Menantu Tak Dianggap

Menantu Tak Dianggap
Jum'at Keramat


__ADS_3

Sulitnya menghubungi Rissa membuat Frans merasa gelisah, dia khawatir jika terjadi sesuatu terhadap istrinya. Hingga malam hari dirinya masih tidak dapat berkomunikasi dengan istrinya, sementara itu Rissa yang BB miliknya disita oleh Donna hanya bisa pasrah raut wajah kesedihan tidak bisa ditutupi olehnya dihadapan saudara-saudara, ada yang mencoba menghiburnya namun tidak sedikit mendukung keputusan Donna dengan alasan yang sama, bahwa ini semua demi kebaikan dan masa depan Rissa sendiri.


Keesokan harinya Frans mencoba menghubungi Happy sahabat Rissa untuk menanyakan apakah ia bisa menghubungi Rissa, Happy yang memang belum sama sekali menghubungi Rissa beberapa hari ini, berjanji akan menanyakan hal ini nanti kepada Ran suaminya yang sekantor dengan Rissa. Sore harinya saat akan bersiap pulang kerumah Happy mengirimkan pesan kepada Frans, menurut info dari Ran suaminya, BB Rissa disita oleh kakaknya bahkan sudah seminggu ini Rissa diantar jemput oleh suami Donna.


Frans yang mendengar kabar ini pun merasa heran mengapai Donna sebegitu inginnya dia dan istrinya bercerai sampai harus memutus komunikasi antara dia dan Rissa, bukankah mereka masih resmi sebagai suami istri. Dan mengapa istrinya tidak bercerita kepadanya soal belakangan ini Rissa diantar jemput oleh David Yan suami dari Donna.


"Arghhh keadaan sepertinya semakin buruk saja" ucap Frans dalam hatinya kemudian melajukan motornya menuju arah pulang.


Sepanjang perjalanan pulang kerumah Frans yang semakin malas untuk pulang karena merasa sepi tanpa kehadiran istrinya, membawa kendaraannya dengan pelan, tak jarang dia harus dikagetkan dengan bunyi klakson pengendara dibelakangnya sebab Frans yang larut dalam pikirannya menghalangi jalur mereka, dirinya yang sadar menghalangi jalan orang lain kembali fokus berkendara agar tidak menyebabkan kecelakaan mengingat kondisi jalanan sangat ramai karena bertepatan jam pulang kerja.


Setibanya dirumah Frans yang merasa lelah selepas seharian bekerja ditambah jalanan yang macet akibat arus kendaraan yang padat, mencoba kembali menghubungi nomor istrinya berharap nomor Rissa sudah kembali aktif. Nada panggilan yang tersambung membuat Frans sedikit bernafas lega, namun berulang dia mencoba menghubungi nomor istrinya masih belum juga diangkat.


Ditengah kepasrahannya karena belum berhasil menghubungi istrinya bahkan pesannya yang menampilkan informasi bahwa status pesan telah diterima namun tidak ada balasan sama sekali. Ada panggilan yang masuk menghubunginya, Frans yang mendapat panggilan dari nomor yang tak dikenalnya segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, maaf dengan siapa ini sebelumnya" jawab Frans menerima panggilan masuk dihpnya

__ADS_1


"Ini ci Donna, Frans tolong denger ya baik-baik. Mulai sekarang kamu gak usah menghubungi Rissa lagi, surat cerai kamu sama Rissa udah cici urus. Terserah kamu mau tanda tangan atau engak, cici gak perduli"


"Salinan surat cerainya nanti cici kirim kekantor kamu, barang-barang Rissa yang dirumah kamu terserah mau kamu anterin ke gading apa gak, itu urusan kamu"


"Intinya kamu dan Rissa mulai sekarang anggap aja udah resmi bercerai, uang kompensasi buat kamu udah cici siapkan anggap aja ganti rugi, karna kamu udah jaga Rissa selama ini" ucap Donna langsung mematikan panggilannya


Frans yang tidak sempat membalas perkataan Donna karena panggilannya keburu dimatikan, mencoba menghubungi balik nomor yang tadi digunakan Donna menelponnya, namun sayangnya tidak diangkat sama sekali. Merasa kecewa karena perceraiannya diputuskan secara sepihak seperti itu berteriak kesal sambil mengumpat Donna yang menghancurkan mimpi dan angannya bersama Rissa. Teriakan dan umpatannya membuat tetangga sekitar rumah kontrakannya berdatangan.


"Knapa Om Frans, koq malam-malam teriak-teriak begitu. Ada apa?" tanya salah seorang tetangga yang mendatanginya


"Gak apa-apa teh, maaf saya tadi tiba-tiba kesal aja" jawab Frans sambil meminta maaf kesemua orang yang mendatanginya


Frans yang merasa tidak enak hati menganggu ketenangan tetangga sekitar rumahnya lalu menutup pintu dan berdiam diri didalam kamarnya. Hatinya terasa begitu sakit karena harus berpisah dengan Rissa istrinya lewat cara seperti ini, kesedihan yang begitu dalam membuat air matanya mengalir membasahi kedua pipinya, Frans tidak perduli jika suara tangisannya terdengar sampai kekamar tetangganya. Sekuat dan setegarnya seorang lelaki jika dihadapkan situasi seperti ini pasti akan menangis.


