
Didalam sebuah ruangan terlihat seorang wanita menatap sebuah Poto yang ada dihadapannya, sebuah Poto pernikahan dan itu adalah pernikahannya dengan suaminya tujuh belas tahun yang lalu, wanita itu tak lain adalah Sarah, ia mengusap gambar suaminya yang ada didalam bingkai tersebut, hingga tak sadar jika air matanya sudah menetas membasahi wajah sang suami yang ada didalam Poto itu.
" Aku sangat sayang sama kamu mas, tapi aku juga sakit hati, rasanya aku gak bisa menerima semuanya, apa lagi setelah ku tau waktu itu kamu masih berhubungan dengan dia walaupun hanya melalui ponsel, dan itu sungguh membuat ku sakit." gumamnya dengan suara lirih, tanpa disadari wanita itu ternyata ada seseorang yang sejak tadi mendengar ucapannya, walaupun dengan suara pelan, tetap orang itu bisa mendengar nya, karna jarak yang dekat diantara mereka. Orang itu mengepalkan tangan merasa tak terima saat orang yang ia sayangi disakiti seperti itu.
" Maksud mu apa Sarah? Suamimu selingkuh? Roby memiliki wanita idaman lain?" cerca orang tersebut yang ternyata adalah Irma.
" Mba Irma." Sarah pun langsung berhambur kepelukan sang kakak ipar, rasanya ia sudah lelah menyembunyikan semuanya.
" Ada apa, kenapa kamu seperti ini Sarah? Ayo duduk dulu, dan ceritakan semuanya sama mba!" ucap Irma sambil menuntun Sarah menuju sofa yang ada diruang tamu tersebut. Tadinya Irma ingin mengajak Sarah untuk mencoba resep baru yang ia dapat, tapi ia tak menyangka akan mengetahui fakta jika adik iparnya itu telah diselingkuhi oleh suaminya, begitu yang ia tangkap dari yang sempat ia dengar tadi
" Sekarang ceritakan sama mba, apa yang sebenar nya terjadi." ucap Irma setelah melihat Sarah sudah sedikit tenang.
" Mba sebenar nya...." akhirnya Sarah pun menceritakan semuanya pada kakak iparnya itu, dan tak ada yang terlewat sedikitpun.
" Astaga Roby, tega bener dia, mba gak nyangka kalo dia seperti itu, padahal dulu ya, waktu dia pertama kali melihat kamu itu, dia langsung tergila-gila bahkan terus meminta mas Imron dan mba untuk nyomblangi dia sama kamu, kalau tau seperti ini mba gak akan pernah mau ngenalin Roby sama kamu, karna dulu mba dan mas Imron pikir kalau Roby beneran cinta sama kamu, soalnya terlihat dia yang bersungguh-sungguh waktu itu, kok dia jadi seperti itu? Apa mungkin ceweknya juga kali ya yang ganjenan Sar? maaf kan mba dan mas Imron ya Sarah, mba jadi merasa bersalah sama kamu." ucap Irma, karna memang awal perkenalan Roby dan Sarah itu karna Roby adalah teman Imron dan juga Irma, lebih tepatnya adik kelas saat kuliah dulu, dan setau mereka Roby adalah pria yang baik, makanya sepasang suami istri itu merestui hubungan keduanya.
__ADS_1
" Mba gak perlu merasa bersalah, mungkin mas Roby yang sudah mulai bosan denganku, dan aku mulai berpikir apa sebaiknya aku berpisah saja ya dengannya." ucap Sarah sedih
Irma sedikit terkejut mendengar ucapan adik iparnya itu, memang Irma marah dengan apa yang Roby lakukan pada adiknya itu, dan berniat ingin memberikannya pelajaran, tapi jika Sarah menginginkan perpisahan tentu Irma tidak menyetujuinya, apa lagi membiarkan Roby bersama dengan perempuan itu setelah Roby sesukses sekarang, Irma tidak akan membiarkan wanita penggoda itu menikmati semua fasilitas yang seharusnya jadi milik Sarah dan Naura. " kamu jangan berpikir seperti itu, dengar Sarah, kamu harus tetap bertahan dan jangan biarkan pelakor itu merebut Roby darimu." ucap Irma, sepertinya wanita itu tak rela jika Sarah dan suaminya berpisah, selain tak ingin Sarah menjadi janda, Irma juga tak mau anak gadis kesayangannya Naura bersedih dan kehilangan sosok papa nya.
