Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.52 Kita Belum Berpisah


__ADS_3

Sabrina segera memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu berdiri dan akan meninggalkan Fabian.


"Sabrina," panggil Fabian. "Apa ada yang salah dengan ucapku?"


Sabrina berhenti, ia berbalik dan menatap Fabian dengan serius. "Jalan untuk kita kembali sudah tertutup, kita sudah berpisah sejak aku meninggalkan Sydney. Bukankah kau juga sudah menandatangani surat cerai itu?"


Fabian bingung dengan apa yang Sabrina maksud. Surat cerai?


Fabian bahkan tak pernah berpikir ke arah sana.


"A-apa, maksudmu?" Fabian berdiri, mencoba lebih dekat dengan istrinya. Ia ingin mendapat jawaban pasti tentang maksud surat cerai itu dari Sabrina.


Sabrina mendengkus kesal. "Kau tidak perlu berpura-pura. Kita sudah resmi bercerai, jadi tolong jangan ganggu lagi hidupku. Aku ingin punya kehidupan baru, kau juga bisa menjalani kehidupan barumu. Meski sekarang kita berada dalam satu negara yang sama, anggap saja kita tidak pernah saling kenal jadi kita bisa memulai hidup kita masing-masing, ok."


Fabian dengan raut bingungnya berkata, "Tunggu, aku tidak mengerti maksudmu. Surat cerai apa, tanda tangan apa?"


"Fabian hentikan semua aktingmu, aku sudah bosan dan muak dengan sikap pura-puramu!" Sabrina kembali melangkah pergi, tapi Fabian dengan cepat mencegahnya.


"Tunggu, kau bisa jelaskan semua padaku, aku benar-benar tidak tahu apa maksudmu. Aku tidak pernah menceraikanmu, aku juga tidak pernah menandatangai surat cerai. So, perceraian mana yang kau maksud?"


Melihat raut bingung Fabian, Sabrina mulai ragu dengan ucapannya sendiri. Bukankah paman Andrew yang mengatakan jika dirinya dan Fabian sudah resmi berpisah. Paman Andrew juga yang telah mengurus semua perihal perceraiannya dengan putra tunggal Sergio Ramos itu.


Apakah ada hal yang disembunyikan paman Andrew darinya?


"Baiklah, akan aku katakan meski sebenarnya aku malas. Aku mengajukan gugatan cerai padamu tepat di saat aku meninggalkan Sydney. Paman Andre, ayah Sharon yang mengurus semuanya. Ia sudah mengatakan jika kita sudah berpisah karena kau dengan senang hati menandatanganinya. Kau jelas sekarang!"


Fabian menggeleng keras. Sungguh ia tidak tahu menahu soal surat cerai yang Sabrina bicarakan. Ia juga tak pernah merasa menandatangi surat tersebut.


"Tunggu, Sabrina. Ada salah paham di sini, aku tidak tahu soal surat yang kau bicarakan, aku bahkan belum pernah melihatnya bagaimana bisa aku menandatanginya," jelas Fabian.


"Kau jangan mengada-ada, Paman Andrew sendiri yang mengatakannya padaku."


Fabian menyugar rambutnya, ia harus berusaha keras meyakinkan istrinya jika tidak pernah ada perceraian di antara keduanya.


"Paman Andrew mengirim pengacara ke rumahmu dan memberikan surat gugatan cerai itu. Kau bahkan dengan senang hati menandatanginya."


Fabian semakin tercengang dengan apa yang Sabrina katakan.


"Tunggu!" Fabian merogoh ponsel dari saku celananya. Dengan cepat ia menyambungkan saluran telepon ke Sydney, tepatnya ke kediaman Ramos.


"Halo, Selamat _____"


"Halo Rosita, ini aku Fabian," sahut Fabian cepat sebelum Rosita menyelesaikan salamnya.

__ADS_1


"Tu-tuan Muda?"


"Ya, ini aku."


"A-ada apa, Tuan?"


"Aku ingin bicara dengan ayahku, berikan teleponnya padanya."


"Maafkan saya, Tuan, tapi Tuan besar sedang tidak ada di rumah."


"Di mana Ayah sekarang?" potong Fabian.


"Tuan besar sedang dirawat di rumah sakit, Tuan."


"Apa, Ayah sakit?"


"Benar, Tuan."


"Sakit apa?"


"Maafkan saya, Tuan Muda, saya tidak tahu-menahu soal itu."


Fabian menatap Sabrina yang masih ikut mendengarkan. Melihat Sabrina, Fabian jadi teringat apa tujuan awalnya menelepon ke Sydney.


"Ya, Tuan."


"Aku ingin betanya sesuatu padamu."


"Katakan saja, Tuan."


