Menantu Tak Dianggap

Menantu Tak Dianggap
Nasi sudah menjadi bubur


__ADS_3

Semenjak mengetahui apa hasil ramalan dia dan istrinya, Frans tidak perduli jika menurut ramalan itu mereka berdua akan memiliki hidup yang sengsara bahkan untuk makan saja harus membanting tulang, jika pernikahan ini tetap dilanjutkan. Bukankah manusia memang hakikatnya harus bekerja keras, tak ada kesuksesan yang datang begitu saja tiba-tiba. Bahkan mereka yang terlahir dari orangtua yang kekayaannya tidak habis tujuh turunan tetap harus bekerja, meski memang tidak sekeras orang lain pada umumnya. Begitulah pikir Frans meyakinkan Rissa istrinya.


Sudah 1 Tahun Frans dan Rissa menikah, meski tidak dirayakan secara mewah namun makan malam berdua ditempat yang sama saat Frans melamar istrinya dulu tetap terasa istimewa, ditambah suasana romantis dengan dekorasi sederhana yang dibuat mendadak oleh staff restoran atas permintaan manajer mereka sebagai hadiah ulang tahun pernikahan Frans dan Istrinya. Nyala lilin yang berada disetiap meja diruangan outdoor memberikan suasana yang hangat dimalam hari yang diterangi cahaya bulan yang hampir bulat sempurna, ditambah iringan live music tak jauh dari tempat mereka berdua makan, yang memang setiap malam disediakan oleh manajemen Mall malam ini membawakan lagu-lagu nostalgia tahun 90an, menambah hangat suasana malam itu.


Rissa tidak mempermasalahkan jika kado pernikahan dari suaminya hanya berupa makan malam yang romantis, bukan hadiah mewah seperti yang kakak perempuan Rissa dan teman-temannya terima. Baginya sosok suami yang selalu ada untuknya dan menerima dirinya apa adanya seperti Frans merupakan hadiah terindah di 1 tahun pernikahannya, meski dirinya selalu ditekan oleh Donna kakaknya tapi Frans selalu membelanya selama ini. Rissa yang awalnya ragu mempertahankan pernikahan mereka perlahan mulai ingin terus bersama dengan suaminya meski kedepannya tidak seindah cerita FTV ataupun sinetron di stasiun televisi keong warna warni.


Setelah menghabiskan makan malam berdua, Frans dan istrinya melanjutkan untuk menonton dibioskop yang memang sejak mereka menikah belum pernah menonton dibioskop lagi, kebetulan malam itu film yang dibintangi oleh Julia Roberts yang sangat ingin mereka tonton masih tayang di studio XXL mall kota gading, film yang menceritakan perjalanan seorang wanita yang diperankan oleh Julia Roberts ketiga negara yang berbeda mencari jati diri dan ketenangan jiwa lewat makanan dan pertemuannya dengan orang yang berbeda.


Selesai nonton bersama Frans membawa istrinya ditaman disamping mall, taman yang mengusung konsep negeri matahari terbit lengkap dengan kolam ikan koi dan bunga sakura yang sayangnya belum terlalu bermekaran saat itu, bermaksud untuk menghabiskan waktu berdua sampai malam semakin larut. Suasana taman yang tidak terlalu ramai saat itu mengingat hari ini bukan akhir pekan sehingga sepi dari pengunjung, sangat cocok bagi pasangan menghabiskan waktu berdua.


Jika bukan karena esok hari mereka berdua harus kembali bekerja, tak ingin rasanya Frans dan Rissa beranjak dari taman itu, setelah membeli roti untuk sarapan mereka besok, Frans dan istrinya kembali menuju rumah mereka. Malam itu mungkin karena hari sudah larut malam dan juga lelah seharian berkerja Frans hanya mencumbui istrinya sebentar lalu mengajak Rissa untuk segera tidur agar esok tidak kelelahan.


Selepas mengantar Rissa ke kantor tempatnya bekerja, Frans langsung bergegas menuju kantornya agar tidak terlambat untung saja jam kerja kantornya berbeda dengan istrinya sehingga dia masih cukup waktu jika harus mengantar Rissa terlebih dulu, setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam, tibalah dia dikantornya waktu absen tersisa 8 menit lagi, Frans lalu segera memarkirkan motornya kemudian segera menuju ruang personalia agar tidak terlambat absen.


"Cie yang semalem habis ultah pernikahan, habis berapa ronde semalem bos, makan-makan atuh" ledek Edi yang melihat Frans memasuki gudang tempat ruangannya berada.

__ADS_1


"Apanya yang berapa ronde lemes duluan gw yang ada, kecapean" jawab Frans sambil duduk dibangku tempat bersantai karyawan gudang.


