
Seolah melupakan kemarahannya tadi siang, kini Lucas telah memeluk mesra Vannesa dalam dekapannya. Wanitanya itu telah berhasil meluluhkan hatinya yang sempat bergejolak karena ketakutan akan pengkhianatan.
Ia tidak akan bisa terima jika wanita yang dulu ia selamatkan dari jerat prostitusi itu berkhianat padanya.
"Kau percaya padaku, 'kan, Lucas?" lirih Vannesa setelah menceritakan alasan kenapa Fabian belum juga pergi dari hidup Lucas.
"Aku sudah berusaha menjalankan rencana kita, membujuk Fabian untuk pergi dari ayahnya, tapi dia bilang dia tidak akan pergi dan membiarkanmu memiliki semuanya. Aku masih setia padamu," jelas Vannesa.
Lucas mengusap rambut Vannesa yang terbaring di sampingnya.
"Aku juga masih menjaga diriku untukmu, Lucas. Aku tidak pernah membiarkan siapa pun memilikiku termasuk Fabian."
"Fabian masih percaya dengan alasan yang kita buat saat itu, dan dia masih bisa menerima alasan kenapa aku tidak ingin dia menyentuhku."
Vannesa terus saja bicara, meyakinkan sang kekasih jika ia masih benar-benar setia. Tidak ada yang tahu jika Vannesa dan Lucas adalah sepasang kekasih, yang sedang merencanakan sesuatu pada Fabian untuk menyingkirkan pria itu dan membuat Lucas mendapatkan apa yang harusnya menjadi milik Fabian.
Mereka telah menjebak Fabian dalam persekongkolan jahat, hingga Fabian tidak bisa lepas dari Vannesa karena rasa bersalahnya. Semua sudah diatur oleh Lucas sedemikian rupa agar saudara tirinya itu tersingkir dari hidupnya dengan cara yang halus, dan tidak menimbulkan kecurigaan dari Sergio—ayah tirinya.
"Sekarang semua akan jadi lebih sulit," ucap Lucas lirih.
Vannesa terbangun dari posisi tidurnya, ia menatap serius pada Lucas. "Kenapa?"
"Aku tidak yakin jika Fabian masih akan menuruti kata-katamu, apa lagi menjadikanmu prioritas."
__ADS_1
"Kenapa tidak mungkin, Fabian masih sangat tergila-gila padaku. Bukankah kemarin kita telah mengujinya, dia datang ketika aku bilang aku mengalami kecelakaan, dan sampai detik ini Fabian percaya jika aku melarangnya menyentuhku karena aku ingin diperlakukan istimewa bukan seperti j*lang yang bisa ia sentuh seenaknya. Rasa bersalahnya karena telah menodaiku saat itu masih jelas terlihat saat kami bersama, hingga aku yakin ia tidak akan bisa mengabaikanku begitu saja," ujar Vannesa.
"Kau tidak tahu bukan jika saat ini Fabian tengah mengejar cinta istrinya atas perintah sergio. Kau dan dia terpisah jarak, sementara Fabian dan Sabrina bertemu hampir setiap hari. Tidak menutup kemungkinan jika Fabian lama kelamaan akan jatuh cinta pada istrinya dan mulai melupakanmu. Jika saat itu tiba, Sergio akan memberikan semua pada Fabian dan aku harus tersingkir sebagai pecundang." Rahang Lucas mengetat, ia tidak bisa membayangkan jika semua usahanya selama bertahun-tahun akan sia-sia.
"Tidak Lucas aku tidak akan membiarkan itu terjadi, kau akan tetap jadi pewaris dari kekayaan Ramos. Aku akan membuat Fabian menjauh dan tersingkir oleh ayahnya sendiri. Aku tidak akan membiarkanmu kalah, aku janji padamu," ucap Vannesa yakin.
Ia teringat saat dulu, Lucas menyelamatkannya dari di acara lelang prostitusi. Saat itu adalah saat paling menakutkan dalam hidupnya. Vannesa yang sejak kecil hidup di panti asuhan, tiba-tiba mendapatkan kabar jika ada yang ingin mengadopsinya. Vannesa kecil sangat bahagia, ia membayangkan betapa indahnya memiliki sebuah keluarga, dengan tersenyum bahagia Vannesa meninggalkan panti asuhan dan tinggal di rumah keluarga angkatnya.
