Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.33 Kembali Menghilang


__ADS_3

"Maaf," ucap Sabrina pada orang itu. Saat menoleh dan melihat siapa orang itu, mendadak kaki Sabrina membeku. Lidahnya kelu. Otaknya seolah berhenti bekerja, bersamaan dengan waktu yang berhenti berjalan.


Wajah ini, adalah wajah yang sama dengan wajah yang tersenyum dalam foto bersama suaminya. Wajah yang menjadi alasan ia tidak mendapatkan tempat di hati Fabian.


"Sayang, apa kau sudah selesai?"


Telinga Sabrina terasa sakit mendengar suara seseorang yang begitu ia kenal. Ditambah panggilan orang itu pada wanita di hadapannya ini. Derap langkah kaki dari pria itu terus mendekat padanya, menghampiri wanita yang masih memegang kotak pasta yang sama dengan dirinya.


Sabrina tidak ingin ada di antara mereka berdua, apalagi harus menyaksikan kemesraan yang akan mereka pamerkan nantinya. Ia pun melepaskan kotak pasta itu dengan rela, berniat pergi dari sana. Namun, wanita itu menahan Sabrina. "Kenapa kau buru-buru pergi, bukankah kau menginginkan ini." Wanita itu mengacungkan kotak pasta yang tadi Sabrina lepas.


"Sayang cepatlah sedikit, sebentar lagi akan turun hujan." Suara pria itu semakin jelas terdengar bersamaan dengan jarak yang semakin terpangkas.


"Tunggu sebentar, aku sedang memilih pasta untukmu. Aku ingin memasak carbonara spesial untukmu," jawab wanita itu, yang masih menahan Sabrina.


Sabrina sudah tidak tahan lagi, ia menghempaskan tangan wanita itu agar bisa lepas dan segera menjauh dari pria yang semakin mendekatinya.


"Cepatlah, kita harus segera pulang." Suara itu begitu jelas terdengar. Sabrina yakin pria itu sudah berada tepat di belakangnya.


Sabrina memutar tubuhnya, menghadap Fabian yang sudah berdiri tepat di hadapannya sekarang. Pria yang ia cemaskan keberadaannya, yang selalu ia tunggu kabarnya, kini berada tepat di depannya.


Sabrina merutuki kebodohannya, kekhawatirannya hanyalah kesia-siaan belaka. Pria itu justru tengah bersenang-senang dengan kekasihnya, memadu rindu yang lama tak bersua.


"Sabrina," lirih Fabian tercengang.


Sabrina ingin sekali menangis, tapi sebisa mungkin ia tahan. Ia tidak mau memperlihatkan betapa lemah dirinya, jika menyangkut pria di depannya ini.


Kini, Sabrina benar-benar memilih untuk pergi. Ia meninggalkan Fabian dengan kekasihnya begitu saja. Tanpa kata tanpa suara. Bahkan troli belanja yang tadi ia bawa ia tinggal tanpa tanggung jawab. Ia hanya ingin sendiri saat ini. Menertawakan nasib dirinya.


Ia sempat begitu yakin akan membuat Fabian meninggalkan wanita itu dan memilihnya, tapi sekarang matanya seolah dipaksa membuka lebar agar ia bisa melihat kenyataan. Fabian tetap lebih memilih kekasihnya.


Sabrina berjalan dengan cepat, membawa langkahnya setengah berlari meninggalkan pusat perbelanjaan. Persis seperti yang Fabian tadi katakan pada Vannesa, hari akan segera hujan. Terlihat awan hitam sudah menggantung berat di langit kota Sydney, begitu beratnya hingga mungkin sebentar lagi tak bisa menahan bebannya, dan siap menumpahkannya untuk mengguyur kota dengan julukan 'The Harbour City' tersebut.


Sabrina terus berlari, berharap kenyataan tadi menghilang bersama luruhnya air mata yang kini telah menyatu dengan air hujan. Kembali, Fabian menyayat luka di hatinya, di saat ia sedang berusaha mengobatinya.

__ADS_1


Di dalam pusat perbelanjaan, Fabian akan mengejar Sabrina tapi ditahan oleh Vannesa. "Kau mau ke mana?"


Fabian berhenti.


"Apa kau akan meninggalkan aku untuk wanita itu?"


Fabian bergeming.


"Aku sengaja datang kemari, membawa cintaku berharap kau menyambutnya. Bukan untuk kau abaikan."


Fabian tidak bisa berkata-kata lagi saat Vannesa menggandengnya untuk membayar semua belanjaannya. Mereka pulang ke apartemen yang baru mereka sewa saat Vannesa datang ke kota ini.


"Sayang, kau mau minum apa?"


