
Rasa canggung langsung menyelimuti keduanya saat Sabrina tak mampu menyembunyikan rasa kagetnya.
"Kau?" pekik Sabrina.
"Maaf, aku tidak tahu kalau kau akan menciumku. Harusnya aku lebih siap tadi," gurau Fabian. Pria yang datang tiba-tiba dan ingin memberikan kejutan untuk Sabrina itu adalah Fabian.
Sebenarnya bukan sengaja juga ingin memberi kejutan, karena ia datang ke rumah Jovan tanpa tahu jika rekannya itu tengah mengadakan makan malam dan mengundang kerabatnya. Tidak disangka jika niatnya dari bandara ingin menyerahkan laporan pekerjaan justru berbuah manis karena bisa bertemu Sabrina tanpa sengaja.
Candaan Fabian justru membuat Sabrina kesal. Ia pun memilih untuk pergi saja dari pria itu. Ketika baru beberapa langkah Fabian menghentikannya.
"Tunggu!" Pria itu mendekati Sabrina, kemudian melepaskan jas casualnya lalu mengikatnya di pinggang Sabrina untuk menutupi bagian belakang wanita itu.
Sabrina yang tak tahu langsung meradang dengan sikap Fabian. "Apa yang kau lakukan?"
"Sebaiknya kuantar kau pulang," ujar Fabian yang semakin membuat Sabrina tak mengerti.
"Aku belum ingin pulang. Lagi pula aku datang dengan Matt dan Sharon dan aku akan pulang bersama mereka, untuk apa aku pulang bersamamu?" jawab Sabrina ketus.
Fabian mendakat lalu berbisik, "Kau sedang dalam masa periodemu?"
Mata Sabrina membelalak lebar, kaget dengan apa yang baru saja Fabian tanyakan. Ia langsung melihat ke arah jas yang tadi Fabian pasangkan. Dari sana, Sabrina segera menangkap maksud Fabian. Ia pun melepas jas Fabian dan melihat bagian belakang gaunnya. Benar saja, sebuah noda merah sudah tercetak jelas di sana. Bagaimana ia bisa seceroboh ini, Sabrina sampai lupa tanggal periodenya dan membuatnya harus merasakan malu di depan Fabian.
"Kau mau pulang sekarang?" tanya Fabian.
Dengan terpaksa Sabrina mengangguk.
"Aku akan bilang pada Sharon dan Matt jika aku akan mengantarmu pulang lebih dulu."
__ADS_1
Kali ini tak ada bantahan dari Sabrina. Ia menurut saja saat Fabian menemui Sharon dan Matt untuk ijin pulang terlebih dulu. Sebelumnya ia juga sempat menyapa Jovan dan istrinya sekaligus untuk meminjam mobil demi mengantar Sabrina.
"Jangan sia-siakan kesempatan," pesan Jovan sembari menepuk bahu Fabian sebelum pria itu pergi.
Sharon dan Matt sama-sama tertawa, sedangkan Naya sedikit bingung. "Apa Fabian jatuh cinta pada Nona Sabrina?" tanya Naya pada Jovan.
"Bukan jatuh cinta tapi tergila-gila," jawab Jovan asal.
"Kuharap mereka bisa bersatu," timpal Sharon, yang disetujui oleh suaminya dan juga Jovan.
Fabian yang sudah mendapatkan kunci mobil dan sudah ijin pada Sharon langsung mengajak Sabrina keluar. Lima menit pertama dalam perjalanan dilalui tanpa kata. Sabrina hanya terdiam tanpa ingin bicara meski sejujurnya ia penasaran ke mana perginya Fabian selama satu minggu ini.
"Kau tidak merindukanku?" tanya Fabian memecah kesunyian di antara keduanya.
Sabrina menoleh demi mendengar pertanyaan aneh Fabian.
