
Fabian duduk menyendiri di bar station pada pesta pembukaan sebuah hotel. Di mana ia adalah salah satu dari tim yang merancang desain hotel tersebut. Pesta yang meriah, hingar-bingar musik, dan banyaknya orang, rupanya tak mampu mengusir sepi dari hatinya.
Pikirannya memutar balik waktu, di mana ia telah kehilangan istrinya. Bagaimana usahanya untuk menemukan Sabrina dan harus terkendala biaya.
Tidak terasa sudah dua tahun berlalu sejak hari itu. Sejak hari, Fabian memutuskan untuk kembali bangkit dan berusaha. Ia dengan tekad yang kuat mulai serius memasukkan lamaran pekerjaan di sebuah perusahaan kontruksi di Indonesia atas bantuan Leo. Fabian yang saat itu merasa rendah diri akhirnya bisa lolos dan diterima bekerja di Indonesia.
Ia pergi tanpa pamit kepada ayahnya, toh ayahnya juga akan tahu meski ia tak memberitahunya. Sejak hari itu, kehidupannya mulai berubah, ia mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk bisa mencari keberadaan Sabrina. Meskipun sampai sekarang ia belum mendapatkan kabar. Terkadang ia ingin menyerah, tapi apalah daya jika hati tak mengijinkannya. Ada rasa dalam lubuk hatinya yang selalu memberikan semangat jika ia pasti akan kembali menemukan Sabrina.
"Di mana, Kau?" Gumamnya lalu meneguk wine dalam gelasnya. "Aku tidak bisa melupakanmu, aku juga tidak bisa hidup dengan segala rasa bersalah ini."
Meski tubuhnya berada dalam keramaian pesta tapi tidak dengan hati dan jiwanya. Terperangkap dalam masa lalu selalu menjadi akhir dalam kesendiriannya.
"Hai, Man. Apa kau tidak ingin merayakan keberhasilanmu. Pesta ini juga untuk menghormati hasil kerjamu. Bersenang-senanglah," ujar seorang yang berhasil membawanya ke masa sekarang.
Fabian menatap pria bernama Jovan itu, ia adalah asisten bos pemilik perusahaan di mana tempatnya bekerja.
"Kau lihat, di sana banyak sekali gadis. Kau bisa berburu salah satu di antara mereka." Jovan menunjuk ke lantai dansa.
Fabian menggeleng.
"Kenapa? Apa kau tidak percaya diri?" Jovan memperhatikan Fabian dengan seksama. Tidak ada yang bisa membuat Fabian tidak percaya diri. Tampang bule yang dimiliki Fabian adalah modal besar untuk meraih mangsa, dan wajah bule Fabian ini benar-benar tampan. Kalau saja ia mau masuk ke industri hiburan di Indonesia pastilah namanya akan cepat melejit dan jadi pujaan para emak-emak berdaster seluruh Indonesia. Yah ... wajah bule memang menjual di Indonesia.
"Kau tampan, tidak ada yang bisa membuatmu merasa rendah diri. Percayalah padaku, saat kau turun ke sana, semua gadis akan ikut tanpa kau minta." Jovan menaik turunkan alisnya.
Fabian menggeleng lagi. "Aku tidak tertarik,"
Seketika mulut Jovan terbuka lebar. "Ka-kau seorang _____" Jovan tak sampai hati menyebut rekan kerjanya itu sebagai penyuka sesama jenis, karena hal seperti itu tabu di Indonesia.
Fabian tidak ingin menanggapi. Tidak menyangkal dan tidak pula mengiyakan. Ia langsung pergi meninggalkan Jovan sendiri. "Kalau bos mencariku, katakan aku pulang terlebih dahulu." Fabian menepuk pundak Jovan sebelum meninggalkan pria itu.
"Hei, apa kau marah?" seru Jovan. "Atau kau tersinggung?"
__ADS_1
Fabian terus saja berjalan, tak menggubris panggilan temannya, tidak juga berniat ikut dalam suka cita pesta. Bagi Fabian dunianya berubah hampa sejak Sabrina tak lagi ada bersamanya. Ia berjalan dengan pikiran kosong untuk meninggalkan pesta, hingga tak sengaja seorang gadis kecil yang sedang berlari tertabrak olehnya.
"Aw ...," Pekik gadis kecil yang terjatuh.
"Oh ... Sorry." Fabian langsung membantu gadis kecil itu untuk berdiri. "Are you ok, Sweety?"
"Yes ... but a little pain." Gadis itu menunjuk bokongnya.
