
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam tibalah Frans dan istrinya dirumah Lenny adik kedua alm. David wie, Rissa meminta suaminya untuk menunggu diteras depan rumah Lenny tantenya karena memang ia tidak berlama-lama disini hanya mengambil undangan saja, terlebih masih banyak rumah kerabat yang belum mereka kunjungi baik dari pihak Rissa maupun kerabat dari Frans suaminya. Mengingat Rissa hanya bisa cuti hari ini saja sehingga besok sudah harus masuk kerja lagi.
"Laki lu mana sa, gak diajak masuk" tanya Lenny yang heran melihat Rissa masuk sendirian saja
"Ada didepan Oo, sengaja Rissa suruh tunggu didepan aja. Rissa gak bisa lama-lama, mesti kerumah Oo sama kukuh yang lain" jawab Rissa yang langsung duduk disofa bersebelahan dengan Lenny
"Oh ya udah, ini undangan buat mama lu, sama sekalian nitip buat ade-ade mama lu" ucap Lenny sambik menyerahkan paper bag yang berisi undangan pernikahan anak lelaki bungsunya
"Mama lu semalem nelpon Oo, cerita soal ramalan lu berdua di ko Ishan, Oo sih cuma kasih saran aja ya sa, mumpung lu berdua masih muda, belum punya anak juga. Lu pertimbangin baik-baik apa kata cici lu Donna, tapi seandainya lu berdua gak mau pisah. Oo cuma bisa bantu doa supaya lu sama laki lu bisa jalanin hidup dengan baik.
"Apa lagi pernikahan lu berdua, emang keinginan papa lu. Lu berdua harus terima resikonya kedepannya nanti, Lu tau sendiri kalo ramalan ko Ishan tuh jarang banget meleset. Makanya Oo sama keluarga dari papa lu kalo ada apa-apa pasti nanya dulu ke ko Ishan" saran Lenny kepada Rissa
"Oo sendiri juga binggung pas lu mau nikah knapa papa lu gak nanya dulu ke ko Ishan, tapi ya papa lu kan dari dulu emang begitu klo maunya apa gak bisa digangu gugat" lanjut Lenny
"Iya Oo, makasih. Rissa juga binggung harus bagaimana, biar Rissa pikirin dulu mateng-mateng. Frans sayang banget sama Rissa dan udah banyak berkorban buat Rissa, gak mungkin Rissa tinggalin begitu aja" jawab Rissa yang nampak mulai bersedih
"Oo ngerti sa, gak harus saat ini juga lu ambil keputusan, maksud Oo lu cari dulu baik buruknya keputusan yang mau lu ambil, apapun keputusan lu nanti Oo dukung kamu, kalo emang lu nanti gak mau pisah sama laki lu, urusan sama cici lu Donna biar Oo yang bantu ngomong" lanjut Lenny sambil menenangkan Rissa keponakannya yang sudah dianggapnya anak sendiri terlebih dirinya adalah adik kesayangan alm. David Wie.
Bahkan kematian David wie yang mendadak sempat meninggalkan penyesalan yang teramat dalam untuk Lenny karena tidak sempat langsung membawa kakaknya ke Rumah sakit saat terkena serangan jantung untuk mendapatkan pertolongan. Meski sebenarnya tidak ada satupun keluarga David wie baik istri dan anak-anak dari Alm. David maupun adik-adik David yang menyalahkan dirinya. Karena saat hembusan nafas terakhir David wie semua keluarga yang berada di villa puncak kota BR sedang terlelap tidur, sehingga tidak ada satupun yang menyadari kematian David wie. Barulah saat Lenny ingin membangunkan kakak tertuanya untuk sarapan mengetahui bahwa kakak yang menyayanginya sudah tiada.
__ADS_1
"Iya Oo, makasih. Rissa pamit dulu, kasihan Frans nungguin didepan" ucap Rissa berpamitan
Lenny pun mengantarkan Rissa kedepan rumahnya, Frans yang melihat Lenny kemudian memintaa maaf karena dirinya tidak masuk kedalam rumah, meskipun itu adalah perintah istrinya tetap saja ia merasa tidak enak hati. Setelah kepergian Frans dan Rissa, Lenny menghembuskan nafas panjang dia tak menyangka keponakannya Rissa akan mengalami keadaan yang seperti ini, dia pun menyadari bahwa Frans memang lelaki yang baik dan bertanggung jawab, tak heran jika alm. David wie kakak kesayangannya memaksa menikahkan mereka berdua bahkan bersedia menanggung biaya pesta pernikahan mereka berdua.
