
Sabrina keluar dengan dandanan rapi, meski sederhana tapi tetap membuat ia cantik. Tentu bagi yang menyukai style sederhana Sabrina. Dress cassual warna biru yang memiliki panjang selutut dengan tali di pinggangnya itu melekat pas di tubuh ramping Sabrina, rambut panjangnya ia ikat seperti ekor kuda.
Saat keluar kamar, ingin rasanya ia mengabaikan pria yang sedang duduk di sofa ruang tamunya sembari memainkan ponselnya, tapi ternyata Sabrina tidak memiliki hati seburuk itu. Ia tetap membuka mulutnya untuk bertanya pada si pria yang tadi pagi sempat membuatnya tergoda.
"Sampai kapan kau akan duduk di situ, apa kau benar-benar tidak punya pekerjaan?"
Fabian langsung berhenti memainkan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Ia berdiri dan menatap Sabrina yang entah sejak kapan selalu membuat hatinya berbisik, "cantik."
"Kenapa kau tidak datang ke perusahaan dan meminta pekerjaan pada Ayah, bukankah itu lebih baik dari pada menjadi pengangguran," ujar Sabrina selanjutnya.
"Aku bukan pengangguran, karena mulai hari ini aku akan menjadi supirmu. Ke mana pun kau ingin pergi, aku akan siap mengantarmu," cetus Fabian.
"Apa?" pekik Sabrina kaget.
Apa pria ini sudah hilang akal, sejak kapan ia merendahkan diri seperti ini.
"Kau tidak perlu sekaget itu, aku hanya memanfaatkan waktu yang diberikan ayahku. Aku hanya akan kembali bekerja jika aku mendapatkan posisiku kembali di perusahaan, dan kau tahu benar syarat yang harus aku penuhi untuk mendapatkan kembali posisiku. Kalau kau ingin aku bekerja, maka kembalilah bersamaku ke rumah."
Sabrina mendengkus, lalu pergi dari Fabian. Meninggalkan pria itu dengan segala omong kosongnya.
Tak ingin ketinggalan, Fabian mengejar Sabrina dan menggandeng tangan wanita itu. Beberapa kali Sabrina menghempaskan tangan Fabian yang berusaha menggandengnya.
"Kau pikir ada supir yang lancang memegang tangan majikannya," sungut Sabrina sembari terus berjalan.
"Kau juga harus ingat, selain supir aku adalah suamimu."
"Terserah kau saja," ketus Sabrina.
Seperti ucapannya sebelumnya, Fabian mengantar Sabrina ke florist.
"Kau tidak turun?" tanya Sabrina.
"Kau duluan saja," jawab Fabian, dan Sabrina pun segera meninggalkan pria itu di mobilnya.
Fabian tidak ingin turun karena masih ada urusan yang harus ia selesaikan. Sedari tadi Vannesa meneleponnya. Sejak semalam malah, gadis itu merengek ingin bertemu. Katanya ingin membicarakan masa depan mereka.
__ADS_1
"Halo," sapa Fabian.
"Kenapa tidak kau angkat?" tanya Vannesa balik.
"Aku sedang menyetir."
"Apa kau pergi berdua dengan istrimu?"
"Apa sekarang kau lebih mementingkannya dari pada aku?"
"Atau jangan-jangan kau mulai jatuh cinta dan melupakan aku juga masa depan yang kita rancang?" cerocos Vannesa di seberang sana.
"Itukah alasannya, kau tidak ingin pergi bersamaku meninggalkan negara ini dan hidup berdua denganku?" pekik Vannesa. Terdengar isak tangis dari seberang sana.
"Sayang, tunggu ... aku bisa jelaskan semuanya, aku sedang menjalankan rencana kita. Kau tahu apa yang sudah aku perjuangkan untuk kita, aku harus bersikap baik pada gadis gagu itu, dan sekarang aku harus menjadi supirnya, kau pikir untuk siapa aku melakukannya. Aku hanya ingin dia cepat merubah pikirannya dan kembali padaku ke rumah. Lalu aku bisa mendapatkan posisiku kembali di perusahaan dan jaminan seluruh kekayaan ayahku. Kau tahu 'kan, itu rencana kita, setelah semua kekayaan ayah berpindah atas namaku, tidak akan ada lagi yang bisa menghalangi kita, termasuk ayah," jelas Fabian panjang lebar.
