Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.43 Terbongkar


__ADS_3

Bunyi tembakan terdengar menggema di gedung tua itu. Sebuah peluru telah keluar dari tabung penyimpannya. Mata Vannesa langsung tertutup, tak kuasa jika harus melihat Fabian—pria yang telah mencuri hatinya—meregang nyawa dihadapannya.


Tawa Lucas mengiringi suara tembakan yang menggema, tapi itu hanya sesaat karena detik berikutnya ia dibuat kaget dengan terbukanya mata Fabian. Semua orang yang berada di sana seakan tak percaya jika Fabian masih bisa hidup setelah Vannesa menembaknya.


"K-kau?" Lucas tergagap.


"Ya, aku. Fabian."


Mendengar suara Fabian, mata Vannesa langsung membuka. Melihat pria yang tadi ia tembak ternyata baik-baik saja, tapi bagaimana bisa?


"Fa-Fabian?" lirih Vannesa. Saking kagetnya, senjata di tangannya sampai terjatuh.


"Kenapa, kau juga kaget?"


Tentu saja Vannesa kaget. Ini bukan mimpi, 'kan. Tadi, Vannesa benar-benar telah mengarahkan senjata di tangannya ke dada Fabian, ia juga telah menarik pelatuknya, bahkan telinganya dengan jelas mendengar suara letupan senjata. Lalu, siapa yang berdiri di depannya ini.


Fabian berdiri gagah di hadapan Lucas dan Vannesa. "Lucas ... Lucas, kurasa ambisimu untuk menyingkirkanku sudah membuatmu jadi bodoh!" cibir Fabian.


Lucas mengepalkan tangannya mendengar ejekan adik tirinya itu.


"Fabian, bagaimana bisa kau masih ____" Vannesa tak melanjutkan kalimatnya.


Fabian beralih menatap Vannesa. "Apa kau mengharapkan aku mati?"


"Bu-bukan begitu, Fabian. Aku tadi sudah menembakmu, tapi kenapa kau masih baik-baik saja?" Jujur Vannesa bingung.


Fabian menatap Lucas yang juga penasaran bagaimana adik tirinya ini masih bisa hidup setelah ditembak. "Kau juga ingin tahu?" ujar Fabian dengan nada mengejek.


"Kemeja ini." Fabian memegang kemeja yang melekat di tubuhnya. "Apa kau lupa jika banyak dari kemejaku merupakan kemeja anti peluru yang didesign khusus untukku."


Bagaimana bisa Lucas seteledor ini hingga tidak memikirkan hal sepele seperti ini. Lucas ingat cerita tentang kemeja Fabian ini. Sergio selalu takut terjadi sesuatu pada Fabian, karena dia adalah penerus takhta Ramos sebab itu sebagian dari kemeja Fabian memang sengaja dipesan khusus untuk melindungi Tuan muda itu dari ancaman musuh.


"Ah ... sial!" rutuk Lucas dalam hati.


"Fabian ... syukurlah kalau kau baik-baik saja." Nampak raut bahagia di wajah Vannesa.

__ADS_1


Lucas sampai tidak percaya, kekasihnya terang-terangan memperlihatkan ketidaksetiaannya.


Vannesa memutar tubuhnya menghadap Lucas. "Kau lihat Lucas, Fabian tetap hidup meski kau mencoba membunuhnya. Aku sudah bilang padamu bukan, hentikan usahamu untuk membunuh Fabian, tapi kau tidak mendengarkan aku."


"Diam kau, j*lang!" sentak Lucas. Pria itu langsung mengarahkan sejata yang ia rebut dari anak buahnya ke arah Vannesa.


Melihat senjata yang terarah kepadanya, Vannesa lagsung ketakutan. "Lucas, a-apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan menghabisimu!"


"Tidak, kau tidak bisa melakukannya. Aku sudah melakukan semua untukmu. Aku sudah menuruti semua keinginanmu," protes Vannesa.


Fabian bertepuk tangan melihat drama di depannya. "Bagus, kalian memang pasangan yang serasi!".


Vannesa menoleh. "Fabian, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku dan Lucas, kami hanya berteman biasa. Kau sendiri yang memperkenalkan kami bukan?" Di saat seperti ini Vannesa masih saja berbohong untuk mempertahankan Fabian.


Fabian menyunggingkan satu sudut bibirnya ke atas. "Benarkah, bukankah kalian sudah saling kenal bahkan sebelum aku menidurimu waktu itu?"


Vannesa tercengang.


Sekarang aku tahu, alasan kenapa kau tidak pernah mau aku sentuh meski katamu aku adalah pria pertama bagimu."


Fabian tersenyum, menertawakan kebodohannya sendiri. "Ah ... aku memang bodoh, karena percaya begitu saja akan drama yang kalian ciptakan. Aku menganggap kau benar-benar mencintaiku, hingga aku mengabaikan cinta tulus dari istriku. Nyatanya kau justru berkhianat dengan pria berengsek ini!"


