Menantu Tak Dianggap

Menantu Tak Dianggap
Menolak untuk menyerah


__ADS_3

Frans dan istrinya yang seharusnya bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat dirinya maupun istrinya Rissa, memutuskan untuk kembali saja karena kondisi emosi istrinya sedang tidak bagus moodnya, sehingga bila dipaksakan untuk melanjutkan perjalanan Frans takut dia tidak bisa lagi menahan emosinya akibat sikap istrinya dari pagi tadi. Hari kedua imlek seharusnya memang jangan sampai bertengkar tidak bagus nantinya bisa dijauhi keberuntungan begitulah apa yang dipikirkan saat itu, disamping memang tidak ingin bertengkar lebih lagi dengan istrinya.


Untuk menenangkan emosi istrinya yang masih terus menangis, saat memasuki kawasan kota gading Frans membawa istrinya menuju taman yang disediakan oleh pengelola kota gading untuk warga penghuni sekitar untuk berolahraga, dilengkapi trek untuk berlari ringan serta beberapa bangku taman yang menghadap kearah danau buatan sebagai wadah penampung air hujan. Suasana yang masih sepi menjelang sore hari itu cocok untuk menenangkan pikiran, serta mendingin suasana hati keduanya yang sempat tersulut emosi sesaat ketika berada di Mahapatih plaza.


Danau buatan seluas hampir 1 hm² itu sengaja dibuat pengembang selain untuk menampung air hujan juga sebagai sarana rekreasi dan olahraga sebagiannya juga sebagai fasilitas penunjang komplek perumahan dikota gading yang menawarkan pemandangan danau di halaman belakang rumah pemiliknya, gemericik air yang berasal dari air mancur ditengah danau sangat memanjakan mata dan telinga sore hari yang cukup terik itu, hembusan angin diantara pepohonan akasia disekitar taman juga beraneka warna-warni bunga yang mulai bermekaran menambah ketenangan jiwa siapapun yang datang baik untuk berolahraga atau sekedar bersantai disore hari. Tak heran jika selama bulan puasa taman ink selalu penuh dengan manusia yang menghabisan waktu untuk menunggu waktu berbuka tiba.


Frans mengajak istrinya duduk duduk disalah satu bangku taman yang terbuat dari coran beton yang dibuat seperti batang pohon kelapa. Meski mereka sudah menikah entah mengapa saat ini mereka duduk seperti orang yang baru pertama kali bertemu, Frans sudah mencoba untuk duduk disamping istrinya namun entah mengapa Rissa selalu mengeser posisi duduknya, tak ingin bertengkar lagi Frans pasrah saja dengan sikap istrinya.


"Tadi katanya mau ngomong serius, ya udah mau ngomong apa, disini aja tempatnya juga sepi" ucap Frans kepada istrinya, Frans sengaja memilih duduk tak jauh dari bibir danau namun tidak dilewati trek lari sehingga jarang orang yang lewat bagus untuk berbicara tanpa ganguan orang yg lewat.


Rissa yang mendapat pertanyaan dari suaminya, tak langsung menjawab hanya memandang jauh kearah depannya, air matanya yang sempat berhenti kembali membasahi pipinya, Frans yang melihat istrinya kembali menangis hanya terdiam kemudian memberikan sapu tangan dari tas istrinya. Lalu ikut memandangi air mancur ditengah danau, sambil memikirkan ada apa sebenarnya yang terjadi antara dia dan Rissa istrinya.


"Ci Donna minta aku sama kamu pisah aja" ucap Rissa tiba-tiba lama setelah keduanya terdiam larut dalam pikirannya masing-masing. sambil mengelap air matanya dengan sapu tangan yang diberikan oleh Frans.


"Haaa, pisah! apa masuk kamu sa? Kita disuruh cerai gitu? gak... aku gak akan pernah ceraiin kamu, lebih baik aku mati, dari pada disuruh pisah sama kamu" jawab Frans terkejut oleh ucapan istrinya


"Lagi pula apa dasar dan hak dia nyuruh kita berpisah" lanjut Frans yang menolak ucapan dari istrinya


"Kamu ingetkan kemarin kita ketempat cek ishan, kita berdua dibacain nasibnya sama cek ishan, aku juga gak mau kalau hasilnya seperti ini" jawab Rissa kemudian menjelaskan semua hasil ramalan mereka, juga soalnya pembicaraan antara dirinya dengan Ibunya berserta Donna dan suaminya pagi tadi.


