Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.64 Tidak Bisa Melepaskan


__ADS_3

Sabrina terus berlari naik ke lantai atas mansion mewah keluarga Ramos. Air matanya terus berderai, mengalir deras bak sungai yang membanjiri kedua pipinya. Niatnya untuk melihat apa yang terjadi karena mendengar teriakan Fabian justru mengantarnya pada fakta mengejutkan.


Sekarang ia tahu, kenapa orang suruhan paman Andrew tak bisa menemukan bukti yang sebenarnya tentang kematian ayahnya. Semua karena ayah mertuanya. Pria dengan harta dan kekuasaan itu telah menutup semua jalan untuknya mengungkap kebenaran. Kecurigaan-kecurigaan yang diungkapakan oleh paman Andrew tak bisa dibuktikan karena Sergio bermain sangat rapi.


Sampai di kamarnya, Sabrina mengambil kopernya. Ia memasukkan semua baju dan juga dokumen-dokumen kenegaraan miliknya untuk ia bawa pergi dari rumah ini. Sudah cukup ia terluka.


"Sabrina, dengarkan aku, ayo kita bicarakan semuanya baik-baik," ujar Fabian yang datang menahan tangan Sabrina yang berusaha memindahkan barang-barangnya ke dalam koper.


"Jangan mengambil keputusan saat kau sedang marah. Ki-kita bicarakan semua dengan kepala dingin," bujuk Fabian.


Sabrina dengan tangan tertahan menghentikan gerakan memindahkan barang. Ia menatap tajam suaminya. Tanpa kata, Sabrina menyentak tangan pria itu kuat-kuat hingga terlepas. Ia pun langsung menutup kopernya. Biar saja sebagian bajunya ia tinggal yang terpenting dokumennya sudah masuk ke dalam koper. Segera Sabrina menarik koper tersebut dan menyeretnya.


Fabian yang tidak rela jika harus kembali berpisah dengan Sabrina kembali merengkuh wanita itu dan menahannya agar tidak pergi. Ia tidak mau kalau harus kehilangan Sabrina lagi setelah dua tahun berusaha menemukan wanita itu. Lengannya yang kokok menahan tubuh Sabrina yang hendak melangkah. Ia peluk erat istrinya itu sembari mengucap ribuan maaf yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya.


"Maafkan aku ... maaf ... maaf ...."


Sabrina yang tak mampu bergerak semakin sakit mendengar kata maaf dari suaminya. Hatinya menjerit pilu. Nasib seolah mempermainkannya. Bagaimana tidak. Ia adalah gadis polos dan lugu. Hanya ketulusan dan kebaikan orang lain yang ia lihat. Ia tak pernah sedikit pun berprasangka buruk pada siapa pun. Pun ketika Sergio datang membawa lamaran untuknya. Ia menganggap sahabat ayahnya itu memang benar-benar tulus padanya. Ingin membantunya, ingin memberikan kasih sayang padanya dan menggantikan tanggung jawab ayahnya. Tidak ada sama sekali pikiran buruk pada ayah mertuanya itu, hingga Tuhan membuka kenyataan di depan matanya sendiri jika sang ayah mertua berperan dalam menutupi kasus meninggalnya sang ayah.


Lebih menyakitkan lagi tentang Fabian. Suami yang ia terima dengan sepenuh hati. Ia berjanji dihadapan Tuhan dengan ikrar suci, akan menjaga dan bersama pria itu dalam suka dan duka. Namun apa, sejak ikrar itu terucap, suaminya tak pernah menganggapnya. Kendati demikian Sabrina tetap bertahan. Ia punya keyakinan jika suatu hari nanti suaminya berubah dan akan mencintainya. Dalam luka ia terus mencoba tegak, menjadi istri dan melayani suami tanpa keluhan. Meski hati hancur karena fakta jika ia hanya pelampiasan. Sudah tahu begitu, ia pun masih percaya jika ia bisa menaklukkan suaminya. Sampai ia harus menyerah dengan keadaan pada sikap Fabian yang arogan.


Ia berusaha bangkit dan menata hidupnya kembali. Mencoba berdiri dan melupakan pria itu, tapi Tuhan berkehendak lain. Takdir mempertemukan mereka kembali setelah dua tahun perpisahan. Menumbuhkan kembali rasa yang mati-matian ia coba untuk mmebunuhnya. Apalah daya, ia hanya manusia biasa. Sekuat apa pun ia berusaha untuk menjauh, menghindar, bahkan berlari, kuasa Tuhan tak mungkin terhindarkan.


Rasa cinta dan kasih sayang kembali tumbuh dalam hatinya untuk pria yang sama setelah perjuangan Sabrina melupakan Fabian. Sikap baik dan perjuangan pria itu meluluhkan ego dan kebenciannya. Ia pun mencoba kembali menerima Fabian dengan harapan yang begitu besar akan pria itu. Setelah menimbang segala rasa yang berkecamuk di hatinya, ia putuskan untuk memulai lagi dari biduk rumah tangga yang sempat terkoyak.

__ADS_1


Dan hasilnya?


Nasib menghempaskannya lagi pada kenyataan pahit. Suaminya adalah penyebab kematian ayahnya. Di saat ia merasa semua sudah baik-baik saja, bahkan sebelumnya ia menikmati makan malam yang indah dengan Fabian, kenapa ia harus ditampar dengan realita.


