
Sudah hampir satu minggu Fabian dirawat di rumah sakit. Kedatangan ayahnya—Sergio Ramos—yang tepat waktu kala itu telah menyelamatkan hidupnya, meski kini ia harus rela terbaring di atas ranjang perawatan karena dua kakinya tertembak. Dalam kesendiriannya, Fabian selalu mengenang Sabrina. Di mana istrinya itu berada saat ini.
Berkali-kali Fabian mendesak Sergio untuk mengatakan di mana Sabrina tinggal saat ini, tapi ayahnya itu tidak mau jujur. Dia bilang jika dia juga tidak tahu di mana Sabrina saat ini. Namun Fabian tidak percaya, bagaimana mungkin ayahnya tidak tahu, sementara Sergio adalah orang yang paling panik jika terjadi sesuatu pada menantunya itu.
Hari ini, seperti biasanya. Fabian terbaring sendirian di ranjang perawatan. Hanya sesekali, Sergio datang, itu pun sendiri dan tidak lama. Fabian sadar, pasti ayahnya itu masih sangat marah dengannya karena kepergian istrinya. Sedangkan Esme, hanya menjenguknya satu kali setelah ia sadar dari operasi pengangkatan peluru waktu itu, setelah hari itu hingga sekarang ibu tirinya itu tak lagi menampakkan batang hidung. Mungkin istri ayahnya itu juga marah pada Fabian, karena Fabian lah, Lucas terluka.
Fabian dengar, hari ini Lucas akan keluar dari rumah sakit, dan saat ini Sergio sedang menemui anak tirinya itu.
Lucas sudah selesai berkemas, Sergio pun ada di sana. Di ruang perawatan Lucas. Esme sedang berusaha membujuk suaminya agar tidak membawa kasus penembakan Fabian ke jalur hukum.
"Dia putraku, Sergio. Tentu saja aku akan membelanya, sama seperti kau membela Fabian. Aku tahu dia salah tapi kumohon berilah Lucas kesempatan. Dia sudah banyak membantumu di perusahaan, lihatlah jasa-jasanya," ujar Esme saat tahu jika Sergio akan menjebloskan Lucas ke balik jeruji besi.
"Ketamakan membuat putramu lupa jika aku telah memberikan dia segalanya."
"Lucas tidak akan senekat ini jika kau tidak pilih kasih, kau tahu dengan baik selama ini Lucas selalu berusaha keras agar bisa kau pandang tapi kau selalu mengabaikannya demi Fabian." Esme mulai Emosi, tapi ia berusaha sekuat mungkin untuk menahannya. Saat ini bukanlah saat untuknya menjadi arogan dan temperamental. Ia harus bisa bersikap mengendalikan emosi.
"Lucas memang bukan darah dagingmu, tapi dia selalu bangga menjadi putramu." Kini Esme menjadi sentimental.
"Ku mohon, Sergio, jangan masukkan Lucas ke penjara. Kau boleh melakukan apa pun padanya tapi jangan penjarakan dia." Esme menitikkan air mata, tak kuasa jika suaminya benar-benar melaporkan Lucas pada polisi.
Sergio menoleh ke arah Lucas berdiri. Ia menahan amarahnya ketika melihat anak tirinya itu. Bukan karena dia telah melukai Fabian, tapi karena ancaman Lucas kepadanya sebelum Esme datang.
"Kau tidak akan pernah berani menjebloskan aku ke dalam penjara, Ayah. Karena aku tahu rahasia apa yang telah lama kau simpan selama ini. Aku juga tahu alasanmu memaksa Fabian menikahi gadis gagu itu," ujar Lucas tadi.
__ADS_1
Mendengar ucapan Lucas yang lebih seperti ancaman, Sergio langsung mencekik leher Lucas. "Kau tidak akan berani membunuhku, karena aku sudah meninggalkan pesan pada seseorang jika aku sampai mati, orang-orangku akan menyebarkan bukti kecelakaan yang kau tutupi selama ini. Aku yakin Fabian pasti akan segera tahu jika kasus kecelakaan itu terungkap," ancam Lucas.
Meski marah dengan sikap Lucas, tapi Sergio tetap melepaskan pria yang sudah ia anggap kelewat batas itu. Sergio hanya bisa menggeram marah melihat wajah sang putra tiri.
"Sergio, kau mendengarkan aku, 'kan." Esme Mengguncang bahu Sergio agar sadar.