"Aku sedang merendahkan diriku agar bisa membuat Sabrina percaya padaku. Kau pikir aku senang melakukannya, ini semua aku lakukan agar aku bisa bersamamu!" ucap Fabian sedikit emosi.
"Agar aku bisa memenuhi janjiku padamu untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah aku rusak," lirihnya di akhir ucapannya.
"Bersabarlah sebentar lagi, aku yakin tidak lama lagi aku bisa membuat Sabrina kembali ke rumah," ucap Fabian menenangkan.
"Kenapa tidak kau paksa dia saja, di mana dirimu yang dulu arogan. Kenapa sekarang kau justru berlemah lembut padanya, lakukan saja dengan paksa seperti dulu kau selalu memperlakukannya," bujuk Vannesa.
"Aku tidak bisa," jawab Fabian cepat.
"Kenapa?"
"Ada banyak anak buah ayahku yang menjaganya, kalau aku bersikap kasar sedikit saja, dengan cepat mereka akan melapor dan usahaku akan sia-sia."
"Tapi, aku sudah ...."
Fabian terkesiap saat tiba-tiba pintu mobil terbuka dan Sabrina berdiri di luarnya.
"Sayang kau dengar aku tidak." Suara Vannesa memanggil-manggil.
__ADS_1
Fabian gugup, ia takut Sabrina mendengar pembicaraannya dengan Vannesa.
"Sayang ...." Vannesa terus saja memanggil.
"Apa aku mengganggu?" tanya Sabrina.
"Ah ... ti-tidak." Segera Fabian mematikan panggilannya.
"Aku hanya ingin bilang, kau pulang saja, tidak usah menunggu bekerja."
Pikiran Fabian masih kacau, ketakutan akan ketahuan masih menguasai dirinya. Tanpa sadar ia pun hanya bisa mengangguk.
"Baiklah, aku akan kembali bekerja."
Sabrina kembali menutup pintu mobil, dan Fabian bisa bernapas lega. Baru kali ini ia, merasa ketakutan ketahuan berselingkuh. Tidak seperti sebelumnya, ia bahkan tidak peduli dengan perasaan istrinya.
Tak ada nama Sabrina dalam kamus hidupnya, yang perlu ia jaga hati dan perasaannya. Gadis gagu yang dulu ia nikahi, selamanya akan jadi gadis bodoh yang ia bohongi.
"Gadis bodoh," gumamnya pada diri sendiri.
Kenapa begitu berat menyematkan sebutan itu pada Sabrina saat ini. Bukankah dulu dengan gampangnya sebutan menyakitkan itu meluncur dari mulut pedasnya. Lalu, apa sekarang?
Akankah ada hati yang sudah tertawan diam-diam?
Pikiran Fabian berkelana, mengingat pertemuannya dengan Vannesa, janjinya dan rencana untuk hidup bersama wanita itu.
Lalu beralih pada Sabrina, si gadis gagu yang ia berikan janji di hadapan Tuhan akan selalu ia jaga dalam suka dan duka. Meski kenyataannya, tak pernah sekali pun ia menjaga hati istrinya, apalagi memberinya kebahagiaan. Hanya duka yang selalu ia tabur untuk mengalirkan air mata Sabrina.
Tak hanya Sabrina dan Vannesa, pikiran Fabian pun membawanya pada ucapan sahabatnya, Leo.
Di mana Leo berkata agar ia memastikan kembali perasaannya untuk Vennesa apakah cinta ataukah sekedar rasa bersalah. Rasanya itu hal yang sulit, karena selama ini ia meyakini dan diyakinkan jika itu adalah cinta.
Kalau begitu, kenapa sekarang ada bimbang di hatinya. Mungkinkah kebersamaannya dengan Sabrina menimbulkan keraguan atas cintanya pada Vannesa, ataukah Sabrina telah menaklukkan hatinya perlahan-lahan.
"Aaarghh!!!" Fabian memekik. Ia menyugar rambutnya dengan frustasi. Bagaimana bisa ia segalau ini, menghadapi perasaannya sendiri.
__ADS_1