"Tenang ntar siang dateng pipa 1 truck mayan kan kenyang makan pipa lu pada" lanjut Frans sambil menyalakan sebatang rokok black mentholnya


"Ya bos mah, gak fren lah. Masa anak buah dikasih makan pipa, beliin gorengan keq setidaknya biar didoain awet sampe kakek nenek" timpal Edi kemudian mengambil bungkusan rokok methol milik Frans


"Ya habis bos, udah gorengan gak ada, rokok habis pula, mana enak ngopi gak sambil ngebul bos" lanjut Edi sambil melempar bungkus rokok yang kosong ketempat sampah


"Si Yanto kemana jam segini belom nyampe, lu ambilin dulu gih, black menthol sebungkus sama filter sebungkus, sama kopi susu 2, masukin bon gw aja dulu ke warung mang kumis" ucap Frans kepada Edi


"Sekalian saya kopi 1 ya bos, buat ntar siang hehehe" jawab Edi sambil bergegas melaksanakan perintah bosnya


Tiba-tiba saat sedang menurunkan pipa pvc yang datang salah satu anak buahnya Asrori salah satu karyawan senior digudang tergelincir diatas pipa yang sudah disusun rapih, mungkin karena sendalnya licin padahal sebelumnya Frans sudah mengingatkan untuk mengunakan sepatu safety yang memang sudah disediakan oleh kantor untuk masing2 anak buahnya atas permintaan darinya, atau karena kayu penahan pipa disisi pipa tidak terpasang sempurna. Akibatnya puluhan pipa Pvc diameter 4 inc yang beratnya belasan kilo/batang ambruk menimpa Asrori yang jatuh dibawah tumpukan pipa tersebut, meski tidak terluka parah hanya mengalami luka ringak ditelapak tangan dan jidatnya akibat menahan tubuhnya saat terjatuh tadi, namun pipa yang menimpanya membuat salah satu kakinya keseleo sehingga harus dibawa ke ruang kesehatan kantor.


Kecelakaan kerja yang menimpa salah satu anak buahnya hari ini, membuat Frans dipanggil oleh atasnya dan direktur pengawas K3L kantornya. meski Frans sudah menjelaskan bahwa dia sudah mengingatkan anak buahnya untuk mematuhi peraturan K3L, tetap saja kecelakaan hari ini menjadi tanggung jawab dirinya selaku kepala gudang, sehingga dirinya mendapat teguran secara lisan dan memo tertulis kepada bagian HRD untuk pengurangan score untuknya yang pasti akan berpengaruh bagi gaji atau insetif kerjanya bulan ini, sesuai kesepakatan bersama antara direksi perusahanan dan manajemen pengawas K3L kantornya.

__ADS_1


Frans pun hanya bisa pasrah menerima keputusan ini, dan tersenyum kecut mengingat bulan ini gajinya dipastikan tidak untuh, ingin menyalahkan anak buahnya pun percuma saja, sebab yang mengalami kecelakaan juga mendapatkan hukuman pengurangan score, meski bukan kali ini kedua anak buahnya yang paling senior mendapatkan pengurangan score karena menolak mengunakan alat pelindung diri saat bekerja dengan alasan malah membuat mereka tidak leluasa berkerja, semoga saja dengan kejadian kecelakaan kerja hari ini membuat mereka sadar akan pentingnya keselamatan dalam berkerja. Walau selama ini mereka baik-baik saja meski tanpa mengunkan APD, tapi bukankah lebih baik sedia payung sebelum hujan, mencegah lebih baik dari pada mengobati semboyan yang selalu diberikan saat pelajaran pribahasa dijaman SD dulu.


Saat menjelang pulang berkerja Rissa mengirimkan pesan kepada Frans meminta suaminya agar menjemputnya dirumah Happy sahabatnya untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka bersama sahabatnya dan calon suami Happy Ran yang juga merupakan rekan kerja Rissa.


Sementara itu sebelumnya siang saat istirahat makan siang dikantor Rissa, Jessi ibunya menelpon Rissa menanyakan apakah Rissa sudah memberitahukan isi ramalan mereka berdua kepada Frans suaminya.


"Rissa udah cerita sama Frans ma, Frans juga gak mau ambil pusing sama hasilnya, selama mama masih merestui pernikahan Rissa sama Frans, dia akan berusaha sekuat tenaga buat bikin aku bahagia, Rissa juga akan terus ngikutin apa kemauan suami Rissa ma, gimana juga dia udah banyak berkorban buat Rissa" jawab Rissa menjelaskan keputusannya kepada ibunya


"Ya udah kalau memang itu keputusan lu, mama cuma berharap lu berdua bisa bahagia, soal cici lu Donna mama juga gak bisa berbuat apa-apa lagi, lu tau sendiri kalau cici lu orangnya keras kaya gimana" jawab Jessi mendengar keputusan dari Rissa anaknya


Sebagai orang tua, disatu sisi Jessi hanya ingin melihat anaknya bahagia menjalankan


kehidupan rumah tangganya, dan dilain sisi orangtua mana yang ingin anak dan menantunya hidup dalam kesusahan seperti hasil ramalan cek Ishan kepadanya, seandainya dia tidak mengikuti kehendak anaknya Donna agar Frans dan Rissa diramal seperti kemauan alm. suaminya David wie agar mereka yang menjalani sendiri seperti apa nasib pernikahan Rissa dan Frans kedepannya. Namun nasi sudah menjadi bubur tak bisa dirubah lagi, hanya berharap terbaik untuk kedua anak dan menantunya, meski sudah pasti anak tertuanya Donna akan menjadi pihak yang bertentangan dengan pilihan Rissa anak bungsunya.


-----------------Bersambung----------------

__ADS_1


Dukung terus karya author dengan saran dan kritiknya dikolom komentar


Happy Fun Reading


__ADS_2