
Fabian membiarkan saja Sabrina merajuk dan meninggalkannya, ia lebih memilih untuk kembali melanjutkan acara memasaknya. Dalam waktu kurang lebih tiga puluh menit makan malamnya telah siap di meja bar. Saatnya memanggil istrinya yang merajuk.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Fabian masuk ke kamar yang ia anggap miliknya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. "Keluarlah, ayo kita makan," ajak Fabian pada Sabrina yang baru keluar dari kamar mandi dan sudah berganti baju dengan Piyama beruang berwarna pink.
Sabrina yang malas menanggapi hanya bisa berkata, "Aku tidak lapar." Lalu membuang muka dari Fabian yang berdiri di ambang pintu, dan berjalan menuju ranjang.
Fabian menghampiri istrinya yang tidak menurut itu, tanpa permisi pria itu langsung mengangkat tubuh Sabrina dan memanggulnya layaknya karung beras. "Fabian!" pekik Sabrina yang kaget.
"Lepaskan aku," teriak Sabrina memukul punggung suaminya. Seketika Fabian menurunkannya tepat di depan pria itu, tapi tidak begitu saja melepaskan Sabrina karena tangannya masih setia merengkuh pinggang wanitanya.
Melihat sorot tajam Fabian, membuat nyali Sabrina menciut. Teriakannya tak lagi terdengar, berganti cicitan yang hampir tak mengeluarkan suara. "Aku tidak lapar," lirihnya.
"Kalau begitu temani aku makan," ucap Fabian dengan sorot memaksa.
Setelah mempertimbangkan perasaan Fabian yang sudah bekerja membuat makan malam, akhirnya Sabrina mengangguk. Ini semua karena ia merasa tidak enak hati pada pria itu, bukankah sebelumnya Fabian mengatakan jika ingin makan masakannya tapi kini malah pria itu sendiri yang memasak. Demi menghargai usaha Fabian, Sabrina pun setuju.
Fabian melepaskan tangannya yang bertengger di pinggang istrinya dan mempersilahkan Sabrina untuk jalan lebih dulu. Sabrina sempat takjub dengan penampakan dua porsi carbonara dengan toping sosis dan keju yang telah siap di meja bar.
Sabrina segera menduduki posisinya, dan disusul oleh Fabian di sampingnya. Sabrina hanya diam menyaksikan Fabian makan dengan lahap.
"Kau tidak makan?" tanya Fabian memastikan.
Sabrina menggeleng tapi perutnya tidak bisa diajak berbohong. Aroma wangi dari cream souce membuat cacing di perut Sabrina tidak tahan. Fabian mengulas senyum tipis mendengar bunyi perut Sabrina.
"Makanlah, atau kau mau aku suapi?"
Sabrina menggeleng.
"Kalau begitu makanlah," bujuk Fabian.
Tadi sudah menolak, tapi aroma cream souce ini benar-benar menggoda. Dengan malu-malu, Sabrina menyendok sedikit carbonara di hadapannya. Mencoba mencicipi. Rasanya sungguh di luar dugaan, sangat lezat di lidah Sabrina. Ia pun menoleh pada suaminya yang masih menikmati carbonara di depannya.
Sementara Sabrina hanya bisa menggigit sendok, melihat nikmatnya Fabian menyantap hidangan itu. Ia ingin makan, tapi ia malu. Semakin ditahan, semakin protes perutnya minta di isi. Akhirnya ia memilih untuk memakan dengan lahap masakan suaminya. Fabian sengaja diam, tak ingin menegur apa pun, tapi ia sempat melirik Sabrina yang makan dengan lahap.
"Biar aku saja," sergah Sabrina saat Fabian akan membawa piring kotornya ke wastafel.
"Baiklah." Fabian meletakkan kembali piringnya dan menunggui Sabrina makan dengan tenang.
"Di mana kau belajar masak?" tanya Sabrina.
"Tidak pernah, ini pertama kalinya."
__ADS_1
Sabrina langsung fokus pada Fabian. "Kau bohong."
"Aku serius, aku memang baru pertama membuatnya, tapi aku sering melihat seseorang membuat makanan ini," jawabnya.
"Siapa?" tanya Sabrina curiga.
"Kau tidak perlu tahu siapa orangnya, karena aku yakin kau pasti akan marah."
Sabrina langsung bisa menebak siapa orang yang dimaksud. Tak ingin lagi melanjutkan perbincangan soal masakan Fabian, Sabrina bergegas menghabiskan carbonara yang tinggal sesuap lagi, lalu membersihkan piringnya dan piring Fabian.
"Kau tidak pulang?" tanya Sabrina.
"Aku akan pulang kalau kau juga pulang bersamaku."