" Tapi mba.."
" Sekarang mba tanya sama kamu, apa kamu masih mencintai Roby?" tanya Irma dan Sarah langsung menganggukan kepalanya
" Aku masih sangat mencintai mas Roby mba, hanya saja aku juga sakit hati atas kebohongannya itu, aku gak bisa maafin dia begitu saja." ucap Sarah.
***
" Gak Mel, lagian bunda udah pulang, dan dia suruh aku cepat pulang kerumah." jelas Rama
" Oh yasudah, kamu hati-hati ya?" ucap gadis itu dan Rama hanya mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
Amel mendekatkan wajahnya kearah Rama, bermaksud ingin mengecup pipi kekasihnya tersebut, namun belum lagi gadis itu melakukannya Rama sudah lebih dulu menjaga jarak dengan nya, membuat kening gadis itu berkerut. Sebelum Amel kembali protes Rama lebih dulu memberi alasan." Gak enak dilihat mama kamu." ucap Rama memberi alasan.
" Tapi Rama ak--"
" Sebaiknya kamu masuk, aku mau pulang sudah ditunggu bunda soalnya." Rama langsung memotong ucapan Amel, dan langsung menghidupkan motor miliknya.
Amel hanya bisa menatap nanar punggung Rama yang menaiki motor sport miliknya, tubuh yang kian menjauh dari pekarangan rumahnya." Kamu menghindar kak, aku tau kamu sedang menghindari ku, dan pasti semua ini karna Naura." gumamnya dengan tangan terkepal.
Amel memasuki rumah berlantai dua miliknya, saat diruang tamu ia melihat ibu nya Dina yang sedang menerima panggilan telpon, samar-samar Amel sedikit mendengar pembicaraan Dina didalam telpon tersebut." Mama lagi bicara sama siapa sih, kok kayak sampai segitunya, serius amat." gumam gadis itu sambil terus memperhatikan Dina yang sepertinya masih belum menyadari kehadiran Amel.
" Mas tolong dong untuk kali ini aja, aku mau kita ketemu, jujur aku kangen banget mas sama kamu." ucap Dina sambil terus memohon, entah pada siapa wanita itu bicara yang jelas itu sangat membuat Amel merasa sangat penasaran.
" Mama lagi bicara dengan siapa sih? Apa om Dika ya?" gumam gadis itu lagi, ingin sekali rasanya Amel bertanya karna merasa penasaran, namun rasa penasaran itu masih coba ia tahan, karna Amel ingin mendengar lebih jauh lagi pembicaraan mama nya itu, Amel heran kenapa mama nya itu sampai memohon dengan orang yang ada diseberang telpon tersebut, Amel berpikir jika mama nya itu sedang ada masalah yang orang tersebut.
" Mas tolonglah, bukankah semenjak kejadian itu kita juga tidak pernah bertemu lagi, aku tidak minta apapun mas, aku hanya ingin kita bertemu sebentar juga tidak masalah, atau kalau kamu keberatan hanya sendiri bertemu denganku, kamu boleh bawa Sarah saat bertemu denganku nanti, aku tidak akan marah mas, yang penting kita bisa bertemu." ucap Dina lagi dari sambungan telpon. Sementara Amel yang mendengar sempat terkejut, tubuhnya membeku , pikirannya masih mencerna ucapan Dina barusan.
__ADS_1
" Tadi mama sebut nama Sarah? Sarah siapa? Apa yang mama maksud tante Sarah mamanya Naura???
Bersambung