"Fabian, tidak semua yang kau katakan itu benar. Iya ... aku memang bersalah karena telah mengikuti keinginan Lucas, tapi seiring berjalannya waktu aku benar-benar jatuh cinta padamu. Kau tahu, aku merencanakan kepergian ini untuk menghindari Lucas yang ingin membunuhmu. Kau harus percaya jika aku mencintaimu."


"Kau tidak pantas bicara cinta padaku, karena baru saja tadi kau berusaha membunuhku dengan senjata itu." Fabian menunjuk senjata Vannesa yang terjatuh.


"Lucas telah memaksa dan mengancamku!" teriak Vannesa.


"Dan kau menerimanya, karena kau mencintainya, bukan?"


"Tidak, itu tidak benar. Aku tidak lagi mencintai Lucas, Aku hanya mencin_____"


Belum sempat Vannesa menyelesaikan kalimatnya, sebuah tembakan kembali terdengar. Tubuh Vannesa limbung, ketika sebuah peluru bersarang di kepalanya. Fabian yang berada di depan Vannesa, langsung menangkap tubuh wanita yang pernah ia anggap sebagai kekasih itu.

__ADS_1


"Vannesa!" teriak Fabian.


"Fa-Fabian, ma-maafkan a____" Vannesa tidak bisa menyelesaikan kalimat permintaan maafnya karena langsung menutup matanya di pangkuan pria yang ia sukai.


"Vannesa!" Fabian mengguncang tubuh Vannesa. Namun tidak ada reaksi sama sekali.


Fabian belum siap saat Lucas memerintahkan anak buahnya untu mengepung Fabian. Para pria kekar itu mengarahkan senjata ke kepala Fabian. Mau tidak mau, Fabian harus mengangkat tangannya sebagai tanda menyerah.


Melihat Fabian menyerah, membuat Lucas tersenyum menyeringai. Tanpa pikir panjang lagi, Lucas langsung menembak paha kiri Fabian. Adik tirinya itu langsung jatuh berlutut, sembari memekik hebat. Darah segar langsung mengucur deras dari pahanya.


Lucas sedikit terkejut karena ternyata Fabian tidak memakai celana anti peluru seperti yang ia duga sebelumnya. Saking senangnya, Lucas kembali menembak paha kanan Fabian. Seketika Fabian tersungkur.


Tawa Lucas semakin membahana. "Hajar dia!' titahnya pada anak buahnya.


Tanpa ampun anak buah Lucas menghajar Fabian secara bertubi-tubi. Mereka semua tertawa menikmati kesakitan Fabian.


Dua anak buah Lucas memegangi lengan Fabian memaksanya untuk berdiri. "Dari dulu, aku tidak pernah suka padamu, kau tahu kenapa?" Lucas mencengkeram rarang Fabian memaksa pria tak berdaya itu untuk mendongak.


"Karena kau adalah putra kandung Sergio Ramos!"


"Aku selalu berada di atasmu, tapi Sergio tidak pernah melihat itu. Dia hanya selalu memprioritaskanmu karena ada darahnya dalam tubuhmu, dan aku benci itu."


Lucas terus mengungkapkan kebencian yang selama ini ia pendam.


"Aku tidak mengerti, anak tidak berguna sepertimu kenapa harus hidup di dunia ini. Harusnya kau mati saat kecelakaan dua belas tahun yang lalu!"


Dengan sisa tenaga yang dipunya, Fabian berusaha bicara. "Anak ******* sepertimu akan selamanya jadi pecundang," ujar Fabian, yang kemudian menyulut emosi Lucas.


Sejak ia kecil, ia tidak pernah tahu siapa ayahnya, hingga sang ibu menikah dengan Sergio Ramos. Namun nama belakang Ramos yang ia sandang tidak mengubah kenyataan dan perlakuan teman-temannya. Di sekolah, ia selalu dibully karena status ayahnya yang tidak jelas.


"Diam, kau, sialan!" Satu tamparan mendarat di pipi Fabian.


Fabian tidak memperlihatkan rasa takut, tapi justru tertawa dengan kemarahan Lucas. Tidak tahan dengan tawa mengejek Fabian, Lusa langsung menempelkan senjata tepat di dahi Fabian.


"Aku benar-benar akan menghabisimu kali ini," ancam Lucas dengan sorot mata penuh amarah.

__ADS_1


Nasib baik masih menyertai Fabian. Saat Lucas hampir menarik pelatuknya, suara tembakan yang mengenai lengan Lucas lebih dulu terdengar. Senjata Lucas langsung terjatuh, bersamaan dengan lengannya yang terluka. Spontan Lucas membalik badannya. Pria itu tercengang melihat sosok yang berdiri di belakangnya, sembari mengacungkan senjata ke arahnya.


__ADS_2