Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.6 Pergi Dari Rumah


__ADS_3

Sabrina mulai mengepak barang-barangnya, ia berencana pindah dari rumah keluarga Ramos. Sejak kejadian itu, ia sudah memikirkan masak-masak kalau ia akan pergi dari rumah mertuanya ini.


Dibantu Rosita, Sabrina mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam kardus. Sementara baju-bajunya ia masukkan ke dalam koper.


"Apa Nona tidak akan kembali ke sini?" tanya Rosita.


"Entahlah, tapi aku akan berkunjung ke mari jika tidak sibuk," jawab Sabrina sembari menarik resleting kopernya.


"Tolong panggilkan Paman Robert untuk mengangkat semua barang-barangku ke bawah," pinta Sabrina. Tanpa menunggu lagi, Rosita segera turun untuk memanggil Robert–supir keluarga Ramos.


Sabrina memasukkan barang-barang kecil seperti make up ke dalam pouch yang sudah ia siapkan. Sabrina bukan tipe pesolek, jadi tidak banyak peralatan make up yang ia miliki, hanya  ada bedak, eyeliner, maskara dan lipstik. Semua barang-barang itu, mulai ia kenal saat akan menjelang pernikahan, bibi May memberikannya sebagai hadiah. Meski begitu, bibi May bilang, 'Sabrina adalah gadis cantik meski tanpa make up'. Pujian yang selalu bibi May utarakan.


"Apa kau serius untuk pergi dari rumah ini." Suara Sergio yang muncul dari balik pintu, menyita perhatian Sabrina. Membuatnya menghentikan aktifitas packing-nya sejenak.


Sabrina hanya bisa mengangguk.


"Kenapa harus pindah, kau adalah menantu keluarga ini," ujar Sergio.


Sabrina menutup pouch tempat make up-nya, dan memasukkannya ke dalam salah satu paper bag. "Aku akan belajar hidup tanpa dia," jawab Sabrina.


Sergio menautkan kedua alisnya. "Apa kau menyerah?" Sergio pikir, Sabrina akan mempertimbangkan sarannya kemarin, tapi nyatanya menantunya akan pergi dari rumahnya.


"Maafkan aku, aku tidak ingin terlalu berharap, apalagi memaksa Fabian untuk menerimaku. Akan lebih baik jika aku mulai hidup sendiri tanpa dia. Aku akan belajar menjalani hidup yang baru." Nampak gurat kesedihan dan putus asa di raut wajah Sabrina. Ia memang sedang berusaha, tapi akan lebih baik menyiapkan hatinya sedari awal, untuk tidak terluka lebih dalam.


"Tolong dukung aku," pintanya pada mertuanya.


Sergio mendekat, ia pun merentangkan tangannya untuk bisa memeluk menantu yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri. "Apapun keputusanmu, aku akan mendukungmu, tapi aku masih sangat berharap jika kamu tak akan pernah melepaskan statusmu sebagai menantuku," ucap Sergio.


"Terima kasih untuk semua kebaikan Ayah," jawab Sabrina.


Rosita kembali bersama Robert, karena pintu kamar yang sengaja dibuka, mereka bisa melihat pemandangan mengharukan antara menantu dan ayah mertua itu. "Semua sudah siap, Nona," ucap Rosita.


"Baiklah, tolong angkat semua ke bawah dan aku akan segera turun," jawab Sabrina.


"Aku juga akan turun." Sergio mengusap lengan Sabrina lalu ikut turun bersama  Rosita dan Robert. Meninggalkan Sabrina sendiri dalam kamar penuh kenangan ini.

__ADS_1


Sabrina berjalan ke arah dinding, di mana foto pernikahannya tergantung rapi. Ia mengusap gambar dirinya dan juga Fabian. Ditatapnya lekat potret dirinya yang mengenakan gaun putih nan indah menjuntai. Untuk pertama kalinya Sabrina merasa dirinya terlihat cantik, sebab mengenakan gaun pengantin yang ia impikan sejak kecil.


Seperti mimpi, dirinya bisa bersanding dengan pria yang sejak kecil ia anggap sebagai pahlawan dalam hidupnya. Fabian berdiri dengan gagah di sampingnya. Semakin ditelisik, Sabrina baru menyadari jika dalam foto itu tak ada sirat bahagia di raut wajah Fabian.


"Bodoh!" Sabrina kembali merutuki dirinya, dengan senyum miris. "Harusnya aku sadar dengan sikapmu sejak dulu, sejak pertama kali ayahmu mempertemukan kita kembali," gumam Sabrina pada diri sendiri.


Dua tahun yang lalu, saat pertama kali Sabrina menginjakkan kaki ke rumah keluarga Ramos, untuk pertama kali juga Sabrina bertemu kembali dengan Fabian. Rumah keluarga Ramos yang begitu besar membuat Sabrina yang kala itu sedang mencari toilet justru tersasar masuk ke kamar Fabian. Dari semua kamar, hanya kamar itu yang terbuka. Tanpa pikir panjang, karena sudah merasa tidak tahan untuk buang air kecil, Sabrina masuk dan menggunakan kamar mandi milik Fabian.


Saat akan keluar, pintu kamar itu sudah terkunci. Sabrina menekan handle pintu berkali-kali tapi tidak bisa terbuka, karena panik ia tak berpikir jika pintu itu menggunakan elektronik lock.


Sabrina menggedor pintu kamar berkali-kali dengan takut. "Tolong ... buka pintunya," teriak Sabrina masih menggedor pintu. "Tolong ... aku terkunci di dalam." Kembali Sabrina berteriak mencari bantuan.


