
Keesokan hari setelah tertidur pulas semalam Frans merasakan seluruh badannya masih terasa pegal, Frans yang merasa semalam dia bermimpi indah secara tidak sadar segera memegang daerah kelaki-lakiannya, ah untung saja masih kering ternyata. Malu rasanya jika dia ketahuan bermimpi basah diusianya yang sekarang ini, setelah mandi pagi Frans lalu membangunkan Yandi sepupunya untuk segera bangun dan sarapan direstoran hotel karena jika nanti sampai kesiangan dipastikan mereka tidak dapat mengunakan kupon sarapan gratis yang diberikan pihak hotel karena jam terakhir untuk sarapan adalah pukul 10.30.
Setelah menuju restoran tak jauh dari lobi hotel Frans lalu menyendok berbagai macam masakan yang disediakan secara prasmanan oleh pihak hotel, Nasi goreng rempah, ayam goreng bumbu BL, seporsi telur dadar yang dimasak langsung saat Frans memesan diarea kitchen restoran serta secangkir teh madu menjadi pilihannya untuk sarapan terakhirnya dipulau BL.
Berhubung waktu tersisa cukup sebelum berangkat menuju destinasi wisata lainnya Frans yang baru selesai menikmati sarapannya lalu mengambil secangkir kopi susu dan sepiring snack dan kue sebagai makanan penutup dan teman untuk bersantai sejenak menghisap rokoknya. Disaat sedang asik menghembuskan asap rokok yang dihisapnya kearah kolam renang didepannya, tiba-tiba Frans dikagetkan oleh tepukan pelayan restoran hotel yang memintanya untuk mematikan rokok yang dihisapnya karena permintaan dari wisatawan asing yang duduk tak jauh dari mejanya.
Frans yang merasa tidak bersalah karena memang dirinya berada diarea khusus untuk merokok yang disediakan oleh pihak restoran, menolak secara halus untuk mematikan rokoknya dan meminta agar bule itu dan keluarganya saja yang pindah tempat duduk, bukankah dirinya yang terlebih dahulu berada diarea itu sedangkan bule berserta istri dan kedua anaknya baru saja tiba disana.
Pelayan yang merasa tidak enak hati telah menganggu kesenangan Frans pagi itu, lalu kemudian menuju ke meja tempat keluarga bule itu berada dan menjelaskan dengan sopan penolakan dari Frans. Namun seperti istri dari wisatawan asing itu tidak terima dengan penolakan dari Frans lalu mendekatinya
*Pembicaraan mengunakan bahasa inggris yang ditranslate sesuai situasinya
"Apakah kamu tahu bahwa ada dua anak kecil yang berada disini, asap rokok mu sangat berbahaya bagi mereka, mengapa kamu menolak mematikan rokok mu" Ucap sang istri dengan nada tidak senang kepada Frans
"Maaf nyonya bukannya saya yang terlebih dahulu berada ditempat ini, dan lagi area ini merupakan khusus untuk merokok. Jadi mengapa saya yang harus pindah, bukankah meja didalam sana masih banyak yang kosong" terang Frans mencoba menjawab dengan sopan karena menghargai wisatawan asing yang datang berlibur disini
__ADS_1
"Kedua anak saya ingin duduk dekat kolam renang, seharusnya anda menghargai kami yang tidak merokok ini, memangnya kamu tidak tahu bahwa merokok bisa membunuh mu" sambung sang suami yang tidak menerima penjelasan dari Frans
"Kamu pelayan coba panggil manajer kamu saya ingin berbicara dengannya" lanjut sang suami
"Anda semua jangan mentang-mentang kami sangat menghargai anda sebagai tamu dinegara ini, lalu kalian ingin diperlakukan istimewa, tidak seperti itu caranya. Saya menghargai orang yang tidak merokok dengan merokok pada tempat yang sudah disediakan" jawab Frans
"Jika anda berlibur ke negara orang dan ingin dihargai maka seharusnya anda juga menghargai penduduk lokal"
"Saya tidak ingin berbicara dengan kamu, hei kamu pelayan cepat panggil manajer yang bertugas" jawan sang suami sambil menujuk kearah pelayan
"Hei bung, jangan menunjuk orang sembarangan seperti itu, jika kamu berada diluar hotel menunjuk seseorang seperti itu mungkin kamu akan langsung dipukuli" bentak Frans
Rupanya ucapan Frans didengar oleh para tamu hotel yang berada direstoran sehingga semua menoleh kearahnya namun dia tak perduli dengan keadaan ini, karena bukankah sang bule dan istrinya terlebih dahulu menganggu waktu bersantainya dipagi itu.
Mungkin karena merasa malu diperhatikan oleh para tamu akhirnya si bule dan istri serta kedua anaknya beranjak meninggalkan meja dan makanan yang baru sedikit mereka sentuh, sang anak yang tidak bangun dari kursi pun akhirnya meraung karena diseret oleh ibunya. Frans yang sebenarnya merasa kasihan dengan sang anak namun memilih tidak perduli karena bukan cerita yang hanya didengarnya saja bahwa para wisatawan asing yang berkunjung ke pulau BL sering bersikap tidak sopan kepada penduduk lokal dan wisatawan lokal.