Terlebih dia merasa heran saat Frans menolak menerima uang angpau pernikahannya karena merasa tidak pantas menerimanya, hal ini ketahui oleh Lenny saat alm. David kakaknya memaksa mengembalikan uang yang dipinjamnya untuk biaya pesta pernikahan anaknya Rissa dan Frans. Walau Lenny sendiri sudah tidak mempersoalkan uang tersebut namun terpaksa menerimanya karena David terus memaksanya untuk menerima.
Lenny percaya Frans akan menjadi suami yang baik untuk Rissa, namun mengingat hasil ramalan dari cek Ishan yang sangat dia percayai dari dulu, Lenny juga tak ingin Rissa dan suaminya akan menjalani kehidupan yang begitu sulit jika mereka tetap bersama.
Selepas dari rumah Lenny, Frans mengajak Rissa untuk beristirahat sejenak di foodcourt dalam Mahapatih plaza untuk makan siang sakalian mendinginkan suhu tubuh mengingat udara kota JB siang itu terasa terik sekali bahkan sampai terasa menembus kulit tangan miliknya yang lupa memakai sarung tangan karena terburu-buru pagi tadi. Kemudian Frans memesan Nasi goreng spesial disalah satu kantin yang berada difoodcourt lantai 3 mahapatih plaza sementara istrinya hanya memesan jus alpukat kesukaannya karena Rissa masih merasa kenyang, sebelum mereka berangkat ia sudah makan dulu dirumah tadi. Sedangkan Frans yang sedari pagi belum makan apapun menyantap nasi goreng pesanannya dengan lahap sesekali mencoba menyuapi istrinya namun ditolak oleh Rissa.
Frans yang merasa bahwa istrinya masih kesal kepadanya, karena masalah pagi tadi belum terlalu menyadari perubahan sikap dari istrinya. Dia hanya mendiamkan soal istrinya yang hari ini tidak banyak berbicara kepadanya, mungkin memang sedang datang bulan pikir Frans saat itu.
Frans yang sedang ingin menikmati suapan terakhirnya tersedak akibat nada bicara istrinya yang tiba-tiba serius seakan Frans memiliki salah yang besar kepada istrinya, dia langsung meneguk es teh agar melancarkan nasi goreng yang menyangkut ditengorokannya.
"Mau ngomong apa sih, tiba-tiba langsung serius gitu bikin orang kaget aja sampe keselek aku sa, untung gak jantungan" ungkap Frans yang bertanya penuh heran kepada istrinya
"Lagian kaya ngomong sama siapa aja, ngomong aja langsung disini knapa, toh gak terlalu rame orang disini juga" lanjut Frans yang juga mulai kesal dengan istrinya namun masih menahan emosinya karena prinsipnya pantang untuk memarahi istrinya
"Kalau aku bilang nanti, ya berarti nanti, udah kelarkan makannya ayo jalan, masih harus kesana kemari" lanjut Rissa yang langsung bangun berjalan meninggalkan suaminya yang nampak buru-buru menghabiskan sisa makanan dan minuman dimeja nya, kemudian berlari kecil menyusul istrinya yang sudah menuruni tangga berjalan untuk menuju parkiran motor. Setelah berhasil menyusul istrinya diparkiran motor yang berada disamping luar Mahapatih Plaza Frans yang mencoba menarik nafas perlahan karena kelelahan harus mengejar istrinya terlebih lagi dia baru selesai makan, suapan terakhir pun masih berada disaluran kerongkongan belum sampai kelambung.
__ADS_1
"Kamu knapa sih dari pagi sampe sekarang aneh banget, ditanya diem aja. Ngambek nih gara-gara aku kesiangan terus telat jemput kamu, apa gara-gara lagi dapet nih yang, senyum dong nanti cantiknya luntur lagi?" tanya Frans sambil mencoba merayu istrinya karena wajah istrinya yang biasa tersenyum dengan lesung pipinya yang membuat Frans jatuh cinta dulu. Kini terlihat datar dengan mimik muka yang serius.
