
Sabrina mempercepat langkahnya, ia ingin pergi dari tempat itu. Tempat yang menjadi mimpi baginya.
Ini tidak nyata bukan?
Semua hanya mimpi, 'kan?
Tidak mungkin ia bertemu lagi dengan Fabian. Tidak mungkin takdirnya membawa ia untuk kembali pada masa lalu. Semua penyangkalan itu terus bersuara memenuhi hati dan benaknya.
"Mommy, kenapa kita pulang. Aku bahkan belum menghabiskan es krimku?" tanya Alicia yang tak paham dengan situasi yang dihadapi Sabrina.
Seolah tak mendengar pertanyaan Alicia, Sabrina terus saja membawa anak kecil itu keluar dari pusat perbelanjaan. Saat ini ia hanya ingin menghindari kenyataan.
Sabrina memacu mobilnya, setiap pertanyaan Alicia sama sekali tak ia dengar apa lagi ia jawab. Sampai di rumah, Sabrina langsung menyerahkan Alicia pada Sari, sementara dirinya langsung masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam. Ia melempar asal sling bag-nya. Kemudian terduduk lemas di lantai, bersandarkan ujung ranjang.
Sabrina menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Berusaha menahan agar suara tangisnya tak lolos dari bibirnya. Kemunculan Fabian membuat jiwanya seolah berguncang.
Kenapa harus bertemu lagi?
Kenapa harus dia yang Kau kirim, Tuhan?
Di saat aku mulai kembali menata hidup dan hatiku, kenapa harus datang lagi?
Meski tak mengeluarkan suara, tapi bulir bening itu terus menderas. Fabian, nama itu masih mampu menggetarkan jiwanya kala hati lirih menyebut namanya. Seakan rasa sakit yang pernah tertoreh tiada berarti kala nama pria itu disebut dalam sanubari.
Kenapa harus dia?
Kenapa harus dia yang selalu menancapkan luka yang kau kirim untukku.
Tidak cukupkah segala lara yang harus kutanggung demi dirinya. Kenapa harus ada dia lagi, pria yang ingin kuhapus dari hidupku.
Sabrina terus menyuarakan protes dalam hatinya. Ia masih tak mengerti jalan takdir Tuhan. Dalam diamnya, ia mengorek lagi luka yang pernah mendera.
__ADS_1
Ia hadirkan segala lara untuk menepis semua rasa yang masih tersisa.
_________________
Sejak hari kemunculannya di hadapan Sabrina. Fabian semakin berusaha untuk bisa kembali pada istri yang selama ini dicarinya. Ia sudah persiapkan semua, untuk menebus segala kesalahan di masa silam.
Seperti hari ini, Fabian menunggu Sabrina di depan restoran tempat wanita itu bekerja. Ia ingin mengajak Sabrina untuk memulai dari awal.
Fabian segera turun dari mobil setelah melihat Sabrina keluar dari restoran. Setengah berlari pria itu menghampiri Sabrina.
"Sabrina, aku ingin bicara dengan mu," ujarnya saat menghadang langkah Sabrina.
Tidak ada tanggapan dari wanita itu kecuali diamnya. Sabrina terus melangkah, seolah tak melihat ada Fabian di depannya. Sama sekali tak menghiraukan, Sabrina langsung menuju di mana mobilnya terparkir.
"Sabrina dengarkan aku dulu, aku minta maaf untuk semua yang pernah aku lakukan. Tolong beri aku kesempatan," ujar Fabian yang mengikuti langkah Sabrina hingga wanita itu masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobil dengan keras.
"Sabrina ... Sabrina!" teriak Fabian tapi tak mampu mencegah kepergian Sabrina.
Fabian kembali ke dalam mobilnya. Ia mimijit pangkal hidungnya. Mencoba mencari cara untuk kembali mendapatkan hati wanitanya. Ia tak akan menyerah sampai Sabrina memaafkannya. Ia akan terus berjuang sampai wanita itu kembali hidup bersamanya dalam rumah tangga.
