
Langit kota Sydney masih menggelap, kendati hujan sudah mereda sejak semalam. Mentari masih enggan menunjukkan pesonanya dan memilih bersembunyi dibalik awan hitam. Jalanan pun masih terasa lengang, mungkin karena udara yang begitu menusuk membuat orang lebih suka kembali bersembunyi dalam selimut.
Namun, tidak demikian dengan Sabrina, meski hawa dingin menerpa bukan hanya tubuhnya, tapi juga jiwanya, ia harus tetap melangkah kembali menuju apartemennya. Setelah semalam ia memilih untuk tidak pulang.
"Terima kasih," ucap Sabrina pada pria yang mengantarnya sampai di depan gedung apartemen.
Pria itu tersenyum ramah pada Sabrina. "Lain kali, telepon aku, dan aku akan menjemputmu."
Sabrina mengangguk, kemudian melambaikan tangan saat pria itu mulai menjalankan mobilnya.
Sabrina menatap malas ke atas gedung itu, seolah ia tengah menatap di mana flatnya berada. Langkahnya terasa berat sekadar untuk dibawa masuk ke dalam tempat yang selama berapa waktu ini menjadi tempatnya bernaung. Bukan tanpa alasan, di sana, di apartemen itu, Sabrina tidak tinggal sendiri. Ada Fabian yang sempat mengisi sudut tempat itu dengan kenangan, walau hanya sebentar, tapi cukup untuk mengukir hiasan dalam ingatan.
Sabrina terus berusaha mengusir bayang dalam ingatannya, mencoba menepis kenyataan semalam. Ia harus terus melanjutkan hidup seperti kata pria yang tengah membawanya dari dinginnya air hujan.
"Tidak ada manfaatnya menyakiti diri sendiri dalam kedukaan, kenyataan tidak akan berubah hanya karena kau menangis. Bangkitlah, mungkin kau tidak bisa merubah yang telah lalu, tapi kau bisa mengupayakan masa depan. Kau tahu aku sangat menyayangimu seperti putriku sendiri. Jika bersama Fabian terasa berat dan menyakitkan, pergilah di mana hatimu akan merasa bahagia." Begitu kira-kira pesan orang yang memberi Sabrina tempat untuk berlindung semalam tadi.
Sampai di depan pintu apartemennya, Sabrina berhenti sejenak, mengatur napasnya, menguatkan hati yang rapuh agar tidak semakin luruh. Ia mulai memegang handle, dan membuka pintu itu perlahan. Mata Sabrina bahkan tertutup saat membukanya.
Perlahan ia masuk dan mulai membuka matanya. Ternyata ia tak sekuat yang ia bayangkan, ia sudah mencoba tapi tetap saja, ia begitu rapuh. Ait matanya luruh saat melihat seseorang yang ada di sofa ruang tamunya. Fabian. Pria itu tertidur di sana seperti biasa.
Sabrina menahan sesak di dadanya, mencoba menahan tangis yang hendak bersuara. Ia kembali memutar tubuhnya, ia belum siap berhadapan dengan pria ini. Karena kenyataannya cinta untuk Fabian tidak bisa hilang begitu saja, dan tidak akan memudar dengan mudah. Cinta pertamanya, cinta masa kecilnya, dan mungkin cinta satu-satunya yang dimiliki Sabrina telah bertahta atas nama pria itu.
__ADS_1
Sabrina memutar tubuhnya, mencoba lari dari perasaannya. Namun, langkahnya tertahan bersamaan dengan suara yang tidak ingin ia dengar. "Kau mau ke mana?"
"Bodoh ... bodoh ... bodoh!" maki Sabrina pada dirinya sendiri. Bahkan untuk lari saja ia tak mampu. Pria ini membuat bukan hanya hatinya yang tertahan tapi juga langkahnya.
Fabian berdiri, menghampiri Sabrina yang masih bergeming di tempatnya. "Kau dari mana, aku menunggumu semalaman, kau tahu betapa khawatirnya aku karena tidak bisa menghubungimu," cerocos Fabian, seolah kejadian kemarin tidak pernah ada.
Fabian menyentuh bahu Sabrina agar bisa menatap istrinya itu, namun segera ditepis oleh Sabrina. "Jangan menyentuhku," ujar Sabrina. Ia berusaha meyakinkan hatinya sendiri kalau ia akan kuat. Sabrina menarik napasnya dalam sebelum akhirnya berucap, "Kau sudah melihatku dan aku baik-baik saja, sekarang keluarlah dari tempatku!" Ia tidak ingin menoleh pada pria itu.
