Menantu Tak Dianggap

Menantu Tak Dianggap
Dewa masih melindungi aku


__ADS_3

Setelah menghabiskan liburan tahun baru bersama dipulau harapan, mesti tak bisa dikatakan bulan madu karena Rissa dan Frans tidak bisa menikmati malam berdua karena situasi yang tidak memungkinkan. Jika mereka bertempur saat malam hari ketika disana pasti tidak enak hati karena kamar yang mereka hanya dihalangi dinding tipis pasti akan terdengar kekamar sebelah suara alunan dua insan yang dimabuk cinta.


Bagaimana jika keponakan mereka sampai mendengar suara yang dihasilkan pertempuran suami istri, bukankah akan merepotkan jika orang tua si anak harus menjelaskan suara apa itu yang membangunkan tidur mereka. Ah biarlah nanti balas dendam dirumah saja, selama ini toh tetangga rumah tidak pernah komplain dengan suara yang ditimbulkan oleh mereka saat memadukasih dimalam hari.


Hari pertama masuk kerja baik dikantor Frans maupun istrinya, mereka berdua disibukan dengan pekerjaan masing-masing. Sehingga tak sempat berkabar satu sama lain, bahkan saat jam istirahat makan siang mereka hanya bertukar pesan singkat mengingatkan satu sama lain agar tidak lupa untuk makan siang dulu. Dan Rissa mememinta suaminya agar tidak menjemput dikantor melainkan dirumah Happy sabahatnya saja.


Siang itu setelah selesai makan siang Frans menikmati sisa waktu istirahat siang dengan menghisap rokok menthol favoritnya, sambil mendengarkan lagu dari band kesukaannya sheila on 7 yang selalu menemani hari-harinya dikantor maupun perjalanannya pulang pergi ke kantor.


"Habis liburan lemes amat bos, makanya jangan kebanyakan main sama istri hahaha" canda Yanto dan Edi sambil meminta rokok milik bosnya


"Namanya penganten baru, kaya gak pernah aja lu to" timpal Edi sembari menyakalan rokok dimulutnya


"Bos rokoknya menthol terus gak takut gak bisa bangun bos itunya ntar hahaha" ejek Edi kepada bosnya Frans


"Takuk gak bisa bangun tapi masih lu isep juga" balas Frans sedikit kesal


"Tanggung bos, enak sih gratis" jawab Edi sambil tertawa dikuti oleh Yanto


"Ngopi sambil makan gorengan enak nih bos masih anget gorengannya baru diangkat"


"Set dah nih bocah baru pada makan juga, rokok gw masa gorengan gw juga yang beli" jawab Frans sambil mengeluarkan uang 2 lembar uang 20 ribuan


"Sekalian beliin rokok Black menthol 1 Filter 1 bungkus diwarung mang kumis bilang aja suruh gw, yang filter masuk bon aja dulu" lanjut Frans menyerahkan kunci motornya kepada Yanto


"Nah gitu dong baru namanya bos yang baik ya gak to" sahut Edi sambil mengedipkan matanya ke Yanto


"Owh, jadi kalo dibeliin gorengan baru dibilang baek ya, yang udah ntar klo lemburan duit nasi gw beliin gorengan aja ya" bercanda mengancam anak buahnya


"Si Edi aja bos, saya gak ikutan" jawab Yanto sambil tertawa kemudian berjalan keluar gudang membeli gorengan

__ADS_1


"Ed, ntar klo dah selesai istirahat tolong bilangin bang maman, ikut gw ngambil barang ke rumah Pak Dodi bawa truck yang biru aja. Sekalian ntar tanyain yang mau ikut siapa 2 orang, tanyain aja sama Pak wahid dan Asrori" perintah Frans pada Edi lalu mematikan mp3 player di HPnya


"Siap bos, biar para senior aja yang kesana bos. Kan klo ada uang rokoknya pada semangat ikut'' jawab Edi yang kembali mengambil sebatang rokok milik bos nya


"Katanya bikin gak bisa bangun tapi diisep terus"


"Habis enak bos dingin-dingin gitu" ucap Edi sambil tertawa


Setelah jam pulang kerja Frans kemudian memacu kendaraannya menjemput istrinya dirumah sahabatnya Happy, setelah menempuh lebih dari satu jam perjalanan akhirnya tibalah ia dirumah sahabat istrinya. Setelah mampir sebentar untuk sekedar mengobrol dan sekalian makam malam bersama. Selesai makan bersama dirumah sahabat istrinya, Frans dan Rissa kemudian pamit untuk pulang kerumah mereka, malam itu karena lelah seharian sibuk bekerja mereka langsung tertidur pulas, tak sempat menjalankan ritual seperti malam malam sebelumnya.