Setiap hari, Fabian selalu menunggu Sabrina. Di waktu pagi ia akan menunggu Sabrina di depan pagar rumah keluarga Mattew, di sana Fabian akan meneriakkan permintaan maafnya. Di malam hari, saat Sabrina pulang bekerja ia akan menunggu di restoran. Masih dengan hal yang sama, meminta maaf. Kalau belum juga ditanggapi, Fabian masih punya usaha lain yaitu menunggui Sabrina di depan rumah tempat tinggal wanita itu.
Meski sampai hari ini, hari ke dua puluh sembilan usahanya, ia sama sekali belum mendengar satu kata pun dari Sabrina. Namun, Fabian pantang menyerah. Meski terkadang hati lelah tapi ia harus ingat jika Sabrina pantas diperjuangkan.
Ia bahkan rela begadang demi Sabrina, hingga mengorbankan jam istirahatnya. Bahkan seringkali ia tertidur di kantor karena semalaman begadang di depan rumah Matt, untuk melihat Sabrina.
Sabrina bukannya tidak tahu. Ia tahu jika setiap malam Fabian menunggunya di dalam mobil. Seperti malam ini.
"Kau tidak kasihan padanya?" tanya Sharon saat memergoki Sabrina yang diam-diam memperhatikan Fabian dari kamarnya.
"Sharon?" Sabrina menoleh, ia langsung menutup tirai jendelanya. "Kapan kau masuk?"
__ADS_1
"Sejak kau berdiri di tempatmu itu dan memperhatikan suamimu," jawab Sharon jujur.
Karena Fabian terus-terusan datang, Sabrina tidak lagi bisa menyembunyikan tentang suaminya itu. Ia pun bercerita pada Sharon tentang pertemuannya kembali dengan laki-laki yang ingin ia hapus dari hidupnya. Hanya Sharon keluarganya di negara ini, sebab itu Sabrina memilih untuk jujur karena ia sudah menganggap Sharon seperti kakak sendiri.
"A-aku sedang menutup tirai," bohong Sabrina tapi justru membuat Sharon tertawa.
"Kau tidak perlu membohongiku, apa lagi membohongi hatimu sendiri," ujar Sharon. Ibu dari Alicia itu mendekati Sabrina. Ia membuka kembali tirai yang Sabrina tutup.
"Ini sudah hampir satu bulan, dan pria itu masih saja setia di tempat yang sama. Tidakkah kau tersentuh dengan apa yang ia lakukan?"
Sabrina menatap Sharon yang sedang serius.
"Sabrina, mungkin kau bisa membohongi semua orang tapi kau tidak akan bisa membohongi hatimu sendiri." Sharon mengucapkan kalimat yang sama, ini bahkan bukan pertama kalinya tapi sudah sering kali.
"Aku belum bisa menerimanya, aku masih takut untuk memaafkannya."
"Apa yang kau takutkan? Apa kau takut kembali terluka?"
Sabrina mengangguk.
"Kau tahu Sabrina, kau akan selalu ketakutan jika kau tidak punya prasangka yang baik dengan Tuhan. Aku yakin, Tuhan tidak serta merta mengatur takdirmu hanya dengan kesakitan, pasti Tuhan sudah menyiapkan rencana besar untuk membayar segala rasa sakit yang telah dengan ikhlas kau terima, dan yakinlah jika itu adalah sebuah kebahagiaan."
"Pertemuanmu kembali dengan Fabian itu adalah langkah awal dari kebahagiaanmu. Aku tidak tahu apakah kau akan kembali berjodoh dengannya atau tidak, tapi maafkan dia yang meminta maaf, itu akan membuat hidupmu lebih bahagia," sambung Sharon.
"Apa kau sedang berkhutbah?"
Sharon tertawa. "Ya, hanya kau yang selalu bersedia mendengar khutbah dariku."
"Kalau begitu keluarlah, hari ini aku sedang tidak ingin mendengar khutbah mu," usir Sabrina.
Bukan tersinggung apa lagi marah, Sharon justru kembali tertawa. "Baiklah, aku keluar, tapi pikirkan baik-baik apa yang aku katakan Sabrina. Mulailah hidup baru dengan memaafkan masa lalu."
__ADS_1
Sabrina hanya mengangguk sembari tersenyum. Sabrina tahu benar apa yang Sharon katakan, tapi ia belum bisa melakukannya. Meski ia yakin dengan hatinya, tapi logikanya melarangnya untuk menyerah begitu cepat dan memaafkan Fabian.