"Aku pergi ke Surabaya, ada sebuah proyek di sana. Maaf jika aku tidak pamit dan membuatmu bertanya-tanya." Fabian menoleh sekejap dengan senyum di bibirnya. "Jujur saja aku sengaja karena aku ingin kau menghubungiku dan menanyakan kabarku, tapi aku lupa jika aku belum memberikan nomorku padamu," imbuh Fabian dengan percaya diri.
"Aku tidak tanya, dan aku juga tidak ingin tahu," jawab Sabrina, menyangkal perasaannya sendiri.
"Kau benar. Aku lupa jika kau memang tidak pernah peduli dengan apa yang aku lakukan. Bahkan menghilang 2 tahun pun kau tidak peduli, hanya aku seorang yang hampir gila karena terus mencarimu," ungkap Fabian tentang pencariannya yang hampir membuatnya seperti orang gila.
"Tapi aku senang, akhirnya kita bisa bertemu lagi. Setidaknya dengan pertemuan ini aku masih punya harapan jika kita memang ditakdirkan untuk bersama."
Sabrina mendengar tapi ia pura-pura tak acuh dengan apa yang Fabian katakan.
"Sabrina ... aku ingin kita kembali hidup bersama. Aku tidak bisa menjanjikan apa pun, tapi aku akan berusaha menjadi suami yang lebih baik dari sebelumnya."
__ADS_1
"Bisakah kau lebih cepat, aku sudah tidak nyaman," pinta Sabrina agar Fabian tak lagi banyak bicara, lebih tepatnya menghindar dari semua pengakuan Fabian yang bisa membuatnya semakin goyah.
"Ok." Fabian berusaha untuk kembali bersabar mengahadapi sikap tak acuh Sabrina. Ia yakin tidak akan ada yang sia-sia dari usahanya hari ini. Mungkin Sabrina tak acuh, tapi Fabian tahu jika Sabrina sebenarnya mendengarkan apa yang ia katakan.
Fabian menambah kecepatan mobilnya sesuai keinginan Sabrina.
"Tolong pikirkan apa yang aku katakan tadi. Aku serius untuk kembali bisa bersamamu," ujar Fabian tetap berusaha.
Sabrina langsung memebuang muka. Memilih untuk melihat tepi jalan dari pada memberikan perhatian pada Fabian. Mereka kembali terdiam hingga mobil yang Fabian kemudikan berhenti di depan rumah keluarga White.
"Kau tidak menyuruhku masuk?" goda Fabian. "Aku sudah mengantarkanmu dan meminjamkanmu jas itu."
"Terima kasih, tapi ini sudah malam. Akan sangat tidak sopan bertamu malam-malam begini," jawab Sabrina yang langsung keluar dan menutup pintu mobilnya sedikit kasar.
Bukan marah, Fabian justru tersenyum menanggapi sikap Sabrina yang baru saja. Ia tahu persis jika Sabrina tidak benar-benar marah.
"Sedikit lagi Fabian, langkahmu untuk bisa kembali memenangkan hati Sabrina sudah dekat," ujar batin Fabian.
Fabian yakin, hati Sabrina masihlah miliknya. Selama pencariannya, Fabian mulai mengingat banyak hal tentang wanita itu. Bagaimana pertama kali bertemu, menikah, hingga perpisahannya dua tahun lalu. Semua Fabian gali demi bisa kembali pada wanita yang ternyata sangat ia inginkan.
Fabian juga mengingat tentang pertemuan pertamanya dengan Sabrina kala mereka masih kecil dulu.
"Jika nanti aku sudah besar, maukah kau menikahiku?" ujar Sabrina kecil waktu dulu.
Mengingatnya membuat Fabian tersenyum. Ia semakin yakin jika ia akan kembali mendapatkan cinta Sabrina. Bagaimanapun, Fabian adalah cinta masa kecil Sabrina sekaligus cinta pertama wanita itu.
"Aku akan menjadikanmu milikku lagi," gumam Fabian pada diri sendiri.
__ADS_1