Pagi hari kemudian entah mengapa berat rasanya bagi Frans untuk pergi bekerja, mungkin efek kelelahan setelah kemarin memuat lemari besi berupa brangkas dirumah pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Jika tahu bebang yang harus diangkut olehnya dan anak buah pasti dia membawa lebih tenaga kerja dan alat yang diperlukan untuk mengangkat beban yang bobotnya lebih dari 1 ton.


Untung saja yang dibawanya hari itu adalah Wahid dan Asrori 2 karyawan senior yang sudah mempunyai pengalaman puluhan tahun digudang jadi hanya bisa mengandalkan otak dengan alat sederhana meski harus tetap mengeluarkan tenaga ekstra, Frans tak bisa membayangkan jika yang ikut hari itu duo laknat Yanto dan Edi yang baru mempunyai pengalaman beberapa tahun saja. Mungkin tanpa alat yang memadai brangkas yang berat 1ton itu tak jadi diangkut, bisa-bisa nanti yang ada dia ditegur oleh atasannya. Walau sebenarnya kesalahan bukan murni dari Frans dan anak buahnhya namun kurang jelasnya rincian barang yang harus diangkut hari itu.


Efek dari menahan tambang yang menarik beban 1 ton dengan mengunakan katrol sederhana yang dibuat mendadak oleh wahid dan asrori baru terasa pagi itu. Namun dengan perasaan malas dan berat hati Frans memutuskan untuk masuk kerja saja dari pada harus mendapat SP lagi dari kantornya karena tidak masuk kerja dengan alasan sakit namun tidak ada surat keterangan dari dokter, mau minta surat dokter pun rasanya tak mungkin jika hanya kelelahan saja.


Pagi itu Frans meminta istrinya berangkat kerja sendiri dengan motor milik istrinya Si Putih yang kini divariasi dengan scotlight motif tutul sapi keinginan Rissa. Setelah mandi dan dan sarapan nasi uduk yang dibeli istrinya didepan gang rumah kontrakan mereka, setelah motor blade kesayangan selesai dipanaskan sejak dia menikmati sepiring nasi uduk lengkap dengan lauk pauk dan siraman kuah sayur kuning biasa untuk lontong sayur. Dengan perasaan yang tidak enak sejak awal bangun tidur, Frans memacu motornya berangkat menuju kantor tempatnya bekerja dengan kecepatan diatas rata-rata selain jalanan yang tidak terlalu ramai , Frans juga sudah hampir terlambat masuk kerja agar tak terlambat kerja ia pun menambah kecepatan laju motornya.


Brakkkk suara keras terdengar memecahkan suasana pagi hari menjelang siang itu, terjadi kecelakaan yang melibatkan belasan motor dijalur khusus bis transkota didepan komplek perumahan taman gantung diperbatasan antara kota JB dan TK. Frans merasakan gelap gulita didalam pandangan matanya sayup sayup mulai terdengar orang-orang memanggilnya , ditengah kesadarannya Frans merasakan bahwa dirinya sedang dibopong oleh 2 orang yang membawanya kepinggir jalan lalu meletakannya untuk duduk bersandar dibawah pohon palem penghias jalan raya.


"Mas gak apa-apa mas? mau dibawa ke rumah sakit gak?" tanya seseorang yang menolongnya tadi


"Gak apa-apa bang, saya bisa jalan sendiri kayanya" Frans melihat keadaaan kemeja birunya dipenuhi darah sekitar dadanya lalu ia pun mencoba meraih HP disaku jaketnya


"Bang liat hp saya jatuh gak tadi bang" tanya Frans kepada kedua orang yang membopongnya tadi


"Yang ini bukan hpnya mas, ini kacamata milik mas juga" ucap sesorang dibelakang lalu menyerahkan HP dan kacamata milik Frans


"Makasih bang, udah nolong saya. Kalo abang-abang masih ada keperluan, saya ditinggal aja gak apa-apa. Nanti ada teman kantor saya yang jemput saya" jawab Frans sambil mengecek luka diseluruh tubuhnya

__ADS_1


"Ya, sudah bang saya lanjut jalan dulu. Saya juga udah telat masuk kerja" ucap ketiga orang yang membantu Frans pasca kecelakaan tadi


