
Naura dan Rama melangkah beriringan menuju kantin, sepanjang perjalanan Naura terlihat terus tersenyum, namun sebisa mungkin ia menutupinya dari Rama, ia tak ingin Rama melihat senyum bahagia itu, Naura takut Rama terlalu kege'eran. Rama melirik kearah Naura yang saat itu berada disampingnya, dahinya berkerut saat melihat senyum diwajah gadis itu, merasa sedikit penasaran apakah senyum itu karna dirinya yang tadi sempat mengungkapkan perasaannya atau ada sebab lain yang membuat gadis itu tersenyum senang seperti itu.
" Naura ada apa?" tanya Rama yang sudah menghentikan langkahnya
" Hah, apa nya kak?" tanya Naura bingung
" Kamu kenapa senyum-senyum begitu? Apa kamu---," Rama sengaja menggantung kalimatnya karna ingin melihat reaksi gadis itu, Rama berpikir jika senangnya gadis itu karna ungkapan perasaan Rama beberapa saat yang lalu, namun pemuda itu juga sedikit ragu karna waktu dirinya menyatakan perasaannya Naura sama sekali tak beraksi apapun, sikapnya bahkan terlihat biasa saja.
" Kak Rama mikir apa emang?" Naura kembali bertanya dengan alis yang terangkat sebelah dan Rama langsung menggelengkan kepalanya
" Aku hanya penasaran saja." jawabnya pelan, Naura hanya tersenyum tipis menanggapi nya.
" Sudahlah jangan dipikirin, ayo kita lanjut jalan lagi." ajaknya sambil menarik tangan Rama menuju kantin.
" Eh..eh..Mel, itu bukannya cowok loe ya yang sama sih Naura? ucap salah satu teman sekelasnya
" Mana sih?" tanya Amel sambil mencari keberadaan yang dimaksud
" Itu tuh yang jalan menuju kantin." sambungnya lagi, hingga akhirnya Amel dapat melihat keberadaan keduanya
" Kok kayaknya mereka mesra banget ya? Mel loe gak cemburu cowok loe digandeng sama si Naura itu?" ucap gadis yang sedang bersama Amel tersebut, namanya Pipit, mereka satu kelas, dan itu artinya Pipit juga satu kelas dengan Naura, namun dari dulu Pipit memang tidak pernah menyukai Naura, entah apa sebabnya bahkan Naura pun tidak tau, yang pasti setiap Naura tersenyum pada Pipit atau pun menyapa jika mereka berpapasan, pasti gadis itu langsung membuang muka, atau menjawab dengan nada ketus, sejak saat itu Naura tak pernah lagi menyapa gadis itu, karna menurutnya orang yang sombong itu sebaiknya dijauhi. Namun setelah tau Amel dan Naura memiliki masalah, Pipit langsung mendekati Amel dan menjadi teman untuk gadis itu, sekaligus juga ingin memanas-manasi agar keduanya semangkin berjarak.
__ADS_1
" Biasa aja, lagian aku tau kak Rama itu gak ada perasaan pada Naura, dia menganggap gadis itu hanya sebagai adik aja." jawab Amel yang sebenarnya untuk menghibur dirinya sendiri, tak dipungkiri sebenar nya Amel juga memang merasa sedikit cemburu dengan kedekatan keduanya, namun Amel tak ingin Pipit mengetahuinya.
( Aku gak akan biarin Kaka Rama direbut oleh Naura, walaupun ada Vano untuk selingan, tapi cintaku tetap untuk kak Rama seorang )
Batin Amel, gadis itu melangkahkan kakinya menuju kantin sekolah dan berniat untuk bergabung dengan keduanya.
" Eh Mel, loe mau kemana? Gue ikut." ucap Pipit yang langsung berlari menghampiri Amel yang berada didepannya.
~
~
~
Naura menatap Pipit dengan malas, ia tak ingin meladeni ucapan dari gadis itu, yang sebenarnya hanya ingin memancing emosinya saja." Kak Rama sebaiknya samperin tuh pacarnya, aku gak mau nantinya kena bully sama--," Naura menggantung kalimatnya, ia kembali melirik kearah Pipit yang saat itu tengah melihat tajam kearahnya.