Pria tua ini akhirnya menatap Esme. "Aku biarkan dia tetap berada di luar, tapi aku tidak akan pernah mengijinkan dia menapakkan kakinya barang satu langkah pun di rumahku, dan jangan pernah lagi menggunakan namaku di belakang namanya. Kalau kau mau protes, silahkan angkat kaki juga dari rumahku!" Sergio tidak menunggu jawaban Esme, ia langsung keluar dari ruang perawatan Lucas.
Esme bergegas menghampiri putra kandungnya itu, dan memeluknya. "Maafkan Ibu, Lucas. Ibu tidak bisa membantumu untuk tetap tinggal bersama Ibu," sesal Esme.
Lucas mengurai pelukannya, ia menghapus air mata yang berderai di kanan dan kiri pipi Ibunya. "Tidak apa, Bu. Lucas bisa cari tempat tinggal sendiri." Lucas berusaha menghibur Ibunya.
"Jaga diri Ibu baik-baik."
Jakarta
Ini bahkan sudah lebih dari tiga hari sejak pertama kali Sabrina merasakan mula di pagi hari. Saran kerokan waktu itu juga sudah ia jalani. Sabrina, yang notabene orang bule terus berteriak kala Sari menggerakkan koin di punggung Sabrina.
Sabrina merasa aneh dengan cara pengobatan ini, ia terus saja memohon pada Sharon utuk berhenti. Namun, Sharon tetap bersikukuh Sabrina akan sembuh dengan kerokan ala Sari.
"Sharon, please ... stop it," pinta Sabrina kala itu.
"Tahan sedikit Sabrina, ini akan membuatmu sembuh dari masuk angin," jawab Sahron waktu itu.
__ADS_1
Namun, setelah usaha kerokan itu nyatanya Sabrina tetap saja mual. Seperti pagi ini misalnya. Ia sampai lemas terduduk di atas kloset. Sharon yang merasa kasihan langsung menuju kamar Sabrina dan membantu wanita malang itu. Ia berusaha mengusap punggung Sabrina agar lebih baik.
Sari juga ikut kalang kabut mencari minyak angin untuk membuat Sabrina rileks, tapi bukannya rileks Sabrina justru bertambah mual. Sabrina memang tidak rahan dengan bau minyak angin, karena bau itu mengingatkannya dengan kerokan di punggungnya.
"Ayo kita kembali ke kamar." Sharon dan Sari menuntun Sabrina untuk duduk di atas ranjang.
Tampak wajah pucat Sabrina dengan tubuh lemas. Sejak rasa mual melanda kala itu, nafsu makan Sabrina memang menurun, bahkan hanya sedikit sekali makanan yang masuk untuk mensuplay tenaganya.
"Tunggulah di sini, aku dan Sari akan menyiapkan sarapan untukmu, kau tidak perlu bekerja dulu," ujar Sharon.
Sabrina hanya mengangguk lesu menuruti perintah Sharon.
Sari dan Sharon keluar dari kamar Sabrina menuju dapur. Mereka menyiapkan sarapan untuk Sabrina, hari ini Sharon sendiri yang membuat sarapan untuk Sabrina, sementara Sari hanya membuatkan susu saja.
"Nyonya, apakah mungkin jika Nona Sabrina sedang hamil?" celetuk Sari disela-sela mengaduk susu.
Sharon langsung berhenti menata keju di atas tumpukan roti yang akan ia jadikan sandwich untuk sarapan Sabrina. Wanita itu menatap tajam Sari, yang membuat Sari jadi menunduk takut.
"Ma-maaf, Nyonya. Saya hanya menduga, soalnya gejala mual Nona Sabrina sepeti waktu dulu Nyonya baru mengandung Alicia," ungkap Sari hati-hati.
Sharon terus menatap Sari, sedikit tersinggung dengan dugaan Sari, mengingat Sabrina adalah wanita baik-baik dan ia juga sudah bercerai dengan suaminya. Sabrina pernah bercerita tentang suaminya yang diam-diam memberikan suntikan pencegah kehamilan, dan itu terjadi selama dua tahun pernikahannya. Apakah mungkin wanita itu hamil setelah diberikan suntikan pencegah kehamilan.
"Antar sarapan ini pada Sabrina, aku akan segera bersiap ke restoran." Sharon memberikan sandwich yang selesai ia buat, lalu pergi dari dapur.
__ADS_1
"Apa benar Sabrina hamil?" tanya Sharon dalam hatinya.