Menantu Tak Dianggap

Menantu Tak Dianggap
Cobaan Pertama


__ADS_3

Sejak kedatangan Rico mantan pacar Rissa setiap mereka bertemu dengan Donna Yan dikediaman keluarga wie, Donna selalu membandingan keadaan ekonomi Frans dengan Rico yang dianggap Donna adalah menantu sekaligus ipar yang ideal bagi keluarga Wierianto, Donna tak pernah mengerti mengapa dulu ayahnya David Wie tidak menyetujui rencana Donna menikahkan Rissa dengan Rico meski Rico pengangguran dan lelaki yang malas setidaknya asal usul keluarganya jelas tidak seperti Frans yang jika menurut adat salah satu suku terbesar dinegara ini bibit bebet bobotnya jauh dari ideal untuk menjadi menantu keluarga ini.


Meski Rico tidak bekerja setidaknya orangtua Rico mempunyai rumah sendiri dan orangtua Rico mempunyai usaha yang pasti bisa memenuhi kebutuhan keluarga Rissa dan Rissa jika menikah nanti, tidak sampai harus tinggal dirumah kontrakan yang berada dilingkungan perkampungan yang tidak layak menurut Donna yang telah terbiasa tinggal dikomplek perumahan yang cukup elit baik rumah keluarga wie dikota gading maupun tempat tinggalnya dan suami beserta anak-anaknya dikota melati tidak jauh dari kota SBD.


Terlebih saat ini Rico sudah bisa dikatakan cukup sukses karena mampu membeli Rumah dan mobil Jazz terbaru dengan cara kredit ditempat Donna bekerja karena bantuan Donna pula uang DP mobilnya tidak terlalu besar karena dipotong komisi dirinya. Meski Donna tidak mengetahui bahwa semua uang tersebut adalah milik istri Rico hasil warisan usaha toko elektronik dari keluarga istri Rico yang memang sudah cukup mapan dikota TS. Orang tua istri Rico sebenarnya terpaksa menikahkan anaknya dengan Rico karena anak satu-satunya dihamili oleh Rico dengan cara yang sama saat dia mencoba meniduri Rin dulu. Karena tak ingin menjadi aib bagi keluarga. Mereka segera menikahan Rico dan istrinya karena telah berbadan dua dengan usia kandungan sudah 6 minggu.


Hanya Donna yang menghadiri pernikahan Rico dan istrinya meski keluarga David Wie diundang hanya Donna dan suaminya David Yan yang hadir mewakili keluarga Wie, sedangkan Rissa saat itu sudah berpacaran dengan Frans tidak mengetahui pernikahan yang mendadak itu


Ibaratkan batu keras terkena tetesan air setiap hari meski begitu keras akhirnya lama-lama berlubang juga begitu lah kehidupan rumah tangga Frans dengan Rissa istrinya yang mulai lelah dibandingkan dengan mantan pacar istrinya.


"Donna maunya apa sih ngebanding aku terus sama mantan kamu? meski aku masa bodo lama-lama panas juga kuping aku sa" Curhat Frans kepada istrinya selepas kembali dari kediaman keluarga Wie


"Aku juga cape yang, pengen rasanya aku maki ci Donna. Kalau bukan dia maksa aku buat pacaran sama laki-laki berengsek itu, gak akan pernah aku ngalamin perasaan yang bikin aku takut gak ada yang mau nikahin aku lagi karena udah gak perawan" jawab Rissa yang nampak mulai emosi


"Kamu tau sendiri cici tuh orangnya keq gimana, adatnya dari dulu yang gitu suka mandang rendah orang lain. Cara nutup mulutnya ya kamu harus usaha lebih keras yang" lanjut Rissa


"Jadi menurut kamu aku kurang kerja keras, kurang berusaha?" timpal Frans yang bersuara keras karena tak sanggup menahan emosi selama dirumah mertuanya tadi


"Maksud aku bukan begitu yang, setidaknya kamu coba cari kerja yang gajinya lebih gede dari aku. Jadi ci Donna bisa lebih menghargai kamu" jawab Rissa yang mulai terisak karena baru kali ini Frans bersuara keras kepadanya meski selama pacaran mereka pernah bertengkar karena hal sepele tak pernah sekali pun Frans seemosi ini. Termasuk saat cemburu karena ada laki-laki teman kuliah Rissa dulu mengirim pesan mesra kepadanya.


"Kalo ada perusahaan yang mau gede meski dengan ijasah SMK kaya aku ini aku juga mau sa, kamu tau aku cuma lulusan SMK bisa dapet gaji UMR biar lebih rendah dari kamu aku udah bersyukur banget"


"Nyari kerja juga gak gampang bukan kaya nyari keong disawah langsung dapet begitu aja" ungkap Frans yang mulai mengecilkan nada bicaranya karena tersadar istriny mulai meneteskan air mata karena perkataannya

__ADS_1


"Ya kamu coba cari cara apa keq, usaha apa keq, setidaknya dapet tambahan gaji"


"Aku gak mau kita terus-terusan ngontrak rumah yang huu...huu...'' tangis Rissa mulai tak terbendung


"Dulukan aku udah mau kredit rumah diperumahan SP kota TK tapi kamu bilang gak mau karena kejauhan dari rumah papa mama kamu" ucap Frans sambil memeluk istrinya


"Ya mau gimana lagi, kan aku udah bilang keluarga aku tuh maunya rumah anak-anaknya jangan jauh-dari rumah papa. Dulu ko Rudi pernah nawarin rumah deket dia di LGP,Kamunya gak mau"


"Bukannya gak mau, 350 juta duit dari mana aku yang, Gaji kamu sama aku aku setahun aja gak kekumpul segitu, biar ko Rudi mau bantu buat DP kredit dibank tetep aja gak kebayar yang ada nanti cicilan rumah disana"


