
Sabrina menurut saja ketika Fabian tiba-tiba menariknya keluar dari restoran. Ia hanya melihat raut wajah Fabian yang berbeda. Pria yang tadi datang dengan penuh senyum di wajahnya kini berubah seratus delapan puluh derajat. Nampak kemarahan di matanya.
"Apa kita akan pulang?" tanya Sabrina ketika Fabian mulai menjalankan mobilnya.
Pria itu diam tak menjawab. Hanya fokus pada kemudinya dan perkataan Lucas yang sulit untuk ia percaya. Rasanya mendadak kepalanya berdenyut nyeri ketika ia berusaha kembali mencari memori yang terlupakan empat belas tahun lalu. Ketika dirinya mengalami kecelakaan di pagi buta.
Melihat Fabian yang seolah mengabaikannya membuat Sabrina harus sadar diri untuk diam dan tak lagi bertanya. Mungkin pria itu sedang memiliki masalah. Tapi apa?
Sesampainya di rumah, Fabian menyuruh Sabrina naik ke atas.
"Kau tidak ikut denganku?" tanya Sabrina.
"Tidak, kau duluan. Aku masih ada urusan dengan Ayah," jawab Fabian datar. Pria itu langsung pergi ke ruang kerja Sergio. Ia hafal benar tentang ayahnya itu, di jam seperti ini pasti Sergio masih berada di ruang kerjanya kecuali jika pria itu sakit.
Fabian hanya mengetuk sekali kemudian menerobos masuk begitu saja. Terlihat Sergio begitu serius menekuri pekerjaannya.
"Aku ingin bicara," ujar Fabian tanpa basa-basi. Ia tak bisa menyembunyikan kemarahan di wajahnya.
Sergio mendongak melihat kedatangan putranya. Batinnya berharap Fabian merubah keputusannya dan mau tinggal di Sydney untuk mengisi kembali jabatan CEO di kerajaan bisnisnya. Tetapi ketika melihat raut marah Fabian, Sergio justru bertanya-tanya. "Ada apa?"
"Kenapa Ayah menutupi semuanya?" teriak Fabian dengan kemarahan.
Sergio tak mengerti maksud Fabian. Menutupi apa? Apa yang harus ia tutupi.
"Kenapa Ayah tidak mengatakan padaku tentang alasan Ayah menikahkanku dengan Sabrina?"
Sergio terperanjat. Apa waktunya sudah tiba. Apa Fabian sudah tahu semuanya. Dari siapa?
__ADS_1
"Kenapa harus dengan cara yang tidak jujur. Sekarang apa yang harus aku lakukan, Ayah. Aku merasa tidak pantas untuk Sabrina sekarang!" Fabian semakin berteriak. Ia sangat marah dengan semuanya. Dengan dirinya dan juga ayahnya.
"Kau sudah tahu?"
"Lucas ... Lucas memberitahu semuanya."
Fabian mengingat kembali tentang apa yang Lucas bisikkan padanya ketika mereka bertemu di restoran tadi. Kakak tirinya itu memberi tahu kebenaran tentang kecelakaan yang dialaminya empat belas tahun lalu dan siapa yang menjadi korban dari kecelakaan tersebut.
Tentu saja Fabian sangat syok mendengarnya. Ia tak ingin percaya tapi Lucas terus mencecarnya dengan pengakuan. Sampai pada alasan kenapa ayahnya sengaja memaksanya menikah dengan Sabrina. Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap wanita itu karena Fabian lah yang telah merenggut nyawa dari William Alandro—ayah Sabrina.
Saat itu Fabian berusia tujuh belas tahun. Ia yang sedang terbakar amarah karena cemburu dengan perlakuan ayahnya pada Lucas memilih untuk pergi ke sebuah kelab malam dan berpesta di sana. Dini hari, ia pulang dengan mengendarai mobil seorang diri dalam keadaan mabuk. Sebelum menyetir, seorang anak buah Sergio menawarinya untuk mengantarkan Fabian pulang, tapi disentak oleh pria itu. Fabian memilih untuk mengemudi sendiri meski sedang mabuk. Alhasil, anak buah Sergio hanya bisa mengikuti mobil Fabian dari belakang.
Kesadaran yang menurun membuat Fabian tak bisa mengontrol kemudi hingga ia menabrak sebuah mobil yang berlawanan arah dengannya setelah mobilnya menabrak dan melewati pembatas jalan.
Kedua mobil itu sama-sama hancur, tapi nasib baik masih menaungi Fabian karena cepat mendapatkan pertolongan dari anak buah ayahnya yang senantiasa mengikutinya. Meski terluka parah hingga terbaring koma, setidaknya ia masih bisa bernapas. Lain halnya dengan pengendara mobil yang ia tabrak. Pria seumuran ayahnya itu meninggal seketika di tempat kejadian.
