
Ini adalah hari kelima Fabian berada di depan rumah keluarga Mattew West. Ia bertanya pada Hiro—bosnya—ketika ada di pesta itu. Dan Hiro memberi tahu tentang nama pria yang sedang berdansa dengan Sabrina kala itu. Wanita bergaun toska yang dipanggil Mommy oleh anak kecil itu adalah Sabrina, istrinya.Di pesta itu, akhirnya Fabian menemukan Sabrina kembali.
Fabian tidak segegabah dulu. Setelah mengamati istrinya yang sedang berdansa, ia lebih memilih mencari tahu siapa pasangan dansa istrinya itu. Dari situlah, Fabian mengumpulkan informasi yang mengantarkannya ke alamat di mana ia berada saat ini.
"Aku tidak percaya, jika sebenarnya kita sangat dekat Sabrina, tapi Tuhan belum mengijinkan kita untuk berjumpa. Entah apa rencana-Nya, setelah dua tahun kita berada di negara yang sama bahkan kota yang sama, kita baru dipertemukan," gumam Fabian terus mengamati rumah mewah yang ditempati oleh Sabrina sekarang ini.
"Apakah Tuhan ingin melihat perjuanganku, atau kah Dia sedang menghukumku atas perbuatanku padamu di masa lalu? Apa pun itu, Tuhan berhasil membuat aku merasakan semuanya, perjuangan dan hukuman," sambung Fabian.
Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, rutinitas Fabian setelah dipertemukan lagi dengan Sabrina adalah melihat wanita itu dari jauh. Ia masih menjadi seorang pengecut, ia belum berani menampakkan diri untuk menyapa setelah sekian lama tak bersua. Ia bahkan tak punya nyali untuk mengungkapkan rindu yang terus terpupuk dalam hati.
"Sabrina ... aku merindukanmu." Hanya kalimat itu yang selalu terucap saat melihat wajah istrinya dari jauh.
Seperti hari ini, ia memilih mengikuti Sabrina ke mana pun seperti seorang penguntit dari pada harus menampakkan diri di depan wanita itu. Rasa bersalahnya yang begitu dalam membuat Fabian tidak berani menyapa Sabrina walau hanya sebatas kata.
Fabian mengikuti Sabrina yang sedang menghabiskan waktunya untuk menemani gadis kecil bernama Alicia di pusat perbelanjaan. Anak yang dulu ia tabrak sewaktu di pesta, yang sempat membuatnya salah paham jika Sabrina sudah memiliki anak.
Untung saja logikanya bekerja dengan cepat hingga ia bisa membuat penalaran tentang semua kejadian. Alicia adalah anak berusia sekitar empat tahun, sementara dia dan Sabrina baru berpisah selama dua tahun jadi tidak mungkin jika Alicia adalah anak dari istrinya itu.
Fabian hanya bisa mengawasi mereka dari jauh.
"Sedang apa kau di sini?" seseorang menepuk bahu Fabian.
Fabian yang kaget sontak menoleh. "Kau?"
"Jovan!"
"Iya, maksudku itu, Jovan?"
"Sedang apa kau di sini?" Jovan celingukan mencari sesuatu yang tadi diamati oleh Fabian.
"Aku sedang berlibur," jawab Fabian.
Jovan semakin curiga. "Kau, berlibur ke tempat seperti ini?"
"I-iya, memangnya kenapa?"
__ADS_1
Jovan semakin menatap curiga pada pria berkewarganegaraan asing yang merupakan rekan kerjanya ini. Jovan merangkul Fabian dan membawanya sedikit menjauh dari area bermain anak itu. Lalu membisikkan sesuatu, "Apa kau tahu hukuman untuk seorang paedofilia di negaraku?"
Fabian menggeleng.
"Baiklah, akan aku jelaskan. Selain hukuman penjara, ada hukum lain di negara ini, seperti hukuman kebiri, kau tahu artinya bukan?"
Fabian mengangguk.
"Itu pun kalau kau ditangkap oleh polisi terlebih dahulu, tapi kalau para emak-emak warga plus enam dua yang lebih dulu menangkapmu, bisa habis itu burungmu dipotong." Jovan melihat ke bawah, di mana ada aset berharga Fabian di sana.
Fabian takut mendengarnya, tapi ia bingung juga sebenarnya apa maksud dari perkataan Jovan.
"Jadi aku sarankan, jika kau tidak menyukai wanita janganlah kau menyukai anak di bawah umur, selain tidak berperikemanusiaan, aku yakin hidupmu akan menderita jika sampai tertangkap warga negara ini."
