Menantu Tak Dianggap

Menantu Tak Dianggap
Sabtu Kelabu


__ADS_3

Keesokan harinya Frans yang semalam tidak dapat tidur dengan nyenyak karena begitu banyak yang dipikirkannya, apakah Rissa benar setuju untuk bercerai dengannya, hingga rencana apa kedepannya nanti setelah bercerai dengan istrinya. Memikirkan semua ini membuat kepalanya terasa sakit semalaman, sehingga dia tidak bisa tidur hingga subuh hari. Sampai akhirnya rasa kantuk yang begitu hebat menyerangnya barulah dia bisa tertidur sambil berharap semua ini hanyalah mimpi, saat terbangun nanti semua ini tidaklah nyata.


Namun sepertinya semua ini bukanlah mimpi, Frans yang tersadar karena melihat jam ditangannya sudah menunjukan pukul 11 siang segera bergegas kekamar mandi sekedar mencuci muka dan mengosok giginya. Langsung mengendarai motor blade kesayangannya, menuju kantor tempat istrinya bekerja. Ia tidak ingin terlambat bertemu dengan Rissa untuk memastikan semuanya secara jelas dan terang benderang. Karena hari ini merupakan akhir pekan tak banyak yang pergi bekerja sehingga kondisi jalanan tidak terlalu ramai, perjalanan Frans pun tidak mendapat hambatan sedikitpun kecuali lampu merah yang memaksanya berhenti. Laju sepeda motornya begitu cepat Frans tidak memperhatikan angka di spedometernya yang menyentuh hampir 90km/jam, kondisi jalanan yang sepi ditambah jalan raya penghubung antara kota JB dan TK yang lurus tak banyak belokan, membuat Frans terus memacu motornya tak memperdulikan apa pun lagi.


Memasuki kota TK Frans mulai menurunkan kecepatan laju kendaraannya disamping kendaraan yang ramai didalam kota TK juga banyak petugas yang berjaga disetiap lampu merah, Frans tak ingin perjalanannya terganggu karena kebodohannya sendiri, waktu jam pulang Rissa yang tersisa 30 menit lagi dirasa cukup untuk sampai dikantor istrinya sebelum Rissa dijemput terlebih dahulu oleh suami Donna David Yan.


Sesampainya ditempat Rissa berkerja Frans tak melihat mobil dari David Yan, sepertinya kecepatannya menuju kantor istrinya membuahkan hasil. Rissa yang berada didalam kantor sedikit merasa terkejut melihat kehadiran suami atau mantan suaminya, namun dirinya bersikap biasa saja, karena memang semua rekan kerjanya belum mengetahui bahwa ia dan Frans sudah bercerai. Setelah merapihkan meja kerjanya Rissa keluar menemui Frans, ada rasa kesedihan dimatanya namun berusaha ditahan olehnya.


Ingin rasanya saat itu juga Rissa memeluk mantan suaminya, namun kedatangan mobil David Yan langsung membuyarkan keinginannya tersebut. Frans yang juga melihat kedatangan suami Donna itu langsung menghampirinya setelah mengobrol sejenak dengan David, Frans lalu meminta ijin kepada David agar bisa mengajak Rissa mengobrol sebentar dan mengambil barang-barang milik Rissa dirumah kontrakannya.


David yang mengerti akan keadaan Frans dan Rissa juga karena merasa sedikit bersalah bagaimanapun juga perceraian mereka berdua disebabkan oleh keinginan istrinya Donna, mengijinkan mereka berbicara dari hati ke hati mungkin untuk yang terakhir kalinya. Frans langsung mengucapkan terima kasih kepada David, lalu membawa Rissa menuju cafe disekitar kota sutera tak jauh dari kantor istrinya. Frans segaja mencari cafe atau restoran yang tidak ramai pengujung agar bisa berbicara dengan Rissa tanpa ada gangguan.


David Yan yang sudah tiba dirumah, langsung ditanyai oleh Donna istrinya


"Papi gak jemput Rissa dulu, koq pulang sendirian" tanya Donna kepada suaminya yang saat itu hanya pulang sendiri tanpa adiknya Rissa


"Lagi pergi sama Frans, mau ngobrol sekalian ngambil barang-barang Rissa dirumah dia" jawab David yang langsung duduk disofa ruang keluarga miliknya


"Koq papi biarin sih, kan mami udah ngelarang dia orang berdua untuk bertemu lagi" jawab Donna yang terlihat sedikit kesal dengan suaminya


"Biarin aja knapa mi, jangan terlalu kejam jadi manusia itu, mereka juga pasti ada yang harus diomongin, lagian Frans juga udah ijin sama papi, mereka itu udah setahun nikah, mereka juga manusia bukan hewan, jangan dianggap kaya habis ngawinin kucing atau anjing selesai kawin langsung dipisahin kandangnya" jawab David lantang yang mulai merasa kesal dengan kelakuan istrinya tidak memiliki rasa empati terhadap adik dan mantan adik iparnya


Donna yang terkejut dengan ucapan suaminya hanya bisa memasang wajah masam sambil mengerutu didalam hatinya.

__ADS_1


Sementara itu, Frans dan Rissa yang berada dicafe hanya duduk berhadapan dan saling memandangi satu sama lain tanpa sedikitpun bersuara sedari awal mereka masuk kedalam cafe, seakan-akan mereka berbicara lewat hati masing-masing.


