
Rama mencium bibir Naura dengan sangat lembut, atas dan bawah, sedangkan Naura bukannya langsung mendorong tubuh pemuda itu, tapi malah memejamkan mata dan menikmati ciuman pemuda itu, Rama yang merasa tidak ada penolakan dari Naura tersenyum puas, tadinya ia hanya ingin membuktikan bahwa dugaannya tidak meleset dan ternyata memang benar, Rama sangat yakin jika Naura masih sangat mencintainya.
" Balas cium*anku sayang!" bisik Rama, sesaat setelah ciuman mereka terlepas, bagai terhipnotis gadis itu pun mengangguk, membuat Rama kembali tersenyum, setelah itu ia pun kembali melahap bibir Naura, Rama menekan tengkuk gadis itu agar ciuman keduanya semangkin dalam. Sedangkan Naura sendiri jangan ditanya, gadis itu merasa jika saat ini dirinya sedang bermimpi, mimpi yang sangat indah, rasanya ada sesuatu yang menggelitik perutnya. Darah nya berdesir hebat, saat merasakan ciuman basah yang Rama berikan untuknya.
" Aakh." Naura terpekik saat merasa bibirnya digigit oleh Rama, membuat bibir gadis itu otomatis langsung terbuka, membuat Rama tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, dengan cepat pemuda itu langsung memasukan lidahnya kedalam rongga mulut Naura, mengabsen setiap inci yang ada didalamnya, sungguh membuat Naura meras terbuai. Rama baru melepas ciuman mereka setelah merasa keduanya telah kehabisan nafas.
" Hos....hos...hos...."
Naura meraup rakus udara sebanyak- banyaknya untuk mengisi oksigen yang hampir habis karna perbuatan lelaki yang ada dihadapannya. Rama tersenyum melihat wajah Naura yang memerah, mungkin malu pikir Rama. Pemuda itu menatap bibir Naura yang bengkak karna ulahnya, perlahan pemuda itu mengangkat tangan dan mengelap sisa saliva miliknya yang menempel disudut bibir Naura dengan ibu jarinya, membuat gadis itu membeku ditempat, sungguh perlakukan Rama membuat nya tidak tau harus berbuat apa.
" Kak apa arti semua ini?" Naura menatap wajah Rama yang kini sudah berjarak beberapa senti dari wajahnya, namun masih dapat merasakan hembusan nafas pria yang baru saja berciuman dengannya itu.
Sebelum Rama menjawab ia tersenyum manis pada Naura membuat gadis itu terpesona, sangat jarang melihat pria itu tersenyum, karna biasanya wajah Rama selalu memperlihat kan wajah datar dan juga dingin padanya, dan saat ini adalah momen yang sangat langka baginya." Aku hanya ingin membuktikan perasaanmu padaku apa masih sama atau sudah berpindah kelain hati, dan sepertinya aku sudah tau jawabannya." ucap Rama sambil tersenyum, namun berbeda dengan Naura, gadis itu terlalu polos dan naif hingga tidak terlalu mengerti dengan apa yang Rama ucapkan, jika tidak dijelaskan dengan rinci.
" Mulai saat ini aku mau kamu jaga jarak dengan bang Adit dan juga Bayu." ucap Rama, membuat Naura mengerutkan dahi
__ADS_1
" Atas dasar apa kamu bicara seperti itu kak? bukankah aku bukan siapa- siapa nya kamu,? dan aku rasa kamu gak berhak melarang aku untuk dekat dengan siapa pun." ucap Naura yang kini mulai kesal, siapa dia yang seenaknya melarang dirinya, pikir Naura.
" Kamu milikku dan hanya boleh mencintaiku saja!" ucap Rama tegas, kata- kata pemuda itu barusan tentu saja membuat Naura tercengang, gadis itu mengedipkan mata beberapa kali, pikirannya masih loading untuk mencerna kata- kata pemuda tersebut.
