
Setelah kedatangan Sergio tadi pagi ke florist, pada akhirnya Sabrina harus berakhir di sini. Di rumah kediaman Ramos. Mertuanya itu mengundangnya untuk makan malam, kedatangan Sergio yang secara khusus hanya untuk mengundangnya membuat Sabrina tidak enak hati untuk menolak. Semua masih terlihat sama, tidak ada yang berubah termasuk tatapan tidak suka dari ibu mertuanya.
"Hai ... bagaimana acara kaburmu, apakah menyenangkan bisa dikejar-kejar oleh seorang Fabian Ramos," goda Lucas yang duduk berhadapan dengan Sabrina seperti sebelumnya.
Sabrina menoleh canggung pada Fabian yang berada di sampingnya.
"I-itu, ya ... kurasa Fabian menjadi hiburan tersendiri untukku," jawab Sabrina malu.
"Kau bilang aku hiburan?" delik Fabian.
"Ma-maksudku bukan dalam artian yang sebenarnya, maksudku aku jadi merasa seperti seorang istri sungguhan," jawab Sabrina makin melantur.
Sabrina bahkan merutuki kebodohannya sendiri. Kenapa penyakit gagu dan bodohnya selalu kambuh di depan keluarga Fabian. Lucas tertawa mendengar jawaban Sabrina yang tidak sesuai pertanyaan.
"Kau sudah kembali?" tanya Sergio yang baru saja turun. "Bagaimana urusanmu?" lanjutnya.
"Semua sudah sesuai perintahmu, aku sudah mengamankan apa yang kau suruh," jawab Lucas.
Fabian menatap heran pada Lucas dan Sergio dengan pembicaraan yang tidak ia mengerti.
"Baguslah, tidak salah aku memilihmu," ucap Sergio, kemudian duduk di bangku paling ujung, bangku yang mempertegas kedudukannya sebagai pemimpin dalam keluarga ini.
"Apa yang telah dia lakukan hingga Ayah memujinya?" tanya Fabian penasaran.
"Kau tidak perlu tahu sesuatu yang bukan menjadi urusanmu, karena tidak akan baik jika mencampuri urusan orang lain," jawab Lucas.
Fabian mendelik tajam pada Lucas, lalu beralih pada Sergio. "Ayah!"
"Lucas benar, kau nikmati saja hidupmu saat ini biarkan aku dan Lucas yang mengerjakan semuanya," jawab Sergio yang tengah meletakkan kain di pangkuannya, bersiap untuk makan.
Fabian terperangah tak percaya dengan jawaban dari Ayahnya. Mereka telah bersekongkol dan tidak melibatkan Fabian. Tak ingin berlama-lama lagi, Fabian segera bangkit dari duduknya. "Ayo pergi," ajak Fabian.
Sabrina yang tidak paham jika yang dimaksud Fabian adalah dirinya tetap bergeming.
"Aku bilang, ayo pergi!" sentak Fabian.
__ADS_1
Kali ini Sabrina mendongak demi melihat wajah suaminya. Dahinya berkerut dalam menandakan pertanyaan dalam dirinya. Wanita itu masih belum paham siapa yang di maksud oleh Fabian. Dengan cepat Fabian menarik tangan Sabrina dan menyeretnya dari hadapan ayahnya.
"Eh ... apa yang kau lakukan?" tanya Sabrina yang kaget saat Fabian menariknya. "Fabian lepaskan!" Sabrina meronta.
"Biarkan menantuku tetap di sini!" sergah Sergio.
Fabian berhenti, dan memutar tubuhnya. "Dia istriku, aku yang lebih berhak atasnya," tegas Fabian, kemudian berlalu pergi.
"Fabian, tunggu, kita belum makan malam," seru Sabrina. Tanpa ingin mendengar apa pun Fabian terus membawa sabrina pergi.
"Maafkan aku, Ayah," teriak Sabrina sebelum Fabian membawanya lebih jauh.
Sergio menarik satu sudut bibirnya ke atas melihat putra arogannya bersikap layaknya anak kecil. Hal itu tertangkap oleh mata Esme. "Apa kau senang sekarang?" cibir Esme.
"Seperti yang kau lihat, aku yang paling mengenal putraku," jawab Sergio, tak menghilangkan seringai di bibirnya.
Esme beralih menatap Lucas—putra kandungnya—ada rasa cemas yang tersirat dari sorot matanya setelah mendengar ucapan suaminya. Sebagai seorang ibu, tentu Esme ingin putranya mendapatkan hak yang sama dengan Fabian, meski itu tidak mungkin. Ia sadar benar, hubungan yang terjalin di antara suami dan anaknya. Bagaimanapun Fabian adalah pewaris darah Ramos, sedangkan Lucas terhubung karena adanya pernikahan antara dirinya dan Sergio.
Lucas yang menyadari kegelisahan ibunya, langsung menggenggam tangan ibunya di atas pangkuannya yang tersembunyi. Berusaha menguatkan sang ibu.
Fabian tak mendengarkan Sabrina, ia terus saja memacu mobilnya. Perasaan kesalnya pada sang ayah dan kakak tirinya membuat ia ingin melampaisakan segalanya pada jalanan kota Sydney.
"Fabian, berhenti, aku belum ingin mati!" Sabrina terus memegangi sabuk pengamannya.
