Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.13 Kembali Puasa


__ADS_3

WARNING!!! 21+, BELUM CUKUP UMUR, ANTI 21+ SKIP AJAH!


________________________________________________


Sabrina menyusul Fabian yang akan pergi meninggalkannya. Pria itu terlihat marah dan tak menggubris Sabrina.


"Apa kau tidak ingin mengajakku pulang?" seru Sabrina. Tidak ada niat serius dalam ucapannya karena Sabrina hanya ingin menggoda.


Fabian berhenti, dan menoleh pada Sabrina. Tentu saja ia ingin membawa Sabrina pulang, karena itulah alasan ia ada di tempat ini.


Sabrina tersenyum memperhatikan keraguan di wajah Fabian. "Aku akan ikut denganmu," sambung Sabrina.


Ini pertama kalinya Fabian melihat senyum terukir di bibir istrinya, senyum bahagia yang selama dua tahun tersembunyi karena sikapnya. Fabian melangkah menghampiri Sabrina, baru saja ia akan meraih tangan wanita itu dan membawanya pergi, tapi kalah cepat. Sabrina lebih dulu membalik badan dan mengambil jarak dengan Fabian.


Ia kembali menoleh. "Aku akan ikut pulang denganmu setelah aku menyelesaikan liburanku," ucap Sabrina kemudian berlari.


Fabian diam mematung, dua kali sudah Sabrina mempermainkannya. Wanita yang selalu ia sebut bodoh ini sudah berani membuatnya kesal. Fabian tak ingin mengejar Sabrina, ia biarkan saja Sabrina kembali menikmati liburannya. Ia memilih untuk keluar dari tempat itu.


Setelah langkahnya sudah begitu jauh, Sabrina berhenti. Ia menoleh untuk melihat apakah Fabian mengikutinya atau tidak. Ternyata tidak. Sedikit kecewa, tapi Sabrina sudah menyiapkan hati untuk ini.


Puas menghabiskan harinya di kebun raya ini, Sabrina memutuskan untuk kembali ke penginapan, tapi sebelum itu ia mampir dulu ke sebuah kedai untuk membeli makan malamnya. Sabrina memilih untuk membungkus makanan yang ia pesan, sebab ia takut kemalaman.


Sampai di depan pintu penginapan, Sabrina mencari kunci dalam ranselnya. Ia sengaja memilih Vila yang tak terlalu besar untuknya menginap. Sabrina memasukkan kunci yang baru ia ambil, ia baru saja akan masuk saat pintu penginapannya terbuka. Namun, ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang tiba-tiba memegang lengannya. Sabrina reflek menoleh melihat siapa yang sudah berani kurang ajar padanya.


"Fabian," lirihnya saat melihat wajah suaminya. "Sedang apa kau di sini?" tanya Sabrina kemudian.


"Tentu saja menunggumu!" Fabian langsung masuk ke dalam penginapan dan meninggalkan Sabrina di luar.


Sabrina yang masih bingung hanya bisa terpaku menatap suaminya yang telah lebih dulu masuk.


"Sampai kapan kau akan berdiri di sana?" seru Fabian dari dalam, dan membuat Sabrina tersadar.


Ia pun segera masuk menyusul Fabian. Sabrina melihat Fabian yang sudah santai di atas sofa. Sabrina melenggang begitu saja menuju dapur setelah meletakkan ranselnya di atas sofa yang kosong. Setelah mencuci tangan ia menyiapkan makam malam yang tadi ia beli dari luar.

__ADS_1


Melihat ada tamu di penginapannya tak sampai hati kalau ia harus makan sendiri. Sabrina menyiapkan dua piring, satu untuknya dan satu lagi untuk suaminya.


"Kau mau makan?" seru Sabrina setelah semuanya siap.


Fabian pun ikut makan bersama Sabrina, hanya berdua. Terasa aneh bagi Sabrina makan hanya berdua saja dengan suaminya, dua tahun menjalani pernikahan tak sekali pun mereka makan hanya berdua. Tak ada suara yang mengisi di antara keduanya.


Fabian begitu khidmat menekuri piring di hadapannya, sementara Sabrina sesekali mencuri pandang melihat cara makan Fabian. Hubungan yang begitu aneh yang Sabrina rasakan. Mereka disebut suami-istri karena terikat dalam tali pernikahan, tapi nyatanya mereka bagai orang asing yang tak kenal satu sama lain.


Sungguh ironi!


"Ke mana tujuanmu setelah ini?" tanya Fabian.


Sabrina terdiam, karena ia tak bisa mendengar apa yang Fabian tanyakan. Pikirannya pergi jauh dari raganya.


"Hei ... aku sedang bertanya padamu!" sentak Fabian yang membuat Sabrina berjingkat.


"A-apa?" jawab Sabrina terbata.


