
Dibalik pintu, Sabrina menghapus air mata palsunya, ia menutup mulutnya sendiri untuk meredam tawanya. "Kau pikir kau bisa menindasku!" lirihnya, kemudian melepas jubah tidurnya dan masuk ke kamar mandi. Sabrina memilih untuk berendam dalam bathtube dan membiarkan Fabian di luar sana.
Fabian bingung menatap pintu kamar Sabrina yang tertutup. Ia tidak tahu kenapa Sabrina bisa bersikap seemosional itu hanya karena sebuah ponsel yang rusak. Fabian berdiri menunggu di depan pintu, tapi tak berani mengetuk. Sekian lama menunggu tak ada tanda-tanda istrinya akan keluar. Fabian putuskan untuk menunggu Sabrina di sofa.
Baru juga Fabian mendudukkan dirinya di sofa dan meletakkan ponsel rusak Sabrina saat ponsel miliknya berdering. Melihat siapa yang memanggilnya. Sedikit rasa takut saat membaca nama ayahnya tertera di sana. Pasti karena ucapan Sabrina tadi saat mengatakan pada ayahnya jika ia telah memaksa wanita itu.
Meski sedikit takut, diangkat juga telepon dari Sergio. "Halo, Ayah," sapanya pada Sergio.
Sergio berpesan agar segera membawa pulang menantunya dengan cara yang baik, tidak boleh memaksa dan mengancam Sabrina.
"Baiklah, aku tidak akan memaksanya sedikit pun." Kalimat terakhir yang diucapkan Fabian sebelum menutup panggilannya. Sekarang Fabian bertambah bingung, ia harus membawa pulang Sabrina tapi tidak boleh memaksanya, lalu bagaimana ia akan mengajak istrinya itu kembali ke rumah orang tuanya?
Fabian memikirkan berbagai cara agar bisa meluluhkan Sabrina dan membawanya pulang tanpa harus memaksa. Wanita bodoh ini sungguh telah merepotkannya.
Sudah lebih dari satu jam, Sabrina pikir pria arogan itu sudah pergi dari apartemennya. Ia keluar dengan menggunakan celana pendek dan kaos oblong, gaya yang tak pernah ia aplikasikan selama tinggal di rumah keluarga Ramos, alasannya sudah tentu demi menjaga nama baik keluarga terhormat itu. Sabrina sedikit tercekat mendapati suaminya masih betah duduk di sofa menunggunya.
Sabrina mengatur kembali mimik wajahnya, ia harus menampilkan kekesalannya pada Fabian karena telah merusak ponsel kenangan miliknya tanpa sengaja. Hal yang seharusnya tak perlu dibesar-besarkan, tapi harus ia buat agar pria itu tak lagi berbuat sesukanya.
"Ehmmm ...." Sabrina berdehem, menarik perhatian Fabian.
Suaminya itu langsung menoleh ke sumber suara. Fabian dibuat terpana dengan apa yang Sabrina kenakan. Gaya berpakaian istri bodohnya ini baru pertama kali ia lihat.
"Kau masih belum pergi juga?" ucap Sabrina menyadarkan Fabian dari menatapnya sekaligus mengingatkannya tentang pengusirannya tadi.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, ha?" sambungnya dengan melipat tangan di depan dada.
"Pakaian apa yang kau gunakan?" Bukannya menjawab pertanyaan Sabrina, Fabian justru mengomentari cara berpakaiannya.
Sabrina membuka matanya lebar. "Apa kau menungguku hanya untuk berkomentar tentang pakaianku?"
Fabian menyugar rambutnya, dan menghela napas kasar. Benar juga apa yang diucapkan Sabrina, ia masih di sana bukan untuk mengomentari cara berpakaian Sabrina tapi untuk mengajak wanita itu bernegosiasi.
"Duduklah, aku ingin bicara," ucap Fabian lembut.
"Apa kau pikir aku mau menyerahkan diriku pada predator sepertimu?" jawab Sabrina.
__ADS_1
"Aku tidak akan melakukan apa pun, aku ingin bicara denganmu tentang pernikahan kita."
Sabrina menautkan alisnya tidak paham.
"Duduklah," pinta Fabian lagi.
Kali ini Sabrina menurut, ia mengambil duduk di depan Fabian. "Katakan!" ujar Sabrina.
Fabian terdiam, fokusnya justru pada paha mulus Sabrina yang terpampang indah di hadapannya. Sabrina yang menyadari hal itu langsung meraih bantal sofa, ia mengangkat dua kakinya ke atas untuk bersila lalu menutupnya dengan bantal sofa.
Fabian seketika tersadar melihat posisi Sabrina yang berubah. Ia memang sudah hilang akal, otaknya mulai tak waras dan tak terkendali hanya karena melihat wanita bodoh ini di depannya.
"Apa kau akan terus menatapku dengan mesum, ha?" sindir Sabrina.
