
Rosita semakin gugup saat Lucas semakin dekat dengannya. "Surat apa itu?"
Pertanyaan Lucas semakin membuat Rosita sulit untuk berkelit, apa lagi berusaha menyembunyikan surat yang ada di tangannya saat ini.
Melihat kebungkaman Rosita membuat Lucas manjadi curiga.
"Ah ... bukan apa-apa, Tuan. Ini hanya surat dari anak saya yang ada di kampung halaman saya," bohong Rosita, langsung menyembunyikan surat itu kebalik tubuhnya.
"Benarkah?"
"Te-tentu, Tuan Muda."
"Kalau begitu, ijinkan aku untuk ikut membacanya. Aku juga ingin belajar membuat surat untuk orang yang aku sayangi."
Rosita menatap ragu pada Lucas.
"Berikan!" tegas Lucas.
Karena takut, Rosita memberikan surat itu pada Lucas. Tuan Muda itu kemudian membuka dan membaca isi dari surat yang tadi dibuang oleh Sergio. Nampak jelas seringai di bibirnya saat ia membaca isi dari surat itu.
___________________
Setelah menempuh perjalanan lebih kurang tujuh jam, tibalah saatnya Sabrina menginjakkan kaki di Indonesia untuk pertama kalinya. Setelah turun dari pesawat ia menuju tempat pengambilan barang bagasi. Di sana, Sabrina mengantre di antara penumpang yang lain. Saat ia melihat satu koper berwarna cokelat, Sabrina bergegas akan mengambilnya, tapi seseorang lebih dulu mengangkat koper itu.
"Permisi, itu koper milikku," ujar Sabrina pada pria yang ternyata adalah pria yang sama yang duduk di sampingnya tadi di pesawat.
"Ya?" pria itu menoleh.
"Itu koperku," ujar Sabrina lagi.
Pria itu menatap kopernya lagi, memperhatikan jika ia tak salah ambil koper. "Maaf ini koperku," ujar pria itu.
"No, it's mine."
Pria itu memutar kopernya dan memperlihatkan sebuah tanda yang menjadi bukti bahwa koper itu adalah miliknya. "Kau percaya, bukan?" tanya pria itu.
Sabrina mengangguk malu. "Maaf."
"Mungkin itu milikmu." Pria itu menunjuk pada koper yang sedang berjalan dia atas baggage conveyor.
Sabrina berlari menghampiri koper warna cokelat itu dan mengambilnya. Setelah mencocokkan kode bagasi dan cocok ia pun kembali menghampiri pria tadi. "Maafkan aku, kau benar, ini barulah koperku."
"It's Ok." Pria itu kemudian pergi. Sementara Sabrina mencoba mencari ponselnya, berniat menghubungi Sharon, yang katanya akan menjemput ke bandara.
"Halo, Sharon?" sapa Sabrina.
"Halo, kau di mana. Aku sudah menunggumu di pintu kedatangan."
"Baiklah, sebentar lagi aku keluar. Tunggu aku." Sabrina menutup teleponnya dan bergegas keluar, tak ingin membuat Sharon lebih lama menunggu.
Sabrina langsung bisa mengenali seorang wanita yang tengah melambaikan tangan padanya, karena ia pernah melihat Sharon saat melakukan vidio call dengannya juga paman Andrew.
"Sharon?" tanya Sabrina memastikan.
__ADS_1
"Sabrina ...," pekik Sharon. Wanita yang lebih tua dua tahun dari Sabrina itu langsung memeluk Sabrina.
"Welcome to Indonesia. Selamat datang di Indonesia," ucap Sharon yang sudah wasis berbahasa Indonesia.
Sabrina tersenyum bahagia dengan penyambutan Sharon ini.
"Sabrina, kenalkan. Ini Mattew, suamiku. Kau boleh memanggilnya Matt."
"Hai, Matt." Sabrina mengulurkan tangan.
"Hai, Sabrina, bagaimana perjalananmu?"
"Melelahkan," jawab Sabrina tersenyum tipis.
"Ok, kita lanjutkan mengobrolnya di rumah saja," ajak Sharon.
Sabrina dan Matt setuju saja. Hari ini Matt menyetir sendiri, supir yang biasa bekerja sedang cuti hari ini. Cukup membutuhkan waktu yang lumayan untuk sampai ke rumah Sharon dan Matt, tapi semua seolah terbayarkan saat Sabrina memasuki rumah milik anak dari paman Andrew itu. Sabrina langsung merasa nyaman berada di dalam rumah itu.
Seorang Nany langsung mendatangi Sharon begitu wanita itu tiba di rumah dan memberikan seorang putri kecil pada Sharon.
"Alicia, namanya Alicia," ujar Sharon pada Sabrina.
"Nama yang manis." Sabrina langung meraih tangan mungil Alicia dan mengecupnya.
"Oh ... ya, kamarmu ada di sana." tunjuk sharon.
"Sabrina, kau tidak boleh sungkan berada di sini. Kami adalah keluargamu juga," imbuh Matt.
"Kau mau istirahat dulu. Sari akan mengantarkan ke kamarmu."
"Baiklah, kurasa aku akan istirahat dulu."
