
Sepanjang jalan Rama terus menggerutu, wajahnya juga terlihat sangat bette, sangkin bette nya pemuda itu, sampai telpon dari Amel pun tidak ia angkat. Irma yang melihat wajah putranya cemberut tak tahan ingin bertanya.
" Sayang kamu kenapa?" tanya wanita paruh baya itu, ia melangkah mendekati putranya yang saat itu ingin melangkah menuju anak tangga
" Gak apa-apa kok Bun, kalau gitu aku naik dulu ya Bun." setelah mengatakan itu Rama langsung melanjutkan langkah nya menuju lantai atas dimana letak kamarnya berada, sebenar nya bisa saja pemuda itu kembali kekamar nya lagi lewat balkon, dan tak perlu dirinya repot- repot seperti ini, hanya saja tidak mungkin ia lakukan sebab disana ada Adit. Dan Abang nya itu pasti tidak akan memperbolehkannya bertindak seperti itu. Setelah Rama naik kamarnya tak lama Adit pun datang, membuat Irma langsung mengalihkan pandangannya setelah mendengar salam dari arah pintu masuk
" Sayang kamu tau adikmu itu kenapa?" tanya Irma langsung, ia pikir mungkin Rama tau penyebab putra bungsunya itu berwajah masam seperti itu.
" Memangnya dia kenapa Bun?" tanya balik Adit yang belum terlalu faham maksud sang bunda
" Itu si Rama tadi bunda lihat pulang- pulang wajahnya masam seperti jeruk nipis, kamu tau kenapa dia seperti itu?" ulang Irma. Adit tersenyum lalu menganggukan kepalanya
" Dia cemburu Bun sama aku." setelah mengatakan itu Adit langsung melangkah kan kakinya menuju anak tangga meninggalkan Irma yang masih mencerna ucapan putra sulungnya tersebut, ada apa dengan kedua putranya itu, kenapa mereka bersikap aneh, pikir nya
" Eh eh Adit bunda belum selesai bicara loh, memangnya kenapa Rama bisa cemburu sama kamu nak?" Irma menaikan nada bicaranya saat Adit mulai tak terlihat lagi dari pandangannya
" Haiss, ada apa dengan kedua putra ku itu, punya dua anak laki- laki tampan memang membuat pusing." gerutu Irma sambil kembali ke dapur untuk meneruskan kegiatannya yang sempat tertunda.
*
*
__ADS_1
*
Sedangkan dikediaman Amel, terlihat Dina sedang merapikan penampilannya, sepertinya wanita itu akan pergi hari ini. Setelah selesai dengan tampilannya Dina pun langsung keluar dari kamarnya, tak lupa dengan tas branded yang bertengger dibahunya, hadiah dari seseorang dari masa lalu.
" Mama mau kemana sudah serapi ini?" tanya Amel yang baru keluar dari kamarnya, gadis muda itu terus menatap kearah Dina membuat yang ditatap hanya menampilkan senyumannya.
" Mama mau pergi dengan om Dika, mama pernah cerita kan sama kamu tentang om Dika?" tanya Dina pada anaknya
" Mantan mama itu ya?" tebak Amel yang langsung diangguki oleh wanita cantik tersebut.
" Memangnya dia belum menikah ya mah?" Amel sangat penasaran dengan sosok yang disebut oleh mama nya itu, karna memang Amel sendiri belum pernah bertemu atau pun melihat pria yang dimaksud oleh mama nya itu.
" Mah, mama dekat dengan suami orang? Apa mama mau jadi pelakor?" ucap Amel sambil menutup mulutnya sendiri karna tak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan, begitu juga dengan Dina yang tidak menyangka jika putrinya itu bisa berkata demikian.
" Maaf mah aku gak bermaksud berkata seperti itu, hanya saja tadi mama sempat bilang kalau om Dika itu sudah menikah, berati kan mama sama saja ingin merusak rumah tangga orang lain mah." ucap Amel tak percaya kalau mama nya bisa berbuat seperti itu. Amel tidak akan setuju jika mama nya merebut suami orang. Walau Amel sendiri tega menikung sahabatnya, namun gadis itu berdalih jika saat itu Rama dan Naura belum memiliki hubungan apapun, berbeda dengan ibunya saat ini yang malah sengaja pergi dengan pria beristri. Mendengar ucapan putrinya Dina menghela nafas, lalu melangkah mendekati putrinya.