"Kau bilang apa, aku mesum?" tanya Fabian tak terima.
"Tentu saja, mana ada seorang pria yang begitu lekat melihat paha wanita sampai bola matanya hampir keluar, apa itu namanya kalau bukan mesum!"
"Kau masih ingat bukan, kalau kau masih istriku, dan apa menurutmu seorang suami dilarang melihat paha istrinya?" jawab Fabian membela diri.
Fabian tak menyangka jika Sabrina telah banyak berubah, wanita ini bahkan berani mendebatnya. Bukan hanya sekali tapi sudah beberapa kali. Tentu saja itu membuatnya kesal.
"Sudahlah, lupakan saja soal pahamu itu!" sahut Fabian.
Sabrina membuang muka. "Dasar mesum, kau sendiri yang memulainya," gerutu Sabrina, yang masih terdengar oleh Fabian.
Setelah beberapa saat, akhirnya Fabian memulai pembicaraan. "Aku ingin kau pulang bersamaku, Ayah sangat merindukanmu. Apa kau tidak kasihan dengannya?" ujar Fabian lembut, berharap meluluhkan Sabrina.
"Aku tidak mau pulang denganmu, lagi pula kita akan berpisah, untuk apa aku kembali ke sana. Soal Ayah, aku bisa mengunjunginya kapan pun aku mau," jawab Sabrina.
Rasanya tidak ada pilihan lain selain berkata jujur. "Apa kau tahu sejak kau pergi dari rumah Ayah mengambil semua akses keuanganku?"
Sabrina terkejut tapi itu hanya pura-pura, karena ia sudah tahu semuanya dari ayah mertuanya.
"Lalu apa hubungannya denganku?"
__ADS_1
"Tentu saja ada, Ayahku begitu menyayangimu, melebihi kasih sayangnya terhadapku. Dia tahu alasanmu pergi itu karena aku, dia juga tahu keinginanmu untuk berpisah. Kau pasti tahu bukan jika Ayahku tak menginginkan menantu lain selain dirimu, dia hanya su____"
"Jangan berbelit-belit, katakan saja apa maumu!"
Sedikit kesal karena ucapannya di potong, tapi ia harus menahan diri. "Baiklah, ayo kita buat kesepakatan."
Mendengar itu Sabrina mengernyit. "Kesepakatan apa?"
"Apa yang kau inginkan?" tanya Fabian.
Fabian yang ingin membuat kesepakatan tapi dia malah bertanya tentang apa yang Sabrina inginkan. "Aku ingin berpisah denganmu, aku ingin bahagia," jawab Sabrina tegas.
"Bagaimana kalau aku bisa membuatmu bahagia, apa kau juga masih ingin berpisah?"
Sabrina sedikit melongo, tidak mengerti maksud Fabian.
"Ayo kita mulai dari awal, aku akan berusaha membuatmu bahagia," tawar Fabian.
Sabrina semakin bingung dengan apa yang diucapkan Fabian. Bagaimana mungkin suaminya yang arogan bersikap baik padanya dan mengajaknya memulai rumah tangga dari awal. Apa pria arogan ini serius?
Sementara bagi Fabian, apa pun akan ia lakukan demi tujuannya menyingkirkan saudara dan ibu tirinya. Tentu saja dengan mewarisi kerajaan bisnis keluarga Ramos, dan Sabrina adalah jalan menuju ke sana.
"Aku tidak bisa hidup dengan pria yang tidak bisa menghargai dan menghormatiku sebagai wanita, aku juga tidak akan mau bersama dengan orang yang selalu memanggilku bodoh!"
"Maafkan aku, aku akan merubah semua sikap buruk itu. Aku akan berusaha yang terbaik untuk pernikahan kita," jawab Fabian meyakinkan.
Sabrina menatap lekat mata Fabian, mencari kebenaran kata-kata pria itu. "Apa kau tidak berbohong?"
"Untuk apa aku berbohong, aku hanya ingin membuat ayahku bahagia di sisa usianya dengan memiliki menantu sepertimu. Selain itu, setelah kau tidak berada di sisiku, aku merasa begitu kesepian. Ternyata aku begitu membutuhkanmu. Bukankah kau lihat sendiri buktinya." Fabian melirik bagian paha istrinya.
"Ish ... mesum!" Sabrina melempar bantal sofa di pangkuannya tepat di wajah Fabian. Anehnya, pria itu tidak marah sama sekali, Fabian justru tertawa dengan apa yang baru saja Sabrina lakukan.
Sabrina sampai terpesona melihat senyum Fabian yang baru pertama kali ia lihat sejak dua tahun bersama. Senyum yang menawan, senyum yang sama seperti lima belas tahun yang lalu.
"Aku punya syarat untuk kembali bersamamu," ujar Sabrina, yang membuat senyum Fabian hilang seketika.
__ADS_1