
Rama dan Naura masih berdiri diteras rumah, sepertinya keduanya sama sekali tidak ada niat untuk duduk, sebab sepertinya salah satu dari mereka tidak ingin berinteraksi terlalu lama, siapa lagi kalau bukan Naura, gadis itu bukannya tidak suka, tapi gadis itu merasa jika percuma saja berlama-lama dengan Rama, toh pria itu tidak akan percaya dengan apa yang ia katakan.
'' Sudahlah kak, sebaiknya kak Rama pulang saja, aku juga mau istirahat.'' ucap Naura, gadis itu pun langsung kembali melangkahkan kakinya menuju rumah, meninggalkan Rama yang masih berdiri diteras rumahnya. Sementara Rama sendiri langsung pulang kerumah nya yang berada tepat disamping rumah Naura.
Malam harinya terlihat keluarga Prayoga sedang makan malam bersama, terlihat tidak ada yang bicara hingga mereka selesai makan.'' Rama boleh bunda minta tolong gak sama kamu?'' tanya Irma, pada putra bungsunya tersebut, mereka baru saja selesai makan malam.
'' Minta tolong apa bun?'' tanya pemuda tersebut sambil menatap wajah sang bunda.
'' Tadi bunda buat kue hasil nyoba resep baru, dan hasilnya sangat enak,, nanti tolong kamu anterin ya kerumah tante sarah?' ucap Irma, belum lagi Rama menjawab tiba-tiba Adit langsung memotongnya
'' Biar aku aja yang anter bun, soalnya aku juga mau main kerumah tante sarah, kangen sama calon istri.'' sambung Adit, pria itu melirik kearah Rama yang hanya memasang wajah datar.
'' Kamu gak keberatan kan kalau Abang yang mengantar nya?'' sambung Adit sambil melihat kearah sang adik.
'' Kenapa harus ke beratan? kalau mau silahkan saja.'' ucapnya dan Adit hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
'' Baiklah kalau Adit yang mau antar kue nya, bunda siapkan dulu ya.'' ucap Irma yang langsung bangkit dari duduknya, ia tak perduli mau Rama atau pun Adit yang nantinya bersama dengan Naura, yang jelas ia ingin gadis itu tetap jadi menantunya, rasanya Irma tidak rela jika sang ponakan tersayang diambil pria lain, percuma saja punya anak perjaka tampan sampai dua orang, kalau tidak bisa mengambil hati gadis itu, pikirnya. Walaupun sejak awal ia ingin Naura bersama Rama. Tapi tidak masalah, sama Adit juga dia dukung, toh sama-sama putranya.
'' Ini sayang, tolong bunda ya antar kerumahnya Naura, tadi bunda juga sudah bilang sama Tante Sarah.'' jelas Irma
__ADS_1
'' Ok bun, aku kesan dulu.'' ucap Adit sambil membawa paperbag yang ada diatas meja, sedangkan Rama yang masih berada diruang makan hanya menatap datar punggung saudaranya yang kian menjauh.
'' Benar kamu rela kalau Naura diambil sama bang Adit?'' tanya Irma, saat ini mereka sedang duduk didepan tv, sedangkan Imron sudah beristirahat dikamar, lelah seharian berada dikantor, banyak sekali kerjaan hari ini, begitulah keluhan pria paruh baya itu pada sang istri tadi.
Rama yang tadi nya memainkan ponsel langsung menoleh kearah sang bunda.'' Rama tidak masalah jika bang Adit bersama Naura bun, itu juga kalau Naura nya mau sama bang Adit.'' sambung nya, dengan suara yang pelan diakhir kalimat, namun masih bisa terdengar oleh Irma
Irma menaikan satu alisnya sambil menatap sang putra.'' Maksud kamu apa nak?'' tanya wanita tersebut
'' Bunda kan tau kalau Naura itu suka banget sama Rama, apa menurut bunda bang Adit bisa menaklukan hatinya?''
