Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.51 Bisakah Kembali?


__ADS_3

Sabrina gelisah di atas ranjangnya. Pernyataan Fabian tadi masih membekas jelas dalam ingatannya.


"Aku mencintaimu."


Sebuah kata yang membuat lidah Sabrina kelu seketika. Membuatnya tak bisa melafalkan kata walau sepatah. Pandangan mereka beradu. Terjalin oleh tali perindu yang tak mampu terlihat mata. Fabian. Dalam diam pria itu masuk ke relung hati Sabrina, menggetarkan hati yang telah lama ia paksa mati.


"Aku mencintaimu," ulang Fabian kala itu, yang membuat Sabrina tersadar dari angan yang jauh melampaui jangkauannya.


Buru-buru ia memutus tali tak kasat mata itu. Tak ingin masuk terlalu jauh ke dalam sihir dalam pandangan sang suami. Sabrina segera berlari pergi.


"Sabrina," panggil Fabian sebelum istrinya itu benar-benar keluar.


Wanita itu berhenti, dan kembali berbalik menatap pria yang memanggilnya.


"Hafalkan nomor apartemenku," ujarnya dengan mengulas senyum.


Bodohnya Sabrina, untuk apa ia berhenti hanya untuk mendengar permintaan konyol Fabian.


"Aaarrrgghhhh!" Sabrina menjerit di atas ranjangnya. Ia terus mengusap wajah yang menatap langit-langit kamarnya. Bayangan kejadian di apartemen Fabian tak mudah ia hapus begitu saja. Ungkapan Fabian terus terngiang di telinganya.


Ia tengkurap, dan menenggelamkan kepalanya di bawah bantal. Kakinya terus menjejak kesal jika mengingat dirinya yang masih saja naif di depan Fabian.


Semalaman ia lalui tanpa tidur nyenyak. Wajah pria itu semakin mengusik pikirannya. Dan pagi ini, ia harus rela terus menguap karena memang tak mendapatkan kenyamanan tidur yang seharusnya.


"Selamat pagi," sapa Sabrina pada seluruh anggota keluarga White.


"Hai, Mom. Are you ok?" Alicia menatap Sabrina yang baru bergabung dengan mereka di meja makan. Gadis kecil itu sampai berhenti mengunyah hanya untuk fokus melihat Sabrina.


"Yes, why?"


"No, you look so tired."


"Ya aku memang tidak bisa tidur semalam."


"Kenapa?" jiwa ingin tahu Alicia berkobar.


"Sweety, kau harus segera berangkat, ok," sela Sharon tak ingin anaknya itu ikut campur urusan orang dewasa.


"Just a moments, Mom."


"No, kau harus segera berangkat, Sayang."


Alicia, gadis kecil itu mencibir karena tak mendapat kesempatan mendengarkan cerita dari Mommy Sabrina.

__ADS_1


"Lain kali aku akan ceritakan padamu, ok?"


Mendengar itu Alicia kembali bersemangat dan dengan lahap menghabiskan sarapannya.


"Bersiaplah dan aku akan mengantarmu ke sekolah," ujar Sabrina.


"Sabrina, kau pergi diantar supir saja ya, bersama dengan Alicia. Hari ini aku akan memakai mobilmu."


"Oh ... ok," jawab Sabrina setuju saja.


"Oh ... ya, tolong bantu aku mengantarkan makanan ke rumah seorang teman. Dia sedang sakit dan tidak punya keluarga di sini, karena itu aku ingin membantunya. Soalnya aku sudah janji bertemu seseorang hari ini. Bisa, 'kan?"


"Tentu."


"Kau sudah selesai, Sayang?" tanya Sabrina pada Alice.


Gadis kecil itu mengangguk dan Sabrina segera bersiap.


"Sabrina," panggil Sharon sebelum wanita itu pergi.


"Tolong kau bantu dia jika dia membutuhkan bantuanmu. Kasihan dia sedang sakit," pesan Sharon.


"Tidak masalah, aku akan melakukan yang terbaik untukmu. Kau pasti akan mendapatkan predikat teman terbaik," jawab Sabrina berkelakar.


"Bye ...." Sabrina melambaikan tangannya begitu juga Alice.


Sabrina mengantarkan Alicia ke sekolah lebih dulu, baru ia pergi ke tempat teman Sharon untuk mengantarkan makanan.


"Sudah sampai, Nona," ujar supir pada Sabrina.


