Mencintai Abang Sepupu

Mencintai Abang Sepupu
Bab 38 . Kepergok


__ADS_3

Naura mendongakkan wajahnya saat mendengar namanya dipanggil oleh seseorang, seketika gadis itu pun langsung menangis saat melihat pemuda itu. Dasar cengeng memang, namun begitulah gadis itu, jika didepan orang terdekatnya.


" Naura kamu kenapa bisa begini?" ucap nya yang langsung menghampiri Naura lalu tanpa aba- aba langsung menggendong tubuh gadis itu ala bridal style, membuat Naura replek mengalungkan tangannya dileher pemuda itu. Jantung Naura berdetak dengan sangat kencang, ia yakin jika pemuda yang menggendongnya itu juga dapat mendengar suara detak jantungnya tersebut, siapa lagi pria yang bisa membuat jantungnya itu menggila kecuali Rama, meskipun ini bukan yang pertama kali Rama menggendong Naura, namun tetap saja berada dalam posisi seperti itu membuat nya tidak karuan rasa. Naura menatap wajah Rama dari samping, pria itu selalu dapat menggetarkan hatinya, tak perduli seberapa banyak lelaki itu sudah menolak cintanya, namun tetap saja Naura tak pernah bisa membencinya, atau melupakan perasaanya pada laki-laki itu. Setelah sampai dilantai atas, perlahan Rama mendudukan Naura disalah satu sofa panjang yang berada disebelah kamar nya, lalu ia berjongkok untuk melihat keadaan kaki gadis itu.


" Coba biar aku lihat kaki kamu." ucap pemuda tersebut.


" Aaww,, kak pelan- pelan dong, sakit ini." Naura meringis kesakitan saat Rama mengangkat kakinya.


" Sepertinya sedikit bengkak, kalau begitu aku akan ambilkan salep untuk mengurangi rasa nyeri dikaki kamu." setelah mengatakan itu Rama langsung bangkit dan melangkah menuju kamarnya, sedangkan Naura terlihat masih menahan rasa sakit dikakinya.


Tak lama terlihat Rama kembali sambil membawa sesuatu ditangannya, yang Naura tebak jika itu adalah salep yang tadi Rama katakan. Rama duduk disamping gadis itu, membuat Naura memejamkan matanya menghirup aroma tubuh pemuda tersebut yang selalu membuat nya nyaman, wangi parfum milik Rama selalu membuat Naura betah berlama- lama dengan pria itu. Naura membuka matanya saat merasakan kakinya melayang, dan ternyata sudah berpindah diatas paha milik pria itu.


" Kak sebaiknya turunkan kakiku, biar aku saja yang mengolesnya sendiri." ucap Naura merasa sungkan.


" Kenapa? apa kamu merasa tidak nyaman? dan takut kalau bang Adit lihat? takut dia cemburu? gitu? apa sebegitu takutnya kamu jika dia sampai tau?" ucap Rama yang kini sudah menatap wajah Naura dengan lekat. Selama ini yang Rama tau Naura sangat senang jika berdekatan dengan dirinya, bahkan Rama juga tau jika gadis itu selalu mencari cara agar bisa terus berdekatan dengannya, namun sekarang setelah menjalin hubungan dengan abangnya sepertinya gadis itu mulai menjaga jarak dengannya. Bukan begitu sebenar nya yang Naura maksud, sebenar nya gadis itu sangat senang diperlakukan seperti itu oleh Rama, apa lagi Naura melihat pemuda itu begitu perduli padanya, yang jadi alasan nya meminta Rama menurunkan kakinya adalah karna Naura merasa jika jantungnya mau copot, apa lagi saat Rama mengelus lembut kakinya, membuat gadis itu gelisah, ia merasakan suatu desiran aneh pada tubuhnya, kontak pisik itu membuat Naura seperti tersengat listrik, padahal Rama hanya membantunya untuk mengobatinya, dan mengoleskan salep tersebut dikakinya. Namun disisi lain Naura juga tidak ingin menjelaskan apapun pada Rama, gadis itu membiarkan saja pemuda itu salah paham dan mengira jika dirinya sedang menjaga perasaan abangnya, sebab itulah tujuan awal nya untuk melihat seberapa berartinya Naura dihidup pria yang ada dihadapannya saat ini.