" Gak masalah Na, kita bisa duduk bersamakan? Amel kamu mau kan duduk bersama Naura?" tanya Rama, lelaki itu juga tak ingin meladeni ucapan Pipit yang menurutnya tidak penting
" Iya kak gak masalah." jawab Amel yang terpaksa menerima ajakan Rama, sebenar nya ingin menolak, hanya saja ia tak ingin memperlihatkan sisi buruknya didepan kekasihnya, Amel takut jika Rama akan ilfil lalu meninggalkannya. Sejujurnya Amel sangat takut jika Rama meningalkan nya, jadi untuk mempertahankan hubungan mereka Amel berusaha untuk tidak membuat Rama marah, apa lagi bosan dengannya.
" Mel loe yakin mau duduk bareng Naura?" bisik Pipit saat melihat Amel hendak melangkah menuju meja tersebut
__ADS_1
" Yaialah, masa iya aku harus biarin cowok aku duduk hanya berduaan sama cewek lain." jawab Amel dengan nada sewot. Setelahnya kembali melangkah menuju meja tersebut, lalu menarik bangku yang ada disamping Rama, sedangkan Pipit sendiri lebih memilih untuk meninggalkan kantin tersebut, gadis itu tak ingin duduk bersama Naura, lebih tepatnya karna tak ada yang mempersilahkannya untuk duduk bersama dengan mereka, jadi dari pada malu Pipit memilih untuk pergi dari kantin tersebut.
" Kalian membicarakan apa sih kok sepertinya seru sekali, tadi aku sempat lihat dari jauh kalian berdua sampai tertawa bersama, memangnya kalian membicarakan apa sih sayang?" ucap Amel yang sebenarnya hanya bicara pada Rama, gadis itu menyentuh lengan Rama lalu mengusapnya lembut, jangan lupakan senyum manis yang ia berikan untuk kekasih tercintanya itu.
" Gak ada, kami hanya membahas masalah keluarga, jika gue beritahu loe juga gak akan paham." kali ini Naura yang menjawab, gadis itu melirik kearah Rama yang hanya diam tanpa berniat menimpali, sedangkan Amel merasa sangat geram dengan ucapan Naura, Amel tau secara tidak langsung gadis itu menyindir dirinya, dan untuk menyadarkan posisi nya dihidup Rama.Sedang kan Naura sendiri sangat yakin jika Abang sepupunya itu sama sekali tidak pernah menceritakan tentang keluarga besar mereka pada Amel.
" Kak Rama aku baru ingat kalau aku ada sedikit urusan." ucap Naura yang mulai malas dengan keberadaan Amel, cewek munafik berwajah dua
" Kamu mau kemana? Dan urusan apa yang kamu maksud?" tanya Rama, begitu ingin tau, sedangkan Amel yang mendengar betapa perduli nya Rama pada adik sepupunya itu hanya bisa mencibir dalam hati.
" Adalah, yasudah sebaiknya kakak ngobrol aja sama pacar kakak yang anggun itu, kasian sejak tadi dicueki." ucap Naura dengan senyum mengejek yang hanya ia tunjukan pada Amel, sedangkan gadis itu yang merasa disindir hanya bisa mendengus kesal
( Awas kamu naura, aku akan buat perhitungan sama kamu )
Batin Amel merasa sakit hati dengan semua ucapan Naura. Setelah kepergian Naura Amel langsung menatap kearah Rama yang terlihat sedang sibuk dengan ponsel miliknya.
" Kak aku disini loh, kok kamu sepertinya cuek banget sama aku? Aku kangen loh sama kamu." protesnya dan tentu saja dengan nada manja dan dibuat sesedih mungkin.
" Ya terus kamu maunya apa? Kan aku disini sama kamu sejak tadi." jawab Rama sambil menatap kekasihnya, entahlah rasanya perasaannya pada Amel mulai memudar, Rama berpikir mungkin selama ini yang ia rasakan pada Amel bukanlah cinta, melainkan hanya rasa kagum semata.
" Kak Rama aku tuh sayang banget sama kakak, dan aku berharap hubungan kita akan langgeng." ucapnya sambil bergelayut manja dibahu Rama, menyandarkan kepalanya dilengan lelaki itu, sedangkan Rama hanya diam tanpa berkata apapun.
__ADS_1
Bersambung