" Baiklah kalau begitu aku balik dulu, dan ingat kata-kataku barusan." ucap Rama yang langsung membalikan tubuhnya dan melangkah menuju balkon kamarnya, namun sebelum pemuda itu benar- benar melompat menuju balkon tersebut tiba- tiba suara Naura membuat langkahnya terhenti
" Maksud kamu apa? kenapa kamu seenaknya bicara seperti itu? bukankah saat ini kamu sedang menjalin hubungan dengan Amel? lalu kenapa kamu mengatakan aku ini milikmu? kamu anggap apa aku? Aku punya hati dan perasaan, meskipun aku mencintai mu, tapi bukan berarti kamu bisa sesuka hatimu mempermainkan perasaan ku." ucap Naura yang kini sudah mengeluarkan semua isi hatinya dengan air mata yang mulai menetes, tidak dipungkiri ada rasa senang saat Rama mengatakan itu semua, bukankah itu tandanya Rama memiliki suatu perasaan padanya? Kalau tidak mana mungkin pemuda itu berkata demikian, namun disisi lain, gadis itu juga tau jika Rama masih memiliki Amel dan yang selama ini ia lihat mereka sangat dekat dan merasa saling mencintai, bagai mana mungkin dirinya bisa berada diantara mereka, walaupun Amel sudah menikung nya, namun Naura juga tidak ingin merebut Rama dari gadis itu, kata- kata yang pernah ia ucapkan dulu itu semua hanya karna merasa sakit hati atas perbuatan Amel yang menikungnya, makanya ia berkata demikian, dan mengatakan jika dirinya akan kembali merebut Rama, namun sekarang Naura tidak akan bisa melakukan itu semua sebab yang ia tau Rama juga menyukai Amel dan Naura sadar diri.
***
" Bagai mana mungkin dia bisa berkata seperti itu, kalau memang dia juga suka denganku kenapa dia tidak mengatakannya terus terang? Kenapa saat aku bertanya dia tidak ingin menjawabnya, maksudnya apa coba? Dia pikir aku akan mau menerima semua ucapannya itu, enak saja, lihat saja aku tidak akan menuruti semua kemauannya." monolog nya, Naura tidak ingin dijadikan serep, mulai sekarang ia ingin menjadi wanita yang punya harga diri, dan tidak ingin terlihat mengemis cinta Rama, setidak nya ia akan berusaha untuk sedikit mengabaikan pujaan hatinya itu. Ya walau pun Naura akui itu sangat sulit baginya.
Praannggg....!!!
Terdengar suara kegaduhan dibawah membuat Naura tersentak kaget, karna penasaran lantas gadis itu pun langsung berlari keluar dari kamar, takut jika terjadi sesuatu dibawah sana. Naura menuruni anak tangga dengan sedikit tergesa, gadis itu pun memperlambat langkahnya saat samar-samar ia mendengar suara tangisan dari arah dapur. Namun setelah menyadari jika itu adalah suara ibunya Naura pun langsung menghampiri nya.
__ADS_1
" Mama, apa yang terjadi?" Naura sedikit kaget melihat tangan Sarah yang berdarah, ia juga melihat Roby yang juga ada disana, namun anehnya pria itu sama sekali tak berniat untuk membantu ibunya.
" Pah, kenapa papa diam saja melihat tangan mama berdarah?" ucap Naura kesal, ia pun langsung menghampiri Sarah untuk melihat seberapa dalam luka ditangan ibunya itu.
" Ayo mah kita obati dulu" ucap Naura sambil membawa Sarah menuju ruang keluarga, sedangkan Roby terlihat juga mengikuti mereka tanpa berkata apapun. Naura merasa sedikit heran, apa lagi saat melihat wajah papa nya yang tidak seperti biasa
( Ada apa sebenar nya ini? Apa mereka bertengkar? Biasanya papa sangat perduli sama mama, tapi kenapa tadi saat tangan mama berdarah papa diam saja? )
Batin Naura, banyak pertanyaan yang bersarang dikepala Naura, apa lagi saat melihat sikap papa nya yang dingin membuat gadis itu semangkin penasaran.
" Mah apa yang terjadi? Kenapa tangan mama bisa berdarah seperti ini?" ucap Naura yang melihat Sarah sejak tadi hanya diam, Naura melirik Roby yang juga duduk diantara mereka, terlihat wajah datar pria paruh baya itu, membuat Naura menghela nafas." Pah, mah, aku tidak tau apa masalah kalian, tapi yang pasti aku mau masalah diantara mama dan papa cepat selesai, aku tidak mau melihat kalian bertengkar, apa lagi saling mendiamkan seperti ini." ucap Naura, saat ini gadis itu sudah selesai mengobati luka yang ada ditangan ibunya, untungnya luka itu tidak parah, dan hanya perlu ditempel plaster saja.
" Kamu tenang saja sayang, papa dan mama kamu akan segera menyelesaikan masalah kami." ucap Roby yang akhirnya membuka suara, ia tak mungkin mengabaikan permintaan punya kesayangannya apa lagi sampai membuat gadis itu khawatir, Roby tidak ingin Naura menjadi kepikiran dengan masalah diantara kedua orangtuanya tersebut.
" Baiklah kalau gitu aku kembali kekamar ku dulu, dan sebaiknya papa juga bawa mama untuk istirahat." ucap Naura, berharap semoga semuanya akan baik- baik saja, ia tak ingin kedua orangtuanya bertengkar hingga berlarut-larut.
__ADS_1
Bersambung