"Klo di SP dulu aku jadi ambil setidaknya udah bisa kita tempatin sekarang,cicilan 1juta sebulan. udah jalan 2 tahun seandainya kita jadi ambil. Lagian tempatnya juga udah rame sekarang, si Harri smk sama lakinya Bunga juga tinggak disana sekarang"


"Sekarang mah udah naik berkali-kali lipat hargannya" sesal Frans mengapa dia gak ngotot untuk kredit rumah dikomplek SP pinggiran kota TK padahal jarak antara rumah keluarga Wie hanya 1 jam perjalanan dengan motor meski memang dia harus memutar jauh untuk berangkat kekantornya dikota JB selepas mengantar istrinya bekerja dikota TS


Sedangkan Frans nampak tak bisa tertidur pulas memikirkan kesalahannya yang tak sengaja berteriak walau tidak sampai terdengan ketetangga sebelah rumahnya. Tetap saja penyesesalan selalu datang terlambat, meski dia tau memang sifat istrinya mudah menangis jika ada sesuatu yang tak berkenan dihatinya.


Juga rencananya untuk berolahraga malam seperti setiap malam hari mereka lakukan selama Rissa tidak kedatangan tamu bulanan, demi berusaha segera dapat momogan harus gagal total. ah sial sial gumam Frans dalam hati mau olahraga solo sambil minta tolong mbak Risa Murakami bintang jepang yang sedang naik daun saat itu tidak mungkin karena takut istrinya tiba-tiba terbangun yang ada nanti Frans harus olahraga solo dikamar mandi jika sampai istrinya ngambek gak mau kasih jatah, ritual yang sudah lama dia tinggalkan sejak mengenal Rissa, bahkan saat dekat dengan Rin dulu dia harus melepaskan hasratnya dikamar mandi meski sebenarnya Rin tak keberatan jika mereka melakukannya saat itu.


Pagi harinya seperti biasa setiap senin Frans harus mengantarkan Rissa lebih awal ke kantornya demi menghidari macet dijalanan ke kota JB tempat Frans bekerja. Sejak dari rumah dan sepanjang perjalanan menuju kantor istrinya. Rissa tak banyak berbicara mungkin masih merasa kesal dengan suaminya. Sedangkan Frans hanya diam saja tak ingin membuat suasana hati istrinya menjadi lebih buruk.


Setelah mencium kening istrinya Frans memacu Honda Blade kesayangannya yang sudah mulai manja minta jajan sparepart baru, untung saja mekanik bengkel kantornya bisa menservis motor setidaknya hanya keluar uang beli sparpart baru di agen langganan kantornya juga uang rokok untuk mekanik tersebut tanpa biaya ini itu juga dibawa ke bengkel resmi SAHHA tempat langganan Frans biasa membawa Fransa untuk diservis rutin setiap bulan.


"Mang Hadi tolong dicek ya motor kita, sekalian ganti olinya, tadi sempet ngadat dijalan untung gak mati ditangah jalan" ucap Frans sambil memarkirkan motornya didepan bengkel kepada Hadi mekanik kantor yang biasa menservis motornya

__ADS_1


"Kita mo absen dulu, 5 menit lagi udah telat ntar duit kerajinan gak dapet lagi biar ceban juga lumayan buat beli bensin" teriak Frans sambil berlari kecil menuju ruangan HRD tempat mesin finger print berada


"Ya udah ntar habis sarapan kita cek, apa yang perlu diganti kita sms nanti" sahut Hadi sambil menghabiskan lontong sayur langganan karyawan kantor tempat mereka bekerja meski rasanya kurang enak namun dengan harga 10ribu bubur ayam dan lontong sayurnya selalu ramai pembeli karena porsinya banyak bahkan bisa untuk 2 orang yang biasa makan sedikit sudah kekenyangan jika dihabiskan


"Yang aku udah sampe kantor, nanti siang tolong transferin ya 300rb buat beli oli motor sama ada yang harus diganti, Sekalian si putih aku bawa besok biar diservis sekalian ganti oli" sms Frans kepada istrinya


Setelah mereka menikah gaji Frans selalu diberikan kepada istrinya dia hanya memegang uang untuk bensin dan makan siang meski sesekali iya membawa bekal dari rumah jika makanan untuk makam malam atau sarapan tidak habis untuk sekedar mengirit uang makan


"Iya" sms balasan dari istrinya singkat jelas padat dan pastinya masih penuh rasa kesal kepada suaminya bukan karena dimintai uang namun karena kejadian semalam


"Ya gak dapet jatah lagi malem ini, masa harus solo sih arghhh" teriak Frans dari dalam ruangannya sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal


"Bos lu knapa noh to, teriak sendiri" ucap Edi kepada Yanto, Edi sendiri adalah anak buah gudang yang baru mengantikan Alm. Manto yang meninggal karena sakit parah 1 bulan yang lalu


"Gak dikasih jatah kali sama bininya" jawab Yanto sambil tertawa diikuti ketiga anak buah Frans lainnya sambil merapihkan alat dan sisa material kembalian proyek yang sudah selesai


"Dikampung lu kan banyak janda to, kenalin 1 ke bos Lim. Biar ada serepnya masa kalah sama Asrori bininya ada 2 dikampung 1 disini 1" canda Wahid yang meledek teman kerjanya digudang yang sudah sama-sama senior, sedangkan yang diledek hanya tertawa sambil mengangkat barang untuk diletakan ditempat yang sudah Frans atur letaknya sedari awal dia sejak dia menjadi kepala gudang


------------Bersambung------------


Terima kasih sudah mengikuti karya author ini


mohon saran dan kritiknya dikolom komentar

__ADS_1


Happy Fun Reading


__ADS_2