"Makasih banyak atas bantuannya bang, Hati-hati dijalan" jawab Frans kearah penolongnya yang tak lama melajukan motor mereka masing-masing


"Halo.. To jemput gw disebrang komplek kota gantung gak jauh dari puteran baliknya. Gw habis kecelakaan, gw ada ditengah taman jalan rayanya" Ucap Frans diujung panggilan kepada Yanto anak buahnya


"Sekalian bareng si Edi biar ntar bawa motor gw, gw gak kuat kayanya bawa motor sendiri" lanjut Frans kemudian


Belasan menit kemudian Yanto bersama dengan Edi tiba dilokasi kecelakanan Frans, Setelah berusaha berdiri untuk naik ke atas motor milik Yanto, sambil menahan sakit dibahu sebelah kanannya. Frans dibonceng Yanto lalu melaju menuju kantornya diikuti oleh Edi yang membawan Blade milik Frans yang nampak sedikit oleng lajunya imbas kecelakan tadi.


Setelah absen dikantor Frans beserta duo laknat anak buahnya menuju klinik terdekat dari kantornya mengunakan mobil invetaris kantor yang disupiri oleh Maman supir yang biasa diminta tolong oleh Frans jika ada perkerjaan yang harus mengukan mobil atau Truck.


Akibat kecelakaan tadi Frans hanya mengalami luka lecet disekitar pelipis mata kanannya akibat terkena pecahan lensa kacamata miliknya, sedangkan bercak darah yang membasahi kemeja sekitar dadanya rupanya berasal dari gusinya akibat benturan saat kecelakaan yang menyebabkan 1 gigi depannya copot.


Untung saja sepertinya Dewa masih melindungi Frans saat itu, lewat helm bawaan pabrik yang biasa didapatkan sebagai hadiah standar pembelian motor baru. Meski didasarkan luka yang dialaminya benturan cukup keras menghantam wajah Frans, Frans bernasib baik kaca helm yang dipakainya mampu mengurangi dampak benturan yang terjadi. Terlihat baret yang cukup dalam disekitar kaca helm miliknya, sehingga tidak dapat digunakan dengan nyaman jika dipaksakan tidak diganti dengan yang baru.


Setelah mememinta surat keterangan dari dokter yang membersihkan luka disekitar wajahnya, Frans meminta izin selama 3 hari untuk beristirahat dirumah memulihkan lukanya pasca kecelakaan. Kemudian setelah membayar biaya berobat dan menebus obat dikasir klinik Frans kembali kekantor untuk menyerahkan surat keterangan dokter kepada bagian Personalia kantornya.


Frans memang sengaja tidak memberitahukan Rissa istrinya tentang kecelakaan hari ini agar istrinya tidak khawatir tentang keadaan dirinya, sambil menunggu sore hari sebelum pulang kerumah dia memutuskan untuk beristirahat diruangan kerja miliknya digudang. Dengan ranjang lipat yang disediakan oleh kantor untuk jika ada karyawan yang tiba-tiba pingsan dikantor. Frans membaringkan diri untuk menenangkan kondisinya, sambil sesekali mengobrol dengan karyawan kantor yang datang menjenguk dirinya.


Sore harinya Frans memesan taksi online melalui aplikasi karya anak bangsa yang baru meluncur saat itu, kebetulan juga sedang ada diskon bagi pengguna baru sehingga ongkosnya tidak terlalu memberatkan kantong. Setiba dirumah kontrakan miliknya Frans meminta bantuan kepada penjaga lingkungan tempat tinggalnya untuk memapapah dirinya menuju rumahnya


Sesampai dirumah, Frans lalu menelpon Rissa untuk memeberitahukan bahwa dia sudah tiba dirumah dan meminta istrinya langsung pulang kerumah dan mengantarkannya ketempat urut tradisonal untuk mengurut bahu kanannya yang keseleo akibat benturan kecelakaan tadi.


Setibanya dirumah Rissa shock melihat kondisi suaminya, dan sempat memarahi Frans karena tidak segera memberitahukan dirinya tetang kecelakaan yang memimpa suaminya. Setelah Frans menjelaskan bahwa ia tidak ingin istrinya khawatir berlebihan, akhir nya tangis dan amarah Rissa pun reda. Lalu membonceng suaminya ketempat urut tradisional tidak jauh dari tempat tinggal mereka.


-----------Bersambung---------------


Terus dukung karya author dengan kritik dan sarannya dikolom komentar

__ADS_1


Happy Fun Reading


__ADS_2