"Apa saja," jawab Fabian malas.


"Bagaimana kalau orange juice?"


"Terserah."


Vannesa meninggalkan Fabian sendirian di tuang tamu, sementara dirinya langsung ke dapur untuk membuat makan malam mereka.


Fabian yang merasa tidak tenang dengan keadaan Sabrina, berusaha menghubungi istrinya itu. Mencari tahu kabarnya, tapi ponsel Sabrina mendadak tidak aktif. Ia mencoba menghubungi Caty dan Paul,dan hasilnya nihil. Tidak ada yang tahu keberadaan Sabrina.


"Sayang, ayo kita makan. Semua sudah siap," teriak Vannesa dari dapur.


Fabian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, dan menyusul Vannesa di dapur. Seperti janji Vannesa tadi, wanita itu memasak carbonara untuknya.


"Cobain, Sayang."


Fabian hanya tersenyum tipis.


Mereka pun mulai makan, Vannesa dengan lahap memakan masakannya, sementara Fabian hanya mengaduk-aduk pasta di piringnya. Fabian gelisah memikirkan Sabrina saat ini.

__ADS_1


Dering ponsel Vannesa membuat wanita itu pamit. "Sebentar, ya." Vannesa pergi menjauh untuk mengangkat teleponnya.


"Halo," sapa Vannesa saat sudah masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam.


"Kenapa kau menghubungiku di saat seperti ini, aku sedang bersama Fabian," jelas Vannesa pada orang di ujung sana.


"Aku hanya ingin tahu sejauh mana usahamu untuk membuat Fabian pergi dari kota ini."


"Bersabarlah, Lucas. Fabian bukan orang bodoh, aku harus membujuknya pelan-pelan." Vannesa menekan suaranya agar tidak terdengar oleh Fabian.


"Berhentilah menggangguku kalau kau ingin pekerjaanku cepat selesai, jangan menghubungiku terus. Biar nanti aku yang memberimu kabar kalau semua berjalan lancar."


Vannesa segera mengakhiri panggilan dari Lucas itu, menepuk-nepuk pipinya dan mengatur kembali raut wajahnya agar Fabian tidak curiga.


"Sayang, apa kau sudah menghabiskannya?" teriak Vannesa berjalan dari kamar.


"Kalau sudah, aku ada sesuatu untuk _____" Vannesa sedikit tersentak saat tidak mendapati Fabian di meja makan. Carbonara di piring pria itu juga tidak berkurang. Kemana dia?


"Sayang ...." Vannesa memanggil Fabian sembari berjalan ke ruang tamu. Namun tidak ada Fabian di sana. Ia menatap pintu yang sekarang sudah tidak lagi terkunci.


Perasan Vannesa menjadi tidak enak. Ia memijit kepalanya, memikirkan kemungkinan Fabian pergi darinya dan menemui Sabrina, istri pria itu. Vannesa berlari ke kamarnya, mengambil ponsel dan menghubungi Lucas. Ia harus memberi tahu Lucas, agar menggagalkan Fabian untuk menemui Sabrina.


Fabian memacu mobilnya, membelah derasnya jalanan di kota Sydney. Apartemen Sabrina adalah tujuannya, ia harus segera menemui istrinya itu. Begitu sampai di apartemen Sabrina, Fabian langsung memasuki apartemen itu.


"Sabrina," teriaknya saat tidak ada Sabrina di ruang tamu. Ia menuju kamar wanita itu, tapi sepi. Lalu ke dapur, dan hasilnya sama saja. Ia tidak mendapati istrinya di mana pun.


Kini Fabian bertambah panik. Istrinya kembali menghilang, di saat ia sudah menyusun rencana yang matang untuk kelanjutan hubungan pernikahannya.


"Sabrina, di mana kau, jawab teleponku!" Fabian kembali mencoba menghubungi Sabrina, tapi hanya operator yang menjawab panggilannya.


Bukan hanya sekali, tapi berulang kali Fabian mencoba menghubungi nomor Sabrina.


Di tengah derasnya hujan kota Sydney, Sabrina berdiri di bawah pohon jacaranda—pohon yang menjadi daya tarik di musim semi karena keindahan bunganya yang berwarna ungu—untuk melindunginya dari pandangan siapa pun yang melintas. Ia ingin bersembunyi saat ini, tidak ingin dilihat siapa pun juga. Dirinya memang lemah tapi tidak ingin terlihat lemah di depan orang lain.

__ADS_1


"Sabrina," panggil seseorang yang membuat Sabrina mendongak.


Ia menatap pria yang memayunginya diantara derasnya rinai hujan. Melihat pria itu, Sabrina justru ingin menangis lebih keras.


__ADS_2