"Fabian ... STOP!!!" pekik Sabrina. Seketika itu juga Fabian menginjak pedal rem. Suara berdecit sempat membuat Sabrina kaget tapi akhirnya ia bisa bernapas lega karena tidak terjadi apa pun pada dirinya maupun Fabian.
"You wanna kill me?" Sabrina menatap tajam pada Fabian di kursi kemudi.
"Aargghh!!!" teriak Fabian sembari memukul setir mobil dengan kuat.
Melihat kemarahan di mata Fabian, Sabrina memilih untuk diam. Ia biarkan suaminya itu agar tenang terlebih dulu. Hanya kebisuan yang mengisi sela di antara keduanya, hingga terdengar suara perut Sabrina yang protes minta diisi.
Fabian menoleh, ia menatap wajah memelas istrinya yang tengah kelaparan. Tanpa banyak bicara, Fabian melajukan mobilnya kembali menuju sebuah restoran mewah tempat biasa ia makan bersama teman-temannya. Namun, setelah sampai di depan restoran, Fabian berpikir kembali untuk masuk.
"Kenapa?" tanya Sabrina saat Fabian memutar mobilnya keluar dari area parkir restoran.
__ADS_1
"Kita makan di apartemen saja, aku ingin makan masakanmu," jawab Fabian tanpa menoleh.
Meski heran dengan keinginan Fabian, tapi Sabrina enggan bertanya. Ia ikuti saja apa mau suaminya.
Sampai di apartemen, Fabian langsung melempar jas casualnya asal ke atas sofa, lalu menggulung lengan kemejanya dan menuju wastafel untuk cuci tangan. Setelahnya ia mengambil bahan masakan dari dalam lemari pendingin. Sabrina yang tak mengerti apa yang dilakukan Fabian masih tetap setia menjadi penonton. Mungkin dia memang harus diam saja dan menunggu hasil dari apa yang Fabian lakukan.
Saat akan berjalan menyusul Fabian ke dapur, tak sengaja Sabrina melihat dompet Fabian terjatuh dibawah sofa, di mana jas Fabian teronggok begitu saja. Sabrina mengambilnya dan akan mengembalikan dompet itu ke dalam jas Fabian, tapi ada rasa menggelitik untuk melihat isi dari dompet yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.
"Maafkan aku," lirih Sabrina sebelum membuka dompet suaminya. Ia tercengang melihat isi dompet yang kosong. Apakah ini alasan kenapa Fabian tadi tidak jadi mengajaknya makan di restoran. Entahlah, tapi, bisa jadi benar kalau mengingat pesan ayah mertuanya dulu, jika sang ayah mertua memblokir semua akses keuangan Fabian. Ia hanya mendapatkan uang jatah seperti anak sekolah yang jumlahnya terbatas.
Mengingat hal itu membuat Sabrina sedikit menyesal.
Ia pun mengembalikan lagi dompet suaminya, dan beranjak menyusul Fabian ke dapur. "Kau sedang apa?" tanya Sabrina yang berdiri di samping Fabian yang sedang memotong bawang dengan lihai. Nampak bukan seperti Fabian, si anak manja.
"Apa kau tidak bisa melihat?"
Sabrina mencibirkan bibirnya. "Apa kau tahu kalau aku cuma basa-basi," ketus Sabrina.
Fabian terus fokus pada apa yang ia kerjakan, sementara Sabrina terus mengomel tanpa suara.
"Dasar tidak peka, masih untung aku mau bertanya," gerutunya dengan mengerucutkan bibir.
Bukan Fabian tidak peka, ia tahu apa yang istrinya itu lakukan sekarang, bahkan ia sempat melirik bibir manyun Sabrina. Dengan sengaja, Fabian memasukkan sosis yang masih panjang ke mulut Sabrina yang cemberut.
Saking kagetnya Sabrina ingin mengambilnya, tapi tangannya ditahan oleh Fabian, hingga ia hanya bisa menggigit sosis yang sebagian masih berada di luar mulutnya. Sabrina ingin marah tapi mulutnya penuh dengan sosis, jadi ia hanya bisa mendelik pada Fabian yang kini tengah menatapnya aneh.
Sekonyong-konyong, Fabian menggigit ujung sosis yang satunya, memakannya dengan cepat hingga sampai batas bibir Sabrina. Wanita itu hanya bisa terdiam tanpa bisa membalas apa pun, bahkan dengan satu kata penolakan saja ia tak mampu. Fabian telah menghipnotisnya, mengungkungnya dalam bingkai manik indahnya, hingga Sabrina tak bisa lari.
Tangannya pun melemas seketika, seiring bibir suaminya yang menyatu. Fabian membuatnya tak berdaya, dan tak mampu menolak pria itu.
"Nanti kita lanjutkan," bisik Fabian, yang membuat Sabrina sadar seketika. Sorot matanya langsung menangkap pisau yang tadi digunakan Fabian untuk memotong bawang. Tangannya yang kini sudah terlepas dari Fabian langsung meraih pisau itu, dan ia acungkan pada pria di depannya ini.
Bukan takut, Fabian justru tertawa melihat kemarahan Sabrina. "Kau ingin membunuhku?" goda Fabian. "Kau yakin ingin menjadi janda sekarang?"
Sabrina yang kesal dengan pertanyaan Fabian langsung melempar pisau itu ke atas meja dapur dan pergi meninggalkan Fabian yang justru tertawa lepas.
__ADS_1