Menantu Tak Dianggap

Menantu Tak Dianggap
Perpisahan (Sementara?)


__ADS_3

Diakhir bulan ke dua tahun itu Frans yang baru saja menerima gajian berencana mengajak istrinya berkunjung kerumah mertuanya Jessi untuk sekedar makan malam bersama, Frans menelpon istrinya menanyakan makanan apa yang akan dibeli untuk mertuanya, setelah berdiskusi dengan Rissa istrinya mereka memutuskan setelah mejemput istrinya nanti untuk mampir memesan masakan chinese food tempat biasanya mereka memesan jika ada acara makan-makan bersama keluarga, sebuah restoran keluarga yang sudah lama berdiri dikota gading.


Sore hari menjelang malam selepas menjemput istrinya Frans mampir sebentar untuk mengambil pesanan bermacam masakan yang sudah dipesan oleh Rissa lewat telepon sore hari sebelumnya. Setelah mengambil pesanan langsung menuju rumah mertuanya yang jaraknya sekitar 3km dari kediaman keluarga wie, sebelum mereka tiba Rissa sudah memberitahukan Jessi agar malam ini hanya memasak nasi saja karena lauk pauk nanti dirinya dan suami yang akan membawanya.


Makan malam bersama dikeluarga wie saat itu dihadiri oleh Jessi, Frans dan istrinya Rissa, serta Johan dan istrinya Susan beserta anak mereka Jojo, sementara Donna dan suami, serta Joice dan suaminya Rudy tidak hadir malam itu. Meskipun tidak lengkap namun suasana makan malam tetap terasa hangat, terlebih selama ini Johan maupun Susan selalu bersikap netral jika terjadi masalah antara adik dan kakak tertuanya, meskipun selama ini memang Donna yang menghidupi keluarganya namun Frans dan Rissa juga bersikap baik terhadap anak mereka Jojo dan sering menjaga anaknya jika mereka berdua harus menghadiri acara mewakili keluarga wie.


Tak banyak yang dibahas malam itu, termasuk soal rencana Donna yang ingin Frans dan istrinya bercerai, Jessi sebagai ibu dan mertua memilih untuk menyerahkan keputusan kepada anak dan menantunya saja. Sementara Johan dan istrinya yang sedari awal hanya pemanis dikeluarga wie pun tak bisa banyak berbicara, meski Johan anak lelaki tertua dan satu-satunya David Wie dan Jessi tetap saja dimata Donna kakak tertuanya suara Johan tidak terlalu didengar. Karena selama ini terlebih sejak David wie meninggal keputusan mutlak diambil oleh Donna termasuk semua biaya bulanan kediaman keluarga David wie ditanggung oleh Donna.


Selepas makan malam Frans dan istrinya memutuskan beristirahat sejenak sebelum pulang kerumah mereka, sambil menyaksikan siaran film distasiun tv berbayar yang menyiarkan film holywood yang sempat booming tahun kemarin ditemani oleh Johan, sementara Jessi dan susan berserta Jojo anaknya sudah masuk kamar terlebih dahulu untuk beristirahat. Ditengah asik menonton tv BB Rissa berbunyi ada panggilan masuk dari nomor yang tak dikenalnya, entah karena malas atau takut ada Frans disebelahnya Rissa tidak ingin jika yang menelpon dirinya adalah Freddy yang terus menganggunya beberapa hari ini, Ia takut suaminya bisa salah paham kepada dirinya.


"Siapa yang nelpon kamu yang? koq gak diangkat takutnya penting" tanya Frans kepada istrinya yang nampak malas mengangkat panggilan masuk diBB miliknya


"Gak tau siapa, nomornya gak aku kenal, males ah paling sales asuransi dari kemaren nawarin aku terus nomornya gonta ganti terus" jawab Rissa agar suaminya tidak salah paham


"Owh ya udah, ditolak aja paling dapet nomor kamu dari data kartu kredit kamu, dulu aku juga sering begitu, ngomongnya gak sampe gocap ( 50 rb *thor) sebulan langsung masuk tagihan kartu kredit gak taunya ada biaya ini itu" lanjut Frans


"Iya, pulang yuk yang, aku udah mulai ngantuk, besok masih masuk kerja" ajak Rissa kepada suaminya


"Ya udah ayok" "Frans balik duluan ya ko Johan" ucap Frans berpamitan kepada Johan yang masih menonton film action di samping Frans dan Rissa


"Oke , hati-hati lu berdua udah malem, makasih traktiran makannya" jawab Johan sambil meluruskan posisi badannya di sofa ruang keluarga


" Iya ko , sama-sama" jawab Frans sembari membawa jaket dan tas istrinya berjalan keluar dari ruang keluarga wie


Saat sampai diparkiran samping rumah keluarga wie, baru saja istrinya duduk dijok belakang motor BB Rissa kembali mendapat panggilan masuk kali ini dari Donna


"Lu dimana sa? laki lu ada disitukan" tanya Donna sesaat Rissa menerima panggilannya