"Bisa gak kamu tuh jadi orang serius dikit, jangan bercanda mulu. Gimana orang bisa respek sama kamu kalo kamu, gak pernah serius jadi orangnya" ucap Rissa dengan keras sehingga membuat beberapa orang yang berada diparkiran menoleh kearah mereka berdua
"Udah buru nyalain motor, kita jalan. Klo gak mau aku jalan sendiri" lanjut Rissa dengan raut wajah semakin serius
Frans yang merasa tidak enak dengan orang-orang sekitarnya langsung memakai helm dan menyalakan motor, setelah istrinya naik dia langsung bergegas menuju pintu keluar parkiran. Setelah memasuki jalan raya depan gedung mahapatih plaza
"Aku gak tau apa salah aku sama kamu, kalau cuma gara-gara aku suka bencandain kamu, bukan berarti aku gak pernah serius dalam hidup ini, kalau aku gak pernah serius mana mungkin bisa hampir 4 tahun kerja, kalau aku gak pernah serius dalam hidup, gak mungkin aku mau ngelamar kamu ke keluarga kamu juga nikahin kamu" ucap Frans sambil menahan emosinya
"Oke kalau aku salah aku minta maaf, meski aku gak tau apa kesalahan aku. Selama ini aku selalu berusaha jadi suami yang baik buat kamu sa, saat pacaran dulu sampai sekarang kita nikah hampir mau satu tahun apa pernah aku marah besar sama kamu atau mukul kamu? seemosinya aku, sebesar apapun marahnya aku, aku akan berusaha untuk menahan emosi aku karna kamu satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidup aku" lanjut Frans dengan suara terbata-bata menahan air matanya , dia tak ingin menangis didepan istrinya terlebih didepan orang lain yang lewat didekat mereka berhenti.
"Udah kita gak usah lanjut kemana-mana lagi, aku anterin kamu pulang aja" ucap Frans kemudian melajukan motornya kearah kediaman mertuanya, Frans merasa lebih baik istrinya pulang kerumah orang tuanya saja dulu dari pada pulang kerumah mereka takut dia tak bisa mengontrol emosinya hingga nanti menyakiti Rissa istrinya
Sepanjang perjalanan mungkin karena merasa bersalah kepada suaminya yang belum tahu apapun soal hasil ramalan mereka berdua, air mata Rissa jatuh membasahi pipinya, mesti terhalang kaca helm yang digunakan Rissa. Frans mengetahui istrinya sedang menangis dari getaran kedua tangan Rissa yang memegang erat jaket dipinggangnya, merasa bersalah hingga membuat istrinya menangis Frans sesekali mengusap dan menepuk paha istrinya untuk sekedar menenangkan Rissa.
Rissa yang masih menangis lalu memeluk erat tubuh suaminya lalu menangis lebih keras melepaskan semua emosinya yang ditahannya sedari pagi hari sejak dari rumah keluarga wie, kebimbangan memenuhi pikirannya apakah harus berpisah dengan suami yang begitu mencintai dan menyayanginya lebih dari apapun, atau memilih mempertahankan pernikahan ini meski jalan terjal menanti kehidupan berumah tangga nanti menurut apa hasil ramalan kemarin terlebih lagi sudah pasti orang yang akan selalu bertentangan dengan mereka nanti menurut ramalan tak lain ialah Donna kakak perempuan tertuanya, yang memang sedari awal sudah tidak setuju dengan rencana pernikahan mereka.
Dirinya juga tidak tahu harus memulai dari mana untuk menceritakan hasil ramalan mereka oleh cek Ishan kepada suaminya Frans, Rissa juga memahami sifat suaminya yang sudah pasti tidak akan percaya kepada hal seperti ini, karena bagi Frans sendiri takdir baik buruk manusia memang Tuhan yang menentukan. Namun tidak mungkin rasanya jika usaha dan kerja keras serta ketekunan seseorang disertai doa yang tulus kepada Tuhan tidak dapat merubah nasib seseorang. Gusti ora sare Tuhan tidak tidur nasihat salah satu anak buah Frans kepada dirinya setiap menghadapi suatu masalah.
__ADS_1
----------------Bersambung----------------