"Oh ... ya, aku lupa memperkenalkanmu. Dia Sari, pengasuh Alicia." Sharon menunjuk orang Indonesia yang bekerja padanya.
Sabrina menatap Sari dan tersenyum. Ia sungkan untuk menyapa karena belum fasih berbahasa Indonesia.
"Mari, Nona," ajak Sari.
Sabrina melambaikan tangannya pada Sharon sebelum mengikuti Sari. Kamar Sabrina berada di bawah, jadi tidak terlalu jauh dari ruang tamu.
"Silakan masuk, Nona." Sari membuka pintu kamar untuk Sabrina. "Jika butuh sesuatu silakan panggil saya," ujar Sari selanjutnya.
"Thank you." Sabrina menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Ia membawa kopernya ke dekat ranjang, kemudian ia sendiri duduk di sana. Sabrina menatap kamar barunya, menghirup aroma yang berbeda dari kamarnya di Sydney.
Sabrina memejamkan matanya, menikmati setiap harum yang mulai masuk ke rongga hidungnya. Berusaha mengisi sugesti-sugesti baru ke dalam otaknya.
"Ayo, Sabrina. Kita harus memulai hidup baru. Lupakan semua kisah masa lalu, di sini adalah masa depan mu," ujarnya pada diri sendiri.
Bahkan saat berusaha menyemangati dirinya sendiri pun, ia masih menitikkan air mata. Ia membuka matanya, menyusut air bening yang telah lancang membasahi pipinya.
"Please, jangan keluarkan lagi air yang menjadi bukti kelemahanku," pintanya pada dirinya sendiri.
"Jadilah kuat, buktikan pada dirimu sendiri kalau kau bisa bangkit dari masa lalu."
__ADS_1
"Jalani hidup barumu, kita mulai semua dari awal. Sabrina si gadis gagu, kau tidak boleh ada lagi dalam diri ini. Kau harus tunjukkan bahwa kau adalah Sabrina wanita yang kuat."
Sabrina menghirup napas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Setelah beberapa saat, ia sudah merasa tenang. Ia berjanji tidak akan lagi menangis untuk masa lalu. Sekarang hanya ada dirinya dan masa depannya.
______________
Sydney, Australia.
Di apartemen Vannesa, setiap hari sejak ia diusir oleh ayahnya, tidak ada yang Fabian lakukan selain merutuki kebodohannya dan mengalihkannya dengan minuman yang membuat dirinya mabuk. Ia terus mengunci diri di dalam kamar, bahkan Vannesa pun tidak ia ijinkan masuk ke dalam kamar itu.
"Fabian," seru Vannesa dari luar. "Bukalah pintunya, aku ingin bicara."
"Fabian," seru Vannesa lagi, sembari mengetuk pintu.
"Fabian, tolong buka pintunya."
Tidak ada sahutan dari dalam, tapi Vannesa tetap sabar menunggu di depan pintu. Tak henti-hentinya wanita itu memanggil-manggil kekasihnya,dan akhirnya terdengar suara derit pintu terbuka. Fabian membuka pintu setelah beberapa hari mengunci diri di dalam kamar.
Vannesa langsung memeluk pria itu. "Kau baik-baik saja, 'kan?"
Fabian hanya bisa mengangguk dalam pelukan Vannesa.
"Fabian, ayo kita pergi dari sini. Kita mulai hidup baru kita. Aku tidak peduli lagi dengan kekayaan, apakah kau punya harta atau tidak. Aku mencintaimu, kita mulai semua dari awal," tutur Vannesa.
Seketika Fabian mendorong pelan tubuh wanita itu. "Apa maksud mu?"
"Aku ingin hidup bersama mu, kita tinggalkan kota ini kalau perlu negara ini. Kita lupakan semua yang pernah terjadi, kita mulai hidup baru kita sebagai suami-istri."
Fabian terbelalak dengan ajakan Vannesa. Ia memikirkan apa yang Vannesa ucapkan. "Kau yakin?"
"Hemmm." Vannesa mengangguk.
"Baiklah, aku setuju," jawab Fabian tanpa pikir panjang.
Vannesa begitu girang hingga ia langsung menubruk Fabian. Ciuman langsung menghujami wajah pria itu. "Aku mencintaimu Fabian," ucap Vannesa.
Fabian tersenyum, melihat kebahagiaan kekasihnya. Akhirnya ia akan bisa hidup bersama dengan sang kekasih, dan melupakan segala ambisi tentang kekayaan ayahnya.
"Aku juga mencintaimu," lirih Fabian.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Selamat Tahun Baru 2022πππππ
Semoga di tahun yang baru ini, kita semua senantiasa menjadi manusia yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Selalu diberikan kesehatan dan kelancaran rezki, segala cita dan harapan bisa terkabul.
Maafkan, akuh yang belum bisa rutin update, karena harus memprioritaskan novel yang ikut misi kepenulisan. Insya Allah saya akan menyelesaikan novel ini sampai tamat.
Terima kasih untuk semua dukungan yang diberikan, saya tidak bisa membalas apa pun selain doa semoga pembaca semua di berikan umur yang bermanfaat dan rezeki yang melimpah ... Aamin.
Sekali lagi, Happy New Yearπππππ
Sayang hee β€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1