Rasa panik dan takut seketika menguasai hatinya. Ia tidak ingin nama keluarganya terseret dalam kasus kecelakaan ini. Selain nama baik Ramos yang dipertaruhkan, masa depan putranya juga bisa hancur karena kecelakaan ini.
Sergio tidak mau itu terjadi. Fabian adalah satu-satunya pewarisnya, penerus takhta juga garis keturunannya. Alasan itulah yang mendasari Sergio menyembunyikan fakta sesungguhnya. Menyembunyikan nama Fabian dan merekayasa kecelakaan William Alandro seolah pria itu mabuk dan tak mampu mengendalikan mobilnya. Semua fakta ia balik serapi mungkin. Hingga nama Ramos tak tersentuh.
Tidak ada yang tahu tentang kebenaran kecelakaan itu, bahkan Sergio menyembunyikannya dari Fabian yang saat itu terbangun dari koma.
Bertahun-tahun berlalu, tak ada yang mencium kebohongan itu. Ia hidup dengan normal dan melupakan kejadian yang pernah terjadi hingga mimpi buruk tentang William mengusiknya. Sergio mulai memikirkan tentang rasa bersalahnya dan berniat menebusnya dengan menikahkan Fabian dan Sabrina—putri dari William.
Ia pikir setelah semua itu, ia sudah menebus kesalahannya. Nyatanya tidak. Sebab kini, imbas dari kebohongannya mulai tersibak.
"Kenapa Ayah tidak jujur saja waktu itu, saat aku terbangun dari koma dan bertanya tentang pengemudi mobil yang aku tabrak. Kenapa Ayah justru berbohong jika semua baik-baik saja, dan menyuruhku untuk tidak perlu khawatir." Emosi Fabian makin meluap.
__ADS_1
"Fabian, ayah bisa jelaskan semuanya." Sergio berdiri dan mendekati Fabian yang sedang meluap-meluap emosinya.
"Apa yang bisa Ayah jelaskan. Ayah ingin mengatakan jika akulah yang telah membunuh sahabat ayah, aku yang telah membunuh ayah mertuaku sendiri!"
"Fabian, ayah punya alasan untuk semua itu."
"Alasan apa, alasan agar nama baik ayah tidak tercemar. Sekarang Ayah menghancurkan semuanya. Aku tidak punya lagi keberanian untuk menatap wajah istriku, Ayah." Fabian menangis, ia benar-benar hancur mengetahui fakta sebenarnya tentang dirinya. Rasa bersalahnya pada sang istri semakin besar. Seolah tak cukup telah merenggut nyawa ayah wanita itu, Fabian juga menyiksanya dalam pernikahan tanpa cinta.
"Karena aku Sabrina menjadi yatim, karena aku Sabrina kehilangan kasih sayang ayahnya. Sekarang apa yang harus aku lakukan? katakan, Ayah. Bagaimana aku harus menatap wajah istriku?" tangisnya semakin pecah. Seolah semua dosa yang ia lakukan dinampakkan di depan wajahnya. Secara nyata. Tanpa tedeng aling-aling.
"Fabian ... A-ayah minta maaf."
"Minta, maaf. Bukan padaku harusnya Ayah meminta maaf tapi pada Sabrina!"
"Iya, Ayah akan meminta maaf pada Sabrina juga."
Fabian mengusap air matanya. Ia tersenyum sinis. "Apa Ayah pikir Sabrina akan memaafkan kita?"
Sergio terdiam. Ia juga ragu apakah menantunya itu bisa memaafkannya setelah tahu semua fakta tentang ayahnya. Ia pun tak berani menjamin hal yang satu ini. Bagaimanapun, Sabrina pasti sangat terluka mendengar fakta tentang ayahnya dan siapa yang telah mengakibatkan ayahnya meninggal.
"Sedang apa kau di sini?" Suara Esme dari balik pintu menyadarkan Sergio dan Fabian jika ada seseorang yang mendengar percakapan mereka. Fabian langsung membuka lebar pintu yang tadi tidak tertutup rapat. Ia terkejut melihat Sabrina berdiri tepat di depannya dan berurai air mata.
"Sa-sabrina, aku akan jelaskan semuanya." Fabian berusaha meraih bahu Sabrina tapi wanita itu segera menghindar. Ia memilih untuk berlari menjauhi pria yang ternyata adalah penyebab kematian ayahnya.
"Sabrina, tunggu!" seru Fabian mengikuti langkah sang istri.
Esme yang tidak tahu menahu hanya menatap bingung pada anak tiri dan menantunya itu.
__ADS_1