Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.53 Ups ... sorry!


__ADS_3

Seminggu sudah waktu berlalu sejak Sabrina tahu jika dirinya ternyata masih berstatus istri sah dari Fabian Ramos. Sejak itu juga, ia tak lagi melihat pria itu muncul di hadapannya dan mengganggunya. Entah ke mana pria itu pergi, mendadak Fabian yang sebelumnya hadir mengisi hari-harinya menghilang tanpa pamit.


Sabrina, apakah ia sedang merindu akan hadirnya pria itu. Meski setiap kali kemunculannya selalu membuatnya marah dan jengkel dalam waktu yang bersamaan, nyatanya tanpa kehadiaran Fabian ada sesuatu yang tak lengkap dari hidupnya. Tak mungkin bisa dipungkiri jika Fabian sudah menjadi bagian dari rutinitas Sabrina. Mengisi bagian dalam kisah keseharian wanita itu.


"Bagaimana, ya, keadaannya, apa dia masih sakit?" gumam Sabrina dalam hati. Ia memegang ponselnya dan berjalan mondar-mandir di antara pintu kamarnya dan ranjang tempatnya istirahat.


"Apa aku telpon saja?" Inginnya yang hanya terucap dalam hatinya.


"Ah ... tidak-tidak. Bisa-bisa ia besar kepala dan menganggapku telah luluh padanya." Sabrina menggigit ponselnya yang tak bersalah. "Lagi pula bagaimana aku akan meneleponnya, aku kan, tidak tahu nomornya."


"Mommy!" teriak Alicia yang mendadak masuk ke kamarnya. "Are you ready?" tanya gadis kecil itu.


"Ah ... ya, Aku sudah siap," jawab Sabrina. Hari ini keluarga White mendapat undangan makan malam di rumah keluarga Jayden—teman sekolah Alicia. Sebenarnya Sabrina malas sekali ikut, tapi Sharon dan Matt memaksanya, begitupun dengan Alicia. Sabrina tak bisa menolak keinginan gadis kecil itu.


Dengan langkah yang terpaksa, Sabrina mengikuti Alicia turun dan pergi bersama ke rumah keluarga Jayden. Sepanjang perjalanan Sabrina tak fokus dengan apa yang Alicia bicarakan. Saat ini ia tengah memikirkan keadaan Fabian yang ia tidak tahu apakah baik-baik saja ataukah masih sakit.

__ADS_1


"Ayo turun," ajak Sharon begitu sampai di sebuah mansion mewah di kawasan elit Jakarta. Ini bukan pertama kalinya Sabrina datang kemari, karena Jayden dan Alicia berteman baik begitu pun dengan Jovan—ayah Jayden—yang berteman baik dengan Matt.


"Halo, senang bisa bertemu dengan mu lagi," sambut Naya—ibunya Jayden. Wanita yang berprofesi sebagai model itu mencium pipi Sharon dan memeluknya. Begitu juga yang ia lakukan pada Sabrina.


Rupanya bukan hanya dua keluarga yang hadir, tapi ada juga Tuan Hiro yang Sabrina ketahui sebagai atasan sekaligus saudara ipar dari ayah Jayden. Tak hanya itu, ada juga keluarga yang lainnya dan Sabrina tak begitu mengenalnya. Namun, semua terlihat sangat akrab.


Setelah acara makan malam selesai, mereka semua duduk berbincang dengan santai, karena Sabrina tak terlalu akrab dengan mereka, Sabrina memilih untuk mengawasi anak-anak bermain di taman samping rumah itu.


Sabrina duduk di tepi kolam ikan sembari mangawasi Alicia dan Jayden. Sabrina tersenyum sendiri kala melihat polah lucu Alicia yang sedang berebut mainan dengan Jayden. Kalau saja rumah tangganya berjalan normal, seharusnya ia sudah memiliki anak dengan Fabian. Namun, kenyataannya Tuhan belum berkehendak. Banyak ujian dalam pernikahannya.


Sekarang pun ia harus membuat keputusan tegas tentang pernikahannya. Kembali mengajukan gugatan cerai atau justru memilih kembali bersama Fabian. Sudah dua tahun ia pergi dari negaranya demi menghindari Fabian, mencoba memulai kehidupan barunya tanpa nama pria itu.


Pikiran tentang nasib pernikahannya membuat Sabrina tak sadar jika Alicia dari tadi memanggilnya. "Mommy, help," ulang Alicia yang mendatangi Sabrina karena rambut panjangnya tersangkut di resleting bajunya.


"Oh ... sorry, Dear," sesal Sabrina yang keget.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Help me." Alicia menunjukkan rambutnya yang tersangkut.


"Oh ...." Sabrina meminta Alicia berputar sempurna agar Sabrina lebih mudah mengurai rambut Alicia yang tersangkut. "Sudah," ujar Sabrina selesai membantu Alicia.


"Thank you, Mom." Alicia mengecup pipi wanita itu.


Sabrina tersenyum menanggapi.


"Mommy, look at that!" Alicia menunjuk arah belakang Sabrina sebelum ia lari untuk kembali bermain.


Spontan Sabrina menoleh untuk melihat apa yang ditunjukkan Alicia. Saat ia menoleh, di saat yang sama seseorang datang ke arahnya berniat memberi kejutan. Dengan sengaja ia membungkukkan badannya untuk mengagetkan Sabrina. Tak disangka jika caranya untuk mengagetkan Sabrina dikacaukan oleh anak kecil bernama Alicia yang memberitahu kedatangannya.


Alhasil, niatnya memberi jejutan gagal. Tetapi tidak semua gagal, karena gerakan spontanitas dari Sabrina yang menoleh, bibirnya bisa tersambar oleh bibir Sabrina.

__ADS_1


"Ups ... sorry," ujarnya.


Sabrina kaget bukan kepalang. Bisa-bisanya ia tanpa sengaja mencium pria ini.


__ADS_2