Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.45 Penyesalan


__ADS_3

Sore hari sepulang dari restoran, Sharon menemui Sabrina yang masih beristirahat di kamarnya. "Bagaimana keadaanmu, apa sudah lebih baik?"


Sabrina sedang duduk membaca buku saat Sharon memasuki kamarnya. "Kurasa begitu, tadi pagi setelah kau berangkat, aku mulai mencari tahu di internet tentang gejala yang kurasakan. Kurasa asam lambungku tengah naik, karena stress akhir-akhir ini, ditambah pola makanku yang tidak teratur semakin memperburuk keadaan. Tapi, tenang saja, semua sudah lebih baik Karena tadi aku meminta Sari untuk membelikan obat di apotik."


"Syukurlah, aku kira terjadi sesuatu yang serius padamu." Sharon merasa lega karena dugaan Sari dan dirinya keliru.


"Maaf sudah membuatmu khawatir," ungkap Sabrina. "Besok aku sudah bisa masuk kerja lagi."


"Kau tidak usah terlalu memikirkan soal pekerjaan, yang terpenting kesehatanmu. Kau tahu bukan jika terjadi sesuatu padamu, pastilah aku yang akan kena marah oleh Papa. Bisa-bisa dia ____" Sharon tak melanjutkan kalimatnya, tapi membuat gerakan satu garis di depan lehernya, yang mengisyaratkan kematian.


Sabrina tertawa dengan kelakar yang dibuat Sharon.


"Baiklah, aku akan menemui Alicia. Aku belum melihatnya sejak pulang."


Sabrina hanya menjawab dengan menautkan jari telunjuk dengan jari jempol yang membentuk tanda 'ok'.


______________


Sejak hari itu waktu terus berlalu, Sabrina mulai terbiasa dengan budaya negara tempat tinggalnya ini. Mulai bisa bercakap dengan bahasa Indonesia dengan lebih baik. Ia juga sudah mulai mengerti cara kerja di restoran, tugas apa saja yang harus ia kerjakan sebagai asisten manager. Sharon bahkan memujinya sebagai wanita yang cerdas karena cepat sekali menyerap ilmu yang diberikan.


Selain hal itu, Sabrina juga sudah mulai melupakan kepahitan masa lalunya. Semua berkat Sharon dan juga Matt. Kedua pasangan itu sering mengajak Sabrina pergi bertemu kolega mereka yang sama-sama warga negara asing, atau kadang juga yang asli orang Indonesia. Dengan harapan ada salah satu dari pria-pria itu yang mampu menarik hati Sabrina.


Meski belum mampu membuka hati, tapi Sabrina sudah bisa menikmati rasanya memiliki teman pria. Hal yang selama ini tidak pernah ia lakukan. Hanya Paul satu-satunya teman pria yang ia miliki selama ini.


Oh ... ya, dulu ada juga Mark, tapi Sabrina tidak menganggapnya sebagai teman, ia hanya menganggap pria itu adalah rekan bisnis karena Mark adalah pelanggannya. Berbicara soal mereka, Sabrina jadi ingin mengetahui kabar Paul dan Caty, sudah lama ia tidak memberi kabar. Mungkin sudah ada sekitar dua bulan, sejak ia pergi dari Sydney.


Sabrina mengambil ponselnya, ia menekan nomor Caty di sana. Namun, tiba-tiba ia urung melakukannya, kala teringat akan keluarga Fabian. Sabrina takut jika teleponnya akan membahayakan Caty dan Paul.

__ADS_1


Sabrina pun memilih membuka galeri ponselnya. "Aku merindukan kalian," lirih Sabrina sembari memandangi fotonya dengan dua sahabatnya.


"Maafkan aku, karena pergi tanpa pamit."


"Percayalah, aku tidak akan melupakan kalian. Jika nanti aku kembali ke Sydney kalian adalah orang yang akan aku kunjungi." Sabrina mencium foto dua sahabatnya itu.


Sejak memutuskan pergi dari keluarga Ramos, Sabrina memang dilarang melakukan kontak dengan orang-orang terdekatnya di Sydney. Tidak menghubungi Caty, Paul, juga Bibi May. Bahkan untuk bertanya kabar pada Paman Andrew saja, hanya boleh menggunakan ponsel milik Sharon. Semua dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terlacaknya keberadaan Sabrina di negara ini.