"Ya?" Sabrina sedikit tersentak kala supirnya mengajak berbicara. Ia bahkan tidak sadar jika mobil yang membawanya sudah berhenti. Lamunannya membawa ia pikirannya melayang dari raganya.


"Kita sudah sampai di alamat yang Nyonya Sharon katakan," jawab supir itu.


"Oh, terima kasih." Sabrina segera turun tanpa memperhatikan apa pun lagi. Dengan membawa rantang makanan yang sudah disiapkan oleh Sharon, Sabrina menekan angka 20 pada panel lift seperti yang dikatakan oleh Sharon tadi. Dalam sekejap Sabrina sudah diantarkan naik ke lantai atas gedung itu. Sabrina membaca setiap nomor apartemen yang ia lewati, sembari mengingat nomor apartemen teman Sharon.


"Ini dia," gumam Sabrina saat menemukan nomor apartemen teman Sharon itu. Tanpa ragu ia menekan bel pintu apartemen itu. Tak lama pintu terbuka dan menampilkan wajah pria yang membuatnya ingin kabur seketika. Sabrina langsung balik badan, ia belum ingin bertemu lagi dengan pria yang membuatnya tak bisa tidur semalam.


"Kau mau ke mana?" sergah Fabian.


Sabrina tidak peduli. Ia tetap ingin pergi.


"Apa Sharon tidak menitipkan sesuatu padamu?"

__ADS_1


Seketika Sabrina berhenti. Bukankah tujuannya tadi adalah mengantar makanan. Ia melirik rantang di tangan kirinya, lalu berbalik dan menyerahkannya pada Fabian. "Ini!"


Fabian menatap rantang di tangan Sabrina sekaligus wajah kesal istrinya itu.


"Kau ambil tidak!" ketus Sabrina.


"Masuklah, dan letakkan itu di meja makan."


Sabrina mendelik. "Untuk apa aku masuk, ambil saja ini!"


"Tolong," ucap Fabian dengan mimik memohon.


Sabrina mendengkus kesal. Kalau saja ia tidak ingat pesan Sharon untuk membantu temannya, Sabrina pasti sudah pergi dan tak peduli lagi pada pria ini. Entah sejak kapan Sharon berteman dengan Fabian, tapi ia tak bisa mengingkari janji pada Sharon untuk menjadikan wanita itu memiliki predikat teman terbaik.


Menuruti permintaan Fabian, Sabrina masuk dan melewati pria itu begitu saja. "Dasar manja!" gerutunya sambil lalu.


Fabian yang mendengarnya hanya busa mengulum senyum. "Apa kau lupa nomor apartemenku? Bukankah kemarin aku memintamu menghafalnya," ujar Fabian yang mengikuti Sabrina masuk.


Mengingat hal itu membuat Sabrina semakin kesal saja. Bisa-bisanya ia lupa tentang apartemen yang baru ia datangi kemarin. Jujur saja tidak ada niatan Sabrina untuk datang lagi kemari karena itu ia juga tak ingin mengingatnya apalagi menghapalkannya. Setelah meletakkan rantang yang ia bawa ke atas meja makan, Sabrina ingin langsung pergi, tapi lagi-lagi Fabian menahannya. "Tolong temani aku makan," pinta Fabian.


"Aku sibuk!"


"Sharon bilang kau boleh masuk lebih siang hari ini. Itu artinya kau punya cukup waktu untuk menemaniku makan.


Sharon?


Sedekat itukah Sharon dengan Fabian hingga apa pun diceritakannya pada pria ini.


"Sebenarnya apa mau mu?" tanya Sabrina tidak suka.


Fabian masih bisa tersenyum melihat raut ketus Sabrina. "Temani aku makan."


"Kau bukan bayi yang harus ditemani saat makan!"


"Kakiku masih terlalu sakit jika berjalan jauh."


"Ish ...." Meski kesal, Sabrina tetap mengambil piring untuk Fabian dan menyiapkan sarapan untuk pria itu. "Cepat makan, aku harus segera pergi!"


Fabian segera duduk dan mulai menimati makanan yang Sabrina siapkan. Di depan Fabian, Sabrina memilih menyibukkan dirinya dengan benda ponsel di tangannya. Sesekali Fabian melirik Sabrina yang nampak pura-pura sibuk itu. Sampai wanita itu tidak sadar jika Fabian sudab menghabiskan sarapannya.


"Bisakah kita kembali seperti dulu?"


Sabrina sontak menghentikan aktifitasnya menscroll layar ponsel dan menatap Fabian yang juga tengah menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2