"Aku mau kamu jujur sama aku sa, kamu setuju apa gak kita pisah" tanya Frans mencoba membuka percakapan antara dirinya dengan Rissa dengan suara yang berat menahan kesedihannya


"Aku gak mau kita pisah yang, tapi aku juga gak bisa mempertahanin ego aku, kamu tau sendiri anceman cici bawa-bawa soal mama"


"Aku gak perduli lagi soal ramalan, tapi aku gak mungkin tega kalau mama sampe ikut menderita gara-gara kita" jawab Rissa yang mulai meneteskan air matanya


"Aku tau soal itu, tapi aku mau denger langsung dari mulut kamu sendiri. Kalau memang itu dari hati kamu, aku rela sa, aku siap terima. Meski kedepannya nanti aku gak tau harus apa dan gimana" ucap Frans sambil menghapus air mata Rissa, wanita yang begitu disayangi dan dicintai olehnya yang akan menjadi mantan istrinya


"Ya aku mau kita berpisah, terima kasih sudah menjadi suami yang baik buat aku, menerima aku apa adanya, menerima semua kekurangan aku"


"Biar kata orang kamu,gak bisa ngasih aku apa-apa. Tapi semua yang kamu berikan selama ini, adalah yang terbaik yang pernah aku terima dari siapapun" jawab Rissa dengan terisak


"Kalo emang semua itu jawaban dari hati kamu, aku Frans Lim menerima keputusan ini, kita berpisah sebagai suami istri. Namun aku minta kamu masih mau berhubungan sama aku, meski bukan sebagai suami istri lagi"


"Selamanya kamu akan selalu menjadi wanita yang spesial dihati aku, meski nanti aku udah ada penganti kamu. Tapi jika suatu saat nanti, Tuhan mengijinkan kita bersatu kembali aku akan terima kamu apapun kondisi kamu saat itu" ucap Frans memantapkan hati menerima keputusan dari mantan istrinya itu


"Soal itu aku gak bisa janji apa-apa ya, Biar Tuhan yang menentukan semuanya" jawab Rissa lalu membersihkan sisa-sisa air mata dipipinya.


Keduanya kemudian hanya kembali terdiam beberapa saat lamanya sambil larut dalam pikirannya masing-masing sampai menjelang sore hari. Setelah lama terdiam Frans lalu membawa istrinya pulang untuk mengambil barang-barang istrinya dirumah kontrakannya.


Setibanya dikontrakan Frans segera merapihkan barang-barang milik istrinya baju dan alat makeup dan benda pribadi milik Rissa dirapikannya kedalam koper milik istrinya, Frans berencana membawa yang terpenting dahulu baru sisanya nanti dia yang akan mengantarkannya kerumah mantan istrinya dikota gading.

__ADS_1


Selesai merapihkan barang-barang milik istrinya Frans lalu memeluk istrinya dan mencoba mencumbu istrinya untuk yang terakhir kalinya, Rissa yang terkejut dengan pelukan dari mantan suaminya tak kuasa menolak cumbuan dari Frans, cumbuan yang begitu hebat itu membangkitkan gairah keduannya hingga berlanjut kedalam permainan yang mengairahkan, Rissa tak mempermasalahkan keinginan mantan suaminya untuk berhubungan badan, anggap saja kado terakhir bagi Frans dari dirinya. Jika nanti Rissa akhirnya hamil pun dirinya siap untuk membesarkan anak mereka meski tanpa ikatan suami istri lagi.


Permainan disore hari itu menimbulkan suara yang memenuhi kamar dan keluar menembus dinding pemisah kontrakan Frans dengan tetangganya untung saja tak ada penghuni lain saat itu sepertinya sudah keluar untuk menghabiskan waktu di malam minggu. Kelelahan sehabis bergulat dalam permainan cinta keduanya lalu terlelap sejenak sampai tersadar hari sudah mulai malam, kemudian setelah membersihkan badan masing-masing Frans lalu mengantarkan Istrinya pulang ke rumah kediaman keluarga wie dikota gading.


Setibanya dikediaman keluarga wie, Frans mengantarkan Rissa kedalam sambil membawakan koper dan tas berisi barang-barang mantan istrinya, kemudian berpamitan kepada Johan dan istrinya Susan sambil meminta maaf kepada keduanya jika ada kesalahan selama Frans menjadi adik iparnya, kemudian keluar rumah keluarga wie.


Diparkiran sebelah rumah mantan istrinya ditemani oleh Rissa Frans pun berpamitan kepada mantan istrinya yang mengantarkannya sampai keparkiran


"Aku pulang ya sa, makasih udah pernah jadi istri yang baik untuk aku. Kamu jaga kesehatan kamu ya"


"Bilang sama ci Donna, aku cerai sama kamu bukan karena dia tapi demi kamu sama mama kamu, Duit yang mau dia kasih aku tolong bilangin sama dia simpan aja, aku gak akan pernah terima itu, karena sama aja aku menghina diri aku sendiri kalo sampe terima duit itu" ucap Frans sambil mengecup kening Rissa mungkin untuk yang terakhir kalinya


"Makasih juga udah jadi suami yang baik buat aku, kamu juga jaga kesehatan kamu, kurangi rokoknya sama jangan sering minum alkohol" jawab Rissa mengingatkan mantan suaminya itu kemudian membalas mencium pipi Frans


"Iya aku akan berusaha mengingat pesan kamu" ucap Frans lalu berpamitan pulang


Malam yang dingin menjadi saksi pertemuan sekaligus perpisahan kedua insan yang pernah disatukan oleh ikatan cinta sebagai suami istri, Frans yang didalam perjalanan pulang mau pun Rissa yang ada didalam kamar miliknya kembali larut dalam kepedihan dan kesedihan air mata keduanya kembali menetes terkenang akan pertemuan keduanya hingga menjalani pernikahan, serta meratapi perpisahan mereka.


Takdir yang menyatukan keduanya, takdir pula yang memisahkan keduanya.


-------------Bersambung-------------


Dukung terus karya author dengan saran dan kritik dikomentar

__ADS_1


Happy Fun Reading


__ADS_2