"Dirumah mama, baru mau jalan pulang, Frans ada, knapa ci? jawab Rissa


"Bilangin laki lu, besok minggu siang lu berdua kerumah mama, gw mau ngomong penting sama lu berdua, jangan sampe gak dateng" lanjut Donna kemudian mematikan panggilannya


"Donna nelpon knapa yang" tanya Frans kepada istrinya

__ADS_1


"Tau, katanya minggu siang kita disuruh kemari, dia mau ngomong penting sama kita bedua" jawab Rissa kemudian memakai helm lalu memeluk suaminya karena sudah sangat mengantuk


Frans yang mendengar jawaban dari istrinya tidak bertanya lebih lanjut, dan mulai menjalakan siputih menuju rumah mereka berdua karena istrinya yang mulai sangat mengantuk, malam sudah semakin larut dan cuaca sudah mulai mendung sehingga membuat udara terasa lebih dingin untung saja pelukan Rissa membuat punggungnya terasa lebih hangat. Dia pun tidak memikirkan tentang apa yang akan nanti dibicarakan oleh Donna dengan dia dan istrinya, pastinya soal ramalan dan keinginan Donna agar dia dan Rissa bercerai.


Meskipun harus bertengkar hebat dengan Donna iparnya Frans sudah memantapkan hati untuk menolak dan melawan keinginan dari iparnya itu, Dia akan sekuat hati dan tenaga mempertahankan pernikahannya dengan Rissa yang baru berusia 1 tahun ini, walau dalam hati kecilnya merasa jika mertuanya Jessi nanti akan lebih memihak kepada Donna terlebih dirinya hanya seorang menantu sedangkan iparnya anak kandung tulang punggung keluarga.


Namun Frans berpendapat tak ada salahnya berjuang sampai titik darah penghabisan, bagi Rissa adalah sosok yang akan menemaninya sampai akhir nafas kehidupan didunia ini, hidupnya yang sedari kecil tidak merasakan kasih sayang orang tua terutama sosok ibu, sejak kehadiran Rissa dalam hidupnya dirinya merasakan kembali kasih sayang dari sesorang wanita, meskipun tantenya selama ini merawat Frans hanya saja dirinya tidak merasakan kasih sayang yang seperti istrinya berikan bahkan saat masih pacaran dulu.


Minggu siang setelah mengikuti kebaktian hari minggu di Vihara tertua dikota lama tempat mereka melangsungkan janji nikah dulu, setelah mengikuti ibadah minggu. Frans dan istrinya berdoa kepada dewa - dewi dikelenteng sebelah vihara masih dalam komplek peribadatan umat Buddha dan Tridharma dikota lama, mereka berdoa memohon diberikan kekuatan dan jalan keluar untuk mempertahankan rumah tangga mereka berdua. Mereka langsung menuju kediaman kelurga wie.


Siang menjelang sore hari itu itu seluruh anggota keluargasudah berkumpul dikediaman keluarga wie, meski Frans dan Rissa belum tiba disana namun suasana nampak terasa tegang terutama antara Donna dan Jessi ibunya nampak sempat bersitengan sebelumnya.


"Mama harus ikutin apa yang Donna mau, ini semua demi kebaikan Rissa sendiri ma, apa mama tega ngeliat anak mama sengsara nantinya" ucap Donna yang terlihat kesal dengan Ibunya


"Mama cuma ngikutin apa maunya papa lu, gimana juga pernikahan ini kemauan dari papa lu Don" jawab Jessi yang terlihat putus asa menghadapi kengototan putri tertuanya


"Klo hasil ramalannya kaya begini, apa papa bakalan terus setuju ma sama pernikahan ini belum tentu juga kan ma" lanjut Donna mempertahankan pendapatnya


"Nih anak berdua kemana lagi, awas aja kalo sampe gak dateng, gw maki2 nanti biarin aja didepan orang banyak juga" lanjut Donna yang sudah makin terlihat kesal


Setibanya dikediaman keluarga Wie Frans dan Rissa yang baru saja masuk ke rumah langsung disidang dimeja makan ruang makan keluarga wie, Donna dan suaminya duduk disebrang tempat Frans dan Rissa istrinya duduk, sementara Jessi ditengah keduanya, sementara keluarga yang lain hanya menyimak diruang keluarga tak jauh dari ruang makan.


