
Jam sudah menunjukan pukul delapan malam, terlihat semuanya masih duduk ditempat yang sama, tak ada yang berniat untuk pindah dari tempat itu. Baik Rama dan Amel, atau pun Naura dan Adit. Sebenarnya Amel sejak tadi sudah gelisah dan ingin pindah tempat, ia ingin memisahkan diri dari Naura dan Adit, selain karna ingin berduaan dengan kekasihnya, ia juga merasa Naura tak perduli dengannya menganggapnya tak ada disana. Namun Amel tetap tak ingin mengajak Rama menjauh dari mereka, sebab amel tak ingin Rama menganggap nya gadis yang sombong dan tak ingin berbaur dengan saudara- saudaranya, Amel ingin Rama selalu melihat dirinya sebagai seorang gadis yang baik, lembut dan juga ramah, sebab itulah yang Rama suka dari dirinya.
" Naura kalian lihat apa sepertinya seru sekali, bolehkah aku juga melihat nya?" ucap Amel dengan nada yang sangat lembut. Naura menatap kearah gadis itu, ia sedang menilai mantan sahabatnya itu, Amel bagai siluman rubah dimata nya, apa lagi melihat tatapan mata gadis itu yang sangat tajam saat melihat nya, namun dengan senyuman yang terus mengembang dibibirnya, sukar ditebak, selama bersahabat dengan Amel, Naura memang tidak pernah melihat Amel marah dengan cara meledak- ledak, tidak seperti dirinya, namun jika gadis itu marah sangat menyeramkan, bahkan penuh dengan ancaman, pernah suatu hari saat dirinya datang kerumah Amel, tak sengaja Naura melihat gadis itu sedang memukul seekor kucing sampai kucing itu nyaris mati, hanya karna kucing tersebut memakan ikan hias peliharaannya, yang dimana saat itu Amel sedang membersihkan akuarium kecil miliknya, lantas ikan tersebut ia masukan didalam suatu wadah, dan entah dari mana datangnya seekor kucing yang langsung menyambar ikan hias peliharaannya tersebut, dan ia pun langsung memukul kepalan kucing itu dengan batu, dan disaat yang bersamaan Naura datang dan melihat semua itu hingga tercengang, ia tak menyangka dibalik sifat lembut Amel ternyata gadis itu cukup mengerikan dimata nya, tega membunuh seekor kucing hanya karna hal sepele, mengingat itu Naura bergidik ngeri, apa lagi saat Naura melihat tak ada rasa penyesalan dimata gadis itu, bahkan Amel tersenyum puas saat melihat kucing tersebut bersimbah darah. Naura merasa Amel memiliki kepribadian ganda, entahlah gadis itu juga tidak terlalu yakin.
" Jadi beneran kalian udah jadian?" satu pertanyaan tiba- tiba keluar dari mulut Adit, sebab Naura tak berniat untuk menjawab pertanyaan yang sempat ditanyakan oleh mantan Sabahat nya tersebut.
Amel melirik kearah Rama, lalu kembali menatap kearah Adit." Kak Adit tanya aku?" ucap Amel memastikan
" Menurut mu siapa? masa Naura?" sambung Adit sambil melirik kearah Naura.
" Kak Rama itu gak suka sama aku bang, aku ini bukan cewek yang kalem dan lembut seperti idaman nya." ucap Naura sambil menekankan kata-katanya.
__ADS_1
" Iya sih, Rama itu suka nya sama cewek yang lembut dan juga dewasa, benar kan Rama?" sambung Adit, namun entah kenapa Rama tidak suka mendengar nya, padahal tidak ada yang salah dengan ucapan Adit, dan semua itu memang benar, Rama menyukai gadis yang lembut dan dewasa, dan semua itu ada dalam diri Amel, makanya ia bisa menyukai gadis tersebut.
" Iya kayak aku, benar kan kak?" ucap Amel manja, Rama tidak menjawab, hanya diam tak berminat untuk menanggapi ucapan tersebut.
Adit melirik kearah Naura yang sejak tadi hanya diam." Tapi Naura adalah tipe gadis yang aku sukai." sambung nya membuat Rama dan Amel langsung menoleh kearah Adit, dan Naura secara bergantian.
" Kak Adit apaan sih." ucap Naura tidak menyangka jika Adit akan berkata seperti itu didepan Rama dan juga Amel. Selama ini Adit memang sering menggodanya dan juga mengatakan jika dirinya suka Naura, namun saat itu Naura tidak terlalu menanggapi nya, karna Naura pikir Adit hanya bercanda dan menggoda nya saja, tapi saat ini rasanya waktu yang tidak tepat jika pemuda itu ingin bercanda.
" Gimana Naura, kamu suka juga gak sama Abang?" Adit kembali berucap, membuat Naura bingung harus menjawab apa. Sebenarnya Naura sih memang suka dengan Adit, hanya saja rasa suka gadis itu jelas berbeda dengan rasa suka nya pada Rama, jika bersama Rama Naura selalu berdebar dan merasa bahagia, walau pun pemuda itu tidak merasakan hal yang sama dengannya. Sedangkan dengan Adit, Naura merasa selalu dibuat tertawa oleh pemuda itu, Adit selalu bisa membuat nya tersenyum, jika Rama selalu membuat nya sedih, berbeda hal nya dengan Adit yang selalu membuat nya tersenyum. Naura sayang pada kedua pria itu, namun dengan rasa sayang yang berbeda, keduanya memiliki porsi masing- masing dihati nya.
" Tentu, bukanya sudah pernah aku bilang sama bang Adit kalau aku suka kamu?" ucap Naura sambil tersenyum.
__ADS_1
" Kapan kamu mengatakannya, kenapa aku tidak tau?" bukan Adit yang bertanya melainkan Rama, pemuda itu tak tahan sejak tadi ingin bertanya.
" Kamu kenapa sewot begitu Ram? cemburu?" ucap Adit, membuat Naura dan Amel langsung menatap kearah pemuda itu.
Rama menggeleng kan kepalanya, dia hanya bertanya saja, bukan kah itu wajar, pikirnya." Aku bertanya bukan berati aku cemburu bang." ucap Rama, ia menatap kearah Naura yang juga masih melihat kearahnya, mungkin masih ingin mendengar jawaban lain dari pemuda itu." Ya kalau Naura tenyata suka sama bang Adit berarti bagus dong." sambung nya lagi, yang langsung diangguki oleh Amel, sedangkan Naura hanya bisa tersenyum kecut saat mendengar jawaban pemuda itu
" Iya kalian cocok kok, kenapa gak jadian aja." sambung Amel, senang sekali gadis itu kalau emang Naura dan Adit benar jadian
" Kak Rama benar ingin aku dan bang Adit jadian?
Next
__ADS_1