Dari kalimat Jovan, baru Fabian menyadari arah pembicaraan ini.
"Aku tidak punya ketertarikan dengan pria apa lagi anak kecil. Aku pria normal," jelas Fabian.
"Apa, bukankah waktu di pesta kau bilang kau tidak tertarik dengan wanita?" pekik Jovan.
"Aku tidak bilang begitu, kau saja yang beropini seperti itu!"
"Lalu, apa yang kau lakukan di sini?" Jovan masih saja menatap curiga. "Kau belum punya anak, untuk apa kau memperhatikan area bermain anak?"
Fabian sebenarnya tidak ingin memberitahu siapa pun tentang Sabrina juga masa lalunya, tapi apa boleh buat, mungkin sekarang saatnya berterus terang pada temannya ini jika ia memiliki seorang istri.
"Kau lihat wanita di sana!" Fabian menunjuk pada Sabrina yang sedang bermain dengan Alicia.
Jovan mengangguk.
"Dia istriku."
Otomatis Jovan terkesiap dengan pernyataan Fabian. Sontak Jovan tertawa. "Kawan, kau jangan gila hanya karena belum menemukan jodohmu," ujar Jovan tak bisa percaya dengan ucapan Fabian.
"Apa aku terlihat bercanda?"
__ADS_1
"Tidak!" jawab Jovan. "Tapi kau terlihat gila," sambung pria itu.
Fabian menyugar rambutnya, frustasi menghadapi temannya ini. Jovan tidak percaya jika Sabrina—wanita yang sedang bermain dengan anak kecil itu adalah istrinya.
Fabian melihat ke arena bermain anak, ia terkejut karena tidak ada lagi Sabrina di sana. Fabian panik, ia langsung pergi meninggalkan Jovan.
"Hei, kau mau ke mana?" seru Jovan.
Fabian tak menanggapi seruan Jovan ia terus berlari mencari keberadaan Sabrina dan anak kecil itu. Untunglah, Fabian masih bisa menemukan mereka di kedai es krim. Raut lega tergambar jelas di wajahnya.
Namun, raut itu seketika berubah ketika Jovan menariknya pada Sabrina yang sedang duduk menikmati es krim bersama seorang anak lain dan juga seorang pengasuh.
"Hai," sapa Jovan pada Sabrina.
Sabrina yang tengah menekuri mangkok es krim mendongak demi melihat orang yang menyapanya. Betapa terkejutnya ia saat melihat seseorang di samping pria yang menyapanya.
"Daddy!" seru seorang bocah yang ditemani pengasuhnya.
"Mr.Jovan?" sapa Sabrina, kemudian beralih menatap Fabian yang berdiri di samping ayah dari teman Alicia itu.
"Apa kabar, Nona Sabrina, senang bisa bertemu dengan mu," ujar Jovan.
"Ba-baik." Tatapan Sabrina tak lepas dari pria yang sama wajahnya dengan Fabian, tapi ia masih belum bisa percaya jika itu adalah Fabian.
"Perkenalkan, ini temanku, Fabian." Jovan menunjuk Fabian yang ada di sampingnya.
"Hai ... Sabrina."
Suara Fabian begitu jelas terdengar, meski sudah lama berusaha untuk melupakan, tapi Sabrina tidak pernah lupa dengan suara berat khas suaminya itu. Kini ia tak tahu harus bersikap bagaimana.
Sabrina bingung, ia gugup dengan situasi mendadak ini. "Ma-maafkan saya, Mr.Jovan. Sa-saya ha-harus segera pergi." Sabrina menarik Alicia dari bangkunya, dan membawa anak kecil itu pergi dengan cepat.
Fabian tak bisa mencegah, sama halnya dengan dirinya pasti Sabrina juga terkejut saat pertama kali melihat dirinya.
"Kalian benar-benar saling kenal?" tanya Jovan.
__ADS_1
Padahal tadi niatnya hanya untuk menguji kebenaran kata-kata Fabian setelah melihat wanita yang ditunjuk oleh Fabian. Secara kebetulan Jovan mengenal Sabrina karena gadis kecil yang bersama Sabrina, yang ia ketahui sebagai keponakan wanita itu adalah teman sekolah dari Jayden—putranya. Setelah melihat reaksi keduanya, Jovan sadar jika Fabian dan Sabrina memanglah dua orang yang memiliki hubungan.
Fabian terpaku menatap kepergian Sabrina. Ia merutuki dirinya yang tidak bisa tegas. Harusnya ia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk berbicara dengan Sabrina, tapi tidak. Ia justru tidak berani melakukannya.