Mencintai Abang Sepupu

Mencintai Abang Sepupu
Bab 31. Kedekatan Adit dan Naura


__ADS_3

Rama merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuk miliknya, pemuda itu memejamkan matanya, karna merasa lelah. Namun tiba- tiba pemuda itu kembali membuka mata karna mengingat ucapan abangnya pada Naura tadi. Entah kenapa Rama merasa resah saat memikirkan itu semua, ia merasa takut jika Naura menerima perasaan abangnya itu, apa lagi setelah melihat kedekatan keduanya, selama dirinya menerima Amel menjadi kekasih nya. Naura memang pernah mengatakan jika gadis itu akan tetap berjuang demi mendapatkan cintanya, namun pada kenyataan yang ia lihat saat ini, Naura tidak lagi pernah seperhatian dulu dengannya, bahkan menggodanya saja tak pernah lagi, padahal dulu Nura selalu mengatakan jika dirinya adalah calon istri Rama dan begitu sebaliknya, namun belakangan ini gadis itu tak pernah lagi menggoda nya seperti itu, bukankah seharusnya Rama senang? bukan kah ini yang selam ini ia inginkan? tapi kenapa ia merasa kehilangan,dan kenapa juga ia harus merasa kesal melihat gadis itu lebih dekat dengan abangnya sekarang ketimbang dirinya? Entahlah memikirkan semua itu kepala Rama rasanya mau pecah.


Seminggu sudah berlalu, semenjak malam itu Rama semangkin merasa penasaran dengan hubungan Naura dan Adit abangnya sendiri. Bagai mana tidak, saat ini Rama melihat keduanya sedang duduk bersama ditaman samping rumah nya, keduanya sangat akrab, bahkan Rama dapat melihat Adit yang menyuapi Naura dengan cemilan yang ada ditangannya dan diterima dengan senyuman lebar oleh gadis itu.


" Lagi liatin siapa sayang, kok kelihatannya serius sekali?" tanya Irma yang tiba- tiba sudah berada dibelakang pemuda itu, membuat Rama terjangkit kaget.


,,,


" Ah bunda ngagetin aku aja." ucap Rama sambil memegangi dadanya karna kaget.


" Ya habisnya kamu sejak tadi bunda perhatikan selalu lihat kearah taman, bunda panggil juga kamunya gak nyahut, lagi liat apa sih?" sambung Irma lagi sambil memperhatikan taman yang ada di hadapannya, kamar Rama memang langsung mengarah kearah taman samping rumah mereka, dengan jendela kaca membuat nya mampu melihat kearah luar dengan jelas, namun kalau dilihat dari luar kamar jendela tersebut tidak tembus pandang, karna gelap.


" Oh jadi sejak tadi kamu melihat orang yang lagi pacaran." ucap Irma dengan santainya, namun tidak dengan Rama, pemuda itu terlihat sangat terkejut dengan ucapan Irma, walau pun ia sempat menduga- duga, namun Rama merasa tidak mungkin Naura akan menerima Adit jadi kekasihnya, sedangkan Rama sangat tau jika gadis itu sangat mencintainya sedari dulu. Namun mendengar perkataan bundanya barusan, ia merasa tidak mungkin ibu nya itu bercanda


" Bunda gak sedang bercanda kan?" tanya Rama, sambil menetralkan raut wajahnya. Rama mencoba bersikap biasa, walau dalam hati pemuda itu merasa gelisah, tiba- tiba perasaannya tak menentu setelah mendengar ucapan dari sang bunda.


" Bunda hanya menebak, tapi kalau dilihat sepertinya memang mereka sedang pacaran deh, soalnya belakangan ini mereka terlihat sangat akrab, bunda sih gak masalah kalau Naura sama Adit, yang penting dia jadi menantu bunda." ucap Irma, lalu wanita itu pun langsung meninggalkan Rama yang terlihat masih mematung ditempat nya.

__ADS_1


" Jadi mereka benar jadian." gumam Rama dengan pandangan yang tertuju kearah sepasang muda mudi yang ada dibangku taman tersebut.


***


Ditempat lain terlihat seorang wanita sedang menaruh pakaian kotor kedalam mesin cuci, wanita itu memisahkan pakaian putih dengan pakaian lainnya, saat hendak memasukan kemeja suaminya kedalam mesin cuci, tak sengaja sesuatu terjatuh dari saku kemeja tersebut.


" Apa ini?" gumam nya sambil mengambil kertas tersebut, merasa penasaran wanita itu pun langsung membuka lipatan kertas tersebut, keningnya berkerut saat melihat isi dari dalam kertas itu.


" Bon tagihan perhiasan?" gumam nya, wanita tersebut melihat tanggal pembelian nya, dan itu sudah dua hari yang lalu.


Sarah menarik nafas dalam, dan membuangnya perlahan, ia mencoba untuk mengendalikan diri agar tidak terbawa emosi. Sarah ingin mendengar penjelasan suaminya itu dulu, Sarah bukan lah, wanita yang gegabah, ia wanita pintar dan tidak mudah menangis didepan suaminya, Sarah wanita yang tegar, namun jika sudah sangat terluka, dan tidak sanggup lagi untuk menahannya, maka wanita itu akan melepaskan semuanya.


Sarah melangkah mendekati suaminya yang saat itu terlihat sedang bersantai di teras rumah sambil minum kopi, sambil memainkan ponselnya, terlihat asik hingga tak menyadari kedatangan Sarah.


" Mas, sedang berbalas pesan dengan siapa? kelihatannya asik sekali." ucap nya lalu mengambil posisi duduk disamping suaminya. Wanita yang masih sangat cantik itu terus memperhatikan suaminya yang terlihat sedikit gugup.


" Kamu itu bicara apa sih sayang? mas tadi hanya melihat email yang masuk handphone mas saja." jawabnya, lalu menyimpan kembali ponsel tersebut kedalam saku bajunya.

__ADS_1


" Mas aku mau tanya sesuatu sama kamu."


" Mau tanya apa?" ucapnya yang kembali menyeruput kopi miliknya


" Dua hari yang lalu kamu beli perhiasan ya?" ucap Sarah membuat Roby langsung tersedak kopi miliknya.


" Uhuk-uhuk...,,


" Pelan- pelan dong mas, masa gitu saja sampai tersedak sih."


" Kenapa mama tanya seperti itu?" tanya Roby terlihat sedikit gelisah


" Aku nemukan ini disaku celana mas tadi, dan itu bukti pembayaran untuk satu set perhiasan kan? Itu untuk siapa mas? Jangan bilang untukku. Karna aku sama sekali tidak menerima semua itu dari kamu." ucap Sarah sambil menatap tajam kearah suaminya, ini lah yang ditakutkan Sarah, ia takut jika suaminya tergoda oleh wanita lain, makanya ia selalu berusaha menjadi yang terbaik dimata suaminya, dari penampilan dan juga servis yang ia berikan pada suaminya, melayani sang suami lahir dan batin.


" Bisa kamu jelasin sama aku mas, kamu beli ini untuk siapa?" tanya Sarah sambil meletakan note pembayaran tersebut diatas meja.


Next

__ADS_1


__ADS_2