_________________


Sydney


Hari-hari Fabian dilalui pria itu dengan sangat menyedihkan. Rupanya, ayahnya tidak sebaik yang ia sangka. Setelah pulang dari rumah sakit, Sergio tetap tidak mengijinkan Fabian melangkahkan kakinya ke rumah besar itu tanpa Sabrina. Bahkan tidak mengijinkan putranya itu kembali menduduki jabatan sebagai CEO menggantikan Lucas yang telah dipecat secara tidak hormat.


Kematian Vannesa membuat ia merasakan betapa bodohnya ia, telah menyia-nyiakan Sabrina demi cinta palsu wanita murahan itu. Kenapa selama ini ia tidak pernah mau mendengarkan ayahnya, yang akhirnya menimbulkan penyesalan.


Mungkin garis takdir memang mengaturnya demikian, Fabian harus merasakan kehilangan Sabrina agar ia tahu betapa berharganya istri yang ia miliki. Banyak sesal yang mengganjal dalam hatinya untuk Sabrina, tapi sekarang ia tidak tahu ke mana harus mengungkapkan rasa itu, karena istrinya menghilang bak ditelan bumi.


Nampaknya Tuhan belum mengijinkan mereka kembali bersama, karena setiap usaha yang Fabian lakukan semua nihil tiada hasil.


Terkadang untuk mengusir rasa sepi, Fabian menginap di rumah temannya. Menghabiskan malam dengan menenggak minuman bersama.


Fabian benar-benar frustasi mencari keberadaan Sabrina. Rasa bersalah terus mengejarnya, semakin menambah beban berat di hatinya.


"Sampai kapan kau akan seperti ini, Fabian?" tanya Leo—teman yang malam ini menjadi korban Fabian untuk mendengarkan cerita yang sama setiap waktunya, apalagi jika bukan soal penyesalan pria itu.


"Sampai aku menemukan Sabrina, dan meminta maaf padanya," jawab Fabian jujur.

__ADS_1


"Kalau kau ingin menemukannya, jangan hanya diam. Bergeraklah agar kau tahu di mana istrimu berada."


"Aku sudah berusaha, tapi aku tidak punya cukup uang untuk mencari lebih lanjut. Aku hanya bisa pergi ke toko bunga miliknya dan bertanya pada karyawannya itu atau menelepon pengasuhnya, tapi semua tidak ada hasil."


"Kalau begitu berusahalah lebih keras lagi, jangan hanya duduk dan mabuk," tegas Leo.


"Kau tahu kenapa aku melakukan ini. Ini semua aku lakukan agar aku bisa melupakan sejenak rasa bersalahku, aku tidak pernah bisa tertidur karena perasaan bersalah itu."


"Fabian, dengarkan aku baik-baik. Kau ini pintar, kau punya kemampuan yang hebat dalam bisnis, kenapa kau tidak memanfaatkan itu. Kau bisa punya uang yang banyak dari bekerja, dengan uang kau bisa berusaha untuk menemukan Sabrina."


Fabian menatap Leo serius. Leo benar, harusnya dia bekerja untuk menghasilkan uang, bukan memilih menunggu jabatan yang akan diberikan ayahnya.


Melihat ketertarikan Fabian pada idenya, Leo bertanya, "Apa kau mau bekerja?"


"Kau akan memberiku pekerjaan?"


"Bukan aku, tapi aku memiliki teman. Perusahaannya sedang membutuhkan seorang arsitek, kalau kau mau aku bisa menghubungkanmu dengannya."


"Apa dia akan percaya pada kemampuanku?"


"Hei, ada apa dengan dirimu. Kenapa mendadak kau jadi rendah diri begitu, di mana Fabian yang angkuh dan arogan. Fabian yang selalu sombong dengan kemampuannya."


Ada alasan tersendiri dari rasa rendah diri Fabian. Selama ini, ia selalu berlindung di balik nama besar Ramos dan juga Dream Land—perusahaan ayahnya. Tentu saja ia meragukan kemampuannya sendiri, karena orang-orang yang ia temui selama ini hanya memandangnya sebagai putra Sergio Ramos, bukan memandang kemampuan seorang Fabian.


"Kau bisa mencobanya, lagi pula kau harus mengikuti seleksi dulu untuk bisa diterima di perusahaan itu. Nama besar ayahmu tidak berlaku di sana," goda Leo.


Fabian langsung melempar kaleng kosong bekas minumannya pada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Tapi tempatnya bukan di sini. Di Indosesia."


Fabian tersentak kaget. Di luar negeri, kalau ia bekerja di luar negeri bagaimana ia akan mencari Sabrina?


__ADS_2