Setelah cukup lama menggedor, muncul sosok pria si pemilik kamar. "Siapa, kau?" tanya Fabian yang heran melihat ada gadis yang tak ia kenal ada di dalam kamarnya.


Menatap pria di depannya, hati Sabrina berdegup kencang. Fabian, pria yang akan menjadi suaminya. Tentu saja Sabrina langsung bisa mengenali pria itu, wajahnya bak terpatri dalam hati dan ingatan selama hampir tiga belas tahun.


"Hei ... aku sedang bertanya, siapa kau!" sentak Fabian yang membuat Sabrina terhenyak.


"A-aku ...." Saking gugupnya, Sabrina hampir tak bisa menjawab apa yang ditanyakan Fabian. Ia terlalu takut, apalagi dengan aura dingin yang terpancar dari diri Fabian.


"Aku ...." Sabrina tertunduk takut. Untung saja suara ketukan pintu menyelamatkannya dari situasi menakutkan ini.


Adalah Sergio, orang yang telah mengetuk pintu kamar Fabian. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Sergio pada Sabrina, yang mendapat jawaban anggukan dari gadis itu.


"Syukurlah," ucap Sergio lega.


Fabian memperhatikan sikap ayahnya yang begitu peduli dengan gadis yang baru ia lihat ini. "Ayah mengenalnya?" tanya Fabian.


"Tentu saja, aku yang membawanya ke rumah ini. Dia adalah calon istrimu. Satu minggu lagi kalian akan menikah," jawab Sergio.


"What!!!" pekik Fabian. "Apakah ini lelucon!" lanjutnya.


"Terserah apa katamu," jawab Sergio datar.


"Apa Ayah sudah kehilangan akal dengan ide jaman kuno ini. Perjodohan, Oh My God!" protes Fabian. "Aku menolak keras semua rencana Ayah!" imbuhnya.

__ADS_1


"Aku tidak butuh persetujuanmu untuk semua rencanaku, tapi jika kau masih ingin menjadi bagian dari keluarga Ramos, jangan pernah membantah!" Ucapan Sergio sudah bisa dipastikan akan menjadi sebuah keniscayaan bagi Fabian.


Lihatlah, semua ucapan Sergio kala itu menjadi kenyataan. Fabian menikahi Sabrina, meski dengan keterpaksaan.


Sabrina mengusap foto dirinya dan Fabian yang berbalut baju pengantin. Air matanya luruh tanpa ijin. Mulai hari ini, ia sudah harus mempersiapkan diri untuk melepaskan suaminya.


Sebelum benar-benar pergi, ditatapnya sekali lagi gambar dirinya yang terbingkai indah dengan masyghul. Direkamnya dalam ingatan bahwa ia pernah mengenakan gaun yang indah bersama pria yang sangat ia harapkan. Membangun sebuah rumah tangga meski tanpa cinta.


"Ok ... Sabrina, cukup! Air matamu akan membuat kamar ini banjir jika kamu terus memandangi foto ini," ucap Sabrina pada dirinya sendiri.


Ia menyusut air bening yang sempat membasahi pipi. Menarik napas dalam untuk menetralkan kembali suasana hati. Ia akan pergi dari rumah ini, tapi tidak boleh ada yang tahu tentang betapa sakit perasaannya.


Sabrina meraih sling bag di atas ranjang dan menutup pintu kamar dengan hati-hati. Di bawah sudah bersiap Sergio dan juga Esme untuk mengantarnya. Tidak, hanya Sergio yang tulus melepas kepergiannya, sementara Esme dia hadir sebagai tim hore yang merayakan kepergian Sabrina.


"Jangan sungkan untuk berkunjung kemari. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu," pesan Sergio pada Sabrina. Lalu memeluk menantunya itu sebagai salam perpisahan.


"Terima kasih, Ayah," jawab Sabrina.


Saat Sabrina akan memeluk Esme, wanita itu justru mengelak. "Tidak perlu basa-basi, kalau mau pergi ya pergi saja. Toh, kamu tidak keluar negri apalagi keluar planet, jangan bersikap berlebihan!" Esme mencibir.


Meski Sergio mendelik menatapnya, Esme nampak tidak peduli.


"Baiklah, aku akan pergi. Terima kasih atas kebaikan kalian semua selama ini." Sabrina mengulas senyum tulus sebelum memasuki mobil.


Sergio dan semua pelayan yang menyaksikan kepergian Sabrina merasa haru melepas kepergian wanita malang itu. Terutama Sergio, ia merasa ada beban dalam hatinya karena belum bisa membuat Sabrina bahagia seperti yang ia janjikan dulu saat membawa Sabrina dari rumah pengasuhnya.


Mobil yang Sabrina tumpangi baru saja pergi, saat sebuah mobil sport hitam berhenti di depan teras rumah. Fabian keluar dari sana dengan tatapan bertanya, melihat semua berkumpul di depan rumah. "Ada, apa?" tanya Fabian pada seorang pelayan. Bukannya tidak mau menjawab, tapi pelayan itu takut salah bicara, karenanya ia justru berganti menatap majikannya.


Sergio terdiam, menatap marah putra kandungnya itu. Tak ingin menjelaskan, Sergio justru melenggang masuk ke dalam rumah.


Esme yang menyadari kemarahan Sergio, justru memanfaatkan kesempatan. "Istrimu pergi dari rumah ini," ucap Esme tanpa basa-basi.


Fabian mengernyit. "Apa maksudmu?"


"Kurasa, dia sudah mulai pintar. Dia pergi dari rumah ini dan sebentar lagi dia akan membuatmu kehilangan semuanya." Setelah mengatakannya Esme berlalu, meninggalkan Fabian yang masih mencerna kata-kata ibu tirinya itu.

__ADS_1


__ADS_2