padamu, apa kau ingat?"


Fabian langsung bisa menemukan memori tentang perjanjian itu. Benar saja, ia langsung menyesal kenapa tidak memilih salah satu pilihan yang diberikan Sabrina.


Sabrina bisa menangkap raut kesal dari wajah suaminya, dan ia hanya bisa menahan tawa agar tidak semakin membuat pria itu marah.


"Apa kau masih akan berdiri di situ?" tanya Sabrina.


"Aku tidak mengusirmu, hanya saja kalau kau mau bermalam di sini, kau boleh tidur di sofa ruang tamu, sebab tidak mungkin kau tidur bersamaku di sini," sambung Sabrina.


Fabian mendengkus kesal sebelum meninggalkan kamar Sabrina, ia membanting pintu kamar itu dengan kasar.


Sabrina hanya bisa melepaskan tawa yang sedari tadi ia tahan. "Maaf, jika aku telah menyiksamu, tapi kau memang harus merasakannya," ucap batin Sabrina.


Selang beberapa saat, Sabrina keluar membawa bantal dan selimut. Ia pikir suaminya akan bermalam di tempatnya malam ini, tapi ternyata Fabian justru pergi. Pria itu benar-benar kesal pada Sabrina.


_________________________


"Kau di mana?" tanya Fabian di saluran telepon.


"Halo, kau bicara apa? aku tidak bisa mendengarnya," jawab orang di seberang sana.

__ADS_1


Fabian langsung mematikan ponselnya.


Sementara Martin yang berada di ujung saluran telepon hanya bisa menatap layar ponselnya yang tiba-tiba mati. "Dasar aneh, dia yang telepon tapi tidak mau bicara," gerutu teman Fabian itu.


Fabian segera memacu gasnya, tanpa perlu jawaban lagi, Fabian sudah bisa menebak di mana Martin berada saat ini. Dari suara dentuman musik yang ia dengar di panggilannya tadi, pastilah temannya itu sedang berada di night club langganannya.


Tak butuh waktu lama bagi Fabian yang mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata untuk sampai ke HAPPY PARTY CLUB. Fabian segera menuju ruang VIP tempatnya biasa berkumpul dengan Martin dan Leo. Tidak salah lagi, saat Fabian membuka pintu ruang VIP itu, kedua sahabatnya sedang memangku wanita bayaran sembari meneguk minuman memabukkan.


"Fabian?" Spontan, Martin mendorong tubuh wanitanya agar turun dari pahanya. "Ada angin apa kau ke sini, aku kira kau sedang sibuk bermain dengan istri cantikmu," goda Martin.


Mengabaikan pertanyaan temannya, Fabian membuka satu botol minuman yang masih tersegel, lalu menuangnya ke dalam gelas dan meneguknya tanpa sisa.


"Hai ... Man, apa yang terjadi?" tanya Leo.


Fabian mengedarkan pandangan di antara kedua sahabatnya, dan dua wanita bayaran itu pun tak luput dari sorot matanya. "Keluar!" Fabian menunjuk dua wanita yang telah disewa oleh Martin dan Leo.


Kedua wanita itu bergeming. Mereka menatap pria yang telah membayar mereka, tentu saja mereka tidak akan pergi tanpa ijin dari pria yang memiliki mereka malam ini. Apa lagi mereka belum mencapai inti dari pertemuan kali ini.


Martin dan Leo yang melihat sorot dingin dari Fabian akhirnya mengijinkan wanita yang mereka bayar untuk keluar. Melihat dua wanita itu keluar, Fabian kembali menuangkan air dalam botol dan kembali meneguknya sampai tandas.


"Apa yang terjadi, kenapa kau merusak malamku, hah!" ucap Martin.


"Apa kau sedang ada masalah dengan istrimu, atau dengan ayahmu, atau mungkin dengan Lucas, kakak tirimu?" tanya Leo.


"Aku tidak ada masalah dengan semuanya, aku hanya punya masalah dengan diriku sendiri. Kau tahu rasanya harus menahan diri dari istri sendiri itu ternyata begitu menyiksa," jawab Fabian, yang membuat Leo dan Marti saling menatap penuh tanya.


"Kau tahu, Sabrina si gadis gagu itu kini berani menolakku. Dia bilang, dia tidak ingin ada kontak fisik dengan ku sampai dia merasa yakin padaku. Bukankah ini gila?" ucap Fabian lagi.


Martin dan Leo sama-sama mengangguk, mereka paham sekarang ke mana arah pembicaraan dari sahabatnya ini.


"Kalau hanya masalah itu, kenapa kau harus pusing. Di sini surganya wanita kawan, kau mau pilih yang seperti apa pun ada di sini. Kau bisa cari sepuluh wanita yang sama seperti istrimu, bahkan wanita di sini mungkin lebih cantik dari yang di rumah. Apa kau mau aku traktir, heh?" ucap Martin dengan tertawa.