" Kemarilah, mama ingin bicara dengan mu sebentar." Dina menuntun anaknya menuju sofa yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
" Dengar kan mama sayang, sebenar nya mama dan om Dika gak selingkuh, kami hanya bernostalgia saja, kamu tenang saja, mama gak akan merusak rumah tangga orang lain, kecuali jika memang om Dika sudah tidak mencintai istrinya lagi."
" Maksud mama apa? Aku masih gak ngerti deh."
__ADS_1
" Eemm,, gini ya sayang, terkadang ada sesuatu hal yang anak- anak belum boleh tau banyak tentang urusan orang dewasa, mama hanya butuh teman sayang, dan om Dika menawarkan diri untuk selalu ada disaat mama sedang butuh seseorang untuk berbagi." ucap Dina
Amel menatap tajam kearah mama nya, ucapan Dina terlalu ambigu menurutnya, membuat Amel langsung memikirkan hal yang kotor." Maksud mama dengan berbagi apa? Apa berbagi kehangatan?" sambung gadis itu, Dina yang mendengar langsung salah tingkah, ternyata putrinya itu tak sepolos yang ia duga.
" Ya ampun sayang kamu mikir apa sih, sudah lah mama mau jalan dulu, kamu hati- hati ya dirumah, atau kamu mau pergi juga sama Rama?" goda Dina
" Gak mah, aku lagi males." jawabnya, sebenar nya Amel tadi sempat menghubungi Rama dan mengajak lelaki itu untuk nonton, hanya saja Rama menolak dengan alasan kurang enak badan. Mengingat itu seketika ide dikepala Amel muncul.
" Sebaiknya aku kerumahnya untuk menjenguk keadaannya." gumamnya sambil tersenyum.
Sedangkan dirumah Naura terlihat papa dan mama nya sedang cekcok mulut didalam kamar." Mas belakangan ini kamu berubah tau gak, kamu selalu pergi dengan alasan kerja, bahkan dihari libur pun kamu selalu kerja, apa kamu lupa kalau kamu itu masih punya anak istri hah?" ucap Sarah, wanita itu terus memperhatikan suaminya yang sedang memakai jam tangan miliknya, bersiap untuk pergi. Tiga puluh menit yang lalu Sarah ingin mengajak suaminya pergi diner berdua, namun pria itu menolaknya dengan alasan sudah ada janji dengan klien, tentu saja Sarah tidak percaya begitu saja, sebab ini juga masih hari libur dan tidak mungkin suaminya itu sedang mengurusi urusan kantor dihari libur, Sarah bukan wanita bodoh, walau pun Roby memberi alasan yang masuk akal tetap saja Sarah tidak begitu muda mempercayainya. Apa lagi ia tau jika abangnya Imron berada dirumah sejak semalam, bukankah mereka satu perusahaan, mana mungkin Imron tidak tau jika suaminya ada klien diluar kemarin pikirnya.
" Sarah sudah lah jangan seperti anak kecil, mas itu sungguh ada kerjaan, lagian mas hanya sebentar saja, mumpung orangnya ada di kota ini, jadi dia sekalian ngajakin ketemuan buat membahas proyek yang sedang kami kerjakan sama- sama." jelas nya lagi
" Tapi mas--,,"
" Mas janji setelah selesai meeting kita akan pergi untuk diner berdua okey?!" ucap Roby mulai melembutkan suaranya lalu mengusap kepala istrinya setelah itu pria tersebut langsung keluar dari kamar meninggalkan Sarah yang masih menatap kepergian suaminya
" Kenapa perasaan ku gak nyaman ya? Apa sebaiknya aku ikuti saja mas Roby?" gumamnya bermonolog.
Bersambung
__ADS_1