Sabrina langsung memutar bola matanya malas, dan meninggalkan pria itu sendirian untuk tidur.
___________
Di kediaman keluarga Ramos, setelah tadi Fabian pergi tanpa pamit meninggalkan acara makan malam keluarga, kini Sergio sedang berbicara serius dengan orang kepercayaannya.
"Bagaimana, apa kau sudah membereskannya?" tanya Sergio pada Crist.
"Sudah, Tuan. Saya sudah menghilangkan semua jejak forensik kecelakaan itu."
"Tentu, Tuan. Tangan kanan Tuan William pun tidak akan lagi bisa melacak bukti-bukti itu. Saya yakin langkahnya sudah terhenti," jawab Crist yakin.
"Baguslah, kalau begitu kau urus masalah lainnya, biarkan wanita ja lang itu Lucas yang mengurusnya." Sergio terus menatap pintu ruang kerjanya yang belum menutup sempurna.
"Ada apa, Tuan?" tanya Crist yang ikut menoleh ke arah pintu.
"Tidak ada, aku hanya ingin bilang kalau kau sudah selesai dengan laporanmu. Pulanglah."
"Terima kasih, Tuan. Saya mohon undur diri." Crist pun keluar meninggalkan Sergio yang masih terduduk di kursi kerjanya.
Ia memikirkan bayangan seseorang yang tadi sempat tertangkap matanya sedang berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Ia yakin orang itu pasti punya tujuan karena sudah berani menguping pembicaraannya.
"Hai Crist, ada urusan apa kau kemari malam-malam begini, apa ada masalah yang penting?" tanya Lucas yang baru saja dari dapur membawa segelas air putih.
"Selamat malam, Tuan," sapa Crist yang berpapasan dengan anak dari Tuannya. "Hanya masalah bisnis biasa," sambung Crist.
Dari arah lain, tepatnya arah yang sama dengan ruang kerja Sergio, Esme berjalan dengan cepat menuju lantai atas. "Dari mana, Bu?" tanya Lucas menghentikan langkah Esme.
__ADS_1
Crist pun menoleh mendengar nama Nyonya besarnya. "Selamat malam, Nyonya," sapa Crist.
"Se-selamat malam Crist, maaf aku sedang terburu-buru." Esme langsung meninggalkan Lucas dan Crist untuk pergi ke kamarnya.
Lucas menatap heran pada Ibunya, tapi ia tidak ingin tahu apa yang terjadi.
"Baiklah, Tuan Muda, saya pamit. Selamat beristirahat," pamit Crist, yang diangguki oleh Lucas.
Lucas pun berlalu menuju kolam renang. Di tempat yang sepi itu ia mulai menghubungi Vannesa.
"Halo," sapa Lucas.
Vannesa membalas salam Lucas di sana, dan menanyakan maksud Lucas meneleponnya.
"Segeralah bertindak, sebelum semua rencana kita gagal. Kau tidak akan lagi punya pengaruh bagi Fabian jika hubungan Fabian dan Sabrina semakin dekat."
Vannesa mengiyakan perintah Lucas.
________________
Pagi hari di apartemen Sabrina. ia sedikit terkejut saat Fabian yang semalam tidur di apartemennya sudah bangun lebih dulu dibandingkan dirinya, bahkan pria itu sudah mandi dan membangunkannya.
"Bangunlah." Fabian mengguncang bahu Sabrina pelan.
Dengan mata yang masih setengah mengantuk, ia melihat Fabian yang baru selesai mandi, semua bisa Sabrina lihat dari rambut pria itu yang masih basah.
Mata Sabrina langsung membelalak saat Fabian yang masih Shirtless berdiri disampingnya. "Sedang apa kau?" tanya Sabrina curiga.
"Tentu saja membangunkanmu, apa lagi?"
"Lalu kenapa kau tidak pakai baju?"
Fabian melihat ke arah tubuhnya. "Memang kenapa?"
"Tidak seharusnya kau tidak berpakain di depanku."
"Kenapa, ada yang salah?" tanya Fabian yang membuat Sabrina jengkel, karena tidak mengerti maksud wanita itu.
"Ish ...!" Sabrina yang kesal karena Fabian tidak sadar diri juga, langsung bangkit dari ranjangnya dan masuk ke kamar mandi.
Di dalam sana, Sabrina mulai merutuki dirinya sendiri yang sempat tergoda dengan penampakan Fabian pagi ini. Belum lagi kalau ingat ciuman mereka tadi malam. Ah ... Sabrina bisa gila.
__ADS_1
Dia masih wanita normal yang menginginkan sentuhan suaminya, tapi demi pernikahannya yang belum jelas mau dibawa ke mana, ia harus menahan semuanya.