Fabian mendelik pada Martin saat mendengar kawannya itu membandingkan Sabrina dengan wanita penghibur yang ada di sini. "Jaga mulutmu, atau aku bisa merobeknya," tegas Fabian.


Martin tidak takut, ia justru tertawa. "Oh ... come on, Man. Aku hanya bergurau. Kau tentu tahu tidak ada yang sebanding dengan istri dari seorang Fabian Ramos."


Fabian kembali melanjutkan minumnya, dan mengisi gelas kedua temannya untuk bersulang.

__ADS_1


"Sekarang katakan, bagaimana hubunganmu dengan istrimu hari ini."


Fabian terdiam.


"Sampai kapan kau akan mempermainkan istrimu, Fabian," ucap Martin.


"Benar, kurasa kau tidak seharusnya menyakiti istrimu. Jika kau sudah tidak bisa bersama, akan lebih baik kau lepaskan saja dia, dan kembali pada Vannesa," timpal Leo.


"Tapi sebelum itu, tanyakan dan pastikan jika perasaanmu benar-benar untuk Vannesa, bukan karena sekedar rasa bersalah yang membuatmu bersamanya."


Fabian ingat betul bagaimana dirinya dulu bisa berkenalan dan akhirnya menyukai Vannesa.


Fabian yang kala itu sedang mabuk, tiba-tiba terbangun di atas ranjang karena mendengar suara tangisan yang memilukan. Ia masih belum sadar benar untuk bisa membaca situasi saat ini.


"Kau siapa?" tanya Fabian pada gadis yang menangis di antara kakinya yang menyiku. Fabian tidak tahu dan tidak bisa melihat siapa gadis di sampingnya ini.


Mendengar pertanyaan Fabian, gadis yang masih berurai air mata itu mendongak dan memperlihatkan wajahnya pada Fabian. Fabian tersentak kaget, dan bahkan sedikit mundur saat melihat Vannesa yang menangis di sampingnya tanpa mengenakan pakaian. Gadis itu menutup tubuhnya dengan selimut agar tak terlihat oleh Fabian.


"Kau ... Vannesa?" tanya Fabian terbata. Anak baru di kampusnya, yang sedang menjadi perbincangan hangat karena paras cantiknya.


Tapi, tunggu, bagaimana bisa gadis ini ada bersamanya dan menangis sesenggukan? Fabian masih mencerna semuanya.


"A-apa yang terjadi?" tanya Fabian gugup. Ia takut telah melakukan sesuatu di luar batas. Dia memang pria berengsek, tapi dia bukan penjahat yang akan memaksakan keinginannya.


Vannesa diam, tapi ia sedikit menggeser tubuhnya agar Fabian bisa melihat noda merah di seprai putih yang menjadi alas tidurnya.


Fabian sempat tercekat. "Apa maksudnya itu?" Fabian menunjuk noda merah tersebut.


"Kau yang melakukannya, kau memaksaku semalam," lirih Vannesa.


Fabian mencoba untuk mengingat kejadian sebelumnya. Benar, ia memang mabuk, lalu dengan langkah gontainya ia berjalan menyusuri koridor untuk keluar dari kelab. Sebelum ia sampai pada pintu keluar, ia melihat Vannesa yang tengah digoda oleh beberapa pria kurang ajar. Bak pahlawan, Fabian menyelamatkan Vannesa dan membawanya pergi dari sana. Bukannya bertanya rumah Vannesa ia justru membawa gadis itu ke hotel. Di sanalah, Fabian memaksa Vannesa.


Begitulah yang ia ingat, selanjutnya ia tidak tahu apa yang terjadi sampai ia bangun dan mendapati Vannesa menangis di sampingnya. Merasa menjadi pria yang bejat karena telah menodai seorang gadis, Fabian akhirnya berjanji akan bertanggung jawab. Ia yang telah merenggut kesucian Vannesa, maka dari itu ia harus bertanggung jawab.


Sejak hari itu, hubungan mereka menjadi lebih dekat. Namun anehnya, sejak hari itu juga Vannesa tidak pernah ingin Fabian menyentuhnya lagi.


"Aku ingin menjadi wanita yang istimewa bagimu, kau tahu bukan, aku sudah menjaga kesucian ku hanya untuk suamiku nanti tapi kau justru mengambilnya. Aku tidak ingin menyesali semua yang sudah terjadi, tapi aku ingin kau menghormati keputusanku untuk melakukannya setelah nanti kita menikah. Aku yakin, sensasinya akan berbeda," ucap Vannesa kala itu, dan Fabian menurutinya hingga sekarang. Semua ia lakukan karena rasa bersalahnya pada Vannesa.

__ADS_1


Sampai hari ini, ia tidak tahu perasaan apa yang ia miliki pada Vannesa. Ia hanya tahu, jika ia sudah merusak apa yang Vannesa pertahankan dan sebagai lelaki ia punya rasa untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.


__ADS_2