__ADS_1
Pelayan yang tadi sempat menegur Frans akhirnya meminta maaf dan berterima kasih karena sudah membela harga dirinya yang sempat dilecehkan oleh si bule. Frans lalu juga meminta maaf karena sudah membuat keributan pagi direstoran lalu melanjukan kesenangannya yang sempat tertunda lalu mengisi ulang cangkir kopinya yang telah habis, saat mengambil kopi dimesin pembuat kopi otomatis banyak tamu hotel yang seakan mencibir dirinya karena membuat keributan dan tak mau mengalah kepada si bule dan keluarganya, namun ada juga yang mendukungnya karena memang dari kemarin-kemarin si bule dan keluarganya telah bersikap arogan kepada para pelayan hotel maupun tamu yang lain jika kemauan mereka tidak dituruti.
Frans yang hanya mendengar saja bahwa banyak wisatawan asing suka bersikap arogan dan tidak menghargai penduduk lokal akhirnya mengalami sendiri kejadian ini, namun sayangnya hal ini tidak terlalu berpengaruh karena banyak oknum ditempat-tempat wisata yang seakan-akan mengistimewakan wisatawan asing dibandingkan dengan wistawan lokal padahal belum tentu para bule belanja lebih banyak dibandingkan dengan wisatawan lokal, namun memang tidak bisa dipungkiri jika wisatawan lokal terutama kaum emak-emak berdaster yang memang tiada lawan saat dijalanan maupun dipasar yang sering menawar harga barang pedagang dengan afgan alias terlalu sadis caramu menawar barang dagangan ku, begitulah kira-kira paduan suara hati para pedagang saat barang dagangan mereka ditawar oleh emak-emak hebat yang bisa mengirit pengeluaran mereka yang mungkin diberikan uang jajan sekedarnya oleh suami mereka.
Setelah menghabiskan hampir separuh bungkus rokok dan 3 cangkir kopi Frans lalu beranjak menuju kamarnya untuk bersiap menuju pusat oleh-oleh khas pulau BL, Frans berharap agar uang direkeningnya yang tersisa 500 ribu cukup untuk membeli oleh-oleh bagi teman-teman kantornya karena uang miliknya sudah digunakan untuk membeli pia lekong sebagai oleh-oleh untuk Happy dan Kevin serta duo laknat Yanto dan Edi anak buahnya digudang yang ketagihan pia lekong yang pernah diberikannya dulu saat Rissa kembali berlibur dari pulau BL.
Pia lekong makanan ringan sejenis bakpia dengan isian kacang hijau,coklat,keju dan coklat keju dengan ciri khas gambar penari lekong dikotak bungkusnya adalah salah satu oleh-oleh wajib jika berlibur ke pulau BL kulit pia yang renyah saat digigit dan isian yang langsung lumer dimulut tentu saja bisa membuat seseorang ketagihan saat memakannya. Namun sayang panjangnya antrian dan stok yang terbatas serta banyaknya para calo yang berkeliaran disekitar tempat jualan pia lekong membuat banyak wisatawan yang engan kesana. Untung saja Frans yang sudah memesan lewat Andi sepupunya sedari awal mereka tiba dipulau BL tak harus mengantri untuk membeli pia lekong meski hanya 4 kotak saja dengan isi 4 buah/perkotak sudah menghabiskan 500 ribu uang miliknya, yang memang harganya sudah termasuk jasa titip namun jika dibandingkan harus mengantri dengan resiko tidak kebagian atau jika lewat calo dilokasi harganya sudah tentu akan lebih mahal lagi.
Setibanya dipusat oleh-oleh Frans memutukan membeli 4 bungkus kacang khas pulau BL dan beberapa bungkus brem untuk teman sekantornya, Brem khas pulau BL adalah snack yang terbuat dari perasan fermentasi ketan hitam yang diambil sari patinya saja dan endapkan selama semalaman lalu dikeringkan dicetak bentuk kotak atau persegi panjang jika dimakan akan langsung lumer dimulut dan terasa manis sedikit asam dengan sensasi dingin dimulut namun karena terbuat dari fermentasi ketan hitam tentunya mengandung sedikit alkohol jika dikonsumsi terlalu banyak dapat menimbulkan efek seperti mabuk.
Setelah berbelanja rombongan lalu menuju daerah jemuran untuk menikmati santap sore sebelum mengantarkan Frans ke bandara karena pesawat yang ditumpanginya terbang pukul 5.30 sore waktu setempat, daerah jemuran sendiri adalah daerah yang terkenal akan masakan olahan lautnya begitu banyak warung makan maupun restoran yang menyajikan berbagai jenis masakan bahan hasil laut dengan bumbu khas masing-masing, setelah memilih warung makan yang tidak terlalu ramai dan memesan olahan ikan dan udang dengan bumbu pulau cengek Frans dan kelima anggota keluarga Tantenya Nita menikmati makan bersama.
Selepas makan bersama rombongan lalu mengantarkan Frans kebandara untuk pulang terlebih dahulu, Frans yang membawa banyak barang oleh-oleh miliknya dan titipan Andi sampai kerepotan membawa barang bawaannya untung saja uang dompetnya cukup untuk menyewa taksi menuju rumah tantenya dikota SBD. Perjalanan pesawat yang menempuh satu jam 30 menit tak terasa baginya yang tertidur selama berada didalam pesawat.
Setibanya dibandara kota TK Frans lalu memesan taksi menuju kota SBD setelah mengambil barang-barang bawaannya terlebih dahulu. Frans menginap dirumah tantenya sampai tante Nita dan anak-anaknya kembali dari pulau BL esok lusa.
__ADS_1
------------+Bersambung+------------
Happy Fun Reading