Namun, siapa sangka jika kebahagiaan keluarga yang selalu ia impikan tak pernah ia dapatkan dalam keluarga angkatnya. Mereka punya maksud dan tujuan dalam mengadopsi Vannesa, setiap hari Vannesa dijadikan pelayan oleh mereka. Hingga saat itu tiba, saat di mana sang Ibu angkat yang hobi berjudi menjualnya pada seorang mucikar* untuk melunasi segala hutangnya.
Vannesa terus saja menangis saat acara lelang itu berlangsung, ia terus berdoa semoga Tuhan mengirimkan seseorang untuk menolongnya. Benar saja, Tuhan mengirim Lucas yang kala itu tidak sengaja datang ke acara lelang. Lucas yang melihat gadis yang sedang dipamerkan terus menunduk dan menangis merasa iba melihatnya. Hingga satu-satunya cara untuk menolong gadis itu adalah membelinya.
Semua tidak gratis, karena Lucas memberikan syarat untuk Vannesa. Wanita itu ia jadikan alat untuk menjebak dan menjerat Fabian.
"Benarkah, bagaimana caranya?" tanya Lucas ingin tahu.
"Aku akan berusaha lebih keras membujuk Fabian untuk mau lari bersamaku, kalau perlu aku akan segera mengajaknya menikah dan meninggalkan kota ini," jawab Vannesa yakin.
Lucas terbelalak dengan ide kekasihnya, bagaimana mungkin ia membiarkan Vannesa menikah dengan Fabian, sementara ia sendiri tidak rela jika ada pria lain yang menyentuh kekasihnya.
____________________
Di apartemen Sabrina.
__ADS_1
Sabrina sempat terkesiap melihat pria yang kini sudah menyeretnya masuk ke dalam apartemennya sendiri, pria itu bahkan menghempaskan Sabrina ke sofa. Tangan pria itu langsung mengungkung Sabrina yang terduduk di sofa. "Jadi ini tujuanmu, agar kau lebih bebas untuk pergi dengan pria lain, begitu!" sentak pria itu.
"Kau senang sekarang, bisa keluar dari rumah keluargaku dan bisa leluasa berkencan dengan pria itu!" imbuhnya dengan berteriak.
Sabrina menatap heran pada pria di depannya ini, tapi tidak ada rasa takut seperti sebelumnya setelah melihat wajah pria itu.
"Kenapa, kenapa kau diam saja. Apa sekarang kau baru merasa bersalah, hah!"
Saat tatapan tajam pria itu mencoba mengintimidasinya, Sabrina justru bergerak menyingkirkan tangan yang tengah mengungkungnya. "Berhentilah bersikap seolah kau suami yang peduli dengan istrinya. Aku tidak akan tertipu!" ucap Sabrina kemudian ia pergi ke dapur untuk mengambil minum.
"Hei, apa maksudmu?" tanya Fabian yang kini justru bingung harus bersikap bagaimana, Sabrina bukannya takut malah mengacuhkannya.
"Kau terlambat jika ingin berpura-pura menjadi suami yang perhatian dan tidak rela jika istrinya berselingkuh. Itu justru terlihat konyol bagiku." Sabrina meneguk air yang baru saja ia ambil dari lemari pendingin.
"Apa maksudmu, aku tidak sedang berpura-pura. Aku serius dengan ucapanku tadi."
Sabrina meletakkan kembali botol yang ia ambil ke dalam kulkas, dan berkata, "Terserah kau saja mau bersikap apa pun padaku, aku tidak perduli!"
Sabrina segera berlalu pergi ke kamarnya. Fabian yang tidak ingin ditinggal sendirian langsung mengikuti langkah Sabrina masuk ke kamar. Ia melihat Sabrina yang meletakkan tasnya, kemudian masuk ke kamar mandi.
Hanya beberapa saat, sekita lima belas menit lamanya Sabrina sudah keluar dengan handuk kimononya. Seolah menganggap Fabian tidak ada di sana, Sabrina melakukan rutinitas malamnya, mengaplikasikan krim wajah dan mengoleskan lotion ke tangan dan kakinya.
Fabian hanya bisa jadi penonton tanpa suara. Hingga ucapan Sabrina membuatnya tersentak. "Aku akan berganti baju, kau mau keluar atau palingan wajahmu menghadap pintu."
__ADS_1
"Apa?" pekik Fabian.