"Aku juga mau kita pisah, aku juga bingung harus gimana. Apalagi hasil ramalan cek Ishan tuh hampir selalu tepat, aku gak mau yang, kedepannya hidup kita menderita bahkan buat makan aja susah" lanjut Rissa yang tak bisa lagi menahan semua beban dihatinya lalu menangis dengan keras. Untung saja tidak ada yang mendengar tangisan dirinya sore itu tertutup suara gemercik air mancur yang tertiup angin.

__ADS_1


Frans yang melihat tangisan istrinya yang begitu keras untuk pertama kalinya, tidak tahan lagi kemudian merangkul istrinya dan memeluknya dengan erat sambil mengusap punggung istrinya agar melepaskan semua beban dihatinya. Rissa yang awalnya menolak pelukan dari suaminya akhirnya membalas pelukan Frans suaminya, kemudian menangis lebih keras didada suaminya.


"Aku juga gak mau pisah dari kamu, aku sayang kamu yang, knapa semua ini harus tejadi sama kita, knapa papa harus meninggal lebih dulu, knapa yang hu..hu.huuu" ucap Rissa yang masih menangis dipelukan suaminya


"Kalo aja papa masih ada, pasti bakalan ada yang belain aku, pasti papa juga gak akan ngijinin kita cerai" lanjut Rissa sambil terisak


"Kamu gak boleh begitu, papa udah tenang disana, biar masalah didunia jadi tanggung jawab aku, aku pernah janji sama kamu gak akan pernah ninggalin kamu, sampai mati pun aku gak akan pernah bercerai dari kamu sa" jawab Frans menenangkan istrinya


"Kamu tau sifat aku sa, aku bukan orang yang terlalu percaya dengan ramalan dan sejenisnya ambil aja bagusnya buang jeleknya. Aku laki-laki biar harus kerja keras menafkahi kamu, yang itu memang kewajiban dan tanggung jawab aku sebagai seorang suami. Janji aku didepan Banthe ( Bhiksu : Rohaniawan agama buddha *thor ) saat janji pernikahan dulu akan selalu aku pegang sampai selamanya"


"Tapi kamu tau sendiri sifat cici aku yang, aku takut nantinya malah mama yang kebawa-bawa" jawab Rissa yang tangisnya mulai mereda


"Kita bukan anak kecil lagi sa, yang harus nurut dan ngikuti apa perintah dia, jangan mentang-mentang dia punya duit terus bisa memutuskan pernikahan orang lain seenaknya" lanjut Frans yang tidak perduli dengan kehendak kakak iparnya.


"Aku takut yang gak tau harus ngomong apa nanti sama ci Donna" jawab Rissa yang sedari kecil memang tidak memiliki kuasa menolak kemauan dan perintah dari kakak tertuanya Donna.


"Intinya kamu mau ikutin apa maunya Donna, atau terus lanjut hidup bersama aku apapun resikonya nanti? masalah cici aku biar nanti aku yang ngomong langsung ke dia" tanya Frans pada istrinya


"Aku juga gak tau yang, aku binggung, jangan paksa aku buat jawab sekarang" pinta Rissa pada suaminya lalu kembali terisak.


"Ya udah, biar nanti aku ngomong sama mama, yang pasti apapun resikonya aku gak akan pernah mau bercerai dari kamu meski nyawa aku taruhannya" jawab Frans sambil mencoba meredakan tangis istrinya dan amarah dihatinya.

__ADS_1


Sepanjang sore sampai menjelang langit mulai gelap Frans dan istrinya menghabiskan waktu berdua ditaman itu tanpa banyak berbicara, larut dalam pikiran masing-masing sambil sesekali berpelukan. Sehingga membuat saat ada yang lewat dibelakang mereka merasa heran ataupun cemburu melihat tingkah mereka saat itu.


Cahaya lampu taman yang mulai dinyalakan sebagai perangan taman membuyarkan pikiran mereka berdua, jika saja bukan karena nyamuk-nyamuk yang mulai banyak berdatangan menganggu kemesraan mereka mungkin Frans dan istrinya tidak akan beranjak dari sana sampai nanti jika ditegur oleh keamanan yang biasa berpatroli dimalam hari untuk mencegah ada yang berbuat mesum ditaman, karena memang taman ini hanya dibuka untuk publik dari pukul 5 pagi sampai 9 malam.


