
Gaeessss, ada adegan DEWASA di sini. BELUM CUKUP UMUR, skip!!!!!
πππππππππππππππππ
"Sergio, aku ingin bicara," ujar Esme yang baru masuk ke ruang kerja suaminya dan duduk di depan Sergio.
Sergio yang sejak tadi menekuri sebuah laporan dari Crist, mendadak mendongak demi melihat sang istri. "Katakan saja," jawabnya.
"Fabian sudah kembali, itu artinya putraku Lucas juga sudah boleh kembali ke rumah ini," ujar Esme tanpa basa-basi.
Sergio melepaskan kaca matanya. Menatap tajam Esme akan pernyataannya. "Kau lupa apa yang sudah dilakukan anak itu?"
"Tentu saja tidak. Aku ingat semua kesalahan Lucas, tapi dia juga berhak mendapatkan kesempatan kedua, bukan. Sama seperti Fabian, dia juga bersalah tapi kau bisa memaafkannya. Itu artinya Lucas pun punya hak yang sama. Jangan berpikir karena Fabian anak kandungmu, dan Lucas adalah anak yang aku bawa sebelum aku menikah denganmu kau jadi berlaku tidak adil. Di mana janjimu dulu padaku, kau bilang kau akan memperlakukan Lucas seperti putramu sendiri. Kau ingat, bukan?" Esme sedikit emosi.
Sergio menarik napas dalam. "Anak itu sendiri yang serakah, kalau saja dia menerima semua bagiannya dengan lapang dada aku tidak akan mengusirnya."
"Apa kau bilang, putraku serakah?" Esme terlihat marah dengan tuduhan Fabian. "Memang apa yang sudah Lucas lakukan hingga kau menuduhnya serakah? apa hanya karena Lucas memacari kekasih Fabian, yang tak lebih dari sekadar wanita murahan itu!" sambungnya dengan meninggikan suaranya.
Sergio mencari sesuatu di dalam laci meja kerjanya, sebuah map yang sudah lama tersimpan. Ia pun melemparkan map berwarna hijau itu ke hadapan Esme. Tentu saja Esme heran dengan maksud Sergio.
"Apa ini?"
"Bukalah, agar kau percaya tentang keserakahan putramu."
Esme menatap nyalang pada map hijau di hadapannya tapi enggan menyentuhnya.
"Itu adalah bukti keserakahan putramu. Dia menggelapkan dana perusahaanku dengan sangat licik. Aku tidak pernah mengurusnya atau pun melaporkannya ke polisi, juga tidak bercerita padamu karena aku masih memandangmu sebagai istriku."
Esme tercengang dengan fakta yang baru ia ketahui ini. Namun ia tetap tidak rela jika Lucas tidak diijinkan untuk kembali. "Ini sudah dua tahun Sergio, pasti Lucas sudah berubah. Aku yakin di luar sana Lucas hidup dalam kemalangan, dan hal itu pasti sudah cukup untuk memberinya pelajaran," bela Esme.
Melihat Esme yang seakan tidak mau menyerah untuk putranya membuat Sergio kesal. Ia tak ingin lagi memberi penjelasan apa pun dan memilih untuk berdiri dan meninggalkan istrinya di ruang kerja.
Sementara itu, di kamar putranyaβFabian. Sabrina tengah curiga menatap Fabian yang ada di atas sofa. Pria itu mendadak bersemangat menghampiri Sabrina di ranjang.
"Kau mau apa?" tanya Sabrina yang juga langsung terduduk setelah melihat Fabian yang berdiri menjulang di depannya.
"Tadi kau bilang kau tidak bisa tidur. Tentu saja aku akan membantunmu." Mata Fabian mengerling.
__ADS_1
"Jangan gila!"
Fabian dengan seringainya langsung naik ke atas ranjang.
"Fabian, aku akan berteriak jika kau memaksaku!" ancam Sabrina.
"Ssttt ... diamlah! aku akan membantumu lebih cepat untuk tidur." Fabian semakin mendekat.
"Fabian!"
Pria itu tak peduli dengan teriakan istrinya. Ia justru langsung menangkap kaki Sabrina, yang membuat Sabrina bergidik seketika dan kontan menarik kakinya.
"Aku bilang diamlah, aku akan memijat kakimu agar kau bisa lebih rileks dan cepat tertidur." Fabian kembali menarik kaki Sabrina.
Sabrina yang sudah salah paham, akhirnya membiarkan saja kakinya dipegang oleh suaminya itu. Seperti kata pria itu, Fabian benar-benar memijit kakinya.
Sabrina terus memperhatikan Fabian yang serius memijitnya, tapi hal itu justru membuat Sabrina tidak nyaman. Ia kembali menarik kakinya dengan kasar. "Hentikan, aku tidak mau lagi dipijat!" tolak Sabrina sedikit kasar. "Lagi pula siapa yang suka pijat?"
"Lalu kau mau apa?"
"Aku tidak ingin apa pun!"
"Aku bukan anak kecil."
"Aku nyanyikan?"
"Aku tidak suka!"
"Kau ingin aku membantumu untuk tertidur buka , sebenarnya aku punya cara cepat untuk membuatmu tertidur. Cara yang sangat gampang, tapi kurasa kau pasti akan menolaknya."
Sabrina mengernyit heran tentang maksud suaminya.
"Kelelahan akan membuatmu cepat terlelap. Hanya butuh waktu satu sampai dua jam aku jamin kau akan tidur dengan pulas hingga esok pagi." Seringai kecil terulas di bibir Fabian.