Sabrina menggedikkan bahu. "Entahlah!" Ia kemudian menyudahi makannya dan menyingkirkan piringnya dari meja.


"Kalau sudah selesai tolong cuci piringnya!" pintanya sebelum ia meninggalkan Fabian ke kamar.


Fabian terbengong. "Apa dia bilang, cuci piring?"


Seorang Tuan Muda Ramos disuruh untuk cuci piring, yang benar saja!


Fabian tak mau melakukannya, setelah selesai makan, ia hanya menaruhnya di wastafel, kemudian kembali ke sofa. Ia harus bicara untuk secepatnya mengajak Sabrina pulang.


Cukup lama Fabian menunggu Sabrina. "Apa yang dia lakukan, kenapa lama sekali tidak keluar. Apa dia sudah tidur?" pikirnya.


Tak tahan lagi menunggu Sabrina keluar, Fabian berniat menghampirinya di kamar. Saat pintu kamar terbuka, Fabian dibuat menelan ludahnya dengan kasar.


Hal yang beberapa waktu ini harus ia tahan mendadak menyeruak ingin dipuaskan. Istrinya yang tak bisa ia jamah kini tengah menggoda jiwa kelelakiannya. Fabian tidak tahan kalau harus kembali bersabar, perlahan ia masuk saat istrinya hampir membuka kain yang menutupi tubuhnya. Tanpa ijin, Fabian memeluk Sabrina dari belakang.

__ADS_1


Hal yang membuat Sabrina kaget seketika, ia akan membalik tubuhnya saat Fabian menahannya dengan kuat. Pria itu justru mulai menciumi leher Sabrina.


"A-apa yabg kau lakukan?" tanya Sabrina di sela-sela aktifitas Fabian.


"Apa aku harus menjelaskannya," jawab Fabian.


Pria itu kini membalik tubuh istrinya agar mereka bisa saling berhadapan, Fabian baru mulai mendekatkan bibirnya saat Sabrina mendorong pelan tubuh suaminya. "Kau tidak bisa melakukannya," ucap Sabrina, yang berarti penolakan bagi Fabian.


"Apa kau sedang menguji kesabaranku dengan berani menolakku?"


"Bukan ... bukan begitu, kau tidak bisa melakukannya karena aku sedang dalam masa periode," terang Sabrina.


Mendengarnya, tubuh Fabian lemas seketika. Hasrat yang ia tahan sejak lama kembali harus berpuasa. Rasanya ia ingin berteriak pada Tuhan, kenapa membuatnya melihat sesuatu yang membangunkan bi rahinya tapi tak memberinya kesempatan untuk menikmatinya, dengan rasa kesal yang memuncak Fabian keluar dari kamar Sabrina dan membanting pintunya dengan kasar.


Sabrina tertawa puas melihat raut kecewa di wajah Fabian. Seharusnya dari dulu ia lakukan ini pada Fabian, agar pria itu tak semena-mena pada dirinya.


Fabian memijit kepalanya yang mendadak pening. Berusaha dengan keras membuang jauh segala fantasi liar dalam otaknya.


Ponselnya berdering, dan Fabian segera meraihnya. Nama Vannesa tertera di layar yang menyala, dengan cepat ia mengangkat panggilan dari kekasihnya itu. Sejak Vannesa menelpon saat itu, Fabian belum pernah menghubunginya lagi. Pikirannya disibukkan untuk mencari Sabrina.


Kini suara Vannesa yang marah karena diabaikan terdengar memekakkan telinga. Wanita itu terus bicara tanpa henti dengan nada kesal.


"Maafkan aku, Sayang. Aku sedang sibuk, ayahku sedang memberiku tugas penting karena itu aku belum sempat menghubungimu," bohong Fabian.


"Nanti aku ceritakan kalau kita bertemu, Ok." Fabian berusaha membujuk Vanesa untuk meredakan amarah kekasihnya.


Setelah Vannesa memberinya maaf, mereka pun kembali mengobrol layaknya pasangan kekasih yang saling merindukan. Saking asiknya, Fabian tidak sadar jika istrinya tengah berdiri didekatnya dan memperhatikan dirinya yang sedang bercakap mesra dengan kekasihnya.


"Sayang, sudah dulu ya. Aku harus kembali bekerja," pamitnya dan langsung memutus saluran telpon.


Fabian menatap Sabrina yang mendelik marah kepadanya. Tak ingin bicara apa pun Sabrina melempar bantal dan selimut yang ditangkap Fabian dengan kewalahan, lalu kembali ke kamar dan membanting pintu seperti yang Fabian lakukan sebelumnya hingga membuat Fabian berjingkat. Ia menatap heran dengan apa yang istrinya lakukan.


"Kenapa, dia?"

__ADS_1


__ADS_2