Frans meminta istrinya hari ini untuk pulang saja kekontrakan mereka, jangan menginap dirumah orangtua Rissa. Meski sempat menolak namun akhirnya karena tidak tega pada suaminya Rissa setuju untuk pulang bersama suaminya, Frans yang merasa senang karena istrinya sudah mau pulang bersamanya nampak seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah, sementara Rissa yang melihat tingkah suaminya itu hanya tersenyum lalu tertawa kecil kemudian berjalan mengandeng tangan suaminya menuju tempat parkir motornya yang berada lumayan jauh dari tempat mereka duduk tadi.


Sebelum pulang menuju kerumah mereka, Frans mengajak istrinya mampir ke warung sate, untuk mengisi perut karena istrinya belum makan apapun dari siang tadi. Frans memesakan istrinya seporsi sate ayam lengkap dengan lontong nasi, sementara dirinya memesan 1 porsi sate kambing untuk meningkatkan staminanya malam ini.


Setelah menghabiskan semua hidangan dimeja termasuk sisa makanan milik istrinya yang tidak bisa dihabiskan Rissa, Frans kemudian membayar makanan yang mereka pesan tadi, menghabiskan 45 ribu rupiah untuk 1 porsi sate ayam plus lontong dan 1 porsi sate kambing plus nasi dan 2 gelas es jeruk. Lalu melajukan motornya menuju jalan pulang.


Setibanya dirumah setelah memasukan motornya kedalam ruang tamu, Frans lalu mengunci pintu dan dan jendela dengan rapat kemudian mematikan lampu ruang tamu, untung saja sepertinya tetangga kanan dan kiri rumahnya sedang tidak ada sekakan mengerti apa yang akan terjadi malam ini, tak lama memudian segera mandi untuk menghilangkan keringat dibadan dan mengosok gigi berulang kali sampai bau daging kambing sate yang ia makan tadi tidak tercium lagi, namun agar makin pede dirinya pun memakan permen wangi penyegar mulut.


Rissa yang paham dengan keinginan suaminya lantas segera mandi dan mengambil seragam tempur miliknya yang sudah lama tidak digunakan. tak lama sesudah mandi Rissa keluar dengan seragam tempurnya lingerie biru muda yang menerawang memperlihatkan setiap lekuk bentuk tubuhnya, kulitnya yang putih mulus langsung membuat suaminya menelan ludah, entah mengapa meski sudah terbiasa melihat istrinya tanpa sehelai benang ditubuhnya, rasanya malam itu begitu berbeda, Suara ******* mereka berdua malam itu tak bisa lagi diatur volumenya, masa bodo kalau didengar tetanggga pikir Frans sambil mulai terus mengempur pertahanan istrinya. Hampir 1 jam mereka bertempur dengan berbagai gaya setelah Rissa mulai tampak lelah melayani permainan suaminya, Frans memutuskan mempercepat tempo permainan dengan posisi gaya standar dalam bercinta, seiring bertambah cepatnya tempo permainan Frans merasa dirinya akan segera mencapai puncaknya, ribuan serdadu yang sudah beberapa hari ini sengaja disimpan dalam kantong baraknya siap menyembur keluar dari markas mereka.


Sebelum mengakhiri jurusnya Frans berdoa sejenak sebelum akhirnya memuntahkan ribuan sel-sel putih miliknya, berdoa memohon kepada Dewa-Dewi agar ada satu saja dari ribuan prajuritnya yang mencapai sel telur didalam rahim milik Rissa istrinya. Sehingga dengan kehamilan istrinya tidak ada lagi yang akan memaksa untuk memisahkan mereka berdua. Kelelahan akibat permainan mereka berdua malam ini, Frans tidak perduli dengan kondisi tempat tidurnya yang berantakan lalu menarik selimut untuk tidur sambil memeluk istrinya yang sudah mulai terlelap. Udara yang mulai dingin malam itu tak bisa menganggu kehangatan mereka berdua.


-----------------Bersambung-----------------


Dukung terus karya author dengan saran dan kritiknya dikolom komentar


Happy Fun Reading

__ADS_1


__ADS_2