Dari kalimat Fabian, yang mengatakan kelelahan dan durasi yang dibutuhkan, Sabrina mulai menangkap maksud pria itu. Ia pun mengambil bantal di belakangnya dan melemparnya pada Fabian.
Pria itu justru tertawa terbahak-bahak menerima lemparan bantal dari Sabrina. "Aku hanya bercanda, aku tau kau tidak mau. Aku akan cari ide yang lain."
__ADS_1
Fabian nampak berpikir setelah Sabrina menolak usulnya untuk membantu wanita itu agar cepat tertidur. "Tunggu sebentar." Fabian turun dari ranjang dan keluar kamar. Tidak lama karena lima menit kemudian pria itu sudah kembali dan membawa sesuatu di tangannya.
"Bagaimana jika kita bermain kartu sampai kau mengantuk?" Fabian memperlihatkan benda di tangan kirinya.
Merasa aneh, tapi Sabrina tak mau juga menolak. Ia pikir boleh juga dicoba.
"Kau tahu cara bermain kartu?" Fabian mulai naik ke atas ranjang.
Sabrina menggeleng tegas.
"Baiklah, akan aku jelaskan." Fabian menjelaskan cara bermain kartu itu dengan sabar hingga Sabrina mengerti. Setelah itu, mereka mulai bermain. Sabrina yang awalnya masih bingung dengan aturan main itu, lama kelamaan bisa juga mengikuti permainan.
"Dari mana kau dapat kartu ini?" tanya Sabrina di sela-sela permainan.
"Dari kamar pelayan. Aku sering melihat mereka bermain kartu jika tidak ada pekerjaan. Makanya aku pinjam."
Sabrina ber-oh ria sembari melanjutkan permainan. Dimulai dari pertanyaan tadi, akhirnya Sabrina dan Fabian bisa mengobrol santai layaknya suami istri pada umumnya.
Tidak disangka, jika Sabrina bisa seakrab ini dengan Fabian. Sabrina bercerita masa kecilnya dengan sangat antusias ketika Fabian menanyakannya.
Fabian pun mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang Sabrina ceritakan. Bukan hanya Sabrina, Fabian juga merasakan apa yang ia lakukan dengan Sabrina kali ini serasa begitu menyenangkan. Seolah mengembalikan ruh dalam hubungan mereka.
Sesekali Fabian menangkap senyum di bibir Sabrina kala menceritakan tentang masa lalunya yang terkesan lucu. Harusnya dari dulu Fabian menyadari tentang kehadiran Sabrina. Ternyata wanita itu benar-benar memesonanya.
"Aku sangat menyayangi ayahku, dan sekarang aku menyayangi ayahmu karena dia seperti pengganti ayahku yang sudah tiada," ujar Sabrina ketika Fabian bertanya tentang ayah mertuanya yang telah tiada.
"Sayangnya sampai sekarang aku tidak bisa menemukan siapa orang yang telah menabrak ayahku hingga meninggal. Aku tidak akan memaafkan orang jahat itu, orang yang telah membuat hidupku berubah karena kehilangan ayah." Mata Sabrina berkaca-kaca, tapi ia segera menyamarkannya dan berkata, "Tapi sekarang aku bahagia karena telah menemukan keluarga baru seperti ayahmu, paman Andrew, Sharon dan Matt. Aku begitu menyayangi mereka." Sabrina tersenyum agar kesedihan yang tadi sempat tersirat tergantikan dengan binar kebahagiaan.
"Giliranmu," ujar Sabrina memberi tahu.
Fabian bergeming, ia justru terpaku pada Sabrina yang masih memegang kartu dengan senyum masih belum hilang dari bibirnya. Tiba-tiba, Fabian mengambil rambut Sabrina yang jatuh menutupi wajah cantik wanita itu. Menyelipkannya ke belakang telinga.
Sabrina sendiri ikut terpaku dengan apa yang Fabian lakukan. Ia diam saja saat Fabian mulai mengusap pipinya. Manik mata pria itu seakan menghipnotisnya, dan membuat Sabrina bergeming tak berdaya. Bahkan ketika Fabian mendekatkan wajahnya, dan menyatukan bibir mereka dengan lembut.
Sabrina seolah dibuat tak sadar ketika sentuhan lembut itu berubah jadi cecapan yang manis. Fabian bahkan membuang kartunya dan menggunakan tangannya untuk menyelinap dibalik rambut Sabrina yang terurai. Memegang tengkuk wanita itu, dan menekannya untuk semakin memperdalam ciuman mereka.
Sabrina masih saja terdiam, ia seperti terbuai dengan permainan Fabian yang sudah sangat lama tak ia rasakan. Rasa manis yang tercipta membuat Sabrina terlena, hingga tidak sadar jika Fabian telah mendorong tubuhnya dengan perlahan. Seakan tak rela melepaskan wanitanya, Fabian terus membawa Sabrina dalam nikmat dan manisnya madu dalam bibirnya.
__ADS_1
Napas keduanya memburu, reaksi tubuhnya menginginkan lebih dari sekedar sentuhan bibir. Ketika tangan pria itu mulai menelusup masuk ke dalam piyama satin yang Sabrina kenakan, di saat itu juga Sabrina tersadar jika apa yang ia lakukan dengan Fabian sudah terlalu jauh. Ia pun mendorong dengan kuat tubuh Fabian yang berada di atas tubuhnya.
Sabrina menggeleng kuat. "Ma-maafkan aku," ujarnya sebelum bangkit dan berlari ke kamar mandi meninggalkan Fabian.