"Apakah kau tahu kalau ada seorang pengacara datang ke rumah dengan membawa surat perceraian?"


Di sana Rosita menjadi gugup. "I-itu ...."


"Katakan Rosita!" sentak Fabian.


"Tuan, sebenarnya surat yang diberikan oleh pengacara itu dibuang oleh Tuan besar setelah pengacara itu pergi. Lalu saya mengambilnya, tapi ketahuan oleh Tuan Lucas dan Tuan Lucas memintanya."


"Jadi benar jika ada pengacara yang datang dengan membawa surat perceraian?"


"Benar, Tuan."


Tak lagi ingin bertanya, Fabian segera mematikan ponselnya di depan Sabrina. Sabrina yang sedari tadi ikut mendengarkan tahu jelas jika ternyata selama ini Fabian tak menerima surat itu dan tidak menandatanginya.

__ADS_1


Mendengar kenyataan yang tak mudah ia percayai, Sabrina memilih untuk pergi dari apartemen Fabian. Ia berlari, dan mengabaikan panggilan Fabian yang berkali-kali.


"Tidak ... tidak mungkin." Sabrina terus menyangkal kenyataan yang baru saja terbuka di depan matanya. "Paman Andrew tak mungkin berbohong," ujarnya dalam hati.


"Kita ke mana, Nona?" tanya supir saat Sabrina masuk mobil tapi tak mengatakan apa pun.


"Pulang."


Mobil pun melaju menuruti perintah Sabrina. Sampai di rumah Sharon, Sabrina langsung masuk ke kamarnya. Ia segera mengambil ponsel dan menghubungi paman Andrew.


"Halo," sapa pria di seberang sana.


"Paman."


"Ya, Sabrina. Ada apa, Sayang?" Paman Andrew sudah menganggap Sabrina seperti putrinya sendiri, jadi ia pun menyematkan panggilan sayang untuk Sabrina.


"Kenapa paman berbohong?"


"Berbohong?" Paman Andrew di sana sangat kaget mendengar pertanyaan Sabrina.


"Ya, kenapa paman berbohong tentang perceraianku?"


"I-itu ...." Paman Andrew terdengar gugup.


"Kenapa paman tidak pernah bilang kalau akau dan Fabian sebenarnya belum bercerai, kenapa paman justru bilang kalau Fabian sudah menceraikan aku dengan senang hati?"


"Sayang ... dengarkan aku. Aku bisa jelaskan semuanya."


"Penjelasan apa, Paman?"


"Maafkan aku Sabrina. Aku melakukannya karena aku ingin kau bahagia. Aku ingin kau memulai hidup barumu tanpa beban. Kau benar, kalian memang belum bercerai."


Sekali lagi, Sabrina seperti tertampar kenyataan. Usahanya selama dua tahun untuk memulai kehidupan baru seolah kembali ke titik nol. Nyatanya tak ada yang berubah dari statusnya. Hanya tempat yang dulu memisahkannya dengan Fabian.


Sabrina kembali mendengarkan apa yang paman Andrew katakan selanjutnya.


"Setelah pengacara yang aku tunjuk datang ke rumah Sergio Ramos dan menyerahkan surat perceraian itu, tidak ada tanggapan apa pun dari Fabian atau pun keluarganya. Di saat kami kembali menanyakan perihal surat cerai dan gugatanmu, Sergio justru membawa anak buahnya dan mengancam kami jika kami meneruskan tuntutanmu untuk bercerai. Kau tahu bagaimana ayah mertuamu itu dengan kuasanya. Aku juga tidak bisa berbuat apa pun, Sayang. Maafkan aku. Aku hanya ingin kau bahagia, karena itu saat kau bertanya tentang perceraianmu, aku membohongimu. Maafkan aku, Sabrina," jelas paman Andrew panjang lebar.


Sabrina menangis mendengar semuanya. Tanpa pamit ia langsung mematikan ponselnya dan mendekapnya erat. Tubuhnya luruh begitu saja ke lantai menerima kenyataan bahwa ia tak bisa berpisah dengan Fabian. Tentu saja mertuanya tak akan membiarkan itu terjadi. Ia sendiri tidak tahu alasan apa dibalik sang mertua yang begitu kokoh mempertahankannya sebagai menantu.


Padahal Sergio tahu benar bagaimana putranya memperlakukan Sabrina. Namun pria itu tetap memaksakan pernikahan Sabrina dengan Fabian.


"Kenapa, Ayah. Kenapa kau lakukan itu?"

__ADS_1


"Kenapa kau tidak melepaskan aku. Aku tidak ingin lagi terluka," lirihnya dalam isak tangis yang tak tertahankan.


__ADS_2