"Lu berdua udah pada tau kan apa hasil ramalan cek Ishan, dan lu berdua masih mau lanjutin, denger ya terutama lu Frans, gw hargai pendapat lu soalnya ramalan, tapi tolong hargai kepercayaan keluarga ini, gw sekeluarga percaya apa omongan dari cek Ishan, dan terbukti apa hasil ramalannya selalu bener" ucap Donna yang tanpa komando langsung mencecar Frans dan Rissa


"Lu berdua masih muda, masih bisa dapet yang lebih baik lagi, mumpung masih bisa dicegah udah jangan dipaksain terus, gw gak perduli kalau lu terbiasa hidup susah, tapi sori, gw gak bakalan ngijinin ade gw sampe hidup susah bareng lu" lanjut Donna


"Saya menghormati dan menghargai pendapat ci Donna dan mama, tapi mohon maaf ci, yang menjalani pernikahan ini kami berdua tolong cici hargai keputusan saya sama Rissa"


"Jika memang saya seumur hidup harus kerja keras agar bisa makan, toh emang jalan manusia itu kalo mau makan ya harus kerja" lanjut Frans mencoba mempertahankan pendapatnya dihadapan iparnya


Prang..... bunyi gelas yang dibanting oleh Donna yang nampaknya begitu kesal karena ucapannya dibantah oleh Frans


"Rissa gw sebagai kakak tertua lu memutuskan pokoknya lu harus menceraikan laki-laki tak berguna ini" teriak Donna yang tak bisa menahan emosinya lebih lagi

__ADS_1


"Tapi kami baru menikah 1 Tahun ci, Biarkan dia membuktikan bahwa dia bisa sukses seperti suami cici juga seperti koko ipar yg lain" ucap Rissa sambil menahan air matanya.


"Apa yang bisa lu harapankan dari laki-laki ini cuma ngandalin jabatan kepala gudang, li pikir sendiri berapa gaji dia perbulan?" "Bahkan gaji lu perbulan lebih besar dari dia.'' Raut wajah Donna semakin memerah karena mendapat bantahan adik bungsunya.


"Memang apa salahnya jika saya cuma seorang kepala gudang, selama ini say sanggup memenuhi kebutuhan kami berdua, Dan memang betul gaji Rissa lebih besar dari gaji saya, Tapi aku berani bersumpah demi Tuhan semesta alam, tak pernah sidikitpun saya menghabiskan gaji Rissa" Ucap Frans sambil bangun dari kursinya.


"Diam lu memangnya apa hak lu untuk berbicara disini, kalau bukan kemauan Papa dari awal gw gak sudi punya adik ipar kaya lu"


"Ci gimana juga nikah sama Frans memang keinginan Rissa sendiri, memangnya apa salah dia. Bukannya dari awal kami pacaran cici gak pernah mempersalahin hal ini" ucap Rissa mencoba menenangkan Suami dan kakak pertamanya


"Ya gw gak masalah lu berdua pacaran, tapi sampe nikah, gw gak pernah setuju sampai kapan pun, klo bukan karena papa maksa buat nikahan lu berdua, pernikahan ini seharusnya gak pernah ada" jawab Donna yang sore itu seakan ingin segera menerkam adik dan ipanya itu


"Mami tenang jangan emosi begitu, setidaknya mereka berdua udah siap dengan segala resikonya" ucap David Yan meredakan emosi istrinya


"Udah cukup, papi gak usah ngebela mereka berdua lagi, biar ini mami yang urus" jawab Donna


"Pokoknya gw gak perduli lu berdua harus cerai hari ini juga, lu dengar ya sa, sampe lu gak mau cerai sama laki lu, mami juga kalo masih dukung Rissa sama lakinya, lu tanggung sendiri ya sa, biaya hidup rumah ini, gw gak perduli lagi" lanjut Donna sambil mengebrak meja dengan keras sehingga membuat kaget anak-anak yang sedari tadi sudah dibawa Susan menuju kamar depan agar tidak mendengarkan isi percakapan orang dewasa.


Melihat situasi yang mulai panas Rudy Tan berinisiatif segera menarik Frans dan Rissa menuju teras depan rumah kediaman keluarga wie


" Udah lu sama bini lu pulang aja dulu bro, jangan dilanjutin lagi nanti yang ada malah tambah rame" ucap Rudy mencoba mencegah hal tidak diinginkan terjadi.


"Lu berani balik jangan harap pernah bisa masuk kerumah ini lagi ya sa, sekalian lu bawa mama tinggal sama lu" teriak Donna dari ruang tamu mengancam Rissa yang ingin pulang bersama suaminya


Frans yang tak menyangka kemarahan Donna begitu hebat sampai membawa-bawa Jessi mertuanya hanya bisa pasrah, meninggalkan rumah mertuanya tanpa istrinya Rissa. Bisa saja dirinya membawa serta Jessi tinggal bersamanya, diapun tak keberatan toh dirumahnya saat ini masih ada 1 kamar yang kosong, namun jika sampai adik dari Jessi dan David wie mengetahui ini Frans tak membayangkan akibatnya nanti karena sudah pasti dirinyalah yang akan disalahkan.


Sambil menenangkan emosi Donna, Frans meminta Istrinya untuk tinggal sementara menemani mertuanya yang sangat sedih melihat pertengkaran anak dan menantunya, Frans juga berjanji akan tetap mempertahankan pernikahan ini apapun yang akan terjadi, dan meminta Rissa untuk tetap bersamanya nanti.


---------------Bersambung---------------


Jangan lupa saran dan kritiknya agar karya author semakin baik lagi alur cerita dan penulisannya


Happy Fun Reading

__ADS_1


__ADS_2