"Oh ... I'am so sorry, Sweet." Fabian menunjukkan raut menyesalnya di depan gadis kecil itu. "Di mana orang tuamu?"
Gadis kecil itu menunjuk beberapa orang yang sedang berkumpul, ada dua pria dan satu wanita bergaun toska.
"Aku akan mengantarmu ke sana," ujar Fabian.
"No ... tidak perlu repot." Gadis itu kemudian berlari menghampiri wanita bergaun toska. "Mommy," serunya pada wanita itu.
Fabian bisa mendengar jelas panggilan gadis kecil itu pada wanita bergaun toska. Ia tersenyum melihat polah gadis kecil itu ketika berlari, sangat menggemaskan.
Wanita itu langsung menangkap gadis kecil yang memeluk kakinya itu. "Dari mana saja, kau?" tanya wanita itu.
"Oh ... Sayang, kau tidak apa-apa, 'kan?" tanya wanita itu.
"Ya ... karena aku adalah gadis yang kuat," jawab gadis itu menggemaskan.
Gadis kecil dan wanita bergaun toska itu tertawa bersama.
"Kurasa aku harus memberi hadiah pada putri kecilku yang kuat." Kemudian seorang pria di samping wanita itu ikut merendahkan tubuhnya. Ia menggendong anak kecil itu dan pergi dari sana, tapi sebelum itu pria itu mencium pipi wanita bergaun toska.
"Kau mau hadiah apa, Sayang?"
"Aku mau marshmellow, Daddy," jawab gadis kecil itu.
__ADS_1
Fabian masih saja terpaku di tempatnya. Ia ingin sekali melangkah, tapi kakinya tak dapat bergerak walau sejengkal. Bibirnya berubah kelu, bahkan sekadar untuk menyapa, atau menyebut nama wanita yang selama ini ia rindukan.
Matanya terus menatap pada keharmonisan keluarga gadis kecil di depannya. Apakah ia terlambat, apakah penantiannya dan juga harapannya untuk bisa bersama sia-sia. Kenapa sekarang perasaannya bagai disayat-sayat, terasa perih menyaksikan kebahagiaan yang tak ingin ia lihat. Ia terus berusaha bertahan, tapi nyatanya, kenyataan membuatnya harus tersadar. Bahwa cinta kini telah berubah arah.
"Hei ... belum pulang?" seseorang menepuk pundak Fabian. Membuatnya semakin tersadar.
"Eh ... Bos, ada apa?"
Bos yang disebut oleh Fabian justru bingung. "Kata Jovan, kau pulang lebih dulu, kenapa masih di sini?"
"Hiro, lo di sini. Loh, kok Fabian masih ada di sini?" tanya Jovan yang baru datang.
"Lebih baik jangan pulang lebih dulu, nikmati saja dulu pestanya. Sebentar lagi kita bisa melihat tarian orang-orang kaya." Jovan terkekeh.
"Ke sini hanya untuk melihat orang berdansa? Lo sehat?" delik Hiro pada Jovan.
"Jangan dengarkan dia. Kau bisa mendapatkan salah satu wanita di sini. Kulihat kau tidak pernah berkencan." Kali ini kalimat Hiro ditujukan untuk Fabian.
"Aku tidak tertarik dengan hal itu," jawab Fabian.
Jovan yang sudah tahu tentang Fabian, hanya nyengir.
"Kau belum pernah mencoba bagaimana kau bisa bilang tidak tertarik. Cobalah untuk berkencan dengan gadis negara ini, mereka tidak kalah cantik dengan gadis di negaramu. Aku yakin," ujar Hiro.
Fabian tak menghiraukan sedikit pun ucapan bosnya, saat ini ia tengah fokus pada wanita bergaun toska, yang kini sudah masuk ke lantai dansa.
"Hei, kau dengar aku tidak?" Si bos yang tak dianggap pun mencari tahu apa yang menarik perhatian Fabian.
"Tidak usah banyak bicara, Fabian tidak tertarik dengan wanita," sela Jovan.
Seketika Hiro menatap Fabian aneh. "Kau tidak suka wanita?"
__ADS_1
Fabian memutar bola matanya malas menanggapi dua pria atasannya ini. Ia pun memilih pergi dan mendekat ke lantai dansa, di mana pria yang tadi mencium pipi wanita itu sedang membimbing sang wanita dalam alunan musik.
"Apa aku terlambat?" pandangan Fabian masih tak beralih dari wanita bergaun toska.