Mimpinya untuk membangun sebuah keluarga kecil bersama Rissa wanita yang dipilihnya menjadi ibu dari anak-anaknya, meski harus hidup sederhana asalkan bahagia dia tidak perduli. Baginya kehadiran Rissa disisinya sampai hari tua nanti lebih berharga dari semua kekayaan didunia ini. Namun sepertinya semua itu hanya akan menjadi angan-angan semata.

__ADS_1


Jika memang harus berpisah, Frans ingin mendengar langsung dari mulut istrinya Rissa. Meski sama-sama akan terluka namun baginya setidaknya lebih baik dari pada mendengarkan dari mulut orang lain, terutama dari mulut Donna orang yang sedari awal menjadi batu sandungan dalam kehidupan rumah tangganya dengan Rissa.


Dikediaman Donna, Rissa yang mendengarkan langsung perkataan kakak perempuannya dengan suaminya Frans, langsung menuju kamar Jessi ibunya, dipangkuan ibunya Rissa meluapkan kesedihan hatinya yang juga hancur akibat harus bercerai dengan suaminya karena paksaan dari Donna, Jessi yang ikut merasa sedih karena tangisan putri bungsunya hanya bisa mengusap-usah kepala risa dengan lembut mencoba meredakan emosi Rissa, Jessi sendiri sudah tidak berdaya melawan kemauan Donna putri tertuanya.


Seminggu setelah perceraiannya secara sepihak dengan Rissa, Frans menjalani hari-harinya tanpa semangat separuh nyawanya terasa hilang tanpa kehadiran Rissa istrinya, saat sedang istirahat makan siang. Resepsionis kantornya bekerja menelponya memberitahukan bahwa ada kiriman paket untuknya, Frans lalu meminta tolong kepada Yanto untuk mengambilkan paket miliknya diruangan resepsionis.


Amplop berwarna coklat yang ditujukan kepadanya, Frans sudah bisa menebak apa isi didalamnya, berdasarkan tulisan dan logo dari kantor Firma Hukum dan Notaris ternama dikota gading yang dilihatnya dari sampul depan amplop yang diterimanya. Surat Penyataan Cerai begitu tulisan yang pertama kali dibacanya surat pernyataan cerai dengan Rissa sebagai pihak pertama dan dirinya sebagai pihak kedua, lengkap dengan poin-poin yang menyatakan tertanggal 15 maret tahun itu, Frans dan Rissa tidak lagi memiliki hubungan sebagai suami istri, dan dirinya tidak diperkenankan untuk mendekati dan berkomunikasi dengan istrinya Rissa dalam bentuk apapun, serta pernyataan bahwa pihak pertama akan memberikan kompensasi atas perceraian ini sebesar 15 juta kepada pihak kedua, surat yang dikeluarkan oleh notaris itu dilengkapi oleh tanda tangan Rissa dan tiga orang saksi yaitu Donna sendiri, Jessi mertuanya serta pengacara yang disewa oleh Donna.


Sementara tanda tangan pihak kedua yaitu Frans sudah ditanda tangani, sepertinya Rissa yang menandatanganinya sendiri mungkin atas paksaan dari kakaknya Donna, Frans dan istrinya memang saling dapat mencontoh tanda tangan masing-masing.


Frans yang membaca surat pernyataan cerai itu langsung melipat dan meletakan surat itu dimejanya lalu keluar dari ruangannya untuk menyalakan sebatang rokok yang sedari pagi belum sempat dinikmatinya, kemudian larut dalam lamunannya. Nampak kesedihan dari raut wajahnya, membuat anak buahnya terheran namun tak ingin banyak berbicara, seakan mengerti apa yang terjadi dengan bosnya. Yanto dan Edi duo laknat yang biasa bercanda dengan Frans kali ini pun tak banyak bersuara hanya mengantarkan kopi untuk bosnya sebagai teman menikmati hisapan rokok.


Hingga sore hari menjelang waktu kerja berakhir Frans hanya berdiam diri, meratapi nasib pernikahannya yang baru lewat setahun bahkan belum sempat merasakan menjadi ayah dari anak Rissa, Yanto yang memberitahunya bahwa gudang akan segera ditutup karena sudah jam pulang kerja, akhirnya menyadarkan Frans dari lamunannya, Frans yang tidak semangat pun seakan engan bangkit dari tempat duduknya lalu beranjak menuju tempat parkir yang sudah mulai sepi karena hampir seluruh karyawan kantor sudah pulang.


Malam itu diparkiran kantornya Frans masih duduk terdiam sambil terus menyalakan rokoknya sampai tersadar saat rokok yang dihisapnya barusan adalah yang terakhir. Kaget karena hari sudah gelap Frans yang melihat jam tangan miliknya sudah menunjukan pukul sembilan malam, akhirnya memutuskan menginap saja dikantornya baru keesokan harinya pulang kerumah, untung saja besok sabtu merupakan hari liburnya bekerja. Frans berencana untuk menemui Rissa dikantor istrinya bekerja, Frans ingin memastikan apakah Rissa sendiri yang menerima perceraian ini, jika memang itu keinginan dari istrinya Frans akan menerima dengan lapang dada.

__ADS_1


-----------Bersambung----------


Happy Fun Reading


__ADS_2