"Kau kenapa, kau marah, atau kau cemburu?"
Sabrina tersenyum miris mendengar pertanyaan Fabian, pria ini bertanya seolah tidak bersalah setelah menyayat luka di hatinya.
Pria itu menarik tangan istrinya yang hampir menutup pintu kamarnya. "Kau kenapa?" seru Fabian.
Sabrina menghempas tangan Fabian, ia memilih untuk menjauh, tapi Fabian lebih dulu menarik kembali tangan Sabrina dan membawanya dalam pelukannya. Sabrina meronta, ia tidak mau dekat dengan pria ini.
"Katakan padaku, kau kenapa?" tanya Fabian yang menahan Sabrina dalam dekapannya.
Sabrina tidak mau bicara, ia terus meronta tapi Fabian semakin kuat menahan. Tidak ingin menyerah, Sabrina sekuat tenaga mendorong tubuh Fabian agar menjauh. Berhasil, Sabrina terlepas dari rengkuhan Fabian. Dengan tangan kanannya, Sabrina menampar Fabian sekuat-kuatnya. Mengingatkan pria itu, jika apa yang ia lakukan saat ini tidaklah pantas. Setelah melukai Sabrina dengan kemunculannya dengan Vannesa, sekarang ia bersikap seolah semua baik-baik saja.
Setelah satu tamparan Sabrina layangkan, ia berubah pikiran. Sabrina berjalan mengambil koper di samping lemari. Memindahkan baju dalam lemarinya ke dalam koper secara asal.
__ADS_1
Fabian yang memegangi pipinya yang terasa panas, kembali mencoba mencegah. "Apa yang kau lakukan, kau mau ke mana?" tanyanya, mengabaikan rasa panas yang menjalar di pipinya.
Sabrina tak ingin menanggapi, ia terus memindahkan baju-bajunya. Fabian mencekal tangan Sabrina agar berhenti memasukkan baju ke dalam koper. Dengan cepat Sabrina menghempaskan tangan itu, lalu menampar Fabian kembali dan akan pergi menjauh dari pria itu.
Nampaknya Fabian tidak terima dengan perlakuan Sabrina. Sebelum wanita itu melangkah jauh, Fabian menarik kembali Sabrina dalam rengkuhannya, kedua tangannya langsung menangkup dua pipi Sabrina seolah mengunci. Tanpa ijin, pria itu mulai menyatukan bibirnya dengan bibir Sabrina secara kasar. Sabrina mendorongnya, tapi lagi-lagi Fabian menangkapnya dan melakukan hal yang sama. Menciumi Sabrina dengan kasar.
Sabrina yang sedari tadi memberontak, akhirnya menyerah juga. Tubuhnya melemah seiring tenaga yang ia kuras untuk menolak Fabian. Sia-sia saja perlawanannya, karena akhirnya ia hanya bisa memilih pasrah pada pria egois itu. Tubuhnya luruh bersamaan dengan kaki-kakinya yang tak bertenaga sekadar untuk menopang tubuhnya. Pun dengan bulir bening yang terus mengalir deras dari sudut matanya yang terpejam.
Fabian menghentikan aksinya, melepaskan bibirnya yang sedari tadi ia paksa untuk menyatu dengan bibir Sabrina. Pria itu merengkuh Sabrina dalam dekapannya, memeluk wanita itu erat.
"Aku menyerah," lirih Sabrina di sela-sela tangisnya.
Fabian semakin erat mendekap wanita itu. Ia tidak rela mendengar apa yang baru saja Sabrina ucapkan. Hatinya sudah goyah sejak kebersamaannya dengan wanita ini. Cinta untuk kekasihnya yang dulu ia yakini cinta sejati, nyatanya perlahan mulai terbagi saat wanita ini perlahan menelusup masuk ke dalam hatinya. Dalam diam, Sabrina mencuri tempat di hati Fabian yang terasa hampa.
"Tidak, aku tidak mengijinkannya."
Sabrina terus menangis dalam dekapan Fabian. Ia sudah ingin menyerah, tapi pria ini tak ingin melepaskannya. Sabrina terlalu marah menyikapi semua ini, hingga ia tidak bisa mengekspresikan kemarahan itu selain menahannya dalam hati yang semakin menyesakkan.
"Kau tidak akan pergi ke mana pun, kau akan tetap bersamaku karena aku menginginkanmu."
Sabrina tetap saja diam. Tidak ingin menanggapi keegoisan Fabian. Ia merasa lelah dengan pria ini. Pria egois yang hanya mementingkan diri sendiri, hingga lupa jika Sabrina juga punya hati.
__ADS_1