Irma tersenyum saat mendengar jawaban Rama, ia merasa Rama tidak rela jika Adit mendekati Naura.'' Kamu meremehkan kemampuan abangmu sayang? kamu lupa kalau Adit pernah membuat tangisan Naura berhenti saat kamu meninggalkannya dulu?'' ucap Irma mengingatkan. Tiba-tiba ingatan Rama berputar pada kejadian dua tahun yang lalu, dimana saat itu Naura menangis karna tak ingin Rama pergi meninggalkannya, padahal saat itu Rama hanya hendak pergi keacara sekolah, sedangkan Naura yang saat itu belum bersekolah ditempat yang sama menangis karna hendak ikut, namun Rama menolaknya, dengan alasan hanya boleh dihadiri oleh murid sekolahnya saja. Namun seketika Adit datang dan langsung membujuk Naura agar gadis itu berhenti menangis dengan cara memberikan nya boneka beruang yang sangat lucu, dan seketika Naura pun berhenti menangis dan melupakan alasan kenapa ia menangis tadi. Naura memang sangat manja dan juga cengeng, meski pun begitu Adit selalu suka menggoda gadis cengeng itu, berbeda dengan Rama yang selalu bersikap cuek padanya.
Saat ini Rama sedang berada dikamarnya, seketika ia kembali teringat dengan ucapan bundanya tadi.'' Kenapa aku harus mikirin ucapan bunda, kalau Naura juga suka bang Adit, ku rasa itu bagus.'' gumamnya, tapi entah kenapa perasaannya mengatakan tidak ikhlas.
Didalam kamar bernuansa pink terlihat seorang gadis yang baru saja membuka matanya, dia adalah Naura. Gadis cantik itu menatap jam yang ada diatas nakas.'' Astaga aku kesiangan.'' pekiknya yang langsung bangkit dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Tak lama terlihat Naura keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian olahraga, hari ini hari Minggu dan dia ada janji dengan Adit, mereka akan joging bersama.
'' Sayang kamu mau joging?'' ucap Sarah saat melihat penampilan putrinya.
'' Iya mah, udah janji sama bang Adit, kalau gitu aku pergi dulu.'' ucapnya yang langsung berlari keluar tanpa menunggu jawaban sang ibu.
__ADS_1
'' Sama Adit? apa dia sudah mulai melupakan Rama?'' gumam Sarah menebak
'' Bunda!" panggil Naura saat melihat Irma sedang belanja sayur didepan rumah, di komplek perumahan mereka memang setiap paginya selalu ada tukang sayur yang lewat, dan itu sudah menjadi langganan ibu-ibu komplek, sambil belanja sambil bergosip, begitulah kebayangkan ibu-ibu pada umumnya.
'' Eh sayang mau joging ya?'' tanya Irma dan Naura mengangguk sebagai jawaban
'' Sama bang Adit?'' sambungnya lagi dan Naura kembali mengangguk, Irma memang tau jika mereka akan joging, sebab Adit yang mengatakannya tadi malam.
'' Oh, yasudah masuk saja, sepertinya dia masih dikamarnya deh.'' ucap Irma
'' Masih bobok bang Adit nya bun? yasudah kalau gitu aku kedalam dulu ya Bun.'' ucap gadis itu, lalu melangkah masuk kedalam pagar rumah mereka. Naura melangkah masuk, saat diruang tamu ia melihat pakdenya Imron sedang membaca koran, gadis itu pun langsung menghampirinya
'' Morning pakde.'' sapa gadis itu, pada Abang dari ibunya
'' Eh ada Naura, pagi juga sayang, mau joging sama Rama ya?'' goda Imron, sambil melirik kearah Rama yang kebetulan saat itu baru turun dari kamarnya
'' Bukan pakde, tapi mau joging dengan bang Adit.'' jawabnya.
'' Oh jadi sekarang Naura sudah pindah kelain hati ya sayang?'' Imron semangkin menggoda sebab Rama terlihat menatap kearah mereka
__ADS_1
'' Pakde apaan sih,'' ucap Naura merasa tak enak, karna disana ada Rama, walaupun masih kesal, namun kalau ditanya masalah perasaannya, tentu saja itu masih tetap sama. Walau sudah disakiti dan sakit hati, namun cinta Naura pada Rama tak akan berubah, hanya saja saat ini ia sedang menjaga sedikit jarak pada pemuda itu, karna merasa sakit hati. Dan Naura tak ingin menjelaskan apapun lagi, biarlah nantinya Rama mengetahuinya sendiri, mana yang tulus dan mana yang hanya ingin memanfaatkan.
Next