"Aku mohon maafkan aku," lirih Fabian tepat ditelinga istrinya. Pria itu menangis. Air matanya bahkan menetes ke bahu Sabrina.


"Jangan pergi, aku mohon," sambungnya.


Sabrina menahan marah dengan ucapan maaf dari Fabian. "Lepaskan aku!" pinta Sabrina dengan suara yang sama lirihnya.


"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kau tidak boleh lari. Kita bisa membicarakan semuanya," kekeuh Fabian.


"Aku tidak ingin hidup bersama orang yang telah menyebabkan ayahku meninggal. Aku tidak mau!" Sabrina berusaha meronta. Ia ingin lepas dari pria ini. Ia ingin pergi.


Sabrina tak bisa lepas dari rengkuhan pria itu. Fabian benar-benar erat memeluknya. "Sudahlah Fabian, aku tidak ingin lagi bersamamu. Sudahi saja semuanya. Kita akhiri pernikahan ini. Tidak ada lagi yang bisa kita pertahankan dari pernikahan yang berlandaskan kebohongan!"


Fabian menggeleng kuat, air matanya masih tak berhenti. "Kau boleh marah, kau juga boleh membenciku tapi aku mohon jangan paksa aku untuk menyerah sebab aku tidak akan melakukannya. Aku mencintaimu, aku akan pertahankan semuanya," tegas Fabian.


"Fabian!" sentak Sabrina. " Aku tidak ingin lagi hidup bersamamu. lepaskan aku!" Sabrina semakin kuat meronta.


"Tidak, aku tidak akan melakukannya!" Fabian pun tetap bertahan dengan keinginannya.


" Fabian!" Sabrina kalut dan marah dengan sikap egois Fabian.

__ADS_1


"Tidak Sabrina, sampai kapan pun aku akan berjuang untuk mendapatkan maafmu. Aku akan menunggu sampai kau mau memaafkanku dan menerima cintaku. Aku tidak akan menyarah."


Sabrina tak tahu lagi cara apa yang harus ia gunakan agar pria itu mengerti keinginannya dan melepaskannya. Sabrina yang tadi sudah tidak ingin menangis lagi karena kebenciannya kini kembali meneteskan air mata. "Aku mohon Fabian, lepaskan aku," pintanya dalam isak tangis.


"Tidak ... tidak." Fabian terus menggeleng. Menolak apa yang diinginkan Sabrina. "Kumohon jangan meminta hal yang tak mungkin aku lakukan. Aku tidak akan bisa melepaskanmu. Kau boleh marah, kau boleh membenciku, tapi jangan memintaku untuk melepaskanmu. Aku tidak bisa ... aku tidak sanggup!"


Mereka pun sama-sama terdiam. Bagi Sabrina, hatinya seolah kebas dengan apa yang Fabian lakukan saat ini. Beberapa saat berlalu dalam kebisuan dengan posisi mereka yang tak berubah barang se-inchi pun.


"Kau istirahatlah, kau pasti lelah. Besok kita bicara lagi," ujar Fabian lembut tapi tak mendapat jawaban dari Sabrina. Pria itu mengecup rambut istrinya dan keluar dari kamar. Memberi waktu Sabrina untuk istirahat.


Sepeninggal Fabian, Sabrina lantas berlari ke arah pintu untuk keluar dari mansion mewah ini. Memanfaatkan kesempatan lepas dari Fabian. Sayangnya suaminya lebih siaga darinya. Pintu kamar mereka dikunci oleh Fabian dari luar.


"Fabian, buka pintunya!" Sabrina menggedor pintu dengan keras, tak terima jika ia dikurung.


Fabian yang masih menunggui Sabrina di depan pintu kamar terduduk lemas ketika mendengar teriakan Sabrina yang ingin pergi dari hidupnya. Tubuh Fabian luruh ke lantai. Tubuh dan kepalanya menempel pada pintu. Hatinya seakan diremas ketika teriakan-teriakan Sabrina terus terdengar bagai sembilu yang menusuk pendengarannya. Menyakitkan.


Ia tidak ingin Sabrina merasa sedih, tapi ia tak akan sanggup jika harus melepaskan wanita itu. Terlebih setelah tahu jika dirinyalah yang telah membuat Sabrina kehilangan ayahnya. Ia merasa harus bertanggung jawab atas semuanya dengan menjaga Sabrina.


Di dalam kamar, Sabrina pun sama sesaknya. Ia juga duduk di lantai sama seperti Fabian. Bersandar pada pintu yang menjadi dinding pemisah antara suami dan istri tersebut.


Sabrina meraung dengan sisa tenaganya. "Fabian, buka ... lepaskan aku. Aku ingin pergi!"


Teriakan Sabrina tak berarti. Sebab tak ada respon dari luar untuknya meski Fabian masih berjaga di depan pintu. Takut jika istrinya itu benar-benar pergi meninggalkannya. Dalam kekalutan hatinya, Fabian tidak ingin mengambil resiko. Ia lebih memilih menjaga Sabrina di luar dari pada harus kehilangan wanita yang ia cintai. "Maafkan aku Sabrina, tapi aku tidak ingin kau pergi," lirih Fabian pada diri sendiri.

__ADS_1


Dari balik pintu yang Fabian gunakan untuk bersandar, Sabrina mulai lelah dengan teriakannya. Dalam duka yang ia rasakan, ia masih ingin berjuang untuk pergi, memohon pun akan ia lakukan. "Fabian, aku mohon lepaskan aku ...."


__ADS_2