" Naura jawab aku!" Rama mendesak gadis itu agar menjawabnya, sejujurnya rasa penasarannya begitu kuat, ia tidak puas jika tidak mendengar jawaban dari bibir gadis itu langsung, walaupun Adit sudah memberitahukan padanya, namun tetap saja Rama ingin mendengar nya dari bibir Naura langsung, karna ia tau jika gadis itu tidak mungkin berbohong jika menyangkut masalah perasaan. Namun baru saja Naura hendak menjawabnya tiba- tiba terlihat Adit yang baru keluar dari kamarnya, kebetulan kamar Rama dan Adit berada saling bersebelahan meskipun masih ada ruang diantara kedua pintu tersebut.


" Rama, apa yang terjadi pada Naura? sayang ada apa dengan kaki kamu?" ucap Adit membuat pipi Naura seketika merona karna malu, gadis itu jadi salah tingkah, saat Adit menyebutnya dengan kata sayang. Sedangkan Rama yang mendengar ucapan abangnya terlihat hanya diam, tanpa sadar pemuda itu meremas salep yang saat itu masih berada dalam genggamannya, hingga salep yang berbentuk odol tersebut mengeluarkan isinya sangkin kuatnya remasan tangan Rama dibenda tersebut. Dan tentu saja semua itu tak luput dari pandangan mata Adit.

__ADS_1


" Rama bisakah gue menggantikan posisi loe untuk menemani kekasih gue?" ucap Adit, yang sengaja mengatakan semua itu, ia ingin membuat Rama menyadari perasaan nya pada Naura. Sedangkan Rama yang mendengar permintaan abangnya hanya menganggukan kepala, lalu tanpa mengatakan apapun pemuda itu langsung bangkit dari duduknya setelah sebelumnya ia menurunkan kaki Naura dari atas pahanya. Naura melihat wajah Rama yang terlihat datar, gadis itu menggigit bibirnya karna sedikit cemas, ia takut jika Rama akan marah dan menjauhinya.


" Sayang jangan gigit bibirnya, aku gak tahan jika kamu seperti itu " ucap Adit sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Rama, karna pemuda itu sudah hampir menuruni anak tangga, namun ia masih bisa mendengar dengan jelas ucapan Adit barusan.


" Iihh,, bang Adit apa-apaan sih manggil aku sayang didepannya kak Rama, kalau dia marah gimana?" ucap Naura dengan polosnya, membuat Adit semangkin gemas melihat nya.


" Iih gemesin banget sih adek aku." ucap Adit sambil menarik hidung gadis itu, membuat Naura meringis.


" Aww,, bang Adit ih, sakit tau." protes Naura


Habisnya kamu itu lucu, denger ya! Kamu gak usah takut kalau Rama marah, berarti itu tandanya dia suka sama kamu." ucap Adit


*


*


*


( Mas Roby dengan seorang wanita, siapa wanita itu? Kenapa kelihatan sangat akrab? tadi bukankah dia bilang mau meeting dengan klien, apa wanita itu klien yang dimaksud? )

__ADS_1


Sarah bermonolog dalam hati, wanita itu mencoba tenang dan berpikiran positif, namun tetap saja dirinya sangat penasaran dengan sosok wanita yang ada bersama suaminya itu, dan sangkin penasarannya membuat nya langsung mengambil ponsel miliknya untuk menyakinkan hatinya. Wanita itu akan menghubungi suaminya.


" Eh, aku ketoilet sebentar ya?" ucapnya pada para sahabatnya, ketiga sahabatnya itu hanya menganggukan kepala, setelah pamit Sarah pun langsung bangkit dan melangkah menuju toilet. Sarah mengeluarkan ponselnya dari dalam tas miliknya, lalu menghubungi suaminya. Kebetulan wanita yang duduk bersama roby tidak terlihat wajahnya, karna duduk membelakangi


Tut


Tut


Tut


" Kok gak diangkat sih?" gerutu Sarah, wanita itu pun kembali menekan nomor suaminya berharap kali ini Roby akan mengangkat telpon darinya


" Mas kamu dimana?" tanya Sarah langsung setelah tersambung.


" Mas lagi meeting, bukankah sebelum nya mas sudah bilang sama kamu?"


" Mas meeting nya sama siapa? berdua saja? terus laki- laki atau perempuan." Sarah mulai kepo, membuat Roby merasa jika istrinya aneh, sebab yang ia tau Sarah bukanlah wanita yang posesif, tapi sekarang ada apa dengan istrinya itu, pikirnya


" Sudah dulu ya mah, mas masih meeting ini, nanti kalau sudah selesai mas akan hubungi kamu lagi." ucap Roby, setelah mengatakan itu Roby langsung memutuskan sambungan telponnya, padahal Sarah belum selesai dan masih ingin bicara dengan suaminya tersebut.

__ADS_1


"Siapa mas yang nelpon? Istri kamu